
Akhirnya...
Acara resepsi pernikahan kami selesai juga.
Lelah tapi bahagia.
Capek, namun hati senang.
Apalagi suamiku adalah seorang pria tampan yang humble, menyenangkan dan sangat menghargai aku di depan teman-temannya.
Bahkan Mas Jonathan selalu merangkulku mesra dihadapan para tamu setelah aku kembali duduk di pelaminan pada sore hari.
Beberapa kali ia sengaja menggodaku dihadapan tamu membuatku malu bahkan sampai tertawa lebar.
"Mas, ish... Kamu mah!"
"Kenapa malu, becanda sama suami sendiri! Hehehe..."
Bisikannya di telinga membuat merona wajahku dan para tamu bersorak sorai kesenangan.
Jordan, Genta terlihat manglingi dengan tuxedo mereka. Senyum bahagia juga terlihat mengembang di bibir keduanya.
Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat dan karunia-Mu!
Hari yang bahagia. Walau sempat terjadi ketegangan, namun itu mampu kita atasi dengan hati lapang dan jiwa yang tenang.
"Capek, ya?" tanyanya ketika kami kembali ke kamar sebelum azan maghrib.
Pelaminan kami tinggalkan. Meja prasmanan pun sudah ditutup.
Pesta usai dengan hati semua orang penuh kegembiraan walaupun ada banyak kejadian serta tubuh yang lelah penat.
Setelah sholat maghrib, kami berjalan beriringan ke kamar Mas Jonathan.
Jantung ini berdebar kencang ketika Jonathan merangkulku dari belakang.
Helaan nafasnya terdengar lega.
"Akhirnya... Kau jadi milikku!" bisiknya seperti gumaman.
Aku hanya mengusap punggung tangannya yang melingkar di pinggangku yang kini ramping.
Aku juga lega, Mas! Aku senang sekali... Kini ada pasangan yang menemani kesepian dan kesendirianku.
"Liana!" katanya sembari membalikkan tubuhku dengan lembut sekali menghadap ke arahnya.
Mata kami kini saling berpandangan.
Pendarannya warna-warni. Indah bagaikan biasan pelangi sehabis hujan di sore hari.
__ADS_1
"Mas..."
"Apa kamu bahagia?" tanyanya dengan suara tipis nan lembut.
"Tentu saja, aku sangat bahagia!"
"Alhamdulillah! Ini bukan mimpi khan?" tanyanya semakin mendekatkan wajahnya kepadaku. Membuatku gugup dan menunduk malu.
"Kenapa, Liana?"
"Kamu...membuatku malu!" jawabku lebih mirip gumaman.
Pria dewasa tampan yang kini berstatus sebagai suamiku itu tersenyum. Manis sekali.
"Aku...kini adalah suamimu. Masa' masih malu!? Jiwa raga ini...seluruhnya milikmu. Kuserahkan semuanya hanya padamu!"
Telinga seperti digelitik manja oleh rayuannya yang gombal tapi lucu.
"Kenapa? Lucu ya? Ga pantas ya aku merayumu seperti itu!"
Tawa kecilku pecah. Suamiku lucu sekali.
"Ga pantas!" godaku membuatnya merengut, imut.
"Udah tua ya? Jadi aneh ya kalau rayu merayu gitu?!" tanyanya penuh penyesalan.
Tawaku semakin lebar.
Kami tertawa canggung pada apa yang harus diperbuat di malam pertama.
Sesekali menatap, lalu tersipu dan endingnya malah tertawa bahagia.
"Hmm... Kita duduk yuk di ranjang itu?" ajaknya semakin membuatku tergugu.
Kami adalah dua orang dewasa yang bahkan sudah melebihi umur untuk bisa mengatasi kecanggungan ini, seharusnya.
Tetapi..., Mas Jonathan yang kikuk melularkan rasa bingung dan malunya kepadaku yang notebenenya pernah menikah.
Tapi aku tentu saja malu untuk memulai.
Aku perempuan, lebih memilih pasif menunggu pergerakan suamiku lebih dahulu.
Lucu sekali.
Hanya duduk di pinggir ranjang. Dengan jantung berdebar dan tingkah seperti orang kebingungan.
Seperti dua pasang remaja yang baru pertama kali di situasi seperti ini.
"Liana mau segelas coklat panas?" tawarnya membuatku tersenyum dan mengangguk.
"Kita...nongkrong di balkon dulu yuk?" katanya lagi. Dan aku menurut mengikuti.
__ADS_1
"Lian..."
"Ya?"
"Kamu tahu gak, persamaan kamu dengan bintang?"
Sontak aku tersipu menahan tawa sembari menggelengkan kepala.
"Kamu dan bintang, sama-sama indah dan selalu bersinar terang di mata juga hati ini."
"Mas Jonathan...hehehe."
"Kamu tahu gak perbedaan kamu dan bintang?"
"Gak tahu juga!" jawabku dengan tawa kecil.
"Bintang itu indah, tapi tak bisa kugapai. Tetapi Kamu lebih indah, namun bisa kubelai! Hahaha...ya ampuuun, Jordaaan!!! Rayuan contekanmu menyebalkan!"
Aku menoleh ke arah balkon kamar Jordan. Terlihat Jordan, Citra, Genta, Intan dan Nadia sedang tertawa-tawa. Di tangan mereka ada papan bertuliskan rayuan yang tadi Jonathan ucapkan.
Ya ampuuun, Suamiku! Hahaha... Dasar ya!?!
Aku tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Bubar, bubar! Rayuan dari kalian tidak bermutu! Sana kalian, jangan ganggu!" hardik Mas Jonathan bercanda. Membuatku terkikik kegirangan.
Suamiku merangkul dengan lembut sambil meledek adik-adikku semua seolah bertingkah mesra agar mereka segera pergi membubarkan diri.
"Hehehe...! Maaf ya Liana. Aku bukan suami yang romantis. Yang bisa memberimu puji-pujian penuh keindahan laksana sang pujangga cinta yang pandai merangkai kata."
Mas Jonathan, kau itu lebih dari indah. Kamu adalah segalanya. Imamku, penuntunku, pengingatku, juga pembimbing hidupku.
Segelas coklat panas yang nikmat buatannya mampu membuat hatiku kian menghangat.
"Mas...!"
"Ya sayang?"
"Aku... sangat bahagia menjadi istri kamu. Sungguh sangat bahagia!"
Mata indahnya mengerjap.
Azan Isya berkumandang.
"Isya dulu yuk?" ajaknya lembut sekali.
Bahagia ini benar-benar milik kami berdua. Yang lain, minggir dahulu. Mungkin seperti ini rasanya jadi makmum diimami suami sendiri. Dunia bagaikan milik berdua.
Subhanallah...
BERSAMBUNG
__ADS_1