Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 99


__ADS_3

Arya bergegas turun dari kasur empuk miliknya. Lalu berjalan mondar-mandir tak jelas di kamarnya.


"Nah, 'kan. Aku ngapain lagi ini? Kenapa aku tak tenang, sih? Sebaiknya aku mandi saja dulu, biar fikiranku segar dan bisa kembali seperti semula,"ucap Arya pelan.


Sesuai dengan apa yang diucapkannya. Arya segera pergi ke kamar mandi.


Amel dan kedua wanita dewasa sudah berada di depan pintu kamar tamu yang sedang di tempati oleh para malaikat kecil.


Dari luar tidak terdengar kebisingan sama sekali, tenang dan tenang di dalam sana. Amel segera membuka pintu kamar yang sengaja di rapatkan oleh Raka sewaktu mau tidur kemudian Amel diikuti oleh Ayu dan Sonya masuk ke dalam kamar tersebut.


Dan benar saja para bocah kecil itu tidur pulas bak malaikat kecil yang sedang berada di alam lain. Amel segera membetulkan posisi tidur Bara yang sedikit lagi akan jatuh ke lantai.


Ayu dan Sonya sudah duduk di sofa mereka sedang memperhatikan Amel yang tengah menyelimuti keempat bocah kecilnya, setelah itu barulah Amel ikut duduk bersama mereka di sofa yang ada di kamar tamu itu.


"Apa kalian tahu? Mereka hari ini tidur sendiri loh!" Amel memperhatikan anak-anak yang masih tertidur pulas itu dari sofa.


"Apa benar, Kak?"tanya Sonya sedikit tak percaya.


"Ya. Sehabis sarapan dan kalian semua sudah pergi keluar, anak-anak mengajak ayahnya untuk bermain bersama. Mereka bahkan tidak mengingat waktu tidur siang dan pada akhirnya sehabis bermain yang begitu lama, mereka segera pamit dan tidur sendiri tanpa Kakak harus menemani mereka lagi,"jelas Amel tersenyum.


"Wah ... mereka semakin hari semakin pintar saja. Tentunya semakin mengemaskan,"ucap Sonya girang.


"Oh iya. Apa kalian tidak akan menjelaskan sesuatu pada Kakak?"tanya Amel. Amel juga heran kenapa Ayu tidak bersuara sejak duduk.


"Aku ada Kak. Aku bukan mau menjelaskan apapun pada Kakak. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu hal pada Kak Amel."


"Baiklah. Apa itu?"tanya Amel.


"Sebenarnya aku sudah jadian sama Kak Darren." Sonya merasa bersalah pada Amel.


Sonya bukan sengaja menyembunyikannya dari Amel namun dia mengerti Amel juga masih ada urusan lain lagi jadi ia tak membagi kebahagiaannya dengan Amel.


"Kakak sudah dapat menebaknya, wajahmu semakin bersinar akhir-akhir ini, kalau bukan sedang jatuh cinta apa lagi." Amel tahu betul dengan Sonya. Dia juga tak terlalu mempermasalahkannya.


"Kak Amel bisa aja. Aku bahkan sudah di lamar loh Kak."


"Malah bagus. Itu tandanya Darren mempunyai sikap yang dewasa. Lalu bagaimana dengan Ayu?"tanya Amel pada Ayu.


"Hah!? Aku?" Ayu terperanjat kaget saat namanya disebut.


"Ya kamu. Mau siapa lagi kalau bukan kamu, hm?"


"Pokoknya Kakak jangan bahas itu dulu! Aku belum kepikiran sampai ke situ, Kak. Mana ada yang mau sama aku? Yang menyukaiku hanyalah orang buta saja,"ucap Ayu asal.


'Aku juga binggung dengan perasaanku sendiri,'batin Ayu.


"Terus bagaimana dengan kak Bayu?" Tanya Sonya.


"Kak Bayu? Apa maksud Sonya, Bayu yang kau ceritakan pada Kakak waktu itu?"tanya Amel.

__ADS_1


"Iya Kak. Tapi, aku sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Lagian dia hanya temanku doang, Kak." Ayu mencoba menjelaskannya pada Amel.


"Lantas kalau abangku bagaimana, Kak?"tanya Sonya lagi. Dia ingin mencari kepastian dari raut wajah Ayu.


"Ya ampun Sonya ... Kakakmu saja tak melirik kakak sama sekali. Bahkan bisa dikatakan dia tak pernah menyukai Kakak."


Ayu benar-benar memikirkan hal itu akhir-akhir ini. Dia juga sedang tidak baik-baik saja jika menyangkut tentang perasaannya pada Arya. Arya hanya menjadikannya tameng sebagai tempat berlindung dari Aulia. Memikirkan Arya menyukainya itu hal yang sangat mustahil terjadi. Ayu juga berfikir tipe ideal Arya bukan wanita sepertinya.


"Kalau abangku menyukai Kakak bagaimana? Apa kakak akan menerimanya dan menyukainya juga?" Tanya Sonya lagi. Sonya tahu Ayu juga memiliki perasaan pada kakaknya walau perasaan itu mungkin baru sekecil biji zahra.


Ayu terdiam sejenak. "Tidak mungkin dia menyukai Kakak,"ucap Ayu.


Ayu tersenyum pahit, karena akhir-akhir ini Arya kembali menjadi dingin padanya lagi. Makanya ia heran kenapa Arya juga ikut mereka ke butik dan bahkan membayar pakaian untuknya.


"Kenapa? Kok melamun?"tanya Amel memastikan.


'Dia kelihatannya sedang memendam sesuatu, namun aku tahu itu. Aku akan melihat apa yang akan terjadi sesuai dengan kehendak takdir. Entah Ayu akan berjodoh dengan siapa, Bayu atau Arya. Aku siap menantikan hak itu. Kuharap kau juga bahagia Ayu. Kakak sangat sayang padamu,'batin Amel.


"Tidak apa-apa. Oh iya, Kak. Bayu juga ingin hadir ke acara pernikahanmu. Kapan undangannya jadi?"tanya Ayu yang sudah kembali ceria.


"Kakak juga tidak tahu kapan jadinya, mungkin setelah melakukan foto prewedding dulu."


"Emang kapan kalian akan melakukan foto prewedding, Kak?"


"Ayah sudah menyusun rencana dari awal untuk kami. Dan mungkin empat hari ke depan kak Amel dan kak Azka akan pergi ke tempat pemotretan untuk melakukan foto prewedding itu."


"Ya. Semua itu atas kemauan kak Azka. Katanya biar kami bisa berfoto keluarga."


"Benar itu. Aku juga setuju pada kak Azka."


Dan pada akhirnya obrolan mereja terhenti, Ayu dan Sonya pun pamit ke kamar mereka.


Di rumah yang sama dengan waktu yang sama pula. Terlihat kedua pria dewasa sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Apa yang ingin kau katakan padaku, Az?"tanya Darren.


"Kamu jawablah dengan jujur. Kenapa Arya menjadi seperti itu?"


"Hanya itu doang?"tanya Darren lagi.


"Apa kau juga masih menyimpan rahasia yang lain padaku?"


"Sejujurnya masih ada, namun aku juga punya alasan tersendiri untuk tidak memberitahumu."


"Oke. Katakan sebab dan akibat Arya menjadi seperti orang lain dulu."


"Jadi begini .... " Darren mulai menjelaskan semuanya pada Azka tentang Arya waktu mereka pergi dan bahkan sampai pulang dari butik.


"Dan kau lihatlah sendiri, kan? Sifatnya berubah lebih hidup dari yang kemarin-kemarin."

__ADS_1


"Aku rasa, dia sudah jatuh cinta pada Ayu namun dia belum menyadari perasaannya."


"Aku juga sepemikiran denganmu. Bahkan Sonya juga, kami berdua ingin memberi pelajaran pada Arya agar dia secepatnya menyadari perasaannya itu."


"Kamu dan Sonya? Apa sudah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui? Atau inilah privasimu yang sedang kau tutupi dariku?"


"Sebenarnya aku tidak hanya mengutarakan perasaanku pada Sonya. Tapi aku juga langsung melamarnya dan dia menerimanya. Aku tidak mengatakan ini padamu karena kau juga sibuk berbahagia." Itulah alasan Darren tidak mengatakan lebih detail tentang hubungannya dengan Sonya.


"Ternyata kamu memang sudah dewasa. Lalu apa kau sudah memberitahukan kabar bahagia ini pada Paman dan Bibi?"tanya Azka memastikan.


"Yah belum, aku ingin memberikan mereka kejutan."


"Aku ada ide. Bagaimana kalau di hari aku foto prewedding bersama Amel dan anak-anak, kau ajak Sonya pergi ke rumahmu dan biarkan Arya sama Ayu sendiri di rumah. Bisa jadi 'kan terjadi percikkan api cinta."


'Sejak kehadiran Amel pada kehidupannya dia menjadi lebih hangat dari hari ke hari. Bibi, sekarang Azka sudah mendapatkan kebahagiaannya, semoga bibi bisa tenang melihat Azka yang sekarang,'batin Darren.


Ide yang diberikan oleh Azka membuat fikiran Darren terbuka. Mungkin itulah waktu yang tepat untuk meminta restu pada nenek dari Sonya selaku orang tua satu-satunya di keluarga mereka.


Darren sama sekali yakin bahwa Ayah dan Ibunya akan sangat senang mendapatkan calon mantu seperti Sonya. Jadi, kalau menyangkut meminta restu pada orang tuanya dia tak perlu khawatir, sudah pasti mereka akan merestuinya.


"Ah, idemu memang mantap Az. Sekalian saja aku membawa Sonya bertemu sama neneknya untuk meminta restu."


"Pokoknya kau atur saja apa yang menurutmu baik untuk kebahagiaan Arya."


"Kebahagiaanku? Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"tanya Arya tiba-tiba.


Arya yang sudah keluar dari kamar mandi dengan segar kembali pun segera berganti pakaian.


Sehabis mandi tubuhnya memang segar tapi tidak dengan fikirannya. Nyatanya saat mandi saja ia terus memikirkan Ayu.


Arya memutuskan setelah berganti pakaian dia pun menghampiri Azka dan Darren. Ia samar-samar mendengar percakapan antara Azka dan Darren. Namun, tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Setelah sudah dekat barulah ia sedikit mendengar percakapan itu dan ternyata mereka berdua sedang membicarakannya.


"A--Arya! Aku kira kau tidur." Darren sedikit tergagap.


"Kalau aku tidur sekarang, aku pasti sudah melewatkan sesuatu." Arya sedikit menyidir kedua pria itu yang sedang membicarakannya diam-diam.


"Katakanlah apa yang sedang kalian berdua rencanakan?"sambung Arya lagi.


"Rencana apa, sih?"tanya Darren pura-pura bodoh.


"Apa yang di maksud dengan kebahagiaanku?"tanya Arya.


"Bukan kebahagiaan tapi penderitaan. Kau salah dengar Arya, apa akhir-akhir ini kau sering kehilangan fokus pada dirimu sendiri?"tanya Darren menyerang Arya dengan kartu As-nya.


'Apa benar aku yang salah dengar, ya? Akhir-akhir ini juga kan aku memang benar-benar tidak fokus dan itu semua karena wanita itu.'


"Lupakanlah!" Pada Akhirnya Arya pun mengalah sebelum mereka tahu lebih jauh tentang dirinya.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2