Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 104


__ADS_3

Arya mengingat bahwa sebelum pergi ke rumahnya sendiri, Azka dan Darren sudah bersih dan rapi dengan baju casual yang mereka berdua kenakkan. Dia tak habis fikir bahwa Darren juga mempunyai rencana keluar hari ini, bahkan Darren membangunkannya ketika dia sudah habis bersiap dan menyuruhnya yang baru bangun bergegas pergi, alhasil Arya hanya membasuh wajah dan mengosok gigi saja.


Kini Arya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya, ia bergegas mandi dan keluar berganti pakaian. Sedang Ayu yang sudah rapi dengan pakaian lengkap mencari Arya ke setiap sudut ruangan, namun tak juga melihat batang hidung Arya di sana.


"Apa Om berubah fikiran?" Lirih Ayu pelan. Dia bergegas ke ruang tamu dan sama saja Arya juga tak ada di sana. Ayu duduk sebentar di sofa.


"Mungkin Om sedang berada di kamarnya. Mending aku nunggu sebentar di sini deh. Kalau lewat 15 menit Om tak muncul juga barulah aku pergi sendiri."


Arya masih dilema dengan baju yang berjejer rapi dalam lemarinya. Dia bahkan sampai kebinggungan mau pakai baju apa.


"Kira-kira baju yang cocok untuk diriku yang mana, ya?" Arya bertanya pada dirinya sendiri.


Padahal baju dalam lemari semuanya sangat cocok dan pas saat ia memakainya. Arya benar-benar binggung harus pakai apa agar terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Oh, pakai yang ini saja."


Arya memutuskan pakai baju kaos putih dan celana casual panjang warna hitam. Tidak lupa ia mengambil sepatu dan memakainya lalu mengambil jam tangan andalannya untuk di jadikan akhir dari penampilannya.


"Lain kali, aku harus ke Toko pakaian untuk membeli baju yang baru,"lirihnya pelan.


Arya memakai parfum di tubuhnya, rambutnya ia tata dengan rapi agar terkesan keren.


"Oke, selesai."


Arya keluar dari kamarnya dengan jantung yang berdetak kencang.


'Apa penampilanku tidak terlalu berlebihan?' batin Arya was-was. Matanya berkeliling mencari keberadaan Ayu.


Dengan perlahan tapi pasti Arya berjalan menuju ruang tamu, seketika bibirnya terangkat membentuk senyuman indah. Arya melihat Ayu sedang menunggunya di sofa, jantungnya kini menjadi tak normal, detaknya sangat kencang.


Arya berjalan semakin dekat dengan sofa. "Ekhem!" Dehemannya membuat wanita yang masih melamun itu terkejut. Ayu segera menatap Arya.


Deg!


Jantung Ayu berdegub sangat kencang saat melihat Arya dengan penampilannya hari ini. Baju yang ia kenakkan sangat pas (ketat) sehingga memperlihatkan lekuk tubuh yang bagaikan roti sobek di sana.


"O-Om?"gugup Ayu terpana.


'Wow ... Om terlihat seksi. Bahkan perut kotak-kotaknya terlihat sangat jelas di mataku, seperti sedang melihat artis saja.'


Ayu membayangkan Arya seperti pria di dalam flim yang sering ia tonton. Seksi dan mempesona itulah tanggapan Ayu pada Arya yang berpenampilan saat ini. Walau pun Ayu tomboy namun dia juga masih wanita yang normal yang bisa tergoda juga dengan penampilan indah di depan mata.


'Kenapa dia menatapku tanpa berkedip seperti itu? Apa hari ini penampilanku aneh?'


"Hei, jadi tidak?"tanya Arya melambaikan tangannya di depan wajah Ayu.


"J--Jadi dong, Om."


"Apa penampilanku aneh?"


Ayu melambaikan tangannya dengan cepat. "Tidak kok. Tidak aneh, malahan hari ini Om sangat keren." Ayu mengacungkan jari jempolnya pada Arya.


'Apa dia sedang memujiku?'


"Ehem, baiklah. Ayo kita pergi!"

__ADS_1


Arya berjalan mendahului Ayu yang masih berada di belakangnya. Diam-diam Arya tersenyum lebar.


'Ayu, kau harus bertanggung jawab atas rasa ini.'


Sesampainya di garasi, Arya membuka pintu mobil untuk Ayu.


"Silahkan masuk!"


'Tumben, biasanya juga aku yang membukanya sendiri.'


"Kenapa melamun? Ayo!"


"Iya Om. Makasih, ya!"


"Oke."


Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Arya segera mengemudikan mobilnya dan bergegas menjauhi rumah.


Di waktu yang bersamaan. Azka dan Amel sudah berada di tempat pemotretan. Sebelum berfoto di luar ruangan, mereka berfoto keluarga dulu di dalam ruangan.


Seorang fotografer terkagum-kagum dengan pengantin yang satu ini. Selain mempelainya tampan dan cantik, anak-anak mereka juga tidak kalah dari ayah dan ibunya, sesi foto kali ini sangat luar biasa. Wajah yang mereka perlihatkan sangat jelas tergambar rona kebahagiaan di sana.


Masih pada waktu yang sama. Darren dan Sonya kini telah sampai di depan rumah mewah Darren. Sebelumnya Darren sudah mengirim pesan pada Mommynya bawah ia akan pulang hari ini dan sedang membawa kabar gembira.


Monica sedari tadi sudah menunggu anaknya di ruang tamu, ia tidak sabar mendengar kabar baik dari anak semata wayangnya itu.


Jantung Sonya berdegub sangat kencang, bahkan tangannya sudah penuh keringat. Dia sangat gerogi saat ini, bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia bertemu dengan ibunya Darren, bisa di katakan ibu itulah yang akan menjadi mertuanya kelak.


"Dinda tenang saja, Mommy tidak akan menelanmu hidup-hidup, kok." Darren tersenyum menatap Sonya yang sedang khawatir.


"Tidak usah khawatir. Mommy sangat baik. Percayalah padaku, Dinda." Darren masih tetap tersenyum dia bahkan mengusap puncak kepala Sonya.


"Baiklah, Kanda."


"Ayo kita turun, Mommy pasti sedang menunggu."


Sonya hanya mengangguk saja, Darren turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Sonya. Darren mengenggam tangan Sonya untuk menenangkannya.


'Dia sekhawatir itu? Tenang Sonya. Mommy pasti sangat senang, melihatku membawamu ke sini.'


"Tidak apa-apa. Ayo jalan!"


"Iya, Kanda."


Sonya mengikuti langkah kaki Darren. Setelah sampai di depan pintu, barulah Sonya melepas tangan Darren yang sedang mengengam tangannya. Darren merasa heran dengan tingkah Sonya yang membuatnya sedikit terganggu.


"Kenapa?"


"Tidak sopan jika di lihat Ibumu."


"Mommy tidak akan marah, Dinda!"


"Tetap saja. Kumohon ...."


"Baiklah."

__ADS_1


Dengan terpaksa Darren menuruti permintaan Sonya, Darren kemudian masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Sonya bersembunyi di belakang Darren, dia masih tidak yakin dapat menghadapi ibunya Darren secara langsung.


'Apa aku akan di terima di keluarga ini? Apa beliau akan senang, jika aku ke sini atau malah sebaiknya?'


Darren menghampiri ibunya yang sedang mondar-mandir di ruang tamu. Darren tersenyum melihat ibunya seperti itu, dia kemudian mendekat ke arah ibunya dan berhenti secara mendadak hingga membuat Sonya yang sedang melamun terhenti seketika, wajahnya menabrak tubuh Darren.


"Auu!" Sonya meringis kesakitan. Darren yang ingin mengagetkan ibunya menjadi gagal karena ibunya sudah melihatnya ketika mendengar suara Sonya.


"Darren! Siapa wanita yang berada di belakangmu itu?" Tanya Monica penuh selidik. Anak semata wayangnya itu hanya cengar-cengir di tempat.


'Ya ampun, bagaimana ini?'


Sonya memperlihatkan sosoknya, kini ia berada di samping Darren, tak berani menatap orang di depan. Sedang Monica malah menatap tajam kedua orang yang ada di depannya.


'Mereka memakai baju pasangankah? Atau jangan-jangan ....'


"Siapa kamu?"tanya Monica penuh selidik.


"Mommy. Jangan menakut-nakuti, Sonya."


'Oh, jadi dia Sonya! Apa anakku telah berhasil?'


"Ayo Dinda. Perkenalkan dirimu pada Mommy,"pinta Darren lembut.


'Wow ... anakku memang hebat. Dinda? Sejak kapan kau menjadi lebay, Darren.'


Sonya menatap Darren tajam, sedang Darren meladeni tatapan Sonya dengan senyum cerahnya.


"H--Halo, Tante. Aku Sonya." Sonya mengulurkan tangannya.


"Dia Sonya, Mom. Calon istriku, kuharap Mommy merestui hubungan kami." Darren memperjelas ucapan Sonya.


Membalas uluran tangan Sonya. "Beneran?" Tanya Monica menatap Sonya.


"I--Iya, Tan."


Sonya menjadi gugup di tatap seperti itu oleh Monica. Monica yang mendengar pengakuan dari mulut Sonya, sontak menjadi gembira. Monica langsung menarik Sonya dalam pelukkannya. Sonya dibuat kaget bukan kepalang.


"Yeay! Akhirnya anakku berhasil menaklukkan hatimu! Hahahaha, aku senang sekali!"


Monica melepas pelukkannya, lalu lompat-lompat di tempat. Sonya tertegun melihat reaksi Monica padanya dan ternyata ibunya Darren tidak seperti yang ia bayangkan.


"Mulai sekarang, kau juga memanggil Tante dengan sebutan Mommy,"pinta Monica tersenyum.


"B--Baiklah Ta, Mommy." Sonya masih belum terbiasa.


"Hahahahah. Kamu lucu sekali. Ayo, kita duduk dulu!" Pinta Monica.


Darren juga ikut senang melihat ibunya menerima pilihan hatinya tanpa memandang status. Darren bersyukur terlahir dari keluarga yang ramah.


Bersambung❣


Perhatian semua!


Jika part ini masih ada typo, maka maafkanlah aku. semoga kalian bisa memahami dan mengerti. oke makasih😍

__ADS_1


__ADS_2