Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 98


__ADS_3

"Mesra-mesraanya sudah apa belum?" Tanya orang itu lagi.


Azka yang mendengar itu pun langsung melihat ke arah sumber suara. Dia sangat mengenali suara siapa itu, namun dia masih belum percaya kalau orang itu juga bisa bertanya seperti itu. Amel juga melihat ke arah sumber suara tersebut. Mereka melihat orang itu sedang menatap mereka dengan tatapan kesal, tangannya sudah ia lipat sedari tadi.


"P--Pak Arya,"lirih Amel.


"Apa yang terjadi padamu Ar?"tanya Azka.


Azka tentu saja tak percaya kalau Arya juga bisa bertanya seperti itu, biasanya juga kalau melihat ia dan Amel sedang bermesraan Arya selalu menghindar dan bahkan pergi tidak mempedulikan mereka. Arya hanya akan berbicara jika Azka sedang sendiri.


Biasanya jika ada orang yang berani menganggu kesenangannya, ia akan membuat orang itu kapok dengan perbuatannya,namun kali ini berbeda, Azka tak menghukum Arya karena heran dengan tingkah Arya tadi.


"Tidak di luar, tidak di rumah, sama saja, kenapa orang-orang selalu bermesraan di depanku, sih? Bikin kesal saja."


"Hah!" Amel tercenggang mendengar penuturan Arya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Di mana yang lain?"tanya Azka.


"Masih di parkiran, aku meninggalkan mereka di sana. Aku ke kamar dulu." Belum sempat mendengar jawaban dari Azka, Arya sudah berlalu ke kamarnya.


"Eh, oke." Anggap saja Azka menjawab pada angin yang telah berlalu.


'Apa yang terjadi padanya? Tumben banget nih anak memperlihatkan tatapan kesalnya padaku. Biasanya juga tanpa ekspresi sepertiku. Apa dia sudah mengenal cinta, ya?' Batin Azka.


"Pak Arya kenapa?"tanya Amel.


"Aku juga tidak tahu. Tidak seperti biasa dia berbicara seperti itu padaku."


Amel dan Azka tak mengingat lagi apa yang akan mereka berdua lakukan tadi. Mereka sudah terlanjur heran dengan tingkah Arya yang tak seperti biasanya.


Darren dan yang lainnya segera masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Azka dan Amel sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Kalian semua, kemari dulu sebentar! Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian,"pinta Azka.


Tanpa banyak bertanya, Darren, Ayu, dan Sonya menuju sofa dan duduk di sana.


"Kau ingin menanyakan tentang apa?"tanya Darren penasaran karena melihat tatapan serius Azka.


"Apa yang terjadi pada Arya?"tanya Azka.


"Arya? Kenapa dengan Arya?"


Darren balik bertanya. Ia sudah mengetahui Azka juga pasti heran dengan tingkah Arya. Namun dia ingin tahu jelas apa yang Arya lakukan pada Azka di saat mereka tidak ada.


"Entahlah! Dia bersifat aneh hari ini,"ungkap Azka.


"Hahaha, jadi kamu juga merasakan hal yang sama?"tanya Darren sedikit mengejek.


'Ayolah Azka, aku juga ingin tahu kenapa kau juga bisa menyadari kalau sifat Arya berubah.'


"Ya. Dia berbeda. Apa kau melakukan sesuatu padanya?"


"Tidak kok."

__ADS_1


'Ternyata susah juga menghadapi Azka yang pandai menilai arah pertanyaanku,'batin Darren.


'Darren, Darren. Aku tak ingin memberi tahumu apa yang Arya lihat tadi. Kalau aku memberitahumu di sini dengan adanya mereka bertiga, sama saja aku menceritakan kejelekkanku sendiri.'


"Bagaimana dengan kalian berdua?"tanya Azka mengintimidasi Ayu dan Sonya.


"Aku juga tidak melakukan apapun, Kak." Sonya mengingat kalau dia tidak melakukan apapun pada Arya.


"Aku juga,"timpal Ayu.


"Ya sudah. Kalian berdua ikut kak Amel saja, aku ingin berbicara berdua bersama Darren di sini."


"Baiklah, Kak."


"Ayo kita ke kamar, Kakak." Ajak Amel pada kedua wanita yang duduk di sofa.


Ketiga wanita dewasa itu pun mengikuti Amel menuju kamar tamu yang di tempati oleh Amel. Amel juga ingin melihat para bocah kecilnya, Amel sangat penasaran juga dengan mereka, apa benar mereka tidur dengan sendirinya atau malah sedang bermain-main sekarang.


Di waktu yang bersamaan, Arya yang sudah memasuki kamarnya, langsung melempar tubuhnya di atas kasur empuknya.


"Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi seperti ini? Aaarrrggt!" Arya begitu frustasi dia bahkan mengacak-acak rambutnya kasar.


"Akhir-akhir ini aku terus memikirkan wanita tomboy itu. Kenapa ada orang yang menyukainya? Mengingatnya sungguh membuatku kesal. Apalagi saat di mobil tadi, mereka bertiga terus berbicara seperti burung beo, malah membahas soal lelaki tukang ojek itu di depanku lagi. Ahhh, menyebalkan,"sambungnya lagi.


...~Flashback~...


Keheningan yang terjadi di dalam mobil membuat Darren tidak tahan lagi. Dia ingin memancing Arya dengan kailnya.


"Maksud Pak dokter, Bayu?"tanya Ayu.


"Ya Bayu. Omong-omong kau panggil aku Darren saja. Jangan panggil dengan sebutan pak Dokter segala!"


Darren tak nyaman jika Ayu masih memanggilnya dengan sebutan pak dokter.


"Eh, baiklah Darren."


"Nah gitu dong, begitu 'kan enak."


"Emang kenapa dengan Bayu?"tanya Ayu lagi.


"Dia siapanya kamu?" Darren balik bertanya.


"Teman kenalan,"jawab Ayu singkat.


"Kayaknya dia suka deh sama kamu." Darren terus menerus mengeluarkan jurus jitunya.


"Ah, tidak mungkinlah. Kami hanya kebetulan bertemu secara tak sengaja saja,"terang Ayu mengingat bahwa tidak ada apa-apa antara dia dan Bayu.


"Walaupun begitu aku dapat melihat orang yang menyukaimu dan orang yang sedang cemburu. Bisa jadi secara tak sengaja itu malah menimbulkan benih-benih cinta, kan?" Darren sengaja sedikit menyindir orang di sampingnya.


"Bisa diam tidak, sih?" Bentak Arya, dia benar-benar sudah panas mendengar ocehan Darren sejak tadi.


'Ikannya telah memakan umpanku,' batin Darren tertawa.

__ADS_1


"Tidak bisa. Kalau kau mau diam, diam saja sana!" Darren kembali membentak Arya. Arya terdiam seribu bahasa, habisnya dia juga merasa aneh pada dirinya.


"Iya Kak. Sonya juga dapat melihatnya dengan jelas. Kak Bayu keknya suka deh sama Kakak. Dia juga ramah 'kan orangnya? Malah bagus Kak, Kakak pasti bahagia kalau bisa jadian sama dia. Apalagi nama kalian hampir sama, sifat kalian juga ceria pasti sangat cocok. Tidak seperti seseorang, tidak asyik di ajak bercanda." Kini giliran Sonya yang menyindir kakaknya. Arya semakin panas dibuatnya.


'Katanya mendukungku. Nyatanya malah menusukku dari belakang,'batin Arya kesal.


Pandangan mata Arya masih menatap lurus ke depan. Namun fikirannya terus tertuju pada orang yang berbicara dalam mobil.


"Kalian bicara apa, sih?"tanya Ayu yang memang kurang begitu paham arah bicara Darren dan Sonya.


"Eh iya. Jika undangan pernikahan kak Amel sudah jadi, Kakak ingin memberi undangan pada kak Bayu, kan?"tanya Sonya, agar Ayu tak terlalu memusingkan apa yang dia katakan.


"Iya. Aku yang akan mengantar sendiri ke sana. Apa kau juga mau ikut?"tanya Ayu.


"Ya mau dong, Kak."


"Aku masih penasaran nih. Apa kau sudah pernah pergi ke rumah Bayu?" Kini Darren yang bertanya.


"Udah. Udah ketemu sama ibunya juga,"jelas Ayu.


"Wah ... dalam arti ibunya juga sudah kenal baik sama kamu?" Tanya Darren antusias.


"Iya. Aku kalau pulang narik, mampir dulu ke sana."


"Dia juga narik?"tanya Darren lagi.


"Ya. Dia juga pernah mengantarku pulang, walau kami mengendarai sepeda motor sendiri-sendiri,"ungkap Ayu.


"Gawat!" Darren refleks mengeluarkan kata itu. Dia tidak menyangka bahwa hubungan Ayu dan Bayu sudah sejauh itu.


"Gawat kenapa?"tanya Ayu heran.


"Mungkin maksud kak Darren itu gawat, ya gawat. Haha. Iya 'kan kak?"tanya Sonya berusaha menyelamatkan kekasih hatinya.


"Ya, ya."


"Owh." Ayu hanga ber-O saja.


'Kenapa mereka berdua aneh, ya? Apa mungkin hanya perasaanku saja?' Batin Ayu.


Setelah memakirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia di rumah Arya. Arya tanpa kata langsung keluar dan berjalan ke dalam rumah meninggalkan mereka yang masih berada di dalam mobil.


Ayu terlihat kebingungan melihat tingkah Arya. Sedang dua orang di dalam mobil tersenyum penuh kemenangan.


'Kayaknya berhasil deh, namun kak Arya tidak menyadarinya. Kakak, adikmu ini tentu saja selalu mendukungmu, hanya saja itu salahmu sendiri, kenapa kau tidak peka sekali terhadap perasaanmu sendiri.'


"Kita turun dan ambil barang-barang dulu,"ucap Darren.


"Baiklah,"jawab Ayu singkat.


......................


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2