
"Apa Om lupa mengunci pintu?" lirih Ayu pelan.
Ayu celingak-celinguk melihat seisi ruangan takut-takut ada pencuri yang masuk ke dalam, setelah dirasanya sudah aman barulah ia pergi ke dapur menghampiri lemari pendingin yang ada di sana. Ia membuka kulkas dan mengambil air minum untuk melegahkan tengorokkannya.
"Segar!"
"Di rumah tampak sepi seperti kuburan di tengah malam saja. Sebenarnya orang-orang pada pergi ke mana, sih? Jam segini belum pulang. Dan di luar mobil Om sudah terparkir di garasi, terus orangnya kemana coba? Apa sedang di kamarnya kali, ya?" Ayu berbicara dan bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa? Apa kau sedang mencari Amel dan yang lainnya?" tanya Arya tiba-tiba.
Uhuk ... uhuk ... uhuk ...
Menatap orang yang baru saja datang. "Om kek jailangkung saja, datang tiba-tiba. Huh!" ucap Ayu mendengus, saat batuknya meredah.
"Eh, iya Om. Apa Om tahu mereka kemana?" tanya Ayu lagi.
"Tidak," ucap Arya acuh tak acuh. Ingatan tentang Ayu dan pria itu masih melekat pada fikirannya.
"Kok Om dingin lagi, seperti benda ini?" Tunjuk Ayu pada kulkas di dekatnya.
"Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Arya menginterogasi. Dia sengaja menanyakan hal itu agar Ayu tak curiga padanya.
"Oh, aku ketemu sama teman. Lalu di ajak ke rumahnya dan menemui ibunya," jelas Ayu enteng.
'Teman? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau sedang berpacaran dengan pria tukang ojek itu.'
"Oh, kirain sedang pacaran dan bermesra-mesraan dengan pacarmu." Arya merebut botol air yang masih berada di tangan Ayu lalu meneguknya.
"Beneran kok Om, aku tidak bermesraan dengan pacarku," terang Ayu. Ia heran pada Arya kenapa Arya menuduhnya begitu.
'Berasa sedang di interogasi oleh suami saja.'
"Lalu ... kenapa Om mengambil air yang sudah kuminum itu?" sambungnya lagi.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Arya setelah selesai minum air.
"B--Bukan begitu." Ayu menjadi gugup, mana mungkin dia mengatakan bawah dirinya senang dengan tingkah Arya barusan.
Arya memincingkan matanya. "Lalu?" tanyanya.
"I--Itu kan bekas bibirku." Tunjuk Ayu pada botol yang masih berada di tangan Arya.
"Tidak masalah, aku tidak jijik dan bahkan aku suka," ungkap Arya jujur.
Terbelalak kaget. "Apa?" tanya Ayu.
"Kenapa?" tanya Arya tanpa dosa.
"Om bilang apa barusan?" tanya Ayu meminta kepastian.
Arya berfikir sejenak. "Tidak masalah," jawabnya.
Ayu menggeleng pelan. "Bukan yang itu," celetuk Ayu.
Arya berfikir kembali. "Tidak jijik," jawabnya lagi.
"Tidak, tidak, bukan yang itu Om." Ayu menyahuti ucapan Arya dengan cepat.
"Aku suka?" tanya Arya ketika sudah mengingat kata terakhirnya. Arya tidak menyangka bahwa Ayu tertarik dengan ucapannya itu.
"Ya, yang itu. Apa beneran?" tanya Ayu. Hatinya tidak karuan ingin rasanya Ayu terbang dan melayang dari tempatnya berpijak.
"Benar. Kenapa? Apa kau tak senang? Atau kau takut pacarmu marah karena aku merebut ciumanmu secara tak langsung?" Arya membeberkan beberapa pertanyaan pada wanita yang ada di depannya, bahkan nada bicaranya sangat ketua terdengar jelas oleh indera pendengaran Ayu.
__ADS_1
"Om bicara apa sih? Aku tidak mengerti, Om." ungkap Ayu, seketika itu juga nada bicara Ayu berubah, ia tak suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang Arya lontarkan padanya.
"Jangan berpura-pura!"
"Terserah Om saja deh. Aku lelah, aku capek. Aku pamit ke kamar, ya?" tanya Ayu, tanpa mendengar balasan, perlahan kakinya mulai melangkah.
'Dasar, Om tak peka. Dari tadi hanya menginterogasiku saja. Malas ah, mending cepat-cepat berlalu ke kamar.'
Ayu melangkah melewati Arya yang masih terpaku di tempatnya. Ayu tak sadar diri bukan Arya saja yang tidak peka namun dia pun juga sama.
"Aku melihat semuanya," ungkap Arya singkat. Seketika langkah kaki Ayu langsung berhenti.
'Apa yang Om lihat?'
"Ya aku melihat semuanya. Aku mengikutimu."
Deg!
"Aku melihat pria itu menyatakan cintanya dan kau menerimanya. Maafkan aku jika aku lancang."
'Kenapa Om mengikutiku? Kenapa Om harus marah? Padahal aku tidak salah apa-apa dan bahkan aku juga menolak cinta Bayu bukan seperti apa yang Om fikirkan tentangku. Pantes saja aku di interogasi olehnya. Eh, apa orang yang memakai masker adalah Om?"
Tentu saja ucapannya itu hanya ia tanyakan dalam hati saja. Ayu baru teringat suatu fakta yang sangat penting. Seketika ia teringat seorang lelaki yang memakai masker dan kacamata di danau tidak begitu jauh dari tempatnya dan Bayu berada.
"Apa Om orang yang memakai masker dan kacamata bening itu?" tanya Ayu memastikan kebenarannya.
"Ya."
'Pantes saja. Ternyata dugaanku benar, orang itu adalah Om. Lalu kenapa dia berada di sana? Dan kenapa dia malah marah-marah padaku? Ingin sekali aku menanyakannya padanya.'
"Kenapa Om ada di sana?" Ayu memberanikan diri untuk bertanya. Jika tidak bertanya maka dia akan penasaran setengah mati.
"Walaupun aku menjelaskannya pasti semuanya sudah terlambat," ungkap Arya, tersenyum pahit.
Ayu berbalik badan dan menatap punggung Arya. "Jelaskan saja, aku ingin mendengarnya, Om."
Arya berbalik badan dan menundukkan kepalanya matanya sibuk menatap lantai keramik berwarna putih, ia mengingat ucapan Azka agar menjadi lelaki sejati tuk berani menggungkapkan perasaannya.
'Arya kau pasti bisa. Dan tidak ada salahnya juga kau mengutarakan isi hatimu pada wanita yang kau cintai. Walau kau suda tahu jawabannya nanti. Yah, aku pasti bisa.'
Ayu yang melihat Arya merasa heran dengan tingkah Arya yang baru pertama kali ia lihat, biasanya kepala Arya selalu tegak saat bicara namun sekarang Arya seperti anak kecil yang takut karena telah melakukan kesalahan.
"Tidak apa-apa, aku ingin mendengarnya, Om." ucap Ayu lembut.
"Apa aku bisa memelukmu?" tanya Arya. Setidaknya jika ia di tolak nanti ia tidak akan menyesal lagi.
"Hah? Apa itu yang ingin Om katakan padaku?"tanya Ayu. Ia sempat tercenggang dengan permintaan Arya barusan, karena yang ia minta itu penjelasan bukan permintaan.
"Bisa tidak?"tanya Arya masih setia menatap lantai entah ada apa di sana.
"B--Baiklah!" Ayu tidak mungkin menolak saat orang yang ia cintai berinisiatif duluan, namun dia benar-benar tidak paham dengan maksud terselubung Arya itu.
Arya berjalan perlahan dan merengkuh tubuh Ayu dalam dekapannya. Ayu pun lantas membalas pelukkan Arya. Arya mengusap rambut sebahu milik Ayu, rasanya pelukan itu tidak ingin ia lepaskan.
Mereka berdua berpelukkan hingga lima menit sudah terlewatkan, jantung keduanya berdegub sangat kencang, Ayu juga merasakan hal yang sama, ia juga tak ingin melepaskan pelukkannya bersama Arya.
Setelah di rasa sudah cukup barulah Arya mengakhiri pelukkannya.
"Maafkan aku," lirih Arya kini matanya sudah berani menatap Ayu kembali. Pelukkan mereka barusan membuatnya mempunyai tenaga yang sudah sempat hilang.
"Eh, tidak apa-apa, Om." Ayu membalas tatapan mata Arya. Mereka berdua tengelam dalam fikiran masing-masing. Hingga, keheningan sudah terjadi selama 10 menit.
'Inilah saatnya."
__ADS_1
"Sebenarnya, aku menyukaimu," ungkap Arya lantang. Kini ia tidak bertele-tele lagi.
"Hah? Apa?" tanya Ayu tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Tapi mungkin semuanya sudah terlambat," lirih Arya sendu.
"Om jangan salah paham dulu,"
"Bagaimana aku tak salah paham aku men--" ucapan Arya terputus karena Ayu sudah memotong ucapannya.
"Aku menolaknya, Om." terang Ayu.
"Tapi ... aku mendengarnya sendiri, kalau kau menerima cintanya," ungkap Arya.
"Om pasti sudah pergi 'kan dari situ?" tebak Ayu. Pasalnya ia juga kaget, saat orang yang memakai kacamata dan masker itu telah menghilang dari tempat duduknya pada saat itu.
"Ya."
"Jadi ... apa benar Om menyukaiku? Kenapa harus aku? Kan masih banyak tuh perempuan seksi di luaran sana."
"Aku juga tidak tahu. Intinya aku mencintaimu. Hatiku sudah memilihmu." Arya meraih tangan kanan Ayu dan meletakkan di dadanya. "Dengarkanlah debaran jantungku. Itu semua terjadi karenamu. Maaf, jika aku tidak bisa mengungkapkan isi hatiku dengan cara yang romantis."
'Jantung Om berdebar sangat kencang. Jika ini adalah mimpi, kuharap tidak ada orang yang membangunkanku.'
Ayu mengira semua ini hanyalah mimpi belaka, dia tidak yakin bahwa hari ini Arya mengungkapkan isi hatinya padanya.
"Ini pasti mimpi." Ayu menarik tangannya dan langsung memeluk Arya. "Ya ini semua pasti mimpi. Walau begitu, aku juga ingin mengatakan sesuatu. Bahwa aku juga menyukaimu, Om," ungkap Ayu cengar-cengir sendiri.
Arya yang melihat tingkah Ayu menjadi senang dia pun juga ikut mengembangkan senyum termanisnya di kala wanita itu mengatakan bahwa ia juga menyukainnya. Tiba-tiba Arya tersadar karena Ayu melepas pelukannya.
Ayu mengangkat tangannya dan mengelus lembut pipi mulus milik Arya.
"Kuharap aku tidak terbangun dari mimpi indah ini. Hehe, Om sangatlah tampan," lirih Ayu pelan. Arya menatapnya gemas.
'Jadi, dia mengira ini semua mimpi? Haha, gadis tomboyku ini ternyata ada sisi imutnya juga. Jadi pengen menciumnya.'
Tidak banyak basa-basi lagi, Arya menangkap tangan Ayu yang sedang mengelus pipinya, mata Ayu menatapnya heran, lalu tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bibir Ayu. Seketika itu Ayu mematung di tempat. Arya benar-benar sudah tidak tahan lagi, bibir gadis tomboy itu begitu menggodanya.
'Apa yang terjadi barusan? J--Jadi, i--ini bukan mimpi? Arrrrgght.'
"Om!"
"Hm?"
"Itu, tadi ..."
Cup!
"Yang itu?" tanya Arya setelah mengecup bibir Ayu lagi.
"Ommm!" pekik Ayu malu-malu.
Ayu bahkan melayangkan tangannya tuk meninju dada Arya namun Arya segera menangkap tangan Ayu dan langsung menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi pada wajah Ayu.
'Rasakan itu. Itu hukuman untukmu karena telah membuatku cemburu.'
"Ommm!!" pekik Ayu. Arya tergelak melihat ekspresi wajah Ayu yang menurutnya sangat lucu.
Arya kini menatap dalam manik mata milik Ayu, Ayu juga melakukan hal yang sama. Kini hati keduanya sudah di penuhi bunga yang sedang bermekaran di sana.
Arya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu, menyandarkan dahinya ke dahi milik Ayu, dengan hembusan nafasa yang memburu, Arya berhasil mengecup bibir Ayu dan ******* bibir mungil itu serta mengecapnya tanpa ampun. Ayu hampir kehabisan nafas karena mengikuti permainan Arya.
Bersambung❣
__ADS_1
Ya ampun kaku banget nulis adegan romantisnya😂.. authornya udah lama jomblo sih. 😂