
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankanš¤. Semoga kita semua sehat selalu dan dalam lindungan Allah SWT. Aamiinš.
...................ā¤...................
Sementara di tempat lain, tempat yang hanya dihiasi dengan lampu temaram,suasana yang begitu mencekam. Lampu redup sedikit memenuhi sisi-sisi yang tidak di sinari oleh cahayanya.
Terlihat ada sekelompok orang sedang di interogasi oleh seorang pria yang begitu kejam. Salah satu dari sekelompok orang itu duduk terikat merintih kesakitan kalah kuku tangannya di cabut paksa. Sudah di pastikan bahwa orang yang sedang di cabut kukunya adalah Bos dari genk gerombolan itu.
"Cepat katakan! Siapa yang menyuruhmu melakukan semua itu?"tanya orang yang baru saja mencabut salah satu kuku tangan yang sedang ia interogasi.
Tertawa sinis. "Aku sendiri yang sengaja melakukan ini dan tidak ada seorang pun yang menyuruhku."
Bos dari geng tersebut tidak mau membocorkan dalang di balik insiden penculikan Bara. Orang yang kejam itu menjadi semakin geram, sudah mengertak namun masih tetap tidak membuka mulut. Sementara anak buah dari sekelompok orang berbadan kekar itu ketakukan setengah mati, takut-takut kalau kuku mereka juga di cabut paksa seperti itu.
"Hoh! Rupanya kamu masih tidak mau memberitahukannya padaku. Baiklah, jangan salahkan aku jika jari kelingkingmu hilang satu!"
Dengan seringai seperti serigala, pria tersebut mengancam sang Bos. Anak buah dari para orang berbadan kekar sangat ketakutan. Kaki mereka bergetar kalah mendapat ancaman seperti itu. Mereka lebih memilih untuk mati dari pada harus di siksa dengan keji.
"Masih tidak mau membuka mulut?" Tanya pria itu lagi. Bos dari para kelompok orang berbadan kekar hanya diam saja bahkan memperlihatkan senyuman mengejek.
"Baiklah, jika itu pilihanmu."
Pria itu berjalan ke arah meja, di atas meja terdapat berbagai jenis benda tajam. Dia mengambil salah satu benda tajam itu, bentuknya seperti pisau sangat mengkilat sudah pasti itu sangatlah tajam jika digunakan.
Dengan tatapan kejam pria itu menghampiri bos yang sedang ia interogasi, tangan bos itu mengalir darah segar yang keluar dari kukunya yang sudah tercabut. Sakit namun demi keluarga tercinta dia terpaksa melakukan semua itu. Anak buahnya bergidik ngeri melihat tatapan kejam dari pria yang menginterogasi mereka.
"Aku masih memberikan kesempatan untuk berfikir selama 3 detik. Di mulai dari sekarang!"
Bos itu terlihat pasrah tapi tidak dengan anak buahnya mereka seakan ingin mengatakan sesuatu. Pria itu mulai menghitung mundur.
"3 ... 2 ..." Sudah hitungan kedua, Bos itu masih tetap kekeuh dan enggan memberitahukan kebenarannya.
"1, selesai."
Pria itu segera memainkan pisau berukuran sedikit kecil tapi bukan berarti mini, ya. Dia meletakan pisau itu di salah satu jari kelingking sang Bos.
Dengan serigaiannya dia akan segera memulai aksinya itu, pisau tajamnya berhasil melukai sang Bos. Pria itu rupanya tidak main-main dengan ancamannya. Dia bahkan ingin lebih menekan pisau itu agar dapat melepaskan jari kelingking dari tempatnya, namun sebelum dia melakukan aksinya salah satu dari anak buah dari Bos itu berteriak.
"Wanita! ... ya, wanita itu yang menyuruh kami!" Dengan kaki dan mulut yang ikut bergetar dia akhirnya mengakui setengah kebenaran dari kejadian itu. Dia tidak mau jika Bos mereka lebih menderita dan bahkan mereka juga sudah pasti akan mendapat imbasnya.
Pergerakan dari pria itu terhenti dan langsung menghampiri anak buah dari sekelompok orang berbadan kekar yang bersuara tadi.
__ADS_1
"Bagus! Apa wanita dalam CCTV ini yang melakukannya?" Pria itu memperlihatkan rekaman CCTV saat Yuni membawa Bara.
"Y-Ya ... Wa--Wanita itu yang melakukannya."
"Kamu yakin? Apa masih ada orang lain lagi?"tanya pria itu mengintimidasi.
"Tidak. Wanita itu sendiri yang membawa anak itu ke gudang." Dia berusaha menyakinkan pria yang berada di depannya, agar pria itu tidak curiga lagi pada mereka.
Pria itu memerintah anak buahnya untuk menjaga para sekelompok orang berbadan kekar.
"Jaga mereka, jangan sampai ada yang keluar dari tempat ini!"ucapnya memerintah.
"Baik."
Pria itu mencuci tangannya dan segera berlalu keluar untuk melaporkan informasi yang baru saja ia dapatkan.
Di Apartemen milik Azka.
Amel masih menjaga Azka yang belum juga sadarkan diri. Anak-anaknya bahkan masih tidur. Ayu membantu Sonya di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sedang Arya duduk di sofa ruang tamu karena Darren baru saja datang ke Apartemen Azka, mereka berbincang-bincang. Tiba-tiba ponsel milik Arya berdering pertanda ada telepon masuk dari seseorang.
Sssttt. Arya memberi isyarat pada Darren untuk diam sejenak.
Arya segera menerima panggilan dari bawahannya yang terkenal kejam. "Bagaimana?"tanya Arya.
"Baiklah, terus awasi mereka jangan sampai mereka melarikan diri dari sana."
"Baik Tuan."
Arya segera memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa itu dari orang suruhanmu?"tanya Darren.
"Ya. Ayo, kita ke kamar Azka!"seru Arya. Darren hanya mengangguk saja.
Di kamar Azka.
Amel sedang mengenggam sebelah tangan Azka, dia berharap orang yang berada di depannya cepat siuman, karena ini sudah memakan waktu berjam-jam lamanya, namun Azka tetap belum sadar juga.
Azka mulai merasakan sentuhan pada tangannya, dengan pelan dia mencoba menggenggam tangan orang itu. Amel yang merasakan sentuhan lembut di tangannya langsung menoleh pada wajah Azka, berharap Azka secepatnya membuka mata.
Perlahan-lahan Azka mengerjapkan matanya berusaha untuk membuka mata, pandangan matanya nampak kabur, samar-samar terlihat seorang wanita cantik yang berada di depannya.
__ADS_1
"Apa kau malaikat?"lirih Azka yang belum sepenuhnya sadar.
"Hah?"tanya Amel binggung.
Azka ingin kembali menutup matanya, tapi Amel segera menekan sentuhan pada tangan Azka.
"Jangan tidur lagi! Kumohon ... "lirih Amel. Mendengar suara Amel, Azka langsung membuka matanya.
"Amel!"lirih Azka.
"Ya, ini aku. Apa kau lapar?"tanya Amel.
"Tidak. Aku ingin minum,"pinta Azka, Amel membantu Azka untuk bangun dan menyenderkannya ke kepala ranjang.
"Baiklah,"ucap Amel.
Mengambil air di atas nakas. "Nih, minum airnya." Menyodorkan segelas air minum pada Azka.
"Bantu aku untuk meminumnya,"pinta Azka sedikit manja. Amel tertegun sesaat menatap Azka dengan tatapan heran.
"Tanganku lemah,"ucap Azka lagi.
"Eh, Iya. Ini minum dulu, minumnya pelan-pelan!"
"Terima kasih."
"Apa?"tanya Amel heran. Karena tidak biasanya Azka berterima kasih padanya.
Terima kasih telah setia walau kau tahu aku mungkin tidak akan bertemu denganmu lagi. Terima kasih kau telah melahirkan dan bahkan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku. Terima kasih telah hadir di kehidupanku membawa warna lagi pada hatiku dan terima kasih kau hadir di saat aku sedang terpuruk begini, kau bidadari yang ibuku berikan untukku. Aku janji akan membahagiakanmu dan anak-anak kita. Batin Azka menatap intens netra pekat wanita yang berada di depannya.
"Lupakanlah!"ucap Azka.
Aneh. Batin Amel.
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat keduanya saling pandang. Amel segera membukakan pintu untuk orang yang berada di luar. Amel melihat Arya dan Darren berada di depan pintu.
"Apa Azka sudah sadar, Nona?"tanya Arya.
"Ya. Silahkan masuk pak Arya, pak Dokter!"
__ADS_1
Arya dan Darren masuk menemui Azka yang sedang duduk di atas ranjang. Arya ingin menyampaikan informasi yang dia dapatkan namun setelah melihat kondisi Azka yang masih lemah membuatnya mengurungkan niat untuk memberitahukannya pada Azka.
Bersambungā£