
Rasanya bagaikan mimpi bisa berinteraksi dengan makhluk halus yang dulu paling kutakuti.
Aneh tapi nyata.
Aku sendiri tidak tahu jalan kehidupan ini membawaku melangkah ke hal-hal yang tidak kumengerti.
Ilmu spiritual, ilmu gaib, ilmu magis. Tak pernah terlintas dalam pikiranku. Bahkan aku juga tidak menyangka kalau ternyata Papaku adalah keturunan yang cukup fanatik dalam hal tersebut. Hhh...
Setelah siuman, kusadari ada Jonathan duduk di sebelah ranjang tidur.
Rupanya ia menungguiku.
"Alhamdulillah... akhirnya kamu bangun juga!"
Jonathan memang lebih tahu aku ketimbang Jordan. Dalam hal keluargaku tentunya.
"Mas..."
"Istirahat saja dulu! Jangan bangun dulu!"
Tangannya mengusap bulir keringat yang mengucur di dahiku.
"Mas..."
"Aku mengerti, Liana! Maaf... Maaf jika aku tidak menanyakan perasaanmu sebelumnya. Aku terlalu terburu-buru padahal kamu butuh waktu untuk menyembuhkan lukamu!"
"Hhh..."
Helaan nafas ini membuatku sesak, bukan tanpa lega. Karena aku menyesali kenapa pria tampan dewasa dihadapanku ini begitu bijaksana. Membuatku kembali bingung.
"Jordan juga sudah menyadari kekeliruannya! Kami... Menunggu kesiapanmu saja, Liana! Jangan jadikan pernyataan cinta kami sebagai beban! Please... Jangan kemana-mana lagi! Rumahmu di sini! Bersama kami!"
"Mas..."
Tangan kokoh itu mengusap air mataku. Semakin membuatku malu hati tapi bersyukur pada Allah.
Andai kupergi pun aku harus kemana?
Aku tak punya rumah, uang atau apapun untuk kujadikan penunjang masa depan.
Aku hanyalah buruh karyawan boss Gege yang adalah kakak dari teman SD-ku.
"Boleh aku masuk, Ge?"
Seraut wajah tampan lainnya menyembul dari balik pintu kamarku. Jordan Ardian.
Dia membawa seikat bunga mawar putih. Dapat tergambar betapa hatinya memendam cinta putih yang polos, suci dan murni.
"Hm... Sengaja beli dulu mawar putih nih!?" sindiran halus sang Kakak membuat Jordan tersipu. Tetapi wajahku yang memerah malu.
"Liana!"
__ADS_1
Kulihat sekitar, hari sepertinya telah siang.
"Jam berapa ini?" tanyaku tak berani menujukan pada satu orang.
"Jam tujuh!"
Mereka kompak menjawab berbarengan.
Ya Allah gustiii! Manisnya! Dan kenapa Kau hadapkan aku pada posisi seperti ini? Ya Allah ya Tuhanku! Normalkah ini? Dua orang kakak beradik tersenyum manis padaku, sedangkan mereka menunggu kepastian jawaban dariku. Uuufffh...
"Berarti Liana tidak sholat Subuh!" gumamku malu pada diri sendiri.
Kelemahanku adalah cinta yang besar dan kuat. Kuakui itu kelemahan terbesarku.
Dan kini, dua pria duduk manis didepanku. Sama-sama memberiku perhatian dan kasih sayang yang nyata.
Tuhan! Jangan uji aku seperti ini, Tuhan!
"Sudah bangun?"
Mama Tiur membuka separuh pintu kamarku. Tentu saja lega perasaanku kini. Ada Mama, jadi aku tak perlu lagi resah serta kikuk dengan kecanggungan ini.
"Makan dulu, yuk?"
"Mama...! Harusnya Liana mulai bekerja lagi hari ini. Tapi malah,"
"Sst... Putri Mama sedang lemah kondisinya. Seorang Mama harus mengurusnya bukan?"
Perkataan Mama Tiur mengingatkanku pada Mama Kandungku sendiri.
Aku berjanji dalam hati. Ketika keadaanku sudah baik dan stabil, aku akan main ke tempat tinggal Mama bersama Genta.
Walaupun beliau sudah punya keluarga yang baru, tetapi aku masih darah dagingnya juga. Hal yang wajar jika aku datang berkunjung.
"Mama, biar Liana makan sendiri!" pintaku karena malu disuapi Mama Tiur.
"Mama yang suapi! Apa mau Jonathan atau Jordan yang suapi?"
Aku mengangkat tangan. Tersenyum ketir membuat kedua putranya terkekeh mendengar ancaman bermutu sang Mama.
"Mama ini! Paling bisa kalau urusan ancam mengancam! Hehehe..."
Aku tersenyum. Jonathan menggoda Mamanya.
"Kami sebaiknya keluar saja, ya? Biar Liana bisa istirahat dulu!"
Jordan dan Jonathan tersenyum padaku. Semburat merah jambu menjalari pipi ini. Malu.
"Liana! Bagaimana keadaanmu?" tanya Mama Tiur penuh perhatian.
Kukira Mama akan kembali ketus padaku ketika dua putranya sudah tak ada lagi disampingku. Ternyata tidak. Beliau kini jauh lebih lembut dan tulus benar-benar menyayangiku. Mungkinkah mas Jonathan sudah memberitahukan semuanya pada beliau? Entahlah. Aku tak mau berfikir terlalu jauh, melebihi kemampuanku.
__ADS_1
"Tubuhku semalam biru-biru. Mama dan Citra bahkan mengoleskan minyak zaitun untuk mengurangi lebamnya!" tutur beliau membuatku termangu.
Lebam-lebam? Biru-biru? Apakah...karena interaksiku dengan makhluk raksasa hitam besar itu? Wallahu... Tapi memang badanku agak sakit juga ngilu. Mungkinkah ini efek dari obrolan panjangku dengan makhluk halus piaraan Eyang Subur semalam? Hhh...
"Liana..."
Aku senang, mendapatkan pelukan hangat Mama Tiur. Dan perlakuan manis itu membuatku semakin merindukan wajah Mama Farida, mama kandungku.
...............
Hari berganti, kehidupanku kembali berjalan seperti biasa.
Rumah Mas Jo kini jauh lebih hangat karena ramai penghuninya.
Kami melupakan dulu kisah asmara dimasa lalu. Sengaja mengesampingkan demi ketenangan semua pihak walau di awal masih ada kecanggungan.
Aku sendiri kini jauh lebih enjoy menikmati kesendirianku tanpa obrolan rutin Boss Gege, juga tanpa chattan intens Jordan.
Kami hanya sesekali bersama. Di waktu sarapan pagi, sholat maghrib karena berjama'ah, juga makan makan setelahnya.
Selepas itu, kami sengaja mengurangi pertemuan satu sama lain. Silent tanpa banyak percakapan.
Kuyakin ini juga yang mereka perlu.
Sehingga meminimalisir kata-kata cinta yang terlontar sia-sia.
..............
Tanpa terasa, masa iddahku telah lewat. Berlalu begitu saja. Tanpa cinta baru, tapi banyak mendapatkan perhatian.
Mama Tiur semakin manis padaku. Beliau menganggapku putri kandungnya. Bahkan kami sudah merencanakan untuk pergi shopping bersama di hari libur nanti.
"Mama, maaf... Jangan minggu ini, ya?" pintaku memohon pengertiannya.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut agak kecewa.
"Liana dan Genta mau pergi ke rumah Mama Farida. Sudah sangat lama kami tidak pernah berkunjung. Bahkan Liana, nyaris dua tahun tak main kesana! Malu, Liana seperti anak durhaka. Tidak punya empati pada Mama sendiri sampai malas melihat keadaannya padahal masih satu kota."
Begitulah. Kurasa, banyak anak yang nyaris sama seperti diriku. Setelah menikah dan ikut pasangan, jarang menyambangi orangtua. Justru terbalik, orangtua-lah yang sering mengunjungi.
Sepertinya aku harus mulai merubah kebiasaan itu.
Aku harus lebih aware, kalau tingkah lakuku selama ini salah.
"Jadi kapan kita nge-mall barengnya?"
"Bagaimana kalau minggu depannya lagi?"
"Haish, kelamaan! Bagaimana kalau besok sore saja? Cuma nge-mall. Paling berapa jam. Iya khan? Bisa sehabis Liana kerja! Eit, kita-kita saja. Para pria dilarang ikut! Ya?"
__ADS_1
Aku tersenyum. Mengangguk senang dengan kesepakatan yang Mama Tiur buat.
BERSAMBUNG