Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 152


__ADS_3

Sebelumnya, Author ucapkan, Selamat hari raya idul Adha. Maaf jika Author pernah menyakiti hati kalian, baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Untuk itu MINAL AIDZIN WALFAIDZIN MOHON MA'AF LAHIR DAN BATIN🙏.


Lanjut kecerita. Happy Reading All❤


...****************...


Keesokkan harinya.


Semuanya telah berkumpul lagi di rumah sakit. Khususnya di dalam ruangan besar tempat Daniel di rawat.


Azka masih berada dalam posisi yang sama seperti kemarin. Dirinya bahkan tidak tidur semalaman karena menjaga Daniel.


Sudah berapa kali Amel membujuknya tuk istirahat, namun dirinya bersih keras tidak mau istirahat. Yang lainnya juga telah membujuknya tapi tetap saja sama.


Tiba-tiba tangan Daniel bergerak, matanya bergerak-gerak pertanda dirinya akan siuman. Azka yang merasakan ada pergerakan dari Daniel pun sangat senang, wajahnya yang awalnya kusut kini sudah sedikit menyungingkan senyum tipisnya.


"Darren, tolong periksa Ayah. Tadi tangannya bergerak," pinta Azka pada Darren yang kebetulan juga berada di sana. Darren buru-buru mendekat ke arah ranjang. Lalu memeriksa denyut jantung Daniel.


"Sepertinya tidak akan lama lagi Om akan sadar. Kondisi jantungnya sudah berjalan dengan normal," terang Daniel.


Beberapa detik kemudian mata itu pun terbuka sempurna. "A--Azka, anakku," lirih Daniel menahan sakit di kepalanya.


"Iya Ayah. Ini aku Ayah," ucap Azka meraih tangan ayahnya.


Semuanya mulai mendekat ke arah Daniel.


"Ma ... afkan Ayah, Nak. A--Ayah belum bisa menjadi Ayah yang ba--baik untukmu," ungkap Daniel. Kata-kata yang ia lontarkan sedikit tercekat dikerongkongan.


Azka yang melihat itu segera mengambil air mineral lalu membuka penutup botol tidak lupa memberikan sedotan agar Daniel bisa minum air dengan nyaman.


"Tidak apa-apa, Ayah. Asalkan Ayah sembuh, kita semua akan hidup bahagia. Aku juga minta maaf Ayah, selama ini aku telah mengabaikanmu," ucap Azka tulus, setelah menaruh botol air bekas minum Daniel di atas nakas. Daniel tersenyum melihat perubahan besar yang terjadi pada anaknya.


"Ya, Ayah dapat mengerti, Nak. Sejujurnya dari awal Ayah telah mengetahui semuanya. Ayah telah mengetahui bahwa kau adalah Ayah dari anak-anak Amel. Seluk beluk kejadian antara ibu tirimu, Kirana dan juga tentang istrimu juga dari awal Ayah telah mengetahuinya," ungkap Daniel sedikit lancar namun lemah.


"Amel, mendekatlah pada Ayah, Nak," pinta Daniel.


"Amel janji sama Ayah ya, Nak. Tolong jaga Azka, sayangi dirinya, sebab selama ini ... Azka sangat kekurangan kasih sayang," ucap Daniel. Tangannya mengengam tangan Amel.


"Iya Ayah. Itu pasti, Amel janji padamu, Yah. Asal Ayah cepat sembuh, kita semua akan menjalani hari-hari dengan bahagia. Ada Azka, aku dan cucu-cucumu bahkan yang lainnya juga." Amel merasa sedih namun dirinya hanya bisa menguatkan hati agar tidak menangis.


"Monica, maafkan aku ya. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk saudarimu," ucap Daniel sendu, matanya menatap Monica.


"Tidak apa-apa Daniel. Semoga kau cepat sembuh." Monica tidak berhak marah pada Daniel karena semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah Daniel.


"Kakek!!!" teriak keempat bocah kecil secara bersamaan.


"Wah ... cucu-cucu Kakek. Azka tolong dekatkan mereka pada Ayah," pinta Daniel.


Tanpa menjawab Azka segera mengendong kedua putrinya sedang Arya membantu menggendong kedua anak lelaki itu.


"Hai Kakek!!!" sapa mereka serempak. Disertai senyuman termanis mereka, bocah-bocah kecil tahu bagaimana harus bersikap sekarang.

__ADS_1


"Cucu-cucu Kakek, sangat tampan dan cantik," ungkap Daniel senang.


"Telima tati Kakek," ucap mereka hampir bersamaan.


"Amel, Ayah titip Azka padamu, ya," pinta Daniel lagi untuk yang kesekian kalinya.


"Eman Kakek au peldi temana?" tanya Rasti.


"Nenek kalian sedang memanggil Kakek di sana," ungkap Daniel menatap lurus ke depan.


"Aku janji Yah. Aku akan menjaga Azka dengan baik. Tapi Ayah juga harus janji Ayah harus tetap bertahan," ucap Amel. Air bening telah terkumpul pada pelupuk mata indahnya.


"Benar, Yah. Ayah harus bisa bertahan," timpal Azka.


"Iya benar Om. Om harus bisa bertahan," sahut Darren. Daniel hanya bisa membalas ucapan mereka dengan senyuman indahnya tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Sini peluk dan cium Kakek," pinta Daniel pada keempat cucunya.


Azka dan Arya mendekatkan keempat bocah kecil itu pada ranjang, lalu mereka langsung naik ke atas ranjang tempat Daniel terbaring lemah. Mereka berempat memeluk Daniel juga memberikan kecupan-kecupan pada wajah Daniel.


"Pootna Kakek halus cembu," ucap Rasti.


"Iya, Kakek halus bita cembu," ucap Raka.


"Benal, Kakek halus cembu," sahut Bunga.


"Ya ya ya, temanat Kakek," timpal Bara.


'Diana, sekarang kita akan hidup bersama lagi. Tanpa ada gangguan dari siapapun.'


Tit ... tit ... tit ...


Monitor pendeteksi detak jantung berbunyi dan garis yang awalnya berirama kini perlahan-lahan menjadi sebuah garis lurus mendatar.


"Ayah!!"


"Kakek!!"


"Daniel!!"


"Om!!"


Semua orang yang melihat kejadian itu pun berteriak.


"Darren, cepatlah periksa Ayah," pinta Azka khawatir. Azka dan Arya segera menurunkan keempat bocah itu.


Darren segera memeriksa denyut nadi Daniel, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Dirinya hanya bisa menekan tombol darurat agar suster membawakan alat kejut jantung.


Tidak memakan waktu lama, suster pun masuk dan segera memberikan alat itu pada Darren. Semuanya menjauh, membiarkan Darren dan suster bekerja di sana. Sudah beberapa kali Darren mencobanya, namun dokter tetaplah dokter, mereka tidak bisa mengembalikan nyawa seseorang yang telah pergi untuk selamanya.


"Maafkan aku Azka. Om telah pergi untuk selamanya," terang Darren sendu.

__ADS_1


"Ayah," seketika tubuh Azka menjadi lemas. Dirinya kini sudah terduduk di lantai yang dingin.


Suara isak tangis menggema di ruangan itu. Beberapa kali Azka mencoba memanggil-manggil nama ayahnya, namun Daniel tetap tidak menyahutinya.


Amel dan juga anak-anak menangis sambil memeluk Azka. Monica menangis di dada suaminya, sedang Ayu dan juga Sonya juga melakukannya hal yang sama pada pasangan mereka, semuanya hanya bisa saling menguatkan lewat pelukan.


Sore hari.


Semua telah berada di tempat pemakaman umum, makam Daniel berada di sisi makan Diana. Mereka masih setia di sana, menatap tumbukan tanah yang masih basah.


"Ibu ... Ayah. Kuharap kalian berdua bahagia di alam sana," ucap Azka tulus.


Azka sadar, sesedih apapun dirinya, serapuh apapun dirinya, faktanya dirinya bukanlah Tuhan yang bisa menunda kematian seseorang. Hanya doa yang bisa ia berikan pada ayah dan ibu tercintanya.


Azka juga sadar masih ada tanggung jawab yang harus ia pikul. Masih ada seseorang yang mencintainya dan dia harus bisa kuat melewati ujian hidup ini.


"Ibu pasti telah merindukan Ayah begitu lama. Kini ayah telah pergi menemui ibu ... aku berharap kalian bisa bersatu selamanya di sana," ucap Amel.


"Diana, kini berakhir sudah penderitaanmu. Sekarang Daniel sudah bersamamu


selamanya," timpal Monica.


1 tahun kemudian.


Khususnya di tempat pelaksanaan resepsi pernikahan. Pernikahan itu terlihat mewah dan sangat ramai. Resepsi pernikahan diadakan di luar ruangan, di hiasi dengan keindahan alami dari bintang-bintang yang bertaburan di atas langit malam yang cerah.


Ya, malam ini adalah malam pernikahan kedua bersaudara Yakni pernikahan Arya juga Sonya yang diadakan secara bersamaan. Itu semua atas permintaan dari sang nenek tercinta. Mereka berdua tampak bahagia bersama pasangan mereka masing-masing.


Seorang wanita hamil yang sedang duduk sendiri, menatap ke arah para pasangan romantis yang sedang berdiri di atas altar. Mereka akan melakukan foto keluarga dan keempat malaiakt kecilnya juga berada di sana, bergabung dalam pemotretan.


"Sayang ... kenapa duduk sendiri di sini?" tanya Azka.


"Aku sedikit capek," ucap Amel lembut.


"Maafkan aku sayang, aku selalu memintamu tuk menengok anak kita," ungkap Azka sedikit merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Anak kita juga tidak menolaknya kok," ucap Amel.


"Kamu yakin itu atas permintaan anak kita? Dan ... bukan permintaan dari ibunya?" tanya Azka dengan tatapan menggoda.


"Sayang ...." Amel memukul pelan lengan suaminya.


"Hahahaha, imutnya." Azka tertawa, tangannya mencubit pipi Amel yang semakin hari semakin tembem.


"Bentar malam aku ingin menengok anak kita lagi," ucap Azka serius.


"Sa ... yang!!!" Pipi Amel bersemu merah. Mengingat permainan suaminya. Ganas, tapi dia menyukainya. Eh bukan, anaknya yang menyukai permainan sang ayah.


"Hahahah bercanda sayang." Azka tertawa kencang dan langsung merengkuh Amel dalam pelukannya.


...~Tamat~...

__ADS_1


__ADS_2