
"Ibuuuu!!!"
"Beby!!!"
Peluh mengucur deras di dahi Liana yang tersentak mendengar teriakan putri kecilnya.
Pukul empat dini hari.
"Sayang! Sayang, bangun! Please,... Sayang, get up!"
"Ada apa, Liana? Ini jam berapa?"
Jonathan yang kaget karena dibangunkan tiba-tiba oleh istrinya.
"Ayo, kita harus ke apartemen Jordan!"
"Hah?!? Malam-malam begini?"
Liana menyeret lengan Jonathan agar segera bangkit dan berganti pakaian seperti yang saat ini sedang Ia lakukan.
"Sayang?!? Ada apa?"
"Firasatku tidak enak! Ayolah, please!..."
Jonathan kalah oleh desakan Sang Istri.
Dengan berganti celana dan menambah jaket jeans untuk pelengkap atasannya yang hanya kaos oblong putih saja, Jonathan telah siap dengan kunci mobil ditangan.
Mobil Feroza putihnya telah siap berjalan menyusuri aspal dingin yang sepi.
Pukul empat dini hari. Suasana jalanan Ibukota terlihat lengang bertolak belakang jikalau hari siang.
Apartemen Jordan sunyi sepi.
Seorang sekuriti keamanan menghampiri mobil putih mereka yang berhenti di portal gerbang apartemen.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya dengan suara serak karena bangun tidur dengan paksa oleh suara klakson mobil yang Jonathan bunyikan.
"Saya ingin masuk ke dalam! Apartemen Billabong Indah blok A VIP atas nama Jordan Ardian!"
Sekuriti tersebut menerima kartu identitas yang Jonathan sodorkan. Memeriksa sebentar lalu kemudian menyerahkan kembali dan mempersilakan mobil Jonathan masuk.
Liana tergesa-gesa keluar dari mobil.
"Hati-hati, Liana! Nanti kamu bisa terjatuh!"
"Cepat, Sayang! Cepatlah!"
Mereka setelah berlari menyusuri lorong apartemen lewat basemen dan naik lift menuju blok A yang berada di lantai dua.
__ADS_1
Liana semakin was-was.
Air matanya mulai mengalir tanpa bisa Ia kendali.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu menangis?" colek Jonathan sembari menarik genggaman tangan istrinya ke dada selama lift bergerak naik.
"Entah!" jawabnya semakin terisak.
"Haish! Jangan bikin parno Aku, Sayang! Apa kamu melihat sesuatu yang menakutkan? Sini, sini masuk pelukanku!" hiburnya membuat tangisan Liana semakin membesar.
Langkah keduanya semakin dipercepat.
Jonathan tidak perlu menelpon Sang Pemilik apartemen karena tahu kode Pin-nya Jordan hingga dengan mudah dia masuk ke dalam.
Terdengar suara tangisan Aprillia.
Sontak Liana dan Jonathan berlari menuju kamar Jordan yang disinyalir putrinya berada di sana.
"Aprillia!!!"
Liana memekik melihat sang putri menangis dihadapan Jordan yang terlentang tak bergerak.
Melanie dan Maya juga ada disana.
Melanie memijat ibu jari Jordan dengan mulut komat-kamit membaca doa-doa.
"Mas! Lakukan CPR! Maya, telepon ambulans!" teriaknya mencoba mencari jalan terbaik untuk penanganan Jordan yang tak sadarkan diri.
Menjelang Subuh semua orang panik.
Jordan yang pingsan segera dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
...............
Pria yang seumuran dengan Liana dan adalah teman sekolah dasarnya itu terbaring lemah dengan alat bantuan pernafasan serta selang infusan menempel di urat nadi pergelangan tangan.
Jordan Ardian.
Terbaring lemah tanpa daya, hilang kesadaran meskipun nafasnya masih berhembus meski terdeteksi kritis dan dalam keadaan koma .
Aprillia tidak mau beranjak dari samping Jordan meskipun diperingatkan oleh dokter jaga dan para suster kalau anak dibawah umur tidak boleh berada di ruang ICU.
Untungnya Jonathan memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk meminta sedikit belas kasih kepada kepala rumah sakit yang dikenalnya hingga sang putri bebas masuk menemani Omnya yang sedang sakit.
Tangan Aprilia terus memegangi jemari Jordan dengan wajah pucat pias karena kurang tidur semalaman.
"Sayang, Beby pulang dulu yuk? Biar Ayah yang jaga Om Didi. Nanti siang kita kemari lagi!" ajak Liana dengan lembut pada putrinya tapi ditolak mentah-mentah dengan gelengan kepala yang kuat.
Liana hanya bisa berdecak bingung dan menghela nafas panjang setelahnya.
__ADS_1
Aprillia sulit sekali Ia taklukkan.
Bahkan Jonathan sendiri juga tidak bisa membujuk buah hatinya. Selama ini, hanya Jordan saja yang bisa membuat Aprilia menuruti perkataannya.
Kini, orang yang tidak pernah Aprillia bangkang tengah terbaring. Seperti sedang tertidur pulas dengan nyenyaknya.
"Ibu saja yang pulang bersama Ayah. Aprillia tunggu Om Didi sampai siuman dari pingsan!" hardiknya membuat Jonathan hanya bisa menatap lemah istrinya.
"Andai Ibu tidak larang Om Didi tidur bareng Aku, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini!" kata Aprilia lagi. Kini ucapannya bahkan jauh lebih pedas.
Liana terhenyak.
Putrinya menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Jordan.
Meleleh air mata Liana.
"Sayang..., andai saja Ibu tahu kalau akan begini jadinya. Ibu pasti akan memintanya untuk menerima Aprilia tidur dikamar Om Didi semalam!" tukas Liana berlinang air mata.
Tiur segera merangkul bahu menantunya yang sedang berdebat dengan cucunya itu.
"Sudah, sudah! Biarkan Aprillia disini bersama Mama! Kalian pulang saja lebih dulu. Istirahat. Kita berjaga bergantian. Nanti jam dua kalian baru kesini lagi!"
Akhirnya Liana dan Jonathan menuruti perkataan Mama Tiur yang tegas mengatur jam jaga mereka.
"Mas...!"
"Ya? Jangan bicara apapun, Liana! Aku sudah bisa menebak arah pembicaraanmu!" sela sang suami sebelum kalimat kekhawatiran meluncur dari bibir sang istri.
Dan Liana yang sudah faham tabiat suaminya hanya bisa menghela nafasnya saja.
Hatinya bergetar diliputi perasaan sesak dan sakit yang menghimpit.
Bagaimana bisa putri kecilnya berada dalam posisi yang tidak ia fahami.
Liana kembali mengingat tatapan mata Aprillia yang tajam padanya, penuh kilat kemarahan yang sungguh tidak Liana fahami sama sekali apa sebabnya.
Apakah karena Aku meminta Jordan untuk membuat Aprillia tidak betah di apartemennya lebih dari dua hari? Dan kini ternyata, kejadian yang tidak kuprediksi sama sekali justru terjadi. Jordan sakit tiba-tiba terkena serangan jantung padahal selama ini keadaannya baik-baik saja tak punya penyakit jantung.
Liana menoleh pada Sang suami yang meraih tangan dan menggenggamnya erat.
"Kuatkan dirimu! Aprillia masih terlalu kecil untuk bisa kita atur sesuai keinginan kita!"
Liana kembali menatap jendela kaca mobil yang ditumpanginya. Hatinya sedih mengingat hardikan dan juga tuduhan Aprillia tadi. Tumpah lagi airmatanya.
Jordan! Jangan mati, Jordan! Aku tidak bisa membayangkan besarnya kebencian yang akan putriku limpahkan jika itu sampai terjadi. Tuhanku Allah Azza Wajalla... Tolong selamatkan nyawa Jordan. Dan seandainya bisa ditukar dengan nyawaku, aku lebih rela dan ikhlas menerima panggilan-Mu lebih dahulu ketimbang melihat Jordan tiada disaat ini. Tidak! Jangan biarkan itu terjadi, ya Allah!
Hatinya terus mendawamkan doa untuk kesembuhan Jordan dan berharap Jordan segera sadar dari komanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1