
Arya menghampiri mobilnya yang masih terparkir di sana. Kakinya serasa berat memasuki mobilnya, andai saja ia tidak mengikuti Ayu pasti semua tidak akan terjadi seperti ini dan pastinya ia juga tidak akan mendengar hal yang mengecewakannya.
Setelah duduk di kursi kemudi barulah ia melepas masker dan kacamatanya, rambutnya di biarkan acak-acak seperti itu. Arya pun menghidupkan mobil dan pergi dari tempat wisata itu.
Di bawah pohon yang ridang, seorang lelaki dan perempuan masih berada dalam situasi yang sama. Ayu menatap manik mata lelaki yang ada di hadapannya, genggaman tangan lelaki itu masih melekat indah di pergelangan tangan Ayu.
Ayu kemudian mengambil kendali atas gengaman tangan pria itu, melihat ada keseriusan pada mata sang pria membuat senyum manis Ayu tak pernah pudar dari bibirnya.
"Sungguh? Apa loe juga menyukai gue?" tanya Bayu antusias. Ia ingin lebih memastikan ucapan Ayu sekali lagi.
"Ya, aku sangat menyukaimu Bayu. Kau pria yang baik dan bertanggung jawab. Namun maaf, hatiku sudah dicuri oleh orang lain. Aku benar-benar minta maaf padamu, karena aku menyukaimu hanya sebatas teman saja," ungkap Ayu. Ia benar-benar tidak ingin membuat Bayu salah paham lagi padanya.
Tatapan Bayu yang tadinya bahagia kini sirna dari wajahnya dan seketika berubah menjadi murung. Dia juga tidak bisa memaksa Ayu tuk menerima cintanya.
'Maafkan aku Bayu, aku tahu kamu serius dan tulus padaku, tapi aku tidak mau membohonggi hatiku dan juga tidak mau memberikan harapan palsu padamu.'
"Baiklah, gue nggak akan maksa loe tuk nerima cinta gue. Maafin gue, yang sempat berfikir loe juga menyukai gue dan ternyata ... hanya gue saja yang menyukai loe." Bayu tertawa hambar.
"Sekali lagi, aku minta maaf. Semoga kelak kau juga dapat menemukan orang yang tepat dari aku."
"Oke. Lupakanlah apa yang gue ungkapkan ke loe tadi. Oh iya, ayo kita pergi ke rumah! Ibu mungkin sedang menunggu kedatangan loe di sana."
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ayu. Dia tak mau hubungan mereka menjadi tidak baik karena ungkapan cinta Bayu yang ia tolak.
"Tenanglah, gue nggak apa-apa kok," ucap Bayu tersenyum paksa.
Bohong jika Bayu mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Nyatanya hatinya sakit sekali mendengar penolakan Ayu, walau ia tahu ini juga demi dirinya.
"Tapi, jika lelaki yang loe sukai itu membuat loe sedih. Loe bisa langsung datang ke gue, gue akan selalu ada buat loe," sambungnya lagi.
Ayu terharu mendengar penuturan yang keluar dari mulut Bayu barusan.
"Terima kasih."
"Iya, sama-sama Super Hero. Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Bayu. Ayu hanya menggeleng saja.
__ADS_1
Bayu beranjak dari sana dan berjalan duluan, Ayu juga berjalan mengekori Bayu dari belakang.
'Gue harap loe bahagia dengan pilihan hati loe, dan jika loe di sakiti olehnya, jangan pernah salahkan gue jika gue mengincar loe lagi nanti.' Tekad Bayu dalam hati.
...****************...
Arya sudah tiba di rumahnya dengan selamat, rasanya hari ini sangatlah melelahkan untuk fikiran dan juga hatinya. Dilihatnya rumah begitu tampak sepi, semua orang belum pulang dari kepergian mereka tadi pagi tapi Arya tidak mempedulikan semua itu, ia berjalan dan masuk ke kamarnya.
Arya memutar kunci kamarnya pertanda bahwa ia sedang mengunci diri di sana. Dia pun berjalan melihat penampilannya di cermin.
Arya meremas baju yang ia kenakkan. "Baju ini, sekarang sudah tidak berguna lagi!"
Srek!
Dengan sekali tarikkan tanpa mengeluarkan banyak tenaga dari tangannya, membuat baju yang ia kenakkan itu seketika terlepas dari tubuhnya. Yah, Arya merobek baju itu dari tubuhnya dan membuang baju kaos itu ke sembarang arah. Lalu pergi ke lemari pakaian dan memakai baju lain, seperti yang ia kenakkan sebelum mengenal cinta lagi.
Arya membaringkan tubuh ke ranjang empuk miliknya. Matanya menatap langit-langit kamar, fikirannya menerawang jauh dan tentunya sekejap mata ingatan tentang ucapan Ayu terus tergiang-giang dalam benaknya.
"Ayu,"lirihnya pelan. Ia pun memenjamkan matanya, lalu membukanya kembali.
"Ayu kau berhasil membuatku gila," gumam Arya.
Arya kembali memenjamkan matanya dan mengingat kenangan waktu pertama kali ia bertemu dengan Ayu, hingga membuat dirinya menjadi seperti sekarang. Tanpa terasa Arya sudah memasuki alam mimpinya dan tidak begitu lama dengkuran halus terdengar di dalam ruang kamar itu.
...****************...
Jam dinding terus berputar dan berputar hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04:00 sore.
Demi menjalankan rencana yang diberikan Darren, setelah pemotretan selesai Azka sengaja mengajak Amel dan anak-anak jalan-jalan ke taman bermain dan ke toko-toko mainan. Kini mereka sedang beristirahat di Apartemen milik Azka.
Anak-anak sedang bermain permainan baru yang di beli oleh Azka tadi siang, sedang Amel dan Azka duduk santai menikmati minuman dingin di ruang keluarga.
"Kenapa kita pulang ke sini? Apa di rumah pak Arya baik-baik saja?" tanya Amel. Sejak awal dia sudah ingin bertanya pada Azka namun tidak ada kesempatan yang tepat.
Azka meneguk minuman dingin di tangannya. "Di rumah baik-baik saja. Namun, aku hanya mengikuti kemauan Sonya dan juga Darren," ucap Azka setelah menelan minuman dalam mulutnya.
__ADS_1
"Pasti demi Ayu dan juga pak Arya, kan?" tanya Amel dan tebakannya itu tepat sasaran.
"Iya," jawab Azka singkat.
"Pantes saja. Pagi tadi mereka sangat mencurigakan, apalagi Sonya juga tidak memberitahuku tentang rencana mereka ini," ungkap Amel. Ia sedikit terkejut melihat Sonya yang sudah rapi dengan pakaian yang Sonya kenakkan tadi pagi. Dan ternyata, Sonya juga diajak keluar oleh Darren.
"Semoga kali ini berhasil,"lirih Azka, lalu meneguk minuman dingin yang masih berada di tangannya.
"Ya semoga saja. Ayu adalah gadis yang baik, kalau tidak ada dia mungkin aku tak setegar sekarang, dia selalu menemani suka dan dukaku. Aku berharap dia mendapatkan lelaki yang baik yang bisa melindunginya juga," ucap Amel tulus. Baginya Ayu juga berhak mendapatkan kebahagiaan, ia tahu setomboy dan sekuat apapun Ayu, pasti ada jiwa rapuhnya.
"Apa aku beri dia hadiah saja, ya?" Azka memberi saran pada Amel. Dia ingin membalas budi baik Ayu, yang sudah menjaga Amel dengan sepenuh hati.
"Dia tidak suka diberi hadiah secara cuma-cuma, jadi percuma juga," terang Amel yang sudah hafal betul sifat Ayu.
"Lalu?"tanya Azka.
"Entahlah!" Amel mengangkat pundaknya pertanda ia juga tidak tahu.
"Bagaimana kalau kamu yang membujuknya, pasti dia mau mendengarkanmu," ucap Azka memberi solusi.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Amel.
"Oke," jawab Azka singkat.
"Sore ini kita mandi saja di sini, nanti malam baru aku antar kalian pulang ke sana," sambung Azka lagi.
"Baiklah."
Di waktu yang bersamaan Ayu sudah sampai di depan rumah milik Arya, motor matic miliknya ia kendarai sampai ke dalam garasi tempat parkir kendaraan yang ada di rumah Arya.
Setelah memarkirkan motornya barulah ia melangkah perlahan menuju pintu rumah, dia langsung masuk begitu saja karena rumah tidak di kunci.
"Apa Om lupa mengunci pintu?" lirih Ayu pelan.
Bersambung❣
__ADS_1