
"Apa tante Sonya kenal dengan ayahku?" batin Raka.
"Enat ja, mang wadahtu pacalan pa?"
"B-Bukan begitu, Tante pernah melihat orang yang wajahnya mirip denganmu, tapi Tante lupa karena sudah lama tidak melihatnya. Hehe maaf ya, kalau membuat kamu yang tampan ini tersinggung."
"Iya Ante, tak papa."
...Pov Raka...
Setelah ibunya menyuruh mereka untuk pergi ke kamar, Raka menuntun adik-adiknya dan berlalu ke kamar untuk main seperti yang ibunya katakan.
Sesampainya di kamar, Raka yang lupa dengan mainannya kembali ke ruang TV, tapi belum sempat dia ke ruang TV dia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Amel dan Ayu.
"Baiklah, sebenarnya ... sebenarnya Kakak sudah bertemu dengan ayah dari anak-anak Kakak."
"Aya? Matud Mama Aya tami?" lirih Raka.
"Hah?! Serius Kak?!"
"Iya."
"Ketemunya di mana? Kok bisa?"
Raka menajamkan pendengarannya. "Ternyata dia bukan seorang gigolo seperti yang kakak bayangkan pada tiga tahun lalu."
"Giolo? Pa tu? Lupanna atu pellu beladal ladi," ucap Raka pelan.
"Lalu, kalau bukan seorang gigolo terus apa, Kak?"
"D-Dia ... dia, adalah Bos Kakak."
"Hah?Botnna Mama? Agus telali dennan bedini atu bita mendetattan Mama denan Aya."
"What?! L-Lalu apakah dia sudah mengetahui tentang anak-anaknya Kakak?"
"Belum, Kakak juga belum memberitahukan padanya. Dan ternyata pada waktu itu dia juga di jebak oleh seorang perempuan."
"Seorang perempuan? Pacarnya?"
"Kakak tidak tahu tentang dia lebih detail, dia hanya memberitahukan pada kakak bahwa wanita itu ingin menjebaknya agar dapat menikah dengannya."
"Wanita itu licik sekali Kak. Sudahlah Kak, mungkin bos kakak adalah jodoh Kakak, makanya di pertemukan dengan cara yang tak terduga. Sebenarnya aku sudah curiga pada waktu itu, waktu kakak pulang dari tempat tinggalnya."
"Kamu tidak marah sama Kakak?"
"Untuk apa marah Kak. Bahkan aku malah senang, pantesan anak-anaknya Kakak itu pintar-pintar semua, ternyata oh ternyata bibitnya dari sana. Haha."
"Haha, kamu bisa saja. Kamu tahu Yu, wajah bos Kakak sama persis seperti Raka. Jadi ketika kakak melihat Raka, kakak selalu terbayang padanya."
"Adi wadatuh milip denang Aya? Tebaitnah atu peldi dali tini, danan tampe Mama meliattu." Raka buru-buru kembali ke kamar dan tidak jadi mengambil mainannya.
......................
"Nah, kalian suka kan dengan Tante Sonya?"
__ADS_1
"Tuta!" Teriak para bocah kecil itu.
"Ante Nya ebi antik dali da Ante Yu." Raka sedikit mengejek Ayu.
"Oke-oke. Hari ini kalian main sama Tante Sonya dulu, ya? Tante Ayu mau kerja, ingat jangan nakal!" Ayu seakan tidak peduli dengan ejekkan itu, bagi dia memang benar kalau Sonya itu cantik.
"Tiap Ante!"
"Sonya, Kakak titip anak-anak, ya?"
"Iya Kak, kamu tenang saja."
"Tante pamit dulu, ya? Bye-bye!" Ayu hendak pergi, namun dia seakan melupakan sesuatu yang penting, jadi dia berbalik lagi dan menghampiri anak-anak.
"Sini Tante cium dulu!" Ayu pun mencium satu-persatu bocah-bocah kecil itu.
Ayu pun pergi meninggalkan rumah tempat tinggal mereka, dia mengendarai motor matic miliknya, melewati gang kecil, dan tibalah di jalan utama. Dia berhenti sebentar dan mengecek Aplikasi untuk melihat apakah ada penumpang yang memesannya untuk hari ini atau tidak.
Ternyata belum ada penumpang, matanya berkeliling dan tidak sengaja melihat orang yang dia kenal. Dia pun menghampiri orang itu yang terlihat sedikit kebinggungan dan dilihat dari raut wajahnya, orang itu nampak sedikit kesal.
"Es Batu?!" Ayu berteriak sehingga orang itu terkejut dan melihatnya.
"Siapa?"
"Cih, pura-pura nggak kenal lagi! Awas saja ya hari itu aku sopan padamu karena tidak mau membuat masalah menjadi besar, kalau tidak mana mungkin aku sopan pada orang pelit sepertimu!" Batin Ayu mendecih.
"Ganti rugi!" Ayu mencoba mengingatkan.
"Ganti rugi?" Orang itu berusaha mengingat. "Oh, Ibu dari anak nakal itu?"
"Itu keponakan gue! Lagian Om ngapain di sini?"
"Mampus loe!" ucap Ayu pelan.
"Apa?"
"Eh nggak papa kok Om."
"Aku coba tanyakan padanya dulu. Siapa tahu dia mengetahui bengkel yang berada di dekat sini," batin Arya.
"Bengkel terdekat di daerah sini, ada di mana?" Tanya Arya datar.
"Sebenarnya mau minta bantuan atau mau nagih hutang sih!?" batin Ayu sedikit kesal.
"Oh nggak terlalu jauh kok Om. Hanya 2 km aja, dari tempat Om berdiri."
"Apa?!" Arya sedikit terkejut.
Orang yang ditemui Ayu itu adalah Arya, selepas Arya pergi mengantar adiknya, tiba-tiba ban mobilnya kempes, dan setelah di periksa, ternyata bannya bocor akibat paku yang menancap ke dalam ban itu.
"Anda jangan memanggil saya dengan sebutan Om."
"Gue nggak peduli, loe itu memang Om-Om udah gitu pelit lagi! Sama seperti bos loe, sama-sama pelit!"
"Berdebat sama anda membuat saya hilang kata."
__ADS_1
"Lagian siapa juga yang pelit! Aku hanya menjalankan tugas saja!" Batin Arya sedikit kesal, bisa-bisanya ada orang asing yang mengatai dirinya pelit.
"Baguslah!"
Tiba-tiba Azka menelepon Arya. Arya segera mengangkatnya. "Hallo, kamu ke mana saja sih?!"
"Maaf Tuan, mungkin saya hari ini datang terlambat."
"Kamu di mana sekarang?"
"Di jalan xx Tuan, ban saya bocor."
"Kenapa kamu ke situ? Bukankah kantor tidak melewati jalur itu?"
"Saya mengantar adik saya Tuan!"
"Baiklah! Perintahkan seseorang mengurus mobilnya. Kamu segeralah ke kantor!"
"Baik Tuan." Setelah memutuskan sambungan teleponnya.
"Keknya ada peluang nih," batin Ayu merasa senang.
"Butuh tumpangan nggak, Om?" Tanya Ayu.
"Maaf Nona, saya tidak berniat naik motor butut itu!"
"Mentang-mentang orang kaya, sombong aja! Awas saja ya jika aku berhasil mengajakmu akan kuberi kau pelajaran. Hehe," batin Ayu menyeringai.
"Ya elah ... Om jangan ngehina motor butut gue, gini-gini juga mesinnya masih bagus dan pro. Mau coba nggak Om?"
"Gadis ini benar-benar gila, masa aku disuruh naik motor kek gitu," Batin Arya kesal.
"Ayolah Om! Gue belum ada tumpangan nih. Kalau Om mau, Om bisa jadi penumpang pertama gue, tenang Om nanti gue ngasih diskon deh!" bujuk Ayu.
"Di daerah sini jarang ada taksi Om! Hanya ada motor doang! Jadi mau nggak Om?" ucapnya lagi.
"Ini pertama kalinya aku naik motor dan untuk hari ini saja tidak ada yang kedua kalinya," batin Arya memilih naik motor dengan keadaan terpaksa.
"Oke, antarkan saya ke perusahaan Abraham Group."
"Dia kerja di perusahaan itu, bukankah itu juga tempat kerjanya kak Amel? Mungkin dia salah satu karyawan yang ada di sana juga," batin Ayu mengamati.
"Baiklah Om, Ayo naik!"
"Haha, aku tidak perlu terlalu banyak mikir, dan fokuslah memberi sedikit pelajaran untuk orang ini," batin Ayu penuh siasat.
"Eit ... sebelum Om naik, sebaiknya Om pake helmnya dulu. Biar aman! Nih helmnya!" Ayu menyodorkan helm penumpang pada Arya.
Arya mengambil helm itu dan memakainya dengan asal, Ayu yang melihatnya berinisiatif sedikit bembetulkannya.
"Dasar orang kaya! Pakai helmnya aja nggak tahu! Ke sini sebentar Om!" Dengan wajah tanpa ekspresi Arya menghampiri Ayu. Ayu lalu memasangkan tali pengikat dan mengaitkannya.
"Dekat sekali! Gadis ini manis juga!" batin Arya menatap Ayu. Ayu yang sadar refleks menarik tanganya kembali.
"Cepat naik!" ucap Ayu. Tanpa bicara Arya pun menaiki motor matic milik Ayu.
__ADS_1
Bersambung❤
...Jangan panggil aku dengan sebutan Author😅, sejujurnya aku tidak terlalu nyaman dengan sebutan itu. jika berkenang kalian bisa panggil aku irawati, bisa juga dengan sebutan adik atau pun kakak saja😀. Oh iya, umurku 22 thn. Jadi sesuaikan saja ya!❤...