DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 122 - Sesion 2 (Bilik Rahasia Jordan)


__ADS_3

"Om Didi!!?"


Tiba-tiba Aprillia merangsek tubuh Omnya hingga obat-obatan yang ada didalam telapak tangannya langsung jatuh berhamburan di lantai.


Jordan seketika membatu dan akhirnya berdecak dengan kepala menggeleng.


"Ampun deh ah, Beby! Lihat tuh, obat vitamin Om jatuh semua!" tukasnya namun masih dengan senyuman.


"Obat apa? Vitamin apa?"


"Ini suplemen penambah stamina. Kenapa? Kenapa malam-malam malah datangin kamar Om Didi?" tanya Jordan dengan tangan lembut mengelus rambut keponakan semata wayangnya itu.


"Mau tidur bareng Om!" jawab Aprilia dengan santai.


"Tidak boleh!"


"Kenapa?"


"Ya tidak boleh, Beby!"


"Ibu pasti yang larang Om ya?"


"Tidak juga! Ibu cuma bilang, titip Beby. That's it."


"Terus, kenapa Beby tidak boleh tidur bareng Om?"


"Karena kita beda gender! Om laki-laki, Beby anak perempuan. Bukan muhrim!"


"Beby khan masih kecil. Masih dibawah umur! Masa'tidak boleh tidur sama Omnya sendiri?"


Jordan tertawa terkekeh-kekeh.


Putrinya Liana terlalu pintar untuk didebat setiap perkataannya. Aprilia sangat kritis dalam berbicara. Bahkan melebihi kritisnya para profesor yang sedang adu debat di ruang laboratorium.


Jordan hanya bisa menepuk keningnya.


"Mbak Melanie kenapa ditinggal sendirian? Ayo, Beby harus kembali ke kamar depan!"


"Kenapa diusir? Om pasti takut ketahuan kalau menyimpan banyak foto Ibu!"


"Ehh???"


Seketika Jordan membatu.


Dadanya berdebar kencang tatkala rahasia pribadinya terbongkar oleh putri kecil dari perempuan yang paling dia cintai.


"Om punya bilik rahasia!"


Lagi-lagi ucapan Aprillia membuat jantung Jordan bagaikan kena serangan tiba-tiba.


Matanya menatap Aprillia tak berkedip.


Ia memang memiliki rahasia sampai usianya kini 37 tahun.


Ada bilik rahasia seperti yang Aprillia kata.


Bilik atau ruangan khusus untuk dirinya melambungkan khayalan sampai melepaskan sel sp*rma tanpa harus melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Dengan foto-foto Liana memenuhi dinding ruangan.


Mungkin dirinya bisa dianggap psikopat jika ada orang lain yang mengetahui rahasia pribadinya ini.


Cintanya pada Liana tidak pernah pudar walaupun wanita itu kini telah jadi Kakak iparnya.


Dan kini Jordan membatu karena putri Liana tiba-tiba seperti sedang menguliti kedalaman hatinya.


Ini adalah untuk pertama kalinya Liana datang masuk ke kamar Jordan tanpa kedua orangtuanya.


"Om Didi?!?"


Jordan tersenyum lebar.

__ADS_1


Ia berusaha mengatur ritme pernafasannya yang tadi memburu dan lebih cepat dari biasanya.


Jordan kembali pura-pura sibuk dengan bungkus dan wadah obat vitaminnya dan merapikan kembali di atas nakas.


Grep.


Jordan terkejut, tiba-tiba Aprillia memeluknya dari belakang.


"Ibu memang cantik. Bisakah Om merelakan Ibu bahagia bersama Ayah? Dan Om juga memulai hidup baru bersama wanita lain. Om pasti bisa move on!"


Jordan terhenyak.


Hatinya bergetar hebat.


Bagaimana bisa seorang anak perempuan kecil berumur empat tahun menasehatinya sedalam itu? Dadanya bergemuruh kencang.


Jordan menoleh. Menangkap tubuh mungil Aprillia hingga masuk dalam dekapannya.


"Tidurlah! Ini sudah pukul sembilan malam, Sayang!" tutur Jordan setelah mengecup kening Aprilia.


"Beby mau tidur di sini!"


"No, tidak boleh!"


"Kenapa?"


"Om tidak mau tidur bareng Beby. That's it!"


"Om..., jangan bunuh diri!"


"Hah?!? Bunuh diri??? Hah? Om Didi bunuh diri? Astaghfirullahal'adziiim..., nauzubillah Beby!"


"Om harus hidup bahagia!"


"Tentu. Hehehe..."


Jordan tertawa kecil.


Dipandangan Aprillia apakah Aku ini akan mati bunuh diri? Ya Allah... jangan sampai itu terjadi!


Jordan hanya bisa menghela nafasnya.


Aprillia bukannya keluar kamar justru naik ke atas ranjang tidur Jordan yang besar dan hangat.


"Apakah Ibu mampu membuat Om bahagia?"


Pertanyaan macam apa itu?


Jordan kembali tertawa.


Jari tangannya mengucek-ucek sebelah mata yang agak gatal.


"Om!"


"Hm?"


"Vitamin itu bukan obat tidur khan?"


Lagi-lagi Aprillia membuat Jordan diam seribu bahasa.


"Om?"


"Hm?"


"Om...! Apakah Ibu sehebat itu? Apakah Aku bisa sehebat Ibu?"


"Beby?! Tentu saja kamu jauh lebih hebat dari Ibumu! Kenapa? Kamu lebih cantik, lebih muda dan lebih pintar dibandingkan Ibumu yang lemot IQ-nya. Hehehe..."


"Bisakah Om menungguku sampai usiaku 17 tahun?"

__ADS_1


"Hah?!? Pertanyaan macam apa itu?"


"Aku bisa menjaga Om sampai hari tua nanti! Asalkan Om hentikan minum suplemen vitamin dan obat tidur seperti tadi. Aku akan temani tidur Om yang selalu kesepian!"


"Yassalam, bocah ini! Hahaha... Aku ini tidak kesepian, Beby! Om Didi ini adalah pria tampan yang selalu ada wanita yang ingin bercinta. Kamu tahu? Selebgram cantik yang sedang naik daun di Tiktok yang bernama Clara Diana itu mengajak Om menikah."


"Terus?"


"Dia wanita sibuk. Om tidak suka!"


"Kalau Ibu? Om sangat suka? Wanita kalem yang penurut dan tidak neko-neko? Yang kata Om lemot IQ-nya?"


"Hahaha... Husss! Hentikan obrolan ngaco ini! Nanti Ibumu bersin-bersin kita ghibahin terus menerus! Hahaha..."


Jordan menarik tubuh mungil yang terbaring di kasur empuknya. kemudian menggendong keluar kamar menuju kamar depan yang sudah Ia sediakan khusus untuk Aprilia dan pengasuhnya.


"Maaf, Boss... Nona Aprilia memaksa untuk masuk kamar Boss!"


Seorang pelayan menundukkan kepalanya karena membuat Aprillia bisa masuk menerobos kamar Jordan.


"Tidak apa-apa, Maya!" ujar Jordan yang masih tersenyum gemas menggelitik pinggang Aprillia yang sedang dipangkunya.


Tok tok tok


"Melanie,"


Aprillia dan Jordan membuka pintu kamar.


"Nona! Maaf, Melanie ketiduran!"


Pantas saja Aprillia bisa keluar dari kamar dan masuk kamarku tanpa pengawasan. Ternyata Melanie sudah tertidur!


Jordan tertawa kecil.


"Anak manis, anak cantik! Tidur ya? Jangan lupa cuci kakinya, gosok gigi lalu pergi ke atas ranjang dan berdoa sebelum tidur!"


"Sudah gosok gigi! Sudah cuci kaki! Sudah doa juga!"


Jordan tertawa terkekeh-kekeh. Akhirnya bocil berusia empat tahun itu menjadi seperti layaknya bocah yang suka merajuk dan ngambek.


Ia terlalu takut melihat Aprilia Jovanca dengan perkataan serta kedewasaan yang terlalu cepat bahkan terkesan lebih mirip wanita dewasa berumur empat puluh tahun.


Jordan kembali ke kamarnya.


Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tersenyum sendiri mengingat nasehat Aprilia.



Jordan menghela nafas pendek.


Ia memang sudah kecanduan obat tidur sejak tiga tahun belakangan.


Sejak asmaranya kandas bersama Habibah, setiap malam Ia kesulitan beristirahat.


Membaca buku, menulis novel dan menonton film sampai tengah malam sudah menjadi rutinitas.


Tidur hanya beberapa belas menit, Jordan mandi di tengah malam dan lakukan sholat sunah demi ketenangan hidup. Baru setelah itu ia bisa terlelap meski hanya satu dua jam saja.


Jordan bangun dari rebahnya.


Ia menekan tombol yang ada di bawah meja nakasnya.


Seketika lemari besar bergerak dan... tiba-tiba ada ruang rahasia yang terbuka.


Gambar didindingnya dipenuhi oleh wajah-wajah Liana dengan berbagai ekspresi.


Inilah rahasianya.


Rahasia yang bahkan Liana sendiri tidak mengetahui betapa terobsesinya Jordan ingin menikah dan memilikinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2