Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 89


__ADS_3

Darren meminta izin untuk ke toilet sebentar, setelah Darren pergi beberapa detik yang lalu Sonya membuka ponselnya dan mengetik pesan untuk ia kirim pada Ayu.


Dia juga harus berterima kasih pada Ayu, berkat Ayu rencana keduanya berjalan lancar. Darren yang ia kira tidak berani menggungkapkan isi hatinya secara bertatap muka itu ternyata hanya praduga belaka.


Sonya sudah membuktikannya sendiri, selain ceria Darren juga sesosok pria yang romantis. Setidaknya sifat Darren tidak seperti Arya dan juga Azka. Dia tak menyangka kan menerima Darren secepat ini. Nyatanya memang hatinya sudah memilih Darren sejak dahulu, namun baru sekarang ia menyadarinya.


[ Berhasil, Kak 😄. ] Pesan singkat Sonya yang sudah terkirim. Tidak berapa lama Ayu pun membalas pesannya.


[ Selamat🎉, Kakak turut bahagia;). ]


Sonya tersenyum membaca pesan singkat dari Ayu. Dia berjanji pada dirinya, setelah pulang jalan-jalan nanti, ia akan menceritakan detik-detik Darren mengungkapkan perasaannya.


...****************...


Hari sudah mulai siang, Arya yang merasa sudah cukup menemani anak-anak bermain pun segera menelepon Darren.


Tut ... tut ... tut ...


"Ada apa?"tanya Darren di seberang telepon.


"Anak-anak pasti sudah lapar. Apa di sini tidak ada Restoran?"tanya Arya.


"Ada, kalau nggak salah ingat di lantai tiga."


"Baiklah. Kita bertemu saja di sana."


"Oke."


Pembicaraan mereka pun berakhir. Setelah Arya dan Darren menyampaikan pada yang lainnya, mereka semua pun berjalan turun ke lantai tiga.


Keempat bocah kecil yang sudah kelelahan kini sedang berada dalam gendongan para om dan tantenya. Bahkan Raka yang terbilang acuh tak acuh juga ikut menawarkan dirinya agar di gendong.


Mengaku lelah hanyalah sebagai alasan Raka saja, dan alasan sebenarnya adalah Raka sedang menghindari serangan ibu-ibu yang melihatnya, ibu-ibu itu bahkan mencubit pipinya karena merasa gemas dengan ekspresi dingin Raka yang ditunjukkan pada mereka.


Kini mereka semua sudah berada di dalam Restoran. Para pengunjung menatap mereka dengan tatapan kagum. Mereka bahkan memuji-muji para malaikat kecil. Bahkan sampai mengajak berfoto, tapi di tolak oleh Arya dengan tegas. Dia tak mau mereka jadi bahan tontonan. Arya juga menyarankan agar yang lainnya harus menyelesaikan makanan mereka dengan cepat.


Setelah membayar barulah mereka pergi dari Restoran itu, menuju ke salah satu Tokoh mainan di dalam Mall. Arya dan Darren sudah berjanji akan membelikan mainan untuk anak-anak jadi mereka berdua kini sedang menepatinya.


Masih di dalam tokoh mainan, Rasti menghampiri Ayu.


"Ante, atu ihat Ante Nya ama Om Allen edangan angan,"terang Rasti.

__ADS_1


Ayu berjongkok dan tersenyum. "Jangan ceritakan pada siapa pun dulu, ya sayang. Apa kamu mengerti?"tanya Ayu lembut.


"Ya, Ante. Asti anji."


Rasti pun dengan senang hati membuat janji karena ia dan tantenya sekarang memiliki rahasia yang bahkan para saudaranya tak tahu.


"Anak pintar."


Di Tokoh sebelah mainan ada Tokoh yang menjual pakaian, Sonya dan juga Ayu pamit untuk kesana sebentar, mereka membawa kedua putri Amel yang ingin ikut juga ke sana. Mereka pun melihat-lihat sebentar namun baju yang mereka inginkan tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


Mereka keluar dari Tokoh itu dengan lesuh, membuat kedua lelaki yang sedang menunggu di luar menatap mereka dengan tatapan heran.


"Ada apa dengan wajah kalian? Tidak ada uang untuk membayar?"tanya Arya asal.


"Bukan tidak ada uang, tapi tidak ada gaun yang cocok dengan selerah kami,"terang Ayu.


"Kau yakin, ingin memakai gaun?"tanya Arya penuh ejekkan.


Arya tidak yakin kalau Ayu juga bisa memakai gaun, penampilan Ayu yang dia lihat beberapa kali hanya menggunakan celana jins dan baju kaos saja tidak lebih dari itu. Dia tidak yakin gadis tomboy seperti Ayu juga ingin memakai dress rasanya aneh.


"Om menghinaku?"tanya Ayu. Sorot matanya menatap Arya seperti mangsa.


"Becanda,"ucap Arya.


"Oh. Tak lucu,"ucap Ayu ketus. Bibirnya pun dikerucutkan.


"Ayolah men, rilex! Tarik nafas ... hembuskan, tarik nafas ... hembuskan. Kau juga harus lebih genle sedikit, Ar." Darren merangkul Arya dengan enteng.


"Lepaskan!"bentak Arya, dia sedikit jijik diperlakukan seperti itu, sementara yang lain hanya mengulum senyum.


"Oke, Bro!" Ucap Darren dengan nada bercanda.


Bara tidak sengaja menangkap tokoh es krim yang ada di depannya. Dia mengingat kembali saat ayahnya berjanji untuk membeli ia es krim, namun sampai sekarang ayahnya itu tak kunjung membelinya juga. Entah karena sibuk atau karena lupa, Bara pun tak tahu.


Kini dia terus menatap tokoh itu, dengan menelan salivanya, air liurnya pun sudah meleleh sedari tadi, Bunga yang tak sengaja melihat Bara seperti itu langsung menarik tangan Sonya agar melihat Bara.


"Ya ampun Bara, ada apa? Apa gigimu sakit, saat makan ayam tadi?"tanya Sonya pada Bara dengan panik.


Di Restoran yang baru beberapa menit di singgahi oleh mereka adalah Restoran khusus ayam goreng, jadi Restoran itu hanya menyediakan nasi ayam saja. Sonya teringat kalau ayam goreng yang mereka makan banyak kriuknya, dia takut Bara seperti itu karena pengaruh memakan ayam goreng.


"Idak Ante. Ntuu!" Tunjuk Bara pada toko es krim yang ada di depannya. Semua melihat ke arah yang di tunjuk Bara.

__ADS_1


"Astaga! Es krim?"tanya Sonya tercengang.


"Kamu mau es krim?"tanya Arya.


"Ya, Ya, Ya, Bala au. Agian Papa ndak epati anjina,"ucap Bara.


"Ya, sudah. Ayo kita kesana!"ajak Arya.


"Uma Bala oang ang ibeyitan?"tanya Rasti.


"Ya tidak dong sayang. Om-om kalian ini, mereka sangat baik hati dan tidak sombong loh ... jadi, kalian semua pasti kebagian makan es krim kok,"sahut Ayu.


"Holee!!!"teriak mereka girang terkecuali Raka.


Sesampainya di Tokoh es krim, mereka di suruh memilih rasa apa yang mereka inginkan.


"Atu au, oklat, tobeli,drian, andul,meyon,ceangka, mmmmm ... yu pa agi, ya?"ucap Bara sambil berfikir.


'Dasar tukang makan,'batin Raka menepuk jidatnya.


"Tu ebannakan Bala. Anti Omna ndak au ayal agi."


"Kalian boleh memilih sebanyaknya. Tapi, makannya itu yang harus kalian kontrol, agar tidak sakit perut. Paham?"


"Ham Om, tami ndak ungkan agi. Yoo iyi ang anyak."


'Ya, ampun,'batin Raka, ia bahkan menggeleng kepalanya.


Setelah keluar dari Tokoh es krim mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Masih dalam perjalanan pulang, faktor kelelahan membuat anak-anak tertidur pulas di pangkuan tantenya. Sampai mereka tiba di rumah Arya pun, masih tetap tertidur pulas.


Keempat orang dewasa itu pun mengendong mereka dan membawa mereka ke kamar yang di tempati oleh Amel.


Kemudian Ayu kembali ke mobil mengambil kantung kresek berisi es krim. Dia membawa kantung kresek itu ke dalam dan menyusun es krim dengan rapi di dalam kulkas.


...****************...


Azka dan juga Amel masih di perjalanan menuju rumah, Azka melajukan mobilnya dengan pelan, bahkan pengendara yang berada di belakang mereka sangat jengkel dengan mobil di depannya, yakni mobil milik Azka yang terkesan menghalangi jalan mereka.


Bunyi klakson sudah terdengar beberapa kali, bahkan suara cacian dan makian yang cukup keras membuat kedua orang di dalam mobil dapat mendengarnya dengan jelas.


Bersambung❣

__ADS_1


Apa yang terjadi pada Azka?🤔


Selamat menanti😉 semoga kalian tak bosan, ya!


__ADS_2