Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 142


__ADS_3

Satu bulan yang telah ditentukan untuk melaksanakan pernikahan telah tiba pada hari ini. Pemberkatan nikahnya akan dilaksanakan pada jam 10 pagi dan malamnya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Mereka semua telah berada di kamar Hotel yang ada di lokasi acara.


Terdengar jelas tawa bahagia dibalik kamar Hotel yang ditempati oleh ketiga lelaki dewasa bersama keempat bocah kecil.


Azka sudah siap dengan setelan tuxedo berwarna hitam dengan dalaman kameja putih di dalamnya. Tidak lupa juga dihiasi dengan dasi kupu-kupu yang sudah melingkar indah di kerak baju lehernya, serta dihiasi bros bunga mawar yang berada di bagian dada sebelah kanan bajunya.


Anak-anak hanya memakai pakaian seadanya, karena mereka tentu saja hanya bisa berada di dalam kamar, tidak boleh menampakan diri supaya Laksmi tidak melihat mereka terutama Raka. Semuanya telah diatur sempurna oleh Azka dan yang lainnya, anak-anak juga dapat mengerti akan situasi yang sedang mereka hadapi.


Para malaikat kecil itu memuji-muji ayahnya, dan itu sukses membuat Azka senang. Namun berbeda dengan kedua orang dewasa yang ada di sana. Keduanya menatap Azka dengan tatapan penuh arti.


"Apa kalian tidak senang jika aku menikah?" tanya Azka menatap keduanya secara bergantian. Ia merasa tak nyaman saat ditatap oleh kedua orang dewasa itu.


"Senang," jawab mereka serempak.


"Terus kenapa wajah kalian ditekuk seperti itu?" tanya Azka lagi.


"Aku iri padamu," ucap keduanya secara bersamaan.


"Iri?" tanya Azka heran.


"Ya. Aku juga ingin segera menikah," jelas Arya. Ia juga ingin sekali mempersunting Ayu.


"Aku juga," timpal Darren tak mau kalah.


"Sabar ... ini belum saatnya kalian menikah sobat. Wkwkwk." Tawa menjengkelkan Azka pecah begitu saja.


"Huh! Sombong," ucap Arya dan Darren serempak.


"Puff ... hahaha." Tawa Azka pecah, mengelegar di dalam ruangan bernuasa cream itu. Sedang kedua orang dewasa yang ada di sana hanya diam saja, bahkan kedua mimik wajah mereka sama sekali tak bersahabat.


Ketiga pria itu sudah selesai bersiap tanpa mengandalkan MUA. Bagi mereka hanya wanita merekalah yang berhak menyentuh tubuh mereka termaksud juga wajah mereka.


Bukan hanya Azka saja yang terlihat ganteng dalam ruangan itu, Arya dan Darren juga terlihat bersinar dengan tuxedo couple berwarna marron yang mereka kenakan. Namun sekarang bukan keduanya yang menjadi pusat perhatian melainkan Azka dan itu membuat mereka menjadi sedikit iri, karena bukan mereka yang menikah pada hari ini.


Di kamar sebelah yang di tempati oleh Amel, Ayu dan juga Sonya. Kedua wanita yang masih lajang itu sedang memerhatikan seorang wanita yang wajahnya di poles oleh MUA. Bahkan saking kagumnya, mereka hanya menatap wanita itu tanpa berkedip sedikit pun.


Yah, Amel masih di rias oleh MUA, kedua orang yang melihatnya sedang didandanin menatap takjub ke arahnya, tentu saja kedua wanita itu menatapnya dengan binar mata penuh kebahagian.


"Wow, hari ini Kak Amel cantik sekali," ucap Sonya mengebu-gebu.

__ADS_1


"Iya, Kakak cantik banget mirip seorang putri raja yang turun dari kahyangan," timpal Ayu ikut memuji.


"Jangan terlalu memuji Kakak. Nanti kalau Kakak tidak bisa tidur, apa kalian bisa bertanggung jawab?" tanya Amel manyun.


"Iya juga ya. Gimana mau tidur nyenyak, kalau bantal hidup Kakak sudah berada di samping. Wkwkwkwk. Nanti biar kak Azka saja yang meninabobokan Kakak, agar Kak Amel bisa tidur nyenyak malam ini, hahahaha." Ayu tertawa bahagia, ia senang sekali menggoda Amel, hitung-hitung untuk membalas perbuatan Amel padanya.


"Godain aja terus. Kamu juga pasti akan merasakan apa yang Kakak rasakan saat ini. Eh dan bukan kamu saja, Sonya juga pasti merasakannya, kalian berdua tunggulah waktunya."


"Hahahaha." Keduanya tertawa.


"Berhenti tertawa dan cepatlah kalian bersiap. Biar sekalian di make-up oleh MUAnya," titah Amel serius. Ia tak habis fikir pada kedua gadis itu. Tidak bersiap-siap agar didandani, tapi malah melihat proses berhias sampai selesai. Tinggal memakaikan kerudung saja di kepala sang mempelai wanita.


Keduanya langsung terdiam dan langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian, pakaian yang mereka kenakan hari ini berupa dress marron panjang batas lutut, dan tentunya couple dengan baju yang dikenakan oleh Arya dan juga Darren.


MUA merias wajah mereka satu persatu dengan riasan natural saja. Keduanya kini sudah terlihat manis, bagi Sonya memakai gaun sudah biasa, namun berbeda dengan Ayu yang baru kali ini memakai pakaian seperti itu apalagi sampai harus memakai make-up juga.


Sonya tidak henti-hentinya memuji calon kakak iparnya itu, Amel yang sudah selesai pun ikut-ikuttan menggoda Ayu dan itu sukses membuat Ayu salah tingkah karena malu, kini wajahnya bak kepiting rebus.


Rambut sebahu milik Ayu dibiarkan tergerai dihiasi dengan jepit rambut kecil saja. Sedang rambut panjang milik Sonya ditata sedemikian rupa juga dihiasi oleh mutiara-mutiara kecil di rambutnya. Keduanya terlihat sangat berbeda dari biasanya. Cantik dan sangat elegan, pokoknya mata pria pasti tidak akan berkedip saat melihat perubahan mereka.


'Pasti kedua pria itu menjadi tak sabar untuk segera mempersunting kalian. Hehe, aku mau lihat reaksi mereka saat melihat penampilan kalian yang tidak biasa.'


Setelah sudah siap barulah ketiganya segera keluar dari kamar Hotel, Azka melihat sekilas ke kamar sebelah yang ditempati oleh Amel.


'Jadi tak sabar melihat penampilanmu, sayang.'


Kedua pria dewasa juga melihat ke arah yang sama.


'Rasanya tak sabar melihatmu, Honey.'


'Dinda, Kanda jadi tak sabar melihat kecantikanmu itu.'


Ketiganya senyam-senyum sendiri, saat mata mereka bertemu mereka malah salah tingkah.


"Ehem. Ayo kita pergi!" Ajak Azka.


"Bukankah kalian juga sedang memikirkan hal yang sama?" tanya Arya sedikit mengejek.


"Sudahlah. Aku kamu dan juga Azka sama saja, Hahaha." timpal Darren diserta tawa besarnya.

__ADS_1


"Jika difikir-fikir, jantungku berdebar sangat kencang. Apa kalian juga merasakan hal yang sama?" tanya Arya. Tangan kanan Arya kini berada di dada kirinya.


"Ya. Sama Ar." Darren juga ikut-ikutan meletakkan tangannya ke dadanya.


"Aku yang menikah, tapi kalian yang deg-degkan. Ckck." Azka berdecak heran ke arah keduanya.


"Yang membuatku begini bukan karena pernikahanmu. Tapi karena wanitaku. Aku jadi tak sabar melihatnya. Iya kan, Dar?" tanya Arya membela diri.


"Ya aku juga sama, ingin kudobrak pintu kamar sebelah. Hahahah." Darren malah bercanda.


"Kalian ini ...." Azka tidak melanjutkan ucapannya.


Ketiganya pun pergi ke aula besar tempat pelaksanaan proses pernikahan. Setelah sampai ke sana, Azka langsung naik ke altar dan menunggu Amel, rasanya malas untuk bertemu ayah dan wanita itu yang sedari tadi terus menatapnya, lebih parahnya lagi di sana juga ada Kirana, genap sudah kemuakkannya.


Acara pemberkatannya hanya dihadiri oleh keluarga besar saja dan beberapa kerabat jauh dari mempelai, yang banyak hanya dari keluarga pihak mempelai pria sedang keluarga dari sang mempelai wanita sama sekali tidak ada.


'Semoga Amel dapat melewati semua ini, walau keluarganya sama sekali tidak ada yang datang.'


Darren mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Ia duduk disana bersama Mommy dan Daddynya.


"Dimana Sonya, Dar?" tanya Monica tak sabar melihat calon menantunya.


"Lagi berias Mom."


"Kalau dia sudah datang ajak dia duduk disebelah Mommy ya," pinta Monica.


"Baiklah Mom, dengan senang hati."


'Ibu dan anak sama saja. Aku juga mau lihat gadis seperti apa yang membuat kalian seantusias ini.'


Arya belum masuk ke dalan aula, ia masih berada di luar setelah pamit pada Azka dan Darren untuk menerima panggilan telepon dari seseorang.


Bersambung❣


Kata maaf pasti membuat kalian semua muak krena aku terus-terusa meminta maaf. jadi aku berikan alasan ini agar kalian dapat mengerti dan juga memahami.😁


kendala yang membuatku tidak up karena beberapa faktor. pertama karena ponselku udah mau rusak, biasalah ponsel remahan. Batrainya sering mati tiba-tiba, walau masih 60/70% dan itu membuat aku begitu frustasi.


kedua, karena aku bukanlah anak manja yang mengandalkan orang tua tuk membeli quota jadinya aku mencari kerja untuk menghasilkan uang sendiri, agar bisa membeli quota. salah satunya mengambil daun pohon aren untuk membuat sapu lidi. orang timur khususnya MALUKU UTARA pasti tahu😁. ada juga membantu menjaga adik sepupu, kan mayan tuh buat beli quota. eh iya doakan aku agar aku bisa dpet rezeki buat beli ponsel baru dan nulisku juga tdk tertuda lagi.

__ADS_1


Maaf karena terlalu banyak curhat. wkwkwk😍


__ADS_2