Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 144


__ADS_3

"Mari kita mulai ke acara selanjutnya. Silahkan kalian saling memakaikan cincin pernikahan sebagai simbol cinta dan juga bukti, kalau kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri," titah Pendeta.


Pendeta mempersilahkan kedua mempelai tuk memasang cincin pernikahan ke jari manis kedua mempelai secara bergantian.


Dengan hati yang berbunga-bunga, keduanya pun melakukan apa yang di ucapan oleh pendeta, tak lupa senyum bahagia terpancar indah dari kedua sudut bibir sang pengantin pria dan wanita, yang baru saja resmi menjadi sepasang suami istri.


Walau tempo hari keduanya saling berdebat kecil, hanya karena masalah cincin pernikahan. Namun nyatanya Amel menerima apa yang Azka berikan untuknya.


Amel begitu menghargai pemberian Azka, Azka juga telah menjelaskan pada Amel bahwa cincin sederhana yang dipilih oleh Amel akan dipakai untuk lamaran mereka, sedang cincin mewah pilihan Azka, akan dipakai untuk acara sakral nanti.


Mereka memang tidak melakukan lamaran besar-besaran,itu semua juga atas permintaan Azka. Oleh karena itu, Azka hanya memberikan cincin lamaran pada Amel dengan cara yang romantis saja, tanpa ada orang yang tahu.


Sejujurnya Amel tidak menyangka dan tak habis fikir bahwa Azka juga membeli cincin sederhana yang dipilih oleh dirinya. Dan itu berhasil membuat Amel begitu senang dan bahagia, karena Azka juga dapat menghargai pilihannya.


Kini cincin sederhana sebagai lamaran dan cincin mewah sebagai kesakralan, sudah melingkar indah pada tempat yang seharusnya.


"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu diberkati oleh Tuhan. Amin!" ucap Pendeta.


"Baiklah, kita lanjutkan ke Wedding kiss. Kepada pengantin pria, silahkan mengambil posisi tuk mencium pengantin wanita," ucap Pendeta lagi.


'Inilah yang kunantikan sejak tadi.'


Senyum nakal tersungging di bibir Azka. Amel gugup karena sebentar lagi ciuman mereka akan diperlihatkan dan dipertontonkan oleh semua orang yang ada diruangan bahkan juga di siarkan oleh beberapa saluran TV dan mungkin juga akan di rilis oleh surat kabar.


'Lihat senyum jahatnya itu. Apa dia tidak merasa gugup?'


Amel menatap Azka yang masih menatapnya penuh arti. Langkah kaki Azka maju selangkah ke depan, untuk lebih mendekatkan diri pada Amel.


Tanpa banyak bicara, Azka langsung meraih pergelangan tangan Amel lalu menariknya pelan, hingga tubuh Amel tersandar ke tubuh miliknya.


Azka secepat kilat menempelkan bibirnya pada bibir Amel tuk memulai ciuman sakral di depan semua tamu yang hadir. Amel terkejut dengan perbuatan Azka yang terjadi begitu tiba-tiba, dirinya pun refleks membulatkan mata indahnya dengan sempurna.


Lampu demi lampu camera bertebaran di mana-mana, para pemotret mengambil gambar pasangan yang baru saja menikah.


Ekspresi wajah Amel yang nampak terkejut menambah poin penting nan unik dalam momen sakral pernikahan mereka.


Azka masih terbawa suasana hingga dirinya tak kunjung juga melepas tautan bibirnya dari bibir Amel.


Amel segera menyadarkan Azka dengan sedikit mencubit pelan perut Azka. Azka pun tersadar kembali lalu segera melepas tautannya. Pipi Azka bersemu merah namun dirinya tak terlalu peduli. Malah sebaliknya Amel begitu malu dengan perbuatan Azka barusan.


Riuh tepuk tangan mengema seisi ruangan. Darren sedari tadi sudah teriak-teriak tak jelas di tempat duduknya. Ucapan demi ucapan godaan terus ia lontarkan pada Azka. Hingga beberapa kali dirinya di tegur oleh Monica, ibunya.


Arya hanya diam saja, dirinya sudah kaku sejak Ayu duduk di sampingnya. Arya seakan tak bisa berkutik, pandangan matanya hanya difokuskan tuk melirik Ayu saja. Bahkan saat proses pernikahan sedang berlangsung, Arya tak mengubrisnya dan itu semua sukses membuat wanita yang berada di sampingnya, merasa sedikit tak nyaman karena terus dipandangi oleh sang kekasih.


Sudah beberapa kali Ayu menyuruh Arya untuk tetap fokus pada pernikahan Azka namun Arya tetap tidak mempedulikan ucapannya dan masih terus memandanginya.


Kirana tampak kesal melihat Azka menikah dengan orang lain di sana.


'Sebenarnya apa yang akan tante Laksmi lakukan, sih? Kenapa dia membiarkan Azka dan Amel menikah begitu saja. Mana rencana besar yang ia rencanakan itu?'


Kirana memerhatikan raut wajah Laksmi yang tampak biasa-biasa saja. Bahkan sesekali Laksmi tersenyum jahat ke arah Azka dan juga Amel.


'Kebahagiaan kalian ini baru permulaan. Lihat saja nanti, tidak lama lagi kalian akan hancur. Terutama dirimu Azka. Hahahaha.'


'Apa yang sedang Tante fikirkan?'


Ekspresi keduanya terus dipantau oleh Daniel. Namun Daniel tetap bersikap biasa saja seolah tak tahu dan tak mengerti apapun.


Susunan acara demi susunan acara terus terlaksanakan. Sampai acara pemberkatan itu telah selesai dan akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang akan diadakan malam hari, sekitar pukul 19:00 malam nanti.

__ADS_1


Tidak ada waktu istirahat buat mempelai, setelah sungkemen pada orang tua. Barulah para anggota keluarga besar Azka yang ikut hadir di sana berdiri menyalami tangan sang pengantin.


Ucapan demi ucapan selamat dilontarkan dari keluarga besar Azka. Kirana dan bahkan Riski tidak ikut menyalami tangan pengantin, rasanya malas harus memegang tangan mereka.


Arya, Ayu, Darren, dan Sonya, juga ikut menyalami tangan sang pengantin baru itu, mereka semua bahkan ikut berfoto bersama.


Tangan Arya tak kunjung ia lepaskan dari pergelangan tangan Ayu. Dirinya seakan takut Ayu menjauh, apalagi tidak sedikit pria kaya yang terus melirik Ayu dengan sengaja.


Setelah melakukan pemotretan bareng keluarga. Azka meminta izin pada Amel dan juga sekalian memanggil Arya dan Darren tuk berbicara bertiga. Kini ketiganya sudah berada di tempat yang tidak terlalu ramai.


"Ada apa, Az?" tanya Darren memulai pembicaraan.


"Kalian harus tetap berhati-hati dan tetap waspada. Jangan lenggah! Jika ucapan janji suci berjalan dengan lancar maka sudah pasti mereka telah menyiapkan rencana yang begitu besar," ucap Azka memperingati. Ia yakin semua ini tak semulus apa yang ia bayangkan.


"Aku mengerti," ucap Arya serius.


"Aku mengerti." Darren juga mengucapkan kata yang sama.


"Az, orang yang kita cari selama ini sudah tertangkap," ungkap Arya.


"Baiklah. Aku serahkan semuanya padamu, Ar."


Azka tidak mau mengambil keputusan tergesa-gesa karena emosi, walaupun dirinya ingin sekali turun tangan sendiri tuk menginterogasi orang itu tetap saja dirinya harus bisa bersabar.


"Hmm."


...****************...


Ayu pergi ke toilet sebentar setelah pamit pada Amel dan Sonya. Dirinya yang tidak tahu harus melangkah kemana, sontak bertanya pada beberapa wanita di sana, barang kali salah satu dari mereka tahu di mana toilet berada.


"Maaf, toilet ada di sebelah mana, ya?" tanya Ayu sopan.


Ayu menoleh ke arah pintu itu. "Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama." Setelah membalas senyuman barulah Ayu melangkah menuju toilet.


Setelah sampai di depan pintu toilet. "Dasar toilet, sedari tadi kamu melihatku tapi aku tidak melihatmu," lirih Ayu. Tangan kanannya menepuk pintu toilet pelan.


Ayu buru-buru masuk ke dalam toilet, lalu masuk ke salah satu ruangan kecil yang ada di dalam untuk membuang sesuatu yang telah sedari tadi ia tahan.


"Aaahh ... leganya ..."


Ayu masih duduk di dalam kamar kecil. Lebih tepatnya, lagi duduk di atas lubang kolset, sebab sesuatu yang menganggunya belum keluar sepenuhnya. Mungkin Ayu harus lebih berusaha lagi tuk mengeluarkan sisa-sisa sesuatu itu.


Saking asiknya ia berusaha, tak lama kemudian Ayu mendengar pintu toilet terbuka, sedetik kemudian terdengar suara tawa para wanita yang ada di dalam toilet entah ada berapa orang di sana. Suara tawa mereka terdengar jelas di indera pendengar Ayu hingga memekik telinga.


'Siapa sih! Ganggu orang BAB saja. Kotoranku yang hampir saja keluar malah masuk lagi.'


"Ckck, bisa-bisanya Azka menikahi wanita yang tidak jelas asal-usulnya," decak salah satu wanita.


'Berani sekali kalian membicarakan tentang kak Amel. Cari mati!'


"Benar. Azka tampan, mapan lagi. Kenapa harus menikahi gadis miskin itu," timpal yang lain.


"Eh, dengar-dengar pengantin wanitanya sudah mempunyai anak," ungkap yang lain.


"Serius? Apa dia janda?" tanya wanita yang pertama memulai obrolan.


'Sabar Ayu, sabar, kamu harus menyelesaikan urusanmu dulu.'

__ADS_1


"Mungkin saja begitu. Pasti suaminya menceraikannya karena miskin. Atau ... karena dia hanya menguras harta suaminya saja dan bahkan hanya menjadi beban."


"Bisa jadi. Atau jangan-jangan dia suka menjual tubuhnya, makanya suaminya meninggalkannya begitu saja," tebak salah satu wanita.


"Azka itu bodoh ya, sudah tahu wanita itu licik, masih saja mau menikahinya. Cih, kek tidak ada wanita lain di muka bumi saja."


Seseorang yang berada di dalam kamar kecil itu sudah naik pitam dan ingin meledak.


Ayu segera menyelesaikan aktivitasnya di dalam kamar kecil itu. Setelah aktivitasnya sudah beres, barulah ia membuka pintu lalu menariknya dengan kasar hingga pintu yang tidak bersalah itu mengenai dinding dan berbunyi sangat kencang di dalam toilet.


"Setan!! Siapa itu?" teriak salah satu wanita terkejut.


Ayu keluar dari kamar kecil itu, dengan tangan bersedekap di dadanya. "Aku? Kenapa?" tanya Ayu santai.


"Bukankah dia yang tadi sempat mendampingi pengantin wanita?" Tebak salah satu wanita yang ada di dalam toilet.


"Iya, itu dia. Tubuh kecil aja belagu. Nggak berisi sama sekali!" Sindir wanita yang sempat terkejut tadi.


"Sekali lagi kalian berbicara buruk tentang Kakakku. Maka kalian akan menerima akibatnya." Ancam Ayu melototkan matanya.


Ayu tidak mengubris pandangan wanita-wanita itu tentang dirinya, yang membuatnya marah ialah hinaan dan hujatan yang mereka lontarkan pada Amel.


"Oh, jadi pasangan Azka itu, Kakakmu? Pantas saja, adik sama Kakak sama. Sama-sama suka mengincar pria kaya," Ejek wanita itu yang sempat melihat Ayu dan Arya bersama.


"Kau boleh saja menghina dan menghujatku. Tapi, jangan sekali-kali mulut baumu itu, menghina dan bahkan menghujat Kakakku," hardik Ayu.


"Kenapa? Tak terima? Benar-benar keluarga yang tak jelas asal-usulnya," ucap wanita itu mengejek.


Ayu memejamkan matanya, berusaha menetralkan darahnya yang sudah mendidih sejak tadi. "Diam! Jangan menguji kesabaranku!" ucapnya. Perlahan membuka mata.


"Emang kenapa? Mau ngelawan? Hahaha." Bukan malah diam wanita itu makin menjadi-jadi. Membuat teman-temannya yang lain juga ikut-ikutan tertawa.


"Cih, seorang Kakak yang menjual tubuh saja belagu." Hinanya lagi.


Ayu sudah tidak tahan lagi mendengar hinaan yang keluar dari mulut wanita-wanita, yang tidak tahu apa-apa tentang apa kehidupan yang telah dilalui oleh mereka. Ayu mendekat ke arah mereka dengan tatapan mematikan.


"Kau fikir aku bakalan takut kalau kau melihatku seperti i--" Ucapan wanita itu tertahan dikala sesuatu yang keras menghantam kedua pipi mulusnya.


Plak! Plak! Plak! Plak!


Ayu melayangkan tamparan keras pada wanita itu menggunakan kedua tangannya. Wanita itu langsung mengelus kedua pipinya yang memerah bekas gampar tangan Ayu.


"2 dan 2 seimbang. Jadi impas, kan?" tanya Ayu setelah berhasil menampar pipi wanita itu.


"Kurang ajar! Kenapa kalian diam saja, serang dia!" teriak histeris wanita yang sedang menahan sakit pada pipinya.


Beberapa wanita yang ada di sana segera menyerang Ayu namun Ayu dengan gesit mampu melumpuhkan mereka dalam waktu yang begitu singkat.


Semuanya menahan sakit di perut mereka, bahkan ada juga yang sedang menahan sakit di area lengan dan wajah yang sudah sedikit lebam akibat tamparan dan tonjokkan dari Ayu.


'Kalian masih berutung karena aku hanya mengunakan 10% tenagaku. Jika tidak, maka habislah kalian.'


"Ingat! Jangan cari masalah lagi denganku, apalagi sampai menghina dan menghujat Kakakku baik secara langsung maupun tidak langsung. Jangan sampai lidah kalian yang nantinya akan hilang dari tempatnya. Apa kalian mengerti?" Gertak Ayu sedikit menakuti mereka.


"K--Kami me--mengerti!" ucap mereka serempak.


"Baguslah."


Setelah selesai berurusan dengan para wanita-wanita itu barulah Ayu keluar dari toilet menuju aula.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2