Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 81


__ADS_3

Akhir-Akhir keknya ceritaku agak membosankan😪. Aku pun juga dapat merasakannya. jadi mohon maaf, ya. semoga klian tdk bosan juga sama sepertiku😁


...----------------ā£----------------...


Sonya sedang siap siaga menunggu kedatangan Amel dan yang lainnya karena dia tidak mendapat jawaban yang tepat dari Arya untuk berjaga-jaga dia sengaja menunggu mereka dia juga sudah memasak makan malam yang banyak, makan malam istimewa khusus untuk kakak dan yang lainnya.


Dia sampai berjalan mondar-mandir keluar rumah dan masuk rumah untuk melihat apa mereka sudah datang apa belum, Sonya melakukan itu setelah ia selesai memasak.


Arya tidak keluar kamar sejak ia pamit pada Sonya, kakaknya itu sedang terbaring di kasur miliknya masih tertidur nyenyak di sana, beberapa hari tak tidur nyaman membuat ia tidur dari sore hingga menjelang malam.


Dari kejauhan rumah Arya sudah terlihat di depan mata. Rumah Arya sederhana namun terkesan mewah dan elegan. Gerbang rumah Arya masih terkunci, Azka yang sudah sampai di depan gerbang lantas membunyikan klakson mobilnya.


Pak satpam yang sedang berjaga di posnya segera berlari kecil membuka gerbang untuk Azka.


"Selamat datang Tuan,"ucap Bapak paru bayah itu dengan ramah. Azka hanya mengangguk saja dan sedikit melajukan mobilnya untuk di parkir ke dalam garasi.


Sonya yang sempat mendengar bunyi klakson langsung berlari keluar menghampiri mobil yang baru saja parkir di sana.


Azka baru saja turun ingin membuka pintu untuk Amel.


"Kak Azka! Biar aku saja!"teriak Sonya. Tanpa mendengar jawaban Azka, Sonya langsung membuka pintu mobil untuk Amel.


"Antee Nya!!"teriak girang kedua anak perempuan yang melihat Sonya.


Kedua bocah itu langsung terburu-buru turun dari pangkuan Amel. "Hati-hati!!!"teriak Sonya.


Mereka tak mendengarnya setelah turun kedua putri itu memeluk Sonya yang sudah mensejajarkan tingginya dengan tinggi mereka kedua anak itu. Mereka memeluk Sonya dengan erat.


Ayu membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya. Dia sedang memangku Bara di sana, Bara sudah kesulitan berteriak karena terlalu banyak makan cemilan di mobil. Sedang Rak mereka melupakan dirinya yang duduk di jok depan bersama Azka.


Raka tidak ambil pusing dia yang terlahir dengan kepintaran dan kecerdasan otaknya, dapat mengetahui cara membuka mobil sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia kemudian membuka mobil dan menghampiri mama dan para tantenya yang sudah berkumpul di luar.


"Di mana Arya?"tanya Azka pada Sonya yang sedang melepas rindu. Kini Sonya sudah beralih pada Bara dan memeluknya.


"Masih di kamarnya Kak. Dari sore tidak keluar,"ucap Sonya setelah melepas pelukanya pada Bara.


"Baiklah."


Sonya kemudian menghampiri Raka yang baru saja datang entah dari mana. Raka sedang melipat tangan di dadanya masih acuh tak acuh dengan keadaan.


Sonya tak mempedulikan Raka dan langsung memeluknya dengan erat. Walau Raka tidak meberitahukannya dan tatapan Raka dingin padanya dia tetap mengetahui anak itu sebenarnya anak yang baik dan hangat dia juga peduli dengan keadaan sekitar namun tidak heran juga karena sifatnya ini menurun dari ayahnya.


Setelah melepas rindu barulah Sonya menuntun mereka untuk masuk ke dalam rumah milik kakaknya. Arya yang baru saja bangun dari tidurnya segera ke dapur untuk mengambil minum tanpa mencuci muka dahulu, bahkan rambutnya masih berantakan, matanya juga masih sayu.

__ADS_1


Sementara Sonya dan yang lainnya baru tiba di depan pintu.


"Ayo semua ... selamat datang di rumah kami! Silahkan masuk!"ucap Sonya girang.


"Terima kasih!"ucap Amel dan Ayu hampir berbarengan.


Mereka semua memasuki ruangan ruang tamu. Arya yang sudah selesai minum segera melangkah kembali ke kamarnya. Namun belum sempat dia ke kamar dia sudah di kagetkan oleh seseorang yang berteriak namanya.


"Kakak! Lihat nih siapa yang datang!"teriak Sonya. Dia sudah melihat kakaknya berbeda dengan Ayu dan Amel bahkan anak-anak juga masih memfokuskan diri dengan ruangan yang bernuasa putih terang.


"K--Kalian! Kapan kalian datang?"tanya Arya dengan tampang herannya. Semua menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kuku.


Arya dengan baju tidur hitam menggunakan sendal rumah berwarna pink yang dibelikan oleh neneknya saat hari ulang tahunnya yang ke 27 tahun, rambut acak-acakkan membuatnya seperti anak kecil yang tidak terurus.


Ayu yang melihatnya menggulum senyum di bibirnya dia hampir saja tertawa dan mengejek Arya. Ayu sebisa mungkin menetralkan dirinya untuk tidak membuka mulut karena masih ada Amel dan Azka di sana.


Amel dan Azka nampak biasa-biasa saja. Namun berbeda dengan anak-anak yang polos yang sedang menatap om tampan itu.


"Cendal Om Anteng milip denan cendal tami di lumah ama,"ucap Rasti mengingat sendal mereka di rumah lama.


"Ucu anget,"timpal Bunga. Bagaimana tidak lucu sendal yang di pakai Arya memiliki telinga di depan dengan paduan warna yang sempurna seperti kelinci.


"Adi Om uga uka patai cendal tu?"tanya Bara.


"Cendal Om telen,"ucap Raka sengaja ingin menyadarkan Arya.


'Apa yang sedang mereka katakan? Sendal? Hm ... a--apa? S--Sendal? Jangan-jangan sendal itu ...'batin Arya was-was.


Arya takut apa yang dia fikirkan itu benar. Dia perlahan-lahan menutup mata dan melihat arah kakinya.


'Oke dalam hitungan ketiga aku akan melihat apa yang terjadi. Semoga saja bukan sendal yang diberikan oleh nenek padaku. 1 ... 2 ... 3 ....' Arya membuka sebelah matanya.


Jedar ...!


Bagaikan di sambar petir, benar saja yang ia pakai adalah sendal dari neneknya. Arya malu bukan kepalang, namun dia tetap berusaha menenangkan dirinya.


"Yah, ini sendal kesukaan Om,"ucap Arya tenang.


'Bodoh, kenapa aku ceroboh. Yang lainnya tak masalah buatku, tapi di depan gadis yang sedang menggulum senyum itu membuatku mati kutu,'batin Arya.


"Arya, sebaiknya kau cuci muka dan merapikan rambutmu dulu,"ucap Azka serius.


Arya meraba rambutnya yang berdiri acak-acakkan, dia mengingatkannya pada saat dia naik motor butut milik Ayu. Ayu juga mengingat hal yang sama. Kini Ayu benar-benar tak tahan lagi.

__ADS_1


"Hahahahaha." Tawa Ayu meledak. Dia sampai memeganggi perutnya yang tak sakit.


'Awas saja kau ...' batin Arya.


"Baiklah, aku ke kamar dulu. Sonya nanti kamu bawah mereka ke kamar tamu, ya!"pinta Arya santai.


"Iya, Kak."


Arya tidak mau berlama-lama di depan Ayu. Dia kemudian melangkah dengan cepat dan masuk ke kamarnya. Sementara Sonya mengantar Amel dan yang lainnya ke kamar tamu. Azka menyusul Arya ke kamarnya. Dia tidak mau menganggu waktu Sonya dan yang lainnya melepas rindu.


Setelah merapikan barang bawaan mereka barulah mereka duduk beristirahat di sofa kamar tamu yang ada di situ. Banyak hal yang mereka ceritakan. Soal pernikahan dan hal lainnya.


Azka masih menunggu Arya yang sedang mandi, tidak lama kemudian Arya keluar dan mendapati Azka sedang duduk di sofa.


"Kenapa kau tidak berkumpul dengan mereka?"tanya Arya. Membuka lemari dan memakai pakaian lengkap.


"Adikmu butuh waktu bersama semuanya jadi aku sengaja ke sini,"ungkap Azka.


"Oh,"ucap Arya singkat.


"Kau tega padaku, Az,"sambung Arya lagi.


"Kenapa?"tanya Azka acuh tak acuh.


"Harusnya kau diam saja tadi. Kenapa kau harus membahas tentang rambutku tadi!"ucap Arya kesal. Dia menghampiri Azka dan duduk di sofa.


"Ya, tidak apa-apa dong. Kamu sendiri juga bersikap santai kan?"tanya Azka.


"Kau malah berpura-pura tak tahu."


"Kenapa? Apa kau juga tahu malu?"tanya Azka pada Arya yang seakan tak terima.


"Ya iyalah. Apalagi di depan dia,"terang Arya.


"Sejak kapan kau peduli tentang penampilan di depan orang lain? Apa kau sudah terjebak dalam cintanya?"tanya Azka memojokan Arya.


"Lupakanlah. Malam ini kita berdua akan menginap di Apartemenmu. Sekalian ajak Darren juga jika dia tak sibuk."


"Ya."


"Aku akan menyuruh para bodygard yang handal untuk berjaga-jaga di sini."


"Oke."

__ADS_1


Bersambungā£


__ADS_2