Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 46


__ADS_3

"Mulai hari ini. Kamu tidak akan lari lagi dari saya," bisik Azka.


"A--Apa?" tanya Amel bingung. Amel memang tidak mendengar dengan jelas apa yang Azka ucapkan di panggung tadi.


"Saya telah memperkenalkan kamu, kepada seluruh dunia bahwa kamu adalah wanita saya," jelas Azka.


"Bapak sudah gila!" bisik Amel melototkan matanya pada Azka.


"Iya saya gila. Saya gila karena kamu."


"Maaf. Saya tidak bisa menerima Bapak."


Aku tidak mau lagi kejadian yang lalu menimpahku, batin Amel.


"Kenapa? Kamu juga menyukaiku, kan?"


"Tidak! Saya tidak menyukai Bapak."


Maafkan aku. Aku tidak mau tersakiti lagi. batin Amel.


"Bohong!"


Aku memang membohongimu. Aku juga menyukaimu entah kapan dan di mana perasaan ini bersarang dalam hatiku. Tapi Aku tidak bisa menerimamu. batin Amel.


"Terserah Bapak, mau mempercayai saya atau tidak."


Azka dan Amel yang sedang berbisik-bisik di atas panggung tampak begitu mesra bagi tamu yang melihatnya itu adengan romantis yang sedang mereka berdua lakukan di sana. Namun semua bukanlah seperti yang mereka bayangkan.


"Wow. Mereka tampak romantis, ya?" MC menyadarkan mereka. Amel dan Azka pamit dan turun dari panggung.


Setelah mereka turun MC mengambil ahli dan mempersilahkan para tamu menikmati jamuan makan malam.


Kirana mengepalkan tangannya, ia nampak kesal dengan pengakuan Azka secara terang-terangan.


Awas saja, akan kubalas semua sakit hatiku ini. Jangan senang dulu Amel. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu. Kamu sendiri yang mengalih lubang maut untukmu sendiri. Dasar murahan! Sudah punya anak masih saja menggoda Azka.


Yuni yang tidak jauh dari Kirana dapat melihat ekspresi wajah Kirana. Yuni lalu ke sana menghampiri Kirana.


"Kakak kenal sama wanita yang barusan itu?" tanya Yuni pura-pura akrab.


Siapa perempuan ini? Aku paling tidak suka dengan orang yang sok akrab denganku.


"Nggak kenal. Loe siapa?"


"Tidak terlalu penting aku siapa. Sekarang kita berada di perahu yang sama Kak. Ayo kita saling membantu."


"Loe juga memusuhi wanita itu?"


"Iya Kak. Aku tahu tentang wanita itu. Wanita itu sudah pernah tidur dengan lelaki yang tidak jelas asal usulnya bahkan melahirkan anak laki-laki itu. Aku satu kampus dengannya dulu Kak."


Lihat saja Amel, aku akan memberi kamu pelajaran. batin Yuni.

__ADS_1


Ternyata informasi yang Tante berikan padaku itu memang benar. Amel adalah seorang wanita yang mempunyai anak tanpa Ayah. Amel kau tak pantas untuk Azka. batin Kirana mencemooh.


"Aku rasa dia tidak pantas bersama kak Azka. Kak Azka pantasnya bersama denganmu." Yuni menaburkan benih-benih kebencian.


"Dari jauh juga kelihatan dia nggak pantas buat Azka."


"Aku juga dapat melihatnya Kak."


"Terus mau loe apa?"


"Kita akan memberi dia pelajaran."


Itu yang aku inginkan dari kamu. Aku akan memanfaatkan wanita ini untuk bekerja sama denganku.


"Oke. Kita tukeran nomor ponsel. Biar dapat saling menghubungi."


Kirana dan Yuni saling menukar nomor telepon. Setelah itu Yuni pergi begitu saja sedangkan Kirana lebih memilih untuk pulang. Bahkan dia pergi begitu saja tanpa pamit pada ayah dan ibu tiri Azka.


...----------------...


Setelah turun dari panggung Amel lebih memilih minum alkohol yang sudah tertata rapi di meja. Azka pergi ke ayahnya, karena ayahnya butuh penjelasan darinya. Amel yang sudah mabuk mengoceh tak jelas di tempatnya.


"Dasar pengkhianat! Kenapa aku harus bertemu dengan mereka lagi."


Tiba-tiba Azka datang menghampiri Amel.


"Amel! Kenapa kamu minum alkohol? Bukankah sebelum pergi saya sudah mengatakan bahwa kamu harus minum jus saja?" ucap Azka. Amel menoleh padanya.


"Hei, Bongkahan Es!" ucap Amel dengan tatapan yang sayu.


"Ayo ikut saya!" Azka memegang pergelangan tangan Amel.


"Bongkahan Es. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."


"Tidak usah mengoceh. Kita pergi dulu dari sini!"


Azka menuntun Amel pergi ke ruangan perusahaan yang paling terakhir menggunakan lift. Tombol yang di tekan Azka tidak ada nomornya karena itu ruangan khusus CEO. Ruangan yang seperti rumah. Salah satu alasan membangun bangunan khusus seperti rumah di lantai paling atas adalah jika dia lembur, dia akan bermalam di perusahaan tanpa pulang ke Apartemennya lagi. Mereka sampai di kamar. Amel masih terus mengoceh. Bahkan memarahi Azka.


"Bongkahan Es kenapa kamu selalu bersifat kekanak-kanakkan? Selalu mengaturku? Selalu memerintahku? Aku benci kamu?"


Itukah yang kamu rasakan tentangku? Apa kamu tidak mengerti kalau aku cemburu? batin Azka.


"Kamu semakin menyebalkan. Kenapa kamu harus menyuruhku memilih antara kamu dan Raka? Yang jelas-jelas aku tak dapat memilih."


Dasar bodoh! Itu karena aku cemburu. batin Azka.


"Raka adalah putramu putra kandungmu. Itu saja kamu tak paham. Kamu menyebalkan. Aku membencimu!"


"Apa!? Katakan sekali lagi!" Azka menuntut penjelasan pada Amel yang sedang mabuk.


"Bongkahan Es kamu bertanya padaku apakah aku menyukaimu? Jawabanku, ya aku menyukaimu. Tapi, aku tidak habis fikir. Ternyata ... ternyata kamu adalah Kakak dari dia yang mengkhianatiku 3 tahun lalu. Aku benci kamu! Kenapa harus kamu? Kenapa?" Bukan menjawab Amel malah terus mengoceh membaca fikirannya, mengeluarkan semua yang ada di dalam otak kecilnya.

__ADS_1


"Riski, Yuni dan kamu. Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan kalian."


Kelinci kecilku. Apa yang telah kamu alami selama ini! Maafkan aku yang tidak segera mencarimu pada saat itu. batin Azka sedih merasa bersalah.


"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil anakku. Hiks ... tidak akan." Amel menangis sesugukkan.


Semua pertanyaanku sudah dijawab olehnya. Amel, aku tidak akan memisahkanmu dan anak kita. Aku janji, aku akan membahagiakan kalian. batin Azka penuh tekad.


"Hiks ... kumohon ... menjauhlah dariku!"


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu lagi!"


"Kumo--"


Cup!


Azka langsung menyambar bibir Amel dengan rakus. Bibir ini yang selalu membuatnya candu. Azka melum** rongga mulut bibir Amel, menyapu bersih gigi putih milik Amel membuat sang pemilik kehabisan nafas.


Amel memukul-mukul dada bidang Azka dengan tenaga yang masih tersisa. Azka tidak menghiraukan pukulan yang diberikan Amel untuknya. Dia terus menikmati bibir tipis milik Amel. Setelah puas barulah pagutannya dilepas.


🌞Siang harinya.


Azka yang sudah bangun masih menikmati aktivitasnya. Dia masih memeluk Amel. Amel yang merasa ada beban berat yang melilit bagian perutnya pun membuat dia meraba-raba.


Apa ini tangan seseorang. batinnya.


Amel refleks membuka matanya. Dilihatnya Azka sedang tertidur pulas tidak memakai baju. Amel kemudian melihat tubuhnya dibalik selimut. Dia juga tidak memakai baju yang semalam hanya memakai dalaman saja.


Aaaaa!! Apa aku dan dia melakukan itu lagi! Amel berteriak dalam hati.


"Sudah bangun, hm?" Suara berat Azka membuat Amel kaget bukan kepalang.


"I--Itu. K--Kenapa kita bisa berada di sini Pak? A--Apa kita sudah melakukan itu?" tanya Amel. Amel benar-benar tidak mengingat sesuatu.


"Kamu tidak ingat kejadian semalam? Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ini."


"Kenapa harus saya?"


Dia tidak ingat? Baiklah saatnya membuat dia penasaran. batin Azka.


"Karena kamu yang berinisiatif memulainya."


"T--Tidak mungkin!"


"Yasudah. Saya mandi dulu!" ucap Azka turun dari ranjang. Membuat Amel kaget.


"Aaaa!!" teriak Amel. Azka berjalan perlahan menuju kamar mandi acuh tak acuh.


"Hufff." Amel merasa legah karena Azka masih memakai celana pendek.


"Apa yang harus aku lakukan. Di mana bajuku?" Amel celingak-celinguk dibalik selimut.

__ADS_1


Amel tidak melihat apapun di bawah tempat tidur. Bajunya tidak ditemukan di dalam ruangan. Amel yang sudah berjalan dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya merasa sangat gerah, karena sudah mondar-mandir mencari bajunya.


Bersambung❣


__ADS_2