Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC part 36


__ADS_3

Ayu mengendarai motornya membelah jalan perkotaan, ketika sampai di tempat yang agak sepi dari kendaraan, Ayu melajukan motornya dengan sengaja.


"Aaaaa!!!" Arya refleks berteriak, kedua tangannya mencekam pundak Ayu.


"Dasar cewek gila! Kalau mau mati, jangan ngajak-ngajak dong!!" Bentak Arya kasar di atas motor.


"Haha, di mana bicaranya yang penuh dengan wibawa itu, rasain kamu. Wkwkwk emang enak dikerjain," batin Ayu menahan tawa.


Ayu memelankan motornya dengan normal. "Om jangan mencekam pundak gue dong! Sakit tahu!"


"Apa anda sengaja mau membuat saya mati?!" bentak Arya dengan datarnya.


"Gue nggak berani Om. Semua penumpang juga gue nyetirnya gitu kok. Ah, Om parah nih, masih kalah mental sama anak kecil. Om terlalu lebay!" ucap Ayu mengejek Arya.


"Haha, aku tak tahan lagi. Pengen ketawa, tapi takut dia mengetahui kalau aku sedang mengerjainya," batin Ayu.


"Apa? Kalah sama anak kecil? Lebay? Hais cewek ini berani sekali. Lihat saja nanti, akan kubuktikan kalau aku tidak akan kalah sama anak kecil," batin Arya penuh keyakinan.


"Oke. Kalau begitu percepat saja kecepatan motor anda."


"Emang enak dibohongi, anak kecil saja takut kalau ngebut-ngebutan begini. Es Batu ini apa dia tidak dapat berfikir?" batin Ayu sudah tak dapat menahan tawanya lagi.


"Hahahahahahahaha!" Ayu tertawa dengan kencang melihat kebodohan Arya.


"Hei, kenapa anda tertawa?"


"Eh, itu Om. Gue sedang mengingat sesuatu yang lucu. Haha," kilah Ayu masih dengan tawanya.


"Dasar cewek gila!" batin Arya.


"Ini beneran kan Om! Nyetirnya kayak yang tadi?"


"Iya!" Saat di tempat yang agak sepi akan kendaraan, Ayu mulai menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Membuat orang yang berada di belakang mau tidak mau menerimanya dan bahkan menahan sesuatu yang bergejolak hebat di perutnya.


"Rasanya aku pengen muntah," batin Arya memegangi perutnya.


Mereka kini sudah tiba di depan perusahaan besar milik keluarga Abraham. Ayu memberhentikan motor maticnya di sisi jalan, sedangkan orang yang berada di belakang turun dan berlari entah ke mana.


Ayu melihat ke belakang dan mencari ke mana Arya berada, matanya berkeliling mencari, matanya tertuju pada seseorang yang sedang memuntahkan isi perutnya di pot besar yang di tumbuhi pohon.


"Hoek!"


"Dia sampai muntah begitu, memang dia bukan orang kaya biasa. Haha," lirih Ayu. Tanpa rasa bersalah Ayu malah sedikit mengejek Arya.


Ayu berjalan dan menghampiri Arya. "Om ngapain di situ?" Ayu pura-pura bertanya bodoh.


"Muntah!"


"Dia sudah melihatnya tapi masih saja menanyakannya padaku. Apakah dia benar-benar cewek gila? Aku tarik kata-kataku yang mengatakan kalau dia ini gadis yang manis," batin Arya.


"Udah Om muntahnya?" Tanya Ayu.


"Sudah!" ucap Arya ketus.

__ADS_1


"Nah, buka helmnya dan bayar ongkos ojeknya!" Arya ingin melepaskan helmnya namun dia kesusahan saat melepaskan tali pengikat helm, karena selama ini dia hanya biasa memakai mobil saja.


"Ya ampun, Om memang benar-benar orang kaya!"


"Dia bicara apa sih!? Kok aku merasa dia sedang mengejekku?" batin Arya, menatap Ayu penuh selidik.


"Sini Om, menunduk sedikit!" Arya mengikuti apa yang Ayu ucapkan, Ayu mulai melepaskan tali pengikat helm itu.


"Nah, sekarang ongkosnya mana Om?" Arya merogoh dan mengambil dompet di dalam saku celana belakangnya.


Arya mengeluarkan uang lima ratus ribuan dan menyodorkannya kepada Ayu.


"Nih!"


"Uangnya banyak banget lagi!" batin Ayu.


"I-Itu terlalu banyak Om!" ucap Ayu.


"Ambil saja!"


"Gue kan udah janji Om, bakal ngasih Om diskon. Jadi Om bayar 50 ribu aja Om," Walaupun bagaimana pun Ayu adalah orang yang jujur, jadi dia tidak mau mengambil kesempatan memeras orang lain.


"Ambil saja!"


"Nggak Om, itu terlalu banyak."


"Ambil saja!"


"Ya sudah kalau Om maksa. Gue ambil 100 ribu aja ya, Om?" Ayu menarik selembar uang seratus ribuan dari tangan Arya.


"Om, boleh menunduk sedikit nggak?"


"Kenapa?"


"Menunduk saja!" Arya menunduk, Ayu mencubit pipi Arya dengan kedua tangannya.


"Om lucu deh," ucap Ayu dan berlari menuju motor maticnya.


"Om, sebaiknya Om ngaca dulu! Dan itu Om, anak-anak nggak suka ngebut-ngebutan kayak tadi!" Teriak Ayu dan mulai menjalankan motornya.


"A-Apa maksudnya? Dasar cewek aneh!" Arya berusaha mencernah apa yang Ayu katakan.


"Apa?! Dia bilang anak-anak tidak suka? Ternyata dia membohongiku! Awas saja nanti kalau ketemu lagi!" ucap Arya dengan kekesalan yang membara dan hampir terbakar. Arya melupakan poin pentingnya dan poin pentingnya adalah berkaca.


Arya masuk ke lobby perusahaan, dilihatnya dua orang resepsionis sedang bisik-bisik tetangga saat melihatnya.


"Ada apa dengan mereka? Kenapa melihatku seperti itu? Aneh!" batin Arya, menatap mereka dengan datar. Mereka menunduk karena takut dan melanjutkan pekerjaan.


Arya memasuki lift khusus Presdir dan menekan tombol menuju lantai atas. Sesampainya di sana, dia berlalu pergi keruangan Azka.


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk!" Mendengar sahutan dari dalam, Arya membuka pintu.

__ADS_1


Cek-lek!


Azka masih fokus dengan laptop pribadi miliknya.


"Permisi Tuan!" ucap Arya. Azka mendongak melihat orang yang berada di depannya.


"Ada apa denganmu?!" Azka terkejut melihat penampilan Arya.


"Kenapa denganku Tuan?!"


"Kenapa reaksi Azka begitu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" batin Arya heran.


"Buka camera di ponselmu dan lihatlah wajahmu itu!" Arya melakukan apa yang Azka katakan, dia merogoh ponselnya, membuka camera dan melihat wajahnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?!" Pekik Arya heran, dilihatnya rambut yang paginya sudah di tata dengan rapi, kini malah acak-acakkan seperti orang yang sedang kesurupan setan.


"Pasti gegara cewek gila itu! Pantesan saat melewati lobby para penjaga resepsionis menatapku dengan tatapan aneh," batin Arya mengingat kembali.


"Kamu dari mana saja sih?! Apa tadi kamu di rampok?"


"Aku naik ojek ke sini!"


"Hah?! Serius?!"


"Ya. Ini semua karena seekor kucing liar!"


"Menarik!"


"Apanya yang menarik?"


"Menarik karena dapat membuatmu seperti ini."


"Cukup hari ini saja."


"Oh ya? Ke depannya jika ketemu lagi, itu tandanya dialah takdirmu."


"Jangan membahasnya lagi! Bikin tambah kesal saja!"


"Kenapa kamu meneleponku?"


"Apa sudah ada perkembanggan tentang orang itu?"


"Belum, apa kita juga harus menutup jalan melalui jalur darat?"


"Tidak perlu! Kalian hanya perlu memantau dia dari jauh saja. Jika ada yang mencurigakan, maka laporkan saja padaku. Oh iya, ini daftar nama artis dan model yang sudah kita undang dan tolong kamu periksa kembali daftar nama itu!" Azka menyerahkan daftar nama kepada Arya.


Sesuai permintaan atasannya pak Bram selaku salah satu petinggi perusahaan, sudah menyelesaikan tugasnya sebelum waktu yang telah ditentukan.


"Baiklah! saya permisi Tuan!"


"Hemm!" Arya berlalu keluar dari ruangan Azka.


Bersambung❤

__ADS_1


__ADS_2