Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 43


__ADS_3

"Aku tidak mau mencaritahu tentang privasi Amel. Aku takut membuatnya tidak nyaman."


"Baiklah-baiklah. Begini saja kamu ajak dia belanja. Bukankah besok adalah hari ulang tahun perusahaan?" tanya Darren.


"Ah, iya benar."


"Tapi, besok 'kan libur."


"Azka-Azka. Sejak mengenal Amel kok otakmu agak geger sedikit ya. Fikirkan saja caranya, agar dia dapat menemuimu besok."


"Baiklah. Besok aku akan mengajaknya berbelanja."


"Selanjutnya. Kamu mau curhat apa lagi?" Darren sudah mengetahui di setiap acara perkumpulan mereka, selalu saja dia yang menyelesaikan masalah Azka dan Arya dengan memberi saran.


"Pagi tadi, aku dikerjai oleh seorang wanita. Wanita itu sangatlah menyebalkan," Arya mulai menceritakan kejadian yang menimpahnya.


"Haha. Masa? Kok bisa? Gimana ceritanya coba!"


"Saat itu aku mau ke kantor. Sebelum ke kantor aku mengantar adikku Sonya pergi kerja dan hari ini adalah hari pertamanya. Sonya membujukku agar aku yang mengantarnya ke tempat kerjanya dan aku menurutinya."


"Terus, apa yang salah?" tanya Darren sedikit heran.


"Setelah menurunkannya, aku mulai melajukan mobilku. Baru juga beberapa menit mobil melaju, eh tiba-tiba saja bannya kempes karena paku."


"Haha. Itu tandanya kamu lagi kenah sial. Haha. Terus-terus?"


"Aku terpaksa menunggu di situ, tapi tidak ada mobil yang lewat di jalan itu. Jalannya tampak sepi. Tiba-tiba ada--"


"Hantu. Iya kan?" Darren menyergah pembicaraan Arya dengan cepat.


"Kamu bisa serius tidak sih?!" Bentak Arya pada Darren yang sejak tadi selalu tertawa.


"Oke-oke. Lanjut." Darren berhasil menetralkan tawanya.


"Ada seorang cewek menghampiriku. Aku hampir lupa dengan orangnya. Dan ternyata dia Ibu-Ibu yang waktu itu. Anaknya yang merusak mobil Azka." Arya mulai menceritakannya lagi.


"What?"


"Dia selalu memanggilku Om."


"Wahahahahah. Emang pantas tu, mata gadis itu sangatlah jernih. Haha."


"Darren! Sekali lagi kau mengejekku, aku pukul kau." Arya merasa geram dengan tingkah Darren.


"Hahah. Sorry-Sorry. Lanjut."


"Azka kamu masih ingat 'kan wanita itu?"

__ADS_1


"Aku ingat kejadiannya. Tapi, tidak ingat dengan wanita yang kau bicarakan. Kan aku tidak ada di sana." Azka berkata dengan jujur karena memang pada saat itu dia tidak ada di sana.


"Benar juga."


"Oke lanjutkan," ucap Darren ingin mendengar lanjuttan curhatan Arya.


"Ternyata itu bukan anaknya."


"Hais. Kapan masih panjang lagikah ceritanya? Kalau dipikir-pikir mungkin kalian jodoh kali, ya?"


"Jodoh apaan? Ogah, jodoh sama gadis gila seperti dia."


"Haha, kenapa bisa begitu?" tanya Darren penasaran.


"Kau tahu Darren. Saat aku tanyakan padanya jarak bengkel di daerah situ dia malah bilang dekat, dengan jarak 2 km dari tempatku berpijak."


"Haha. Gadis itu sangatlah lucu."


"Lucu dari mana. Aku berharap tidak bertemu dengannya lagi."


"Kalau bertemu lagi. Itu tandanya jodoh. Haha."


"Nah, dan ini kejadian yang paling menjengkelkan darinya. Aku terpaksa naik ke motornya karena tidak ada mobil sama sekali di daerah itu. Kebetulan Azka juga membutuhkanku jadi mau tidak mau aku naik saja ke motor tuanya."


"Serius? Kau naik motor? Gila seorang Arya mau naik motor. Benar-benar di luar dugaan. Haha." ucapan Darren seakan mengejek Arya. Darren tidak percaya kalau Arya benar-benar naik motor.


"Lebih parahnya lagi. Cewek itu mengerjaiku. Dia sengaja mengebut saat di tempat jalan yang agak sepi. Aku dibuat merinding, bingung mau memegang di mana. Keknya dia sengaja fikirku waktu itu, aku lalu mencengkam bahunya dengan erat. Dia mengejekku dan mengatakan bahwa anak kecil sangat suka dengan laju motor yang seperti itu. Dia mengatakan aku payah dan kalah mental sama anak kecil. Aku pun mempercayainya dan menyuruhnya untuk melajukan motornya."


"Sesampainya di perusahaan, dengan perut yang sudah bergejolak, aku buru-buru turun dari motor dan memuntahkan sarapan yang kumakan bersama Sonya."


"Hahaha. Arya-Arya. Ada hari juga di mana kewibawaanmu hancur di depan mata gadis itu. Haha."


Aku juga pernah kentut di depan Amel. Aku tidak akan membocorkan masalah ini. Bisa gawat kalau Darren dan Arya sampai tahu. Sungguh memalukan. batin Azka.


"Bukan sampai di situ saja Dar. Saat masuk ke perusahaan para karyawan menatapku dengan aneh. Sesaampainya ke ruangan Azka barulah Azka memberitahuku bahwa rambutku acak-acakkan."


"Wahahahahahahah. Aduh Arya, perutku sakit karena ceritamu ini. Haha."


"Berhenti tertawa itu tidak lucu. Dia sangatlah menyebalkan."


"Haha. Ada-ada saja kalian berdua ini. Ternyata sedingin dan sedatarnya kalian berdua, ada saja yang dapat membuat kalian tidak berkutik sedikit pun. Wanita-wanita itu memang hebat."


"Oke, sekarang giliranku."


"Pasti mau tanya tentang kabar adikku, kan?" tanya Arya yang sudah tahu arah pembicaraan Darren.


"Ya. Kita memang satu hati Ar."

__ADS_1


"Bukan satu hati. Tapi sudah kebaca dengan jelas. Lagian berhentilah menerorku terus menerus dengan pertanyaan yang sama."


"Haha." Darren tidak menjawab dia malah tertawa.


"Seorang dokter tapi keberanian hanya sebesar debu. Ckck, payah. Kenapa kau tidak menghubunginnya sendiri saja?"


"Aku. Hais .. tidak tahu." Darren bingung harus menjawab apa.


"Dasar. Lain kali kau yang menghubunginya sendiri. Karena dia sudah tinggal bersama majikannya."


"Emangnya dia kerja apa?"


"Menjadi pengasuh anak."


"Serius?" tanya Darren tak percaya.


"Ya."


"Wah ..."


"Ada apa?" tanya Arya.


"Makin cinta saja. Haha."


"Berani kamu macam-macam padanya kutonjok wajahmu itu." Ancam Arya pada Darren.


"Tidaklah Kakak ipar."


"Aku belum merestuimu menjadi adik iparku."


"Aku akan berusaha," ucap Darren serius penuh tekad.


"Silahkan saja kalau kamu bisa," tantang Arya.


"Baiklah. Akan kubuktikan padamu."


"Az, kamu jangan lupa ya, ajak dia belanja." Darren mengingatkan Azka kembali.


"Oke."


Sehabis curhat-curhatan, mereka kembali membahas pekerjaan hingga larut malam, barulah Darren dan Arya pulang ke rumah masing-masing.


☉Keesokan harinya.


Sesuai rencana awal yang diberikan oleh Darren. Siang harinya sekitar pukul 11:00 Azka menghubungi Amel dan mengajaknya ke kantor dengan cara sedikit mengancam untuk potong gaji.


Amel tiba di ruangannya 5 menit lewat 40 detik. Lalu Azka segera mengajak Amel berbelanja. Azka membawa Amel ke sebuah Butik mewah yang ada di kota H. Dia bahkan membelikan Amel dress branded eksklusif. Bukan bahagia namun terlihat kekesalan di mata Amel. Karena Azka selalu menyuruhnya ganti baju terus.

__ADS_1


Azka juga membelikan sepatu dan juga tas. Azka ingin membeli semua tas dan sepatu bermerek, namun Amel menolaknya dan memilih sepasang sepatu yang cukup lumayan saja, tas pun juga sama. Akan tetapi, wajah Amel masih tetap kesal. Membuat Azka menuju kasir dan membayar sekalian dengan baju yang telah di pakai oleh Amel.


Bersambung❣


__ADS_2