
Selepas kepergiaan Ayu dan Sonya, Arya pun berjalan menghampiri Darren yang sedang bermain bersama anak-anak di lantai.
"Wajahmu sudah lebih baik sejak aku melihatmu terakhir kalinya," ucap Darren menggoda Arya.
"Hm ... apa Azka tidak mampir ke sini?" tanya Arya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tahu. Kami juga belum terlalu lama sampai di rumah. Coba kamu tanyakan pada kakak ipar. Mungkin dia tahu," jawab Darren jujur. Ia benar-benar tidak melihat batang hidung Azka sejak tadi.
'Apa mungkin dia sudah kembali ke Apartemen.'
"Sudahlah tidak usah serius begitu. Hubungan kalian berdua sudah sampai mana?" sambung Darren lagi saat melihat sedikit kepanikan di wajah Arya.
"Kenapa kau tanyakan pertanyaan seperti itu di depan anak-anak?" tanya Arya yang mulai sadar.
"Tenanglah, santai aja. Walau mereka mendengar pembicaraan kita, mereka juga tidak akan mengerti dan memahami," terang Darren enteng. Kedua bahunya terangkat, lalu sedetik kemudian bahunya kembali dinormalkan.
'Om Darren terlalu meremehkanku. Jangan sebut aku anak ayah Azka, jika aku tidak tahu apa yang akan Om berdua katakan nanti.'
Raka tak terima dengan ucapan Darren. Di antara semua saudaranya dialah yang memiliki IQ tinggi. Ia juga cepat belajar dan memahami, namun dia tahu dirinya masih anak-anak harus ada batas normalnya dalam menyikapi sesuatu, itu yang selalu Amel nasihatkan padanya.
Amel sering menasehati dirinya bahwa dunia anak-anak adalah dunia main, jadi dirinya wajib bermain dan melakukan hal-hal apa saja yang menyangkut tentang anak-anak bukan mengikuti pemikiran orang dewasa yang terkesan rumit. Kadang kala Amel selalu mengingatkan jika terjadi hal di luar dugaan, barulah Raka bisa menggunakan sedikit kecerdasan otaknya.
Yang Raka sesalkan, kenapa waktu itu bukan dirinya yang diculik oleh wanita siluman itu, melainkan adiknya, Bara. Bara hanya bisa merenggek, jika dirinya dia pasti akan membuat orang yang menculik mereka kapok. Namun sayang, itu hanya berada dalam khayalan semua sudah terjadi dan waktu tidak akan kembali lagi. Tapi, ia bersyukur bahwa Tuhan masih melindungi adiknya.
"Benarkan?" tanya Darren berbalik menatap anak-anak.
"Benal tenapa Om?" tanya Rasti sedikit binggung.
"Dik-dik, yo tita peldi dali tini!' seru Raka cepat. Ia tak mau adik-adiknya berada di ruang keluarga.
"Eh, Raka. Kenapa kamu memanggil adik-adikmu? Main di sini saja sama Om, ya!" pinta Darren heran dengan tingkah Raka yang terjadi begitu tiba-tiba.
"Idak au. Atu idak au memuat pitilan dik-diktu totol," sungut Raka melipat tangannya di dada.
"Tuh kan, Raka mengerti dan memahaminya dengan sangat baik." Arya menyalahkan Darren. "Iya Raka. Sebaiknya kamu bawah adik-adik main di kamar," pinta Arya.
"Ote Om."
"Unggu uyu. Pa mattut Tak Laka? Pitilan totol tenapa?" tanya Rasti penasaran.
"Anat tetil dak oleh au," ketus Raka.
Mendengar jawaban Raka yang tak terduga membuat kedua orang dewasa yang ada di sana hampir tergelak.
'Malah mengatai adiknya, kecil. Dan tidak sadar diri kalau dirinya juga masih kecil. Hahaha Raka, Raka.'
"Ekhem! Kalian semua ikuti Kak Raka ke kamar. Ada yang ingin Om sampaikan pada Om Darren," pinta Arya lembut.
"Aik Om," Rasti, Bunga dan Bara tidak menolak lagi.
Para bocah kecil itu pun berjalan menjauhi Arya dan Darren di sana, setelah mereka menghilang di balik ruangan, barulah kedua orang dewasa itu memulai percakapan mereka lagi.
"Jadi bagaimana? Hubungan kalian sudah sampai mana?" tanya Darren penasaran.
"Biasa-biasa saja," jawab Arya singkat.
"Apa kalian sudah pernah melakukan ciuman? Atau bahkan lebih dari sekedar ciuman?" tanya Darren menginterogasi.
__ADS_1
Seketika pipi Arya merona. "B--Belum," kilah Arya gugup.
"Belum di mana?"
"Belum, dari sekedar ciuman."
"Dalam arti ... kalian berdua sudah pernah ciuman. Ciumannya di mana? Di pipi? Di kening? Di dahi? Atau di bibir?" Darren membeberkan beberapa pertanyaan.
"Pertanyaan konyol macam apa itu?" tanya Arya.
"Sudahlah tidak usah malu-malu. Kok bisa ya, Ayu bisa membuatmu menciumnya? Padahal waktu kamu masih pacaran sama Aulia, tidak pernah sekali pun kamu melakukan perlakuan seperti itu padanya," ungkap Darren heran.
"Ayu berbeda dengan Aulia. Kau tahu Darren, aku tidak bisa menahan diri saat berdekatan dengan Ayu. Entah mengapa tubuhku selalu tergerak untuk selalu menciumnya dan bahkan sudah beberapa kali kami melakukan ciuman, itu pun diriku yang memulainya duluan," jelas Arya. Darren hanya manggut-manggut saja.
"Apa aku terkena penyakit serius?" sambung Arya.
Mengelengkan kepala. "Hm ... ya Ar. Kamu sudah terkena penyakit yang cukup serius," jelas Darren serius.
"Benarkah?"
"Selamat Anda memiliki penyakit kebucinan yang tinggi. Hahaha." Darren tergelak menahan perutnya yang tak sakit.
"Orang serius malah di ajak bercanda."
"Tenanglah calon Kakak iparku. Obatnya adalah kamu harus segera menikahinya agar aku dan Sonya juga bisa menyusul," ucap Darren dengan kekehan kecil.
"Apa kalian sudah melakukan hal diluar batas?" tanya Arya serius.
"Ya tidaklah. Aku selalu menjaga adikmu. Kami saja tidak pernah melakukan ciuman. Tapi, aku masih penasaran, apa benar kalian sudah melakukan ciuman?" tanya Darren lagi.
'Tidak salah aku memilihmu sebagai pendamping hidup adikku.'
"Ya."
"Dilihat dari raut wajahmu, sudah tergambar jawabannya dengan jelas."
"Ya jawabannya memang iya. Dan itupun sudah berulang kali kami melakukannya," ungkap Arya dengan wajah yang masih bersemu merah.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu akan sebucin ini pada Ayu. Dan kamu harus tahu, sebenarnya semua ini ide kami. Untuk mendekatkanmu dengan Ayu," sambung Darren lagi.
"Hah?"
"Ya, sejak awal kami sudah tahu kamu menyukai Ayu. Namun, kamu belum terlalu yakin dengan perasaanmu sendiri. Makanya kami yang berinisiatif."
"Mungkin iya. Dan jika tidak ada kejadian itu, mungkin sekarang aku belum berani mengatakan perasaanku padanya," terang Arya mengingat kejadian konyol yang ia lakukan di danau.
"Kejadian? Kejadian apa?" tanya Darren penasaran.
"Kejadian di saat Ayu menemui lelaki tukang ojek yang kita lihat di Butik tempo hari. Ayu menemuinya dan lelaki itu mengungkapkan perasaannya, kufikir Ayu menerimanya, ternyata tidak."
"Bagaimana kamu bisa berfikiran seperti itu? Tunggu, apa kamu mengikutinya?"
"Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ayu menerima perasaan lelaki itu tanpa mendengar dan melihat pengakuan Ayu sampai selesai, dan itulah kesalahan terbesarku. Bahkan aku menyamar agar tidak ketahuan."
"Serius?" tanya Darren memastikan.
"Ya."
__ADS_1
"Aku tidak akan tanya lagi. Intinya kami semua senang, atas hubungan kalian." Darren menyudahi aksi keponya.
Di waktu yang bersamaan. Sonya mengoceh terus, bertanya ini dan itu pada Ayu yang sedang merapikan barang-barang belanjaannya di lemari.
"Duh, Kak Ayu. Aku sangat bahagia. Terima kasih kak sudah menerima cinta kak Arya."
"Ya. Kakak juga tidak menyangka, akan jadi seperti ini," ucap Ayu terkekeh pelan.
"Oh iya Kak. Tadi, selain belanja yang begitu banyak, kalian pergi kemana juga?" tanya Sonya penasaran.
"Kakakmu mengajak Kakak ke pantai. Seru banget, lain kali kita kesana bareng-bareng, yuk!" ucap Ayu antusias.
"Wah ... ternyata kak Arya juga seromantis itu. Hihihi." Sonya terkikik geli. Ia tak menyangka bahwa kakaknya juga bisa melakukan hal-hal yang romantis.
"Ya, Kakakmu sangat romantis. Bahkan dia menc ... ah tidak jadi. Hehe." Ayu hampir saja keceplosan. Untungnya ia mampu menahan mulutnya.
"Menc, apa Kak?" tanya Sonya penasaran.
"Ahahaha, tidak, tidak ada kok." Ayu hanya tertawa canggung, ia juga mengelak cepat agar Sonya tidak bertanya lagi.
"Menc? Menc ... ium! Benarkan, mencium?" tanya Sonya, ia menebak tepat sasaran.
"Aduh ... " Ayu binggung harus berkata apa pada Sonya yang sedang menatapnya curiga.
"Beneran kak, mencium?" tanya Sonya lagi. Kini tatapan Sonya berubah menggoda. Akhirnya Ayu pun mengangguk juga.
"Wah ... kak Arya langsung nyosor aja." Sonya tertawa terbahak-bahak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Arya juga bisa melakukan hal itu pada Ayu.
"Ssttt! Jangan keras-keras! Nanti Kakakmu dengar."
"Hahaha iya Kak." Sonya berusaha menetralkan tawanya.
Mereka terdiam selama beberapa detik. "Kak, jujur, hari ini aku sangat senang. Kakak sudah jadian sama kak Arya," ungkap Sonya tersenyum cerah.
"Apa Kakak boleh menanyakan sesuatu?" tanya Ayu. Ia menghentikan kegiatan merapikan baju.
"Tentang apa?" tanya Sonya serius.
"Tentang Aulia."
"Bukankah aku sudah pernah menceritakannya pada Kakak?" tanya Sonya lagi. Seingatnya ia sudah pernah menceritakan tentang Aulia pada Ayu.
"Ya. Aku ingin mendengarnya sekali lagi."
"Aulia adalah salah satu anak pengusaha sukses di kota H. Dia anak tunggal sehingga dimanja oleh ayahnya. Dia suka melakukan hal yang semena-mena. Dia selalu menindas gadis-gadis yang dekat dengan kak Arya, waktu itu hampir saja ia menindasku, tapi kak Arya melihatnya dan kak Arya pun menjelaskan bahwa diriku adalah adik kandungnya. Awalnya dia baik padaku, namun suatu hari aku tak sengaja melihatnya berciuman dengan pria lain. Kufikir kak Arya tidak tahu, ternyata kak Arya juga mengetahuinya dan bahkan segera mengakhiri hubungan mereka. Hingga membuat kak Arya menjadi datar tanpa ekspresi. Dan untungnya sekarang es itu sudah mencair, hihihi jadi Sonya juga bisa tenang," terang Sonya panjang lebar.
'Aulia? Aku mau lihat, apa yang akan kau lakukan padaku nanti.'
Ayu menantikan apa yang akan terjadi padanya nanti, dia tahu pertemuan mereka akhir-akhir ini sudah begitu jelas bahwa wanita itu sedang mengincar dirinya. Lewat tatapan mata saja Ayu sudah dapat menebak maksud terselubung dari tawa Aulia, saat melihatnya bersama Arya tempo hari. Dan Ayu yakin bahwa orang yang memergokinya di pantai adalah orang suruhan dari seseorang.
"Kak, Kak Ayu!" panggil Sonya.
"Ya."
"Kok malah melamun?"
"Tidak apa-apa, ayo bantuin Kakak merapikan pakaian-pakaian ini dulu," pinta Ayu.
__ADS_1
"Baik Kak."
Bersambung❣