Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 117


__ADS_3

Maaf ya sayang-sayangku. Aku baru up itu pun hanya 1 bab doang. Dan terima kasih yang masih setia menunggu. sekali lagi aku minta maaf.๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰


...****************...


Setelah memakirkan mobilnya di garasi, Amel dibantu oleh Azka menuntun anak-anak mereka turun dari mobil. Azka sudah menekan bell dan bahkan sudah mengetuk pintu berulang kali, namun tidak ada seorang pun dari dalam rumah yang membuka pintu atau sekedar mengucapkan sepatah kata pun.


Anak-anak yang sudah mulai mengantuk merenggek agar secepatnya masuk ke dalam. Melihat anak-anak yang sudah tidak sabar masuk ke dalam, membuat Azka harus berjalan ke arah pot besar dan mengambil kunci cadangan di sana. Yang tahu tentang kunci cadangan itu hanya Azka,Arya dan Darren saja.


Sekarang kunci itu sudah berada di tangan Azka, kemudian ia berjalan ke arah pintu dan ingin membukanya, namun tak perlu lagi ia menggunakan kunci tuk membuka pintu itu. Ternyata pintunya tidak di kunci dari dalam, dan tersangka keduanya adalah Ayu. Ayu lupa mengunci pintu kembali sejak siang tadi.


Tentu saja Azka mengerutu kesal dengan orang yang berada dalam rumah. Azka mempersilahkan Amel masuk duluan ke dalam rumah bersama anak-anak. Setelah sampai di ruang tamu, Azka pun menyuruh Amel agar segera bergegas ke kamar tamu yang biasa mereka tempati untuk menidurkan para buah hati kecil mereka yang sudah merenggek dari tadi.


Amel juga tahu tugasnya sebagai seorang ibu, ia pun berjalan ke arah kamar yang mereka tempati, sedang Azka yang masih haus pun pergi berjalan ke arah dapur untuk sekedar melegahkan tenggorokannya, dengan minum air putih saja. Namun ketika sampai di sana, ia malah menghentikan langkah kakinya.


'Apa kalian fikir dunia ini hanya milik kalian berdua? Kek tidak ada tempat lain aja.'


"Ehem! Sedang apa kalian berdua di situ?" tanya Azka yang hampir saja melihat perbuatan tak senonoh di depan matanya.


Ayu kaget bukan kepalang, tangannya refleks mendorong tubuh Arya menjauh dari tubuhnya, lalu menatap Azka di balik tubuh Arya dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus. Salah tingkah itulah Ayu saat ini, Ayu berbalik lalu membilas tangannya dengan cepat, tanpa berkata-kata lagi, ia bergegas pergi meninggalkan Arya yang masih diam terpaku di tempat.


'Kak Azka melihat kami, kenapa aku bodoh sekali. Apa ini yang namanya ketangkep basah? Ah, malunya.'


Arya hendak menahan Ayu agar tidak pergi namun sudah terlambat karena Ayu pergi begitu cepat dari hadapannya, Arya menjadi kesal lalu berbalik menatap sinis ke arah orang yang sudah merusak momen romantisnya dengan sang kekasih.


Azka hampir saja tertawa melihat ekspresi dingin Arya yang ditunjukan padanya.


'Emang enak diganggu.'


Azka tertawa dalam hati, ia menetralkan dirinya agar tetap tenang. "Apa aku sudah mengganggumu, Ar?" tanyanya.


"Ya, kau sangat menganggu," ucap Arya datar.


"Sekarang kau juga merasakan apa yang aku rasakan saat itu," ucap Azka mengingatkan kenanagan dirinya dan Amel kembali pada Arya.


Azka tertawa mengejek ke arah Arya, sedang Arya tidak ada raut bahagia pada wajahnya.


"Tak enak," jawab Arya singkat padat dan jelas bahkan nada ucapannya itu terdengar sedikit tidak bersahabat.


"Jelaslah tak enak. Sabar ... itu ujian." Azka tekekeh di tempatnya. Saat melihat Arya juga merasakan hal yang sama, membuatnya sangat bahagia.

__ADS_1


'Rasain kamu. Arya, Arya, situasi ini tak enak, kan? Kamu sudah terbang tinggi, belum juga sampai tujuan kamu sudah jatuh tertembak panah nakal dari sang pemburu.'


"Katamu, kalian pulangnya agak malam, ternyata kamu malah membohongiku," sindir Arya kesal. Kekesalannya sangat jelas terlihat di mata Azka.


'Jangan salahkan aku, siapa suruh kamu tidak memberitahuku bahwa kamu sudah jadian dengan Ayu. Kalau wanita yang aku cintai tidak menceritakannya padaku, aku pasti menjadi orang terakhir yang mengetahuinya. Huh!'


Amel memberitahukan kabar bahagia yang ia terima dari Ayu, awalnya Azka senang, setelah difikirkan ia malah menjadi sedikit kesal pada Arya. Padahal ia sudah menggangap Arya sebagai adiknya dan bukankah sebagai seorang saudara, wajar-wajar saja jika kita harus membagi kebahagiaan bersama sesama saudara? Lantas kenapa Arya malah menutupi hal sepenting ini darinya? Karena pemikiran itulah Azka kesal pada Arya, namun setelah melihat kekesalan Arya padanya, membuat Azka sangat senang.


"Aku juga mau seperti itu, tapi anak-anak merengek ingin secepatnya kembali," terang Azka acuh tak acuh, ia berjalan dan mendekati kulkas untuk menuntaskan rasa dahaga yang sudah ia tahan sejak tadi.


'Lihat wajahnya itu! Menyebalkan! Tidak ada raut rasa bersalah sama sekali.'


Membuka kulkas dan mengambil air putih. "Makanya kalau udah kebelet jangan ditahan! Secepatnya kau nikahi saja dia." Saran Azka, ia membuka penutup botol yang dipegangnya.


"Aku juga sudah memikirkan hal itu. Karena banyak juga yang sedang mengincarnya," terang Arya mengingat tukang ojek di tempat wisata.


'Jika tidak ada kejadian hari ini, mungkin sekarang aku masih memendam perasaanku dalam-dalam padanya.'


"Tapi, aku masih penasaran. Bagaimana caranya kau bisa berpacaran dengan Ayu?" tanya Azka menginterogasi.


"Hentikan rasa penasaranmu itu," sungut Arya kesal.


'Kenapa dia bisa menebaknya?'


"Tidak ada."


"Kuharap juga begitu. Jika tidak, sudah di pastikan bahwa kaulah yang sangat malu akan hal itu," ucap Azka santai, masih menikmati air putih yang ada di tangannya.


"Tau ah. Intinya kau penganggu! Huh!" Arya mendengus kesal, lalu berjalan perlahan meninggalkan Azka di sana.


"Malah merajuk. Kek bukan kamu aja," lirih Azka menatap punggung Arya.


'Terserah.'


Sehabis menghilangkan dahaganya, Azka segera menyusul Arya. Dilihatnya Arya sedang duduk termenung di sofa ruang tamu, entah apa yang sedang Arya fikirkan saat ini. Azka berjalan perlahan dan mengagetkannya.


"Apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Azka tiba-tiba.


Arya kaget. "Apa kamu hantu?!"

__ADS_1


"Melamun apa, sih?" Azka mengambil posisi, duduk di depan Arya.


"Tidak ada. Ayo kita pulang ke Apartemenmu sekarang!"


'Lama-lama di sini membuatku frustasi.'


"Oh, Oke. Tunggu bentar, aku pamit dulu sama calon istriku."


"Lebay!" ungkap Arya tidak senang.


"Biarin yang penting aku senang."


Azka bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja, menemui Amel yang masih setia berada di kamar yang ia tempati bersama anak-anak. Amel masih menceritakan dongeng untuk anak-anak meski mereka sudah tertidur pulas.


Setelah selesai bercerita. "Mereka semua pasti capek," lirih Amel pelan.


Tok! Tok! Tok!


Amel segera berjalan membuka pintu untuk orang yang sedang mengetuk pintu dari luar. Saat membukanya dilihatnya pria tampan sedang tersenyum cerah padanya.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Azka di balik pintu.


"Iya. Mereka pasti capek," ungkap Amel.


"Ya ini semua karena diriku," ucap Azka merasa sedikit bersalah.


"Tidak apa-apa. Mereka juga terlihat sangat bahagia. Terima kasih untuk hari ini." Amel tersenyum menatap manik lelaki yang ada di hadapannya.


"Ya sayang. Sama-sama." Azka tersenyum, tanpa menjawab Amel hanya membalas senyuman Azka saja.


"Kali ini kamu harus menemaniku sampai mobilku meninggalkan rumah Arya," pinta Azka manja.


"Dasar bayi gede." Ejek Amel merasa gemas dengan tingkah Azka barusan.


"Tidak mau?" tanya Azka memelas.


"Mau. Tunggu sebentar, aku rapikan bantal dan selimut mereka dulu," ucap Amel. Mana mungkin ia menolak dengan raut wajah Azka yang seperti itu.


Senyuman Azka terkembang lebar. "Baiklah. Biar aku temani dan membantumu," ucap Azka. Amel hanya mengangguk pertanda mengiyakan ucapannya.

__ADS_1


Bersambungโฃ


__ADS_2