Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 95


__ADS_3

"Super hero!" Teriak seseorang. Sontak membuat semuanya menoleh pada orang itu.


Seseorang yang berteriak tadi pun tersenyum di kala wanita yang ia kenali melihat ke arahnya. Sedang ketiga orang dewasa lainnya menatap heran ke arah seorang pria tampan di depan mereka.


'Siapa pria ini? Dia melihat ke arah mana sih?'batin Arya.


Arya pun melihat ke arah pandangan mata dari sang pria, arah matanya tertuju pada Ayu yang sedang membalas senyuman dari pria tersebut.


'Cih, norak. Kalian berdua membuatku jijik. Ckck, lihat tatapan pria itu, memualkan,'batin Arya.


Entah mengapa Arya tak suka melihat pria lain menatap Ayu sambil tersenyum dan Ayu pun juga membalas senyuman dari pria itu. Sontak membuat Arya semakin kesal, apalagi pria itu menatap Ayu dengan penuh damba.


"Bayu! Sedang apa kau di sini?"tanya Ayu pada Bayu, pria yang memanggilnya dengan sebutan 'Super Hero'.


"Gue lagi anter penumpang tadi dan gue nggak sengaja lihat loe di sini, jadi gue samperin deh,"jelas Bayu, senyuman manisnya tak terlepas dari bibirnya hingga membuat dua lesung pipih terlukis indah di wajah tampannya.


"Oh, terus kamu belum balik?"tanya Ayu sedikit berbasa-basi.


"Belum, kan gue mau lihat Super Hero dulu. Ngomong-ngomong Super Hero ngapain ada di sini?"tanya Bayu heran. Tidak biasanya Ayu berada di Toko mewah seperti yang ia lihat hari ini.


"Ka--" Baru juga Ayu ingin berbicara, tapi perkataannya pun terputus karena seseorang telah menyergah pembicaraannya.


"Sudah tahu kami berada di butik. Tentunya kami ingin membeli bajulah. Masa di tanya lagi,"sergah Arya sewot.


Ayu yang mendengar perkataan Arya yang terbilang cukup kasar segera memberi isyarat pada Arya agar Arya menutup mulutnya rapat-rapat. Sedang Darren dan Sonya keduanya asik menyaksikan dan bahkan meneliti setiap gerak-gerik Arya.


'Arya, Arya. Apa dia tak sadar kalau perbuatannya ini sudah keterlaluan. Tapi, aku tidak akan menyadarkannya, dan aku akan membiarkan dia semakin terpancing. Haha, lagian sedang cemburu malah tidak sadar. Dasar jonas!"batin Darren.


"Hehe, maaf ya Bayu. Jangan hiraukan ucapan Om Tua itu, dia suka gitu jadi jangan di ambil hati, ya?"


Ayu benar-benar tak enak hati makanya dia meminta maaf pada Bayu. Walaupun baju orangnya ramah dan tidak suka marah-marah tetap saja Ayu meminta maaf, toh hati seseorang siapa yang tahu.


Arya yang mendengar kata 'Om Tua' dari mulut Ayu, level kekesalan pada dirinya sudah naik 90%, rasanya dia ingin meledak di tempat berdirinya.


'Apa? Om Tua? Cih, apa bagusnya pria yang ada di depanku ini? Kalau masalah tampan, aku yang lebih tampan dari dia. Gadis ini benar-benar buta. Pria setampan diriku di katai om-om terus pria biasa-biasa itu malah di anggap oleh dirinya,'batin Arya kesal.


Arya tanpa sadar membanding-bandingkan dirinya dengan Bayu, dia bahkan tidak menyadari perasaannya yang sesungguhnya.


"Iya, nggak papa kok. Gue nggak ambil hati. Salah gue juga, nanyain pertanyaan yang udah jelas gue tahu jawabannya,"ucap Bayu, senyum manisnya tentu saja tidak terlepas dari sudut bibirnya.


Bayu sangat senang bisa bertemu Ayu hari ini, gadis yang telah menyelamatkannya dari gerombolan perampok tempo hari membuat dirinya memanggil gadis itu dengan sebutan 'Super Hero' gadis tomboy itu juga telah mengisi hatinya dari pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya.

__ADS_1


Menurut Bayu, gadis seperti Ayu sangat jarang di temui di kota besar itu. Baik, cantik, mandiri, bahkan jago beladiri membuat Bayu makin gencar mengejar Ayu, namun Ayu masih belum meresponnya.


Ayu masih terlihat biasa-biasa saja, hingga membuat Bayu semakin tertantang untuk tidak menyerah mengejar Ayu. Apalagi Ayu sama sekali belum pernah dekat dengan pria manapun, itu menambah poin yang sangat besar tuk semakin mengejar Ayu.


"Makasih atas pengertiannya,"ucap Ayu tersenyum.


"Eh iya, sekarang Super Hero tinggalnya di mana? Gue sempat mampir ke rumah Mba Amel, tapi rumahnya sepi,"terang Bayu.


'Dia juga sempat ke rumah lama mereka?'batin Arya, tingkat kekesalannya sudah naik sedikit.


Bayu memang sudah pernah mampir ke rumah sederhana milik Amel, namun dia tidak pernah memasukinya, tak enak hati menjadi alasannya.


Bayu mengetahui Amel dari Ayu, tapi ia belum pernah ketemu sama Amel secara langsung karena Amel memang jarang ada di rumah jika siang hari.


"Kami sudah pindah ke rumah calon suaminya kak Amel, Bay. Tapi, sekarang kami masih berada di rumahnya Om itu,"jelas Ayu. Ayu menunjuk Arya dengan bibirnya yang ia monyongkan ke depan.


Bayu melirik Arya sekilas. "Calon suami? Maksud loe Mba Amel mau nikah?"tanya Bayu.


"Iya,"ucap Ayu singkat padat dan jelas.


"Wah ... gue boleh di undang nggak?"tanya Bayu penuh harap.


'Apa-apaan, sih! Genit banget jadi orang,'batin Arya tak suka.


"Na--" Untuk yang kesekian kalianya ucapa Ayu di potong.


"Tidak boleh!" Sergah Arya cepat. Tingkat kekesalannya sudah mencapai 99%.


"Om! Kebiasaan deh,"bentak Ayu.


'Berani sekali kau membentakku di depan pria itu,' batin Arya.


"Maaf ya Bayu. Fikiran Omnya lagi koslet,"jelas Ayu asal lalu tersenyum cerah pada Bayu membuat Arya semakin kesal dan kesal.


"Iya, nggak papa kok,"ucap Bayu tak enak hati melihat tatapan Arya yang sudah siap menerkam mangsanya.


'Kenapa pria ini menatapku seperti sedang melihat mangsa? Apa aku melakukan kesalahan? Hm, sepertinya tidak. Atau ... jangan-jangan dia juga menyukai Ayu. Wah ... sainganku pasti berat,'batin Bayu.


"Soal undangannya nanti aku bilangin ke kak Amel dulu ya. Dan kalau undangannya udah jadi barulah aku menghubunggimu,"ungkap Ayu tersenyum.


"Oke. Gue siap menanti. Hm, loe di sana hati-hati, ya!" Maksud perkataan Bayu adalah Ayu harus berhati-hati pada orang yang kini sedang menatap mereka seperti sedang melihat mangsa.

__ADS_1


"Tenang aja, di rumah Om, aman-aman saja kok,"terang Ayu. Mengingat di rumah Arya banyak para bodygard hebat yang berdiri tiap malam bak pantung di depan rumah.


"Oke, gue bisa tenang sekarang."


'Pakai acara mesra-mesraan di depanku lagi. Hei, apa kalian menganggap dunia ini hanya milik kalian berdua dan kami di sini hanya pengungsi saja?'


Lagi-lagi Arya hanya dapat mengatakan perkataannya dalam hati.


"Oh iya Bayu. Kamu masih tinggal di rumah lamamu, kan?"tanya Ayu memastikan.


'Apalagi ini?'batin Arya.


"Iya. Emangnya kenapa?"tanya Bayu menatap Ayu.


"Bagus deh. Itu loh tentang undangan nikahannya kak Amel. Nanti kalau udah jadi, aku yang anterin sendiri ke rumahmu, ya?"


Sudah lama juga Ayu tidak bertamu ke rumah Bayu, dia juga ingin bertemu dengan ibu Rukma, ibunya Bayu.


Bayu hanya tinggal berdua bersama ibunya, ayahnya sudah pergi entah ke mana dan dialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Namun tidak terlintas sedikit pun keluhan dari bibirnya, dia sangat santai menjalani hari-harinya.


'Pakai dianterin segala lagi,'batin Arya.


Kini tingkat kekesalan Arya sudah mencapai puncak peletusan. Tatapannya semakin membara menatap Bayu tajam. Semua gerak-geriknya, ekspresi wajahnya, tidak luput dari pandangan kedua orang yang sejak tadi hanya diam menyaksikan mereka bicara.


Bayu merasa tak nyaman di perhatikan oleh Arya, Arya bagaikan seekor harimau yang sudah siap menerkam seekor kijang tak berdaya di depan matanya.


Bayu meronggoh ponselnya di saku jaketnya, kemudian melihat applikasi yang sering ia gunakan untuk melihat penumpang.


"Okelah. Gue pamit dulu ya Super Hero. Masih ada penumpang lain lagi yang sedang menungguku." Bayu pun akhirnya pamit pada Ayu.


"Iya. Kamu hati-hati! Jangan sampai di ganggu lagi kek waktu itu!"


"Loe tenang aja. Nggak akan terjadi lagi kok. 'Kan udah di ajarin sama Super Hero,"ungkap Bayu tersenyum.


'Ajarin apa? Kenapa kak Bayu memanggil kak Ayu dengan sebutan super hero, ya? Aku jadi penasaran,'batin Sonya.


"Kamu ada-ada saja."


"Hahaha. Bye-bye super hero."


"Bye bye juga Bayu."

__ADS_1


"Semuanya, gue pamit,"pamit Bayu pada yang lain. Setelah mendapat balasan barulah ia melangkah.


Bersambung ❣


__ADS_2