Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 134


__ADS_3

Setelah ketiganya menghilang dibalik pintu. Daniel menyuruh Arya dan Darren duduk di sofa, sedang Amel duduk di kursi samping ranjang menemani Azka di sana.


"Bagaimana kondisi Azka sekarang, Darren?" tanya Daniel serius.


"Dia baik-baik saja, Om." Darren menjawab sesuai rencana mereka.


"Baiklah, Om percaya." Walaupun Darren sudah mengatakan bahwa kondisi Azka baik-baik saja. Tapi tetap saja ucapan Darren masih mengganjal dihatinya, namun dirinya tidak akan memaksa Darren untuk mengatakan yang sebenarnya.


'Apa? Segampang itukah om Daniel mempercayaiku?'


"Om berharap kalian selalu ada buat Azka," ucap Daniel penuh harap. Nada penyesalan terdengar jelas pada ucapannya. Daniel sadar diri selama ini dia tidak mengetahui isi hati Azka, namun kali ini berbeda ia akan sepenuhnya mendukung Azka.


"Ya Om. Itu pasti," timpal Arya dan Darren bersamaan.


"Oke. Kalau begitu, Om pamit pulang dulu. Om titip Azka pada kalian, ya."


"Iya Om."


"Iya."


Daniel bangkit dari duduknya dan segera berlalu berjalan mendekati pintu keluar. Setelah Daniel menghilang di balik pintu, barulah Arya dan Darren menghampiri ranjang tempat di mana Azka berada.


"Az. Kamu baik-baik di sini, ya. Kami berdua pamit keluar dulu. Tenang, pujaan hatimu ada di sini juga, dia yang akan menemanimu," ucap Darren sedikit bercanda disertai dengan kekehan kecil.


"Iya Az. Aku juga pamit dan tidak akan menganggu waktu kalian berdua lagi," sahut Arya.


"Kakak ipar, kami pamit dulu, ya." Darren pamit pada Amel.


"Eh, kalian pasti kedinginan. Aku sudah membawa baju ganti untuk kalian berdua," ucap Amel.


"Hah?" Mereka berdua tercenggang, lalu saling tatap keheranan.


Amel mengangkat kedua tangannya, lalu melambai-lambaikan pada kedua orang dewasa itu. "Jangan salah paham, aku menyuruh Sonya mengambil pakaian Arya, maksudku memintanya untuk meminjam pakaian Arya." Amel menjelaskan agar keduanya tidak salah paham.


"Tidak masalah," jawab Arya.


"Ya ampun, baju ditubuh Azka juga belum sempat diganti, bajunya juga sudah kering dibadannya," ucap Darren, ia baru sadar kalau dirinya belum sempat menganti pakaian Azka memakai pakaian khas pasien rumah sakit.


"Oke. Biar aku saja yang mengganti bajunya," ucap Amel.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?" tanya Arya pada Amel.


Darren menepuk jidatnya. "Kamu bagaimana sih, Ar. Kenapa tidak yakin? Bukankah mereka sudah memiliki anak? Sudah pasti dong, hal itu sudah umum dilihat," ucap Darren.


"Benar juga. Oke kita akan membawa baju ganti dan menyisakan satu baju untuk Azka," timpal Arya.


"Oke."


"Oh iya, Kakak ipar. Baju ganti pasien ada di lemari sebelah sana," terang Darren, menunjuk ke arah lemari.


"Baik."


Arya dan Darren sudah keluar dari ruangan itu, kini tinggalah Amel sendiri yang menemani Azka di dalam. Amel mengambil pakaian yang ditinggalkan oleh kedua orang dewasa itu, lalu kembali mendekati ranjang Azka, menatapnya gugup.


Semenit kemudian Amel berjalan menghampiri lemari yang di tunjuk oleh Darren. Ia meletakkan baju kering Arya di dalam lemari dan mengambil baju khas untuk pasien.


Amel kembali ke sisi ranjang, ia menatap Azka dalam-dalam, beberapa kali dirinya menelan ludah.


'Bagaimana ini? Jika dia siuman, maka aku yang akan dituduh mencari keuntungan dari pingsannya.'


"Apa aku bisa? Kita mungkin sudah pengalaman dalam hal itu. Tapi, inikan sudah tiga tahun. Kenapa aku begitu ceroboh, kenapa tidak menyuruh mereka yang menganti pakaian untuk Azka saja. Aduh Amel!"


Dengan hati yang bergemuruh, Amel melepaskan baju kameja itu dari tubuh Azka. Terlihat tubuh mulus dan putih itu terpampan jelas di indera pekat milik Amel. Amel hampir mimisan melihat roti sobek yang ada di depannya.


Amel menelan ludahnya berulang kali. " Wow ... tubuh Azka seindah ini. Dulu aku tidak terlalu memperhatikannya." Liurnya meleleh melihat pemandangan itu.


Amel menepuk kedua pipinya dengan kedua telapak tangan. "Tidak Amel tidak!!! Kamu harus fokus." Amel menggelengkan kepalanya agar tetap sadar.


"Uhuk ... pegang sedikit. Tidak apa-apa, kan?" Pipi Amel bersemu merah. Ia memberanikan diri untuk memegang dada bidang itu.


Hanya beberapa centi saja tangannya menyentuh tubuh indah itu, namun sedetik kemudian hatinya menjadi ragu. Amel kemudian menarik tangannya kembali.


"Tidak, tidak bisa. Ya, tidak bisa."


Amel membuang fikiran itu jauh-jauh, lalu segera memakaikan pakaian rumah sakit pada Azka.


"Huff ... akhirnya baju selesai diganti. Tapi, ba--bagaimana menganti celananya?" Kini jantungnya semakin berdebar-debar tidak karuan.


Amel susah menelan ludahnya. "Ya ampun. Menelan ludah saja susah. Bagaimana aku membuka celana itu." Rasanya Amel pengen lari dan teriak saja.

__ADS_1


"Tidak, aku harus berani, ini demi dirinya juga."


Amel menyibakan selimut batas paha, tangannya bergerak ke arah ikat pinggang yang Azka pakai. Amel melepas ikat pinggang dengan hati-hati, agar tangannya tidak menyetuh kulit Azka.


"Huff ... selesai. Tinggal celananya saja."


Tangan Amel gemetar dikala menyentuh pengait celana, perlahan ia mulai melepas tautan pengait itu. Hati Amel berdebar seakan ingin melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Ia meraih ujung resleting dan perlahan menurunkannya.


'Semoga aku tidak menyentuh adik kecilnya, semoga aku tidak menyentuh adik kecilnya.'


Amel berhasil menurunkan resleting itu tanpa menyentuh apa yang seharusnya tidak disentuh. Amel bernafas legah, kemudian menarik selimut ke atas batas perut Azka.


Amel berjalan sedikit ke arah kaki ranjang, ia membuka sepatu Azka, dan memasukkan tangannya ke dalam selimut untuk membuka celana Azka. Dengan hati-hati celana itu sudah terlepas dari tubuh Azka.


Amel mengambil celana pasien, dan memakaikan kepada Azka. Ia menarik pelan-pelan celana itu ke atas, Amel kesusahan saat celana itu harus di tarik melewati dua gundukan padat milik Azka.


"Kok susah sekali sih! Padahal sebentar lagi selesai," sungut Amel frustasi.


Amel menurunkan tingkat kewaspadaannya. Ia berusaha menaikan celana itu agar berhasil melewati benda pusaka dan dua gundukan padat itu. Namun naas sudah, dia yang tidak berhati-hati malah tidak sengaja menyentuh adik kecil milik Azka.


"A--Apa yang sudah kesentuh tadi!?" Dengan gerakan secepat kilat, Amel segera menarik celana ke atas dengan sempurna.


"M--Maafkan aku. A--aku benar-benar tidak sengaja," ucap Amel pada orang yang masih belum sadar itu.


"Huff ... untung saja dirinya belum sadar. Jika tidak, maka habislah aku." Amel bernafas legah setidaknya Azka belum siuman dari pingsannya.


"Jika dia tahu bagaimana? Ah, tidak mungkin. Di dalam ruangan ini 'kan hanya kami saja," lirih Amel.


Amel mengumpulkan pakaian basah milik Azka. Lalu menyimpan ke dalam lemari, mengantungnya dengan hanger yang ada di sana. Setelah itu barulah dirinya menghampiri Azka.


Amel menatap wajah teduh itu. "Aku lebih suka saat kau menggodaku Az. Dari pada harus melihatmu seperti ini," lirih Amel. Amel mengusap wajah Azka, lalu mengecup pelipisnya. Turun ke kedua mata, kedua pipi, hidung, dan terakhir bibir yang sedikit pucat itu.


"Cepat sadarlah! Aku dan anak-anak membutuhkanmu sayang."


Amel menjadi murung, fikirannya menerawang jauh mengingat apa yang diceritakan Ary mengenai masa lalu dan kondisi Azka saat ini.


"Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Kumohon ... cepat sadarlah, aku rindu dirimu yang selalu mengoceh ini dan itu padaku," lirihnya lagi. Tak terasa air bening itu mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2