Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 48


__ADS_3

I--Ini semua anak-anak Azka? Gila? Ini memang gila! Sekali sembur tembus empat? Azka kau memang kuat. Desas-desus yang menyebar tentang ketidakmampuanmu dalam hal itu ternyata memang hanya isu belaka. Jika mereka semua tahu kau memiliki anak sebanyak ini pasti semuanya akan terkejut. batin Arya.


"Kak!" Sudah berapa kali Sonya memanggil nama kakaknya namun Arya masih saja melamun hingga Sonya sengaja menyenggol tangan Arya.


"Kak!"


"Eh, Iya ada apa?" Arya tersentak.


"Ya ampun Kak. Di sapa salam tu sama mereka." Sonya menunjuk anak-anak pakai mulutnya.


"Ya, ya. Haloo semua!" Tampang datar kini menyelimuti wajah Arya.


"Eplesi Omna milip Tak Laka. Haha," ucap Rasti tertawa.


"Iya," sahut Bunga.


"Dak milip tuh." Raka tidak terima dirinya disamakan dengan orang lain.


"Om tu ang unya obil." Bara mengingat jelas wajah Arya yang berdiri di samping mobil yang ia goresi.


Semua tidak terfokuskan ke pembicaraan Bara, mereka sibuk melihat Arya yang melihat mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


Arya menatap anak-anak yang ada di depannya satu persatu. Dia meneliti setiap sudut wajah mereka. Dimulai dari Raka.


Wajahnya sangat mirip dengan Azka, kedua anak gadis itu mata dan hidungnya mirip dengan Azka juga. Dan ... dan eh bukankah anak gendut itu yang waktu itu merusak mobil Azka, ya? Gila dunia memang sangatlah sempit. Terus jika anak itu adalah anak Amel berarti cewek gila itu juga tinggal di sini dong! batin Arya mengingat Ayu.


"Kakak! Kenapa melamun lagi?" tanya Sonya membuat Arya tersentak kaget.


"Sini ikut aku sebentar!"


"Tante pamit ke situ sebentar, ya? Kalian lanjutkan menonton flim kartunnya dulu."


"Iya Ante."


Arya dan Sonya berbicara tidak jauh dari anak-anak. Arya mulai berbicara serius pada Sonya adiknya.


"Mereka adalah anak-anak dari Azka." Arya langsung berbicara keintinya.


"Apa?!" Sonya kaget.


"Anak yang kamu bilang mirip dengan seseorang itu ialah Azka. Anak itu mirip sekali dengan Azka," terang Arya.


"Iya Kak benar. Raka mirip sekali dengan kak Azka. Kok aku bisa lupa,ya?"


"Sekarang aku ditugaskan mencaritahu tentang keberadaan Amel dan juga anaknya. Dan untuk membuktikan apakah anak itu juga anak Azka atau bukan. Ternyata memang benar mereka adalah anak Azka. Makanya aku bisa berada di sini sekarang," jelas Arya.


"Jadi kak Amel dan kak Azka ...."


"Iya. Ceritanya panjang."


Arya menceritakan pertemuan pertama Amel dan juga Azka. Sonya lupa mengunci pintu rumah depan membuat Bara keluar rumah sendirian bermain bola yang baru saja diambilnya dari rak mainan. Dia pergi tanpa sepengetahuan dari saudaranya. Mereka semua sibuk menonton tidak memerhatikan Bara yang sudah berjalan keluar. Sonya masih fokus mendengarkan cerita dari Arya. Sehingga mereka lupa akan segalanya.


Bara berjalan keluar dan bermain bola di pekarangan rumah mereka. Dengan riang gembira dia tertawa sendiri karena berhasil menendang bola begitu jauh. Tiba-tiba seorang wanita cantik menghampirinya.


"Hallo anak manis." Wanita itu menyapa Bara.


Bara tampak heran dengan wanita asing yang ada di depannya.


"Ante tiapa?" tanya Bara.

__ADS_1


"Tente temannya mama Amel."


"Oh telus tetalang Mama di na?"


"Ayo ikut Tante. Nanti Tante anterin ke Mama."


"Unggu yu. Bala ilang duyu ama ante Nya an ang ainna."


"Tidak usah. Tadi Mama bilang kamu harus pergi sendiri."


"Hm. Aiklah Ante, Bala itut Ante." Bara percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu.


"Bagus! Amel aku sudah menahan kelemahanmu. Kamu tidak bisa apa-apa sekarang." Wanita itu menyerigai, dia pun mengendong Bara dan pergi dari situ secepatnya.


"Semoga mereka cepat bersatu, Kak," ucap Sonya yang sudah selesai mendengar cerita Arya.


"Iya. Aku ingin memberi kabar dulu pada Azka."


"Aku ke sana dulu. Temani mereka Kak." Sonya pamit pada Arya.


"Oke."


Sonya berjalan menghampiri anak-anak. Arya segera menelepon Azka. Sambungan teleponnya tersambung tapi Azka belum mengangkat panggilan telepon darinya.


"Bara ke mana?" tanya Sonya pada anak-anak.


"Idak au Ante. Adi aing di titu," ucap Rasti yang tidak sengaja melihat Bara mengambil bola di rak.


Sonya mencari Bara di mana-mana, tapi tidak menemukan Bara juga. Sonya berlari keluar rumah dia melihat pintu rumah tidak terkunci. Dengan panik Sonya berteriak nama Bara. Mata Sonya melirik ke bola yang terletak di pekarangan rumah.


"Bara!!! Kamu di mana? Jangan menakuti Tante dong sayang!"


"Ada apa?"


"Ka--Kak. Bara hilang, Kak. Sonya sudah mencari ke mana-mana tapi Bara tidak di temukan juga. Huhuhu." Sonya mulai menangis tersedu-sedu.


Sambungan telepon sudah tersambung. Azka sudah menyapa namun Arya tidak menyapanya balik. Azka malah mendengar suara tangisan wanita di dalam telepon menyebut nama Bara yang asing di indera pendengarnya.


"Hallo Arya!" sapa Azka dibalik telepon.


Arya melihat sambungan telepon sudah tersambung dari beberapa detik yang lalu. Dia kemudian mulai bersuara.


"Azka gawat! Anakmu hilang!"


"Apa!?"


Tiba-tiba telepon mereka terputus karena ponsel milik Azka lowbeat total.


"Hallo Arya. Hallo-hallo." Azka melihat ponselnya yang sudah mati total.


"Aaakhhh sial!" teriak Azka frustasi.


"B--Bapak kenapa?" tanya Amel.


Sonya buru-buru lari ke kamar mengambil ponselnya dan segera menelepon Amel.


"Sa--"


Azka baru saja ingin menjelaskan tapi ponsel milik Amel sudah berdering duluan.

__ADS_1


Drrtt ... drrtt ... drrtt


"Sebentar Pak," ucap Amel. Amel langsung menerima panggilan dari Sonya.


"Hallo Sonya. Ada apa?"


"Kakak. Gawat Kak. B--Bara hilang! Ini salahku Kak. Maafkan aku."


"Apa!? Bara hilang? Kamu di mana sekarang?"


"Di rumah Kak."


"Oke, Kakak ke sana sekarang."


Amel menutup teleponnya, tampak kepanikan dan rasa khawatir dalam dirinya. Azka sudah mengetahui apa yang membuat Amel jadi seperti itu.


"Ayo saya antar kamu pulang!"


"Ayo cepat Pak."


Mereka yang masih berada di cafe segera membayar dan pergi ke rumah Amel. Di perjalanan Amel tidak henti-hentinya meremas jari tangannya. Cemas, khawatir menyelimuti hatinya. Azka melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Cepat sedikit Pak." pinta Amel. Azka melajukan mobilnya sesuai permintaan Amel.


Kini mereka sudah tiba di rumah Amel. Amel langsung masuk begitu saja karena rumah tidak terkunci. Azka masih berdiri mematung di luar pintu tidak berani untuk masuk ke dalam.


"Kak Amel. Maafkan aku Kak."


"Sudahlah. Tidak usah menangis."


"Tapi Kak. Ini semua salahku."


"Tenanglah!"


Amel memang sangat-sangat khawatir tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Sonya. Amel tidak sengaja melihat Arya yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Pak Arya kenapa anda juga di sini?"


"Sonya adalah adik saya Nona. Maaf Nona, apakah Tuan tidak ke sini?"


Ternyata Arya adalah kakak Sonya.


Amel sampai lupa dengan Azka jika Arya tidak memberitahunya.


"Tidak tahu Pak. Mungkin dia di luar."


"Tuan sudah tahu tentang Nona. Bahkan anak-anak Nona juga Tuan sudah mengetahuinya."


Aku harus bilang apa padanya?Apa dia akan marah padaku?


"Di mana anak-anak?" tanya Amel pada Sonya.


"Aku menyuruh Mereka semua ke kamar Kak."


"Sebaiknya Nona memanggil Tuan ke sini juga."


Iya juga. Masalahnya sudah serumit ini, aku juga harus menjelaskan semuanya padanya. Ini demi kebaikan Bara, setidaknya aku tidak menghadapi masalah ini sendiri. Dia marah atau tidak itu terserah dia saja, aku tidak peduli.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2