DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 47 - KERINGAT PANAS DINGIN


__ADS_3

"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam! Gege...! Akhirnya, kamu pulang! Masuk, Nak, masuk!"


Tentu saja pucat seketika wajahku. Ibu Tiur juga sama terkejutnya seperti aku.


"Liana? Liana khan? Waaah...!!!"


Beliau kaget bercampur bingung. Mimik wajahnya tampak jelas menahan senyum.


"Gege..., jadi Liana itu,"


"Mama...! Ini Liana yang ingin kukenalkan pada Mama dan Didi!"


Kami dalam beberapa detik nge-freeze. Sama-sama saling tatap tapi kemudian Ibu Tiur langsung memelukku erat.


"Apa kabar, Liana? Lama kita tidak berjumpa!" ucapnya kembali normal dan hangat seperti saat pertama kukenal.


"Baik, Bu Tiur!" jawabku agak kikuk.


"Sungguh tak kusangka, rupanya kalian saling kenal!"


Aku hanya tersenyum dengan hati masih dipenuhi rasa campur aduk.


"Liana ini teman SD-nya Jordan! Pernah kesini main beberapa bulan yang lalu karena menolong Mama di halte bis waktu itu. Iya khan Liana?"


"Iyakah?"


Mas Jonathan tampak antusias.


"Iya, Bu! Ibu juga memberi saya amplop berisi uang lewat Pak Saleh!"


Bola mata Bu Tiur berbinar. Sepertinya ia senang karena aku mengingat kebaikannya.


"Kamu... Sekarang agak kurusan! Apa sakit, Liana?"


"Liana sedang dalam pengawasan Gege, Ma! Seperti Didi dulu waktu SMP. Ngomong-ngomong, kemana anak itu? Apa masih suka mengeram dikamarnya?"


Bu Tiur tertawa kecil.


"Kamu bakalan kaget lihat Jordan nanti, Ge! Alhamdulillah, Allah angkat penyakit kami semua!"


"Maksud Mama?"


"Lihat saja nanti sendiri! Hehehe... Oiya, ini siapa?"


"Sampai lupa. Ini Genta, adiknya Liana."


"Ibu kira Liana anak tunggal! Ternyata punya adik juga seperti Jonathan!"


"Kami sama-sama sulung, Ma!"

__ADS_1


Aku agak lega, obrolan kami berlanjut ke meja makan.


Genta yang tadi ikutan gugup perlahan berbaur mengobrol ringan dengan Ibu Tiur, Mamanya Jonathan dan Jordan.


Jujur aku belum bisa meredakan debaran jantung yang terus berpacu. Entah bagaimana nanti Jordan menanggapi keadaan ini.


Jordan sedang tidak ada di rumah. Entah kemana dia. Bu Tiur tidak menjelaskan secara detil kepergian Jordan.


Sedari tadi kepalaku lebih banyak tertunduk. Bibirku kelu, bingung mau berbincang apa.


Hanya tersenyum dan lebih banyak jadi pendengar saja.


"Ma...! Doakan kami bulan April besok naik ke pelaminan ya?" ucap Mas Jonathan lembut.


Bu Tiur tersenyum lebar. Sesekali ekor matanya melirik ke arahku yang cuma diam tak terlihat antusias di matanya. Karena aku takut kalau Jordan pun sudah mengatakan sesuatu hal tentang hubungan jarak jauh kami.


"Liana! Bisa bantu Ibu?" pintanya setelah kami selesai minum teh pukul setengah enam. Membantu membereskan gelas-gelas bekas kami minum ke wastafel.


"Iya, Bu!"


"Panggil saja Mama, Mami juga boleh. Jordan panggilnya Mami Jonathan panggil Mama. Keren khan? Hehehe..."


Aku tersenyum tipis. Rasanya sangat tidak enak hati ini. Seperti berasa dalam tekanan atas kelakuanku sendiri.


Benar juga kata Genta. Akhirnya aku merasakan apa yang pernah anak itu ucapkan. Kalau menjadi orang jahat dengan memanfaatkan momen yang seharusnya tidak dilakukan itu tidak baik. Bukan kebahagiaan yang didapat pastinya.


"Gege!!!"


Hampir dua bulan lebih setiap malam kami chattingan. Aku hafal betul suara merdu Jordan.


"Didi? Didi kamu sudah bisa berjalan lagi? Didi!?! Alhamdulillah..."


Aku menoleh. Mas Jo dan Jordan berangkulan dengan wajah penuh tawa suka cita.


Aku juga kaget, Jordan berjalan diatas dua kaki jenjangnya. Bukan lagi di atas kursi roda elektrik seperti biasanya.


Jordan! Dia sekarang sudah bisa berjalan dengan normal! Alhamdulillah.


"Mana calonnya Gege?"


Deg.


Aku menelan saliva.


Semua mata tertuju padaku. Dan... Seperti dugaanku, Jordan terbelalak tak percaya.


"Liana???"


Aku... Hanya diam membisu dengan mata mulai berkaca-kaca.


Jordan! Maaf...

__ADS_1


Hanya kata itu yang keluar dari lubuk hatiku terdalam.


Bola mata Jordan yang tadi membulat, kini terlihat meredup. Senyumnya mengembang sempurna.


"Congratulation Gege! Finally, kamu bakalan melepas masa lajang dan aku juga ga harus melangkahimu!"


Menyesak rasanya mendengar ucapan dari bibir Jordan pada Jonathan kakaknya.


Ya Allah ya Tuhanku! Kemana kebahagiaanku selama ini? Kemana kebanggaan yang beberapa hari ini kujunjung di atas kepala hingga seperti mau terbang rasanya?


Maminya Jordan seperti merasakan gejolak dalam jiwaku ketika tangan kami tanpa sengaja saling berpegangan hendak meraih gelas yang akan dicuci.


"Liana!" gumam beliau lirih.


Mata Bu Tiur tak dapat kuartikan pancarannya.


Kalau dia marah, aku pasrah. Kalau dia kecewa, itu wajar saja. Ini memang hal yang tak bisa kuhindari lagi. Walau aku tak pernah merayu ataupun mengatakan cinta pada Jordan, tapi aku selalu merespon setiap chattannya dengan cepat. Memberi peluang pengharapan seperti yang Genta kata. Hhh...


"Senangnya calon Kakak Iparku itu ternyata teman SD-ku, Ge!"


"Iya, hahaha... Aku sampai terkejut dengar cerita Mama tadi kalau kalian ternyata satu sekolah dasar dulu! Hm... Betewe jadi selama ini kamu terapi ke Dokter Haekal untuk memperkuat otot dan tulang kaki? Keren! Akhirnya ada seorang gadis yang bisa kau andalkan untuk jadi penyemangatku! Tunggu aku dulu ya, menikah bulan April nanti!"


"Hehehe... Pastinya aku akan tunggu Gege menikah dulu, baru aku melangkah juga!"


Jordan! Jordan... Maafkan aku! Maaf beribu-ribu maaf...


"Orang mana perempuan yang sedang dekat denganmu, Didi?"


"Jauh dimata namun dekat di hati. Setiap malam kami saling berbalas chat. Kadang telfonan, lebih sering video call-an."


"Woow, ternyata kau jauh lebih lihai dalam melakukan pendekatan dibanding aku. Hehehe... Kau jauh lebih romantis, Di!"


"Iya lah! Jordan gitu loh! Gege selalu kalah dari aku. Walau kenyataannya, entah dari pihak si perempuannya! Mungkin saja jaman sekarang, yang berjuang tetap akan kalah dengan yang beruang! Iya khan? Hehehe..."


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Perkataan sindiran Jordan, menohok hati sanubariku. Tapi begitulah adanya.


"Kalian ini! Setelah hampir setengah tahun tak bertemu, pasti deh mulai saling ledek. Nanti lama-lama bertengkar. Belum berhenti kalau salah satu dari kalian nangis! Hm..."


"Hahaha...Mami! Itu khan jaman kita kecil. Sekarang, kalau bisa berbagi pun kenapa tidak? Iya khan, Ge?"


"Hahaha... Iya lah. Apapun kepunyaanku, kamu bebas koq memakainya. Kartu ATM-ku, kamu tahu nomor-nomor PIN-nya. Sampai pakaian dalam pun, kadang kamu yang lebih dulu pakai padahal aku yang beli. Benar-benar adik durhaka!"


"Hahaha..."


Aku tidak bahagia mendengar candaan kakak beradik itu. Tidak. Sama sekali tidak.


Justru keringat dingin dan rasa tak nyaman di hati ini membuatku beberapa kali terlihat menghela nafas. Hingga kusadari kalau sepasang mata Genta sedang menyorot padaku. Ada riak amarah di sana. Dan aku bisa menebaknya, kalau dia akhirnya tahu siapa pria yang akhir-akhir ini sering chat dan telpon aku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2