
Sorot mata Azka menjadi sendu, sedang Amel menahan kesal dengan apa yang Azka lakukan. Amel tak habis fikir hanya karena masalah sepele saja mereka menjadi seperti ini.
Beberapa jam yang lalu.
Setelah keluar dari Restoran Penuh Cinta, hati keduanya bagai bunga yang sedang mekar, cerah tertepa sinar mentari.
Masih di perjalanan Azka masih terus menggoda Amel hingga membuat Amel tersipu, layaknya seorang remaja yang sedang kasmaran. Bahkan Azka sesekali mencubit pipi Amel karena gemas. Ingin rasanya ia mencium pipi tembem itu. Namun dia harus bisa menahan diri untuk tidak melakukannya tanpa persetujuan Amel.
Mobil Azka kini meluncur pergi ke tempat selanjutnya yang akan mereka singgahi, tempat itu berupah Toko perhiasan.
Sesampainya di dalam Toko, mereka sudah di sapa ramah oleh salah satu pelayan di Toko tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak, Bu?"tanya pelayan Toko tersenyum.
"Saya ingin mencari cincin pernikahan,"terang Azka.
"Baiklah, mari ikut saya!"pinta pelayan Toko.
Pelayan itu menuntun mereka pada meja bening yang berisi cincin pernikahan. Di sana sudah tertata rapi berbagai jenis cincin berlian.
"Di sini Pak, silahkan lihat-lihat dulu,"ucap pelayan Toko.
"Saya ingin membeli cincin berkualitas dan tentunya mahal di sini. Apa stok cincin yang saya harapkan masih ada?"tanya Azka.
Di hari bahagianya tentunya ia ingin semuanya berlangsung dengan kemewahan. Apalagi acara pernikahannya dilakukan hanya sekali saja, dia tak akan melewatkan waktu tuk memilih hal yang biasa.
"Ada Pak. Sebentar saya ambilkan dulu model cincinnya."
Pelayan itu pun mengeluarkan beberapa semua cincin edisi terbatas di Tokonya, berlian yang ada di cincin-cincin itu begitu berkilau di pandang mata.
"Ini Pak, silahkan pilih yang mana. Semua ini stok cincin edisi terbatas di Toko kami, Pak."
'Kenapa dia harus memilih cincin yang begitu mewah?'batin Amel.
"Sayang, kau pilih saja sesukamu,'pinta Azka.
"Beneran?"tanya Amel.
"Ya." Azka mengiyakan permintaan Amel.
"Aku ingin bentuk cincinnya sederhana saja. Apa ada Mba?"tanya Amel. Azka langsung memelototi Amel, dia tak menyangka dengan selerah yang Amel pilih.
"Sederhana? Ini kan hari bahagia kami dan hanya akan di ada kan hanya sekali saja. Kenapa dia tak mau memilih cincin berlian itu? Tidak bisa di biarin,'batib Azka egosi namun ia tak sadar.
"Ada Bu. Ibu tak salah memilih. Cincin sederhana yang ibu mau juga sangat bagus, walau desainnya sederhana tapi mengandung makna yang sangat istimewah, Bu. Sebentar saya ambilkan dulu model cincinnya!"ucap pelayan Toko tersenyum. Amel pun membalas tersenyum.
'Baru kali ini kutemui pelanggan wanita yang menolak cincin berlian. Biasanya juga pelanggan wanita selalu meminta calon suaminya untuk membelikan cincin yang begitu mewah. Bahkan jika tidak menuruti kemauannya, pelanggan wanita itu akan merajuk dan pada akhirnya dibelikan juga,'batin pelayan Toko mengingat kembali para penggunjung di Toko mereka.
Pelayan itu pun mengeluarkan cincin sesuai pesanan pelanggannya.
__ADS_1
"Ini Bu. Coba ibu lihat dulu! Cincin sederhana tanpa berlian dan sangat sempurna saat melingkar di tangan. Mengandung kesan sederhana namun sangat berharga,"jelasnya tersenyum.
'Enak saja aku tak mau,'batin Azka.
"Tidak! Berikan kami cincin yang edisi terbatas seperti kata Saya tadi,"pungkas Azka egois.
"Aku ingin yang sederhana saja. Bukankah tadi kau menanyakannya padaku?"tanya Amel tak terima.
"Tapi 'kan ini hari istimewah kita." Azka masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Aku tahu, tapi yang aku inginkan cincin sederhana itu. Kau 'kan sudah dengar sendiri, cincin itu mempunyai makna yang sangat bagus." Amel mencoba membujuk Azka.
"Walaupun begitu, tetap saja yang kuinginkan hanya cincin edisi terbatas itu,"ucap Azka acuh tak acuh.
Amel yang melihat Azka seperti itu, membuat hatinya sedikit teriris oleh perkataan Azka.
"Baiklah, terserah kau saja. Kau selalu saja begitu selalu saja tidak menghargai pendapat orang lain,"ucap Amel.
"Biarkan dia sendiri yang memilih cincinnya, Mba. Terima kasih, saya permisi!"
"Eh, baiklah." Pelayan Toko itu semakin kagum dengan pasangan yang menurutnya sangat manis.
Amel bergegas keluar dari Toko itu meninggalkan Azka sendiri bersama pelayan Toko di dalam. Dia berjongkok di depan mobil milik Azka, tak terasa air matanya menetes begitu saja.
'Apa aku yang terlalu egois?'batin Amel.
'Apa yang kau lakukan Azka, harusnya kau menuruti saja permintaannya,'batin Azka menyesal.
"Boleh saya kasih saran, Pak?"tanya pelayan Toko yang seakan tahu kegundahan di hati Azka.
"Ya, terserah kau saja."
"Bagaimana kalau beli cincin berlian sama cincin sederhananya?"tanya pelayan itu tersenyum.
'Benar juga, kenapa aku tak memikirkannya sedari tadi?'batin Azka senang.
"Baiklah. Bungkus keduanya saja."
"Oke, Pak."
Pelayan Toko segera membungkus pesanan Azka. Dia juga sedikit memberi Azka tips agar Amel tak merajuk lagi. Azka membayar, mengambil pesanannya dan segera berlalu keluar dari Toko itu.
Dia tak sengaja melihat Amel yang sedang berjongkok di depan mobilnya.
"Apa dia menangis?"lirih Azka. Azka berjalan mengahampiri Amel.
"Kenapa tak masuk ke dalam?"tanya Azka.
Amel segera berdiri dan langsung masuk begitu saja ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Azka.
__ADS_1
'Kenapa dadaku sesak, ya? Rasanya sakit banget di diami kayak gini,'batin Azka.
Azka melangkahkan kakinya memasuki tempat duduknya, dengan lihai mengemudikan mobilnya membelah jalan perkotaan. Azka yang merasa bersalah mengemudikan mobilnya dengan pelan bak kura-kura yang sedang berjalan.
...****************...
Azka terus tengelam dalam fikirannya, suara cacian dan makian yang ia dengar dari belakang tak digubris oleh dirinya. Dia kemudian menepikan mobilnya di tempat yang tidak di larang parkir.
Beberapa menit telah berlalu. "Aku salah, maafkan aku!"lirih Azka sendu.
Amel yang masih kesal, seketika luluh mendengar permintaan maaf dari Azka. Amel masih mau mendengar apa yang akan Azka katakan lagi dia pun masih tetap mendiamkan Azka.
"Maafkan aku, karena aku terlalu egois. Kamu benar, aku tidak memikirkan perasaan orang lain. Maafkan aku, aku belum bisa sepenuhnya berubah." Azka tertunduk, posisinya saat ini seperti seorang anak yang sedang mengaku salah pada ibunya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakiti hatimu, kumohon ... maafkanlah aku,"pinta Azka lagi. Dia benar-benar tak tahu harus berkata apa. Hanya kata maaf yang bisa ia lontarkan pada Amel saat ini.
Amel perlahan membuka sabuk pengaman dan segera memeluk Azka, dia sudah cukup mendiamkan pria itu, baginya Azka lebih baik dari pada Riski.
Dulu waktu masih pacaran dengan Riski, di saat Amel salah atau tidak, tetap dia yang meminta harus meminta maaf duluan. Dia jadi tak tega saat melihat Azka yang begitu kejam malah terlihat seperti anak bebek di depannya.
"Terima kasih,"ucap Amel. Dengan pelan mengelus punggung Azka.
Azka melepaskan sabuk pengamannya dan balik memeluk Amel. "Maafkan aku!" Ucap Azka untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak apa-apa sayang,"lirih Amel. Seketika membuat Azka terhipnotis.
Azka perlahan melepas pelukannya. "Katakan sekali lagi,"pinta Azka manja.
"Sayang!" Kini Amel tak malu-malu lagi.
"Boleh?"tanya Azka. Dia sudah semakin gemas dengan tingkah Amel yang menurutnya sangat manis.
"Apanya yang boleh?"tanya Amel. Amel masih berpura-pura padahal dia tahu apa yang Azka inginkan saat ini.
"Itu ... ya sudahlah!" Ucap Azka pasrah, lalu menatap lurus ke depan, Azka sadar dia tak boleh memaksa Amel.
'Dia manis sekali!'batin Amel.
Amel terkekeh pelan. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Azka dan langsung sekilas mencium pipi Azka. Azka yang baru saja ingin menyalahkan mobilnya pun terhenti, refleks memegang pipi yang baru saja di cium oleh Amel.
Azka menatap Amel yang kini sudah menutupi wajahnya dengan tangan saking malunya.
"Kau harus tanggung jawab. Masa pipi sebelahnya lagi kau anggurin nanti mubazir. Ayo sini!"pinta Azka. Azka memposisikan dirinya agar Amel juga dapat mencium pipi sebelah miliknya.
Sekarang Amel mulai berani, wajahnya yang ia tutup menggunakan tangannya, kini sudah tidak di tutupinya lagi. Dia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Azka. Hanya beberapa senti saja bibirnya bertemu dengan pipi milik Azka dan secepat kilat Azka merubah posisi kepalanya hingga bibir Amel menempel pada bibirnya.
Mereka berdua tenggelam pada kerinduan yang tak berunjung. Semakin dalam dan semakin diperdalam hingga keduanya merasa puas.
Bersambung❣
__ADS_1