Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 135


__ADS_3

Di rumah besar milik keluarga Abraham.


Daniel sudah menceritakan tentang kondisi Azka saat di perjalanan pulang tadi, itu semua karena Laksmi membujuknya sejak keluar dari ruangan Azka, mau tidak mau Daniel harus menjawabnya.


Mendengar kalau Azka baik-baik saja membuat Laksmi kesal. Namun, Laksmi tak habis akal, ia akan meluncurkan rencana besarnya pada waktu yang tepat nanti.


Sebenarnya Kirana sudah merasa jenuh dengan Laksmi yang tak kunjung, menyusun rencana untuk mendekatkan dirinya dengan Azka, namun dia juga harus mengikuti Laksmi dan menunggu kabar baik darinya. Entah apa yang akan Laksmi lakukan selanjutnya.


Riski yang berada di kamarnya, tidak terlalu peduli lagi pada Amel, karena baginya perempuan seperti Amel masih banyak diluaran sana yang masih bisa ia taklukan.


......................


Hujan sudah mulai redah, Ayu dan Sonya masih terjaga setelah berhasil menidurkan keempat bocah kecil itu. Malam ini keduanya harus menemani anak-anak tidur di kamar tamu.


Tiba-tiba ponsel milik Ayu berdering. Ayu mengambil ponsel itu, melihat ke layar benda pipinya. Nomor tidak dikenal sedang menghubungginya. Ia memelankan suara deringan ponselnya, agar tidak membangunkan anak-anak.


"Apa kamu kenal dengan nomor ini?" tanya Ayu. Ia memperlihatkan layar ponselnya ke arah Sonya.


"Eh, bukankah itu nomornya kak Darren, ya. Coba Kakak terima dulu. Barangkali ada masalah penting yang ingin kak Darren sampaikan padamu, Kak."


'Kenapa Darren meneleponku? Dan tidak menelepon Sonya, aneh.'


"Baiklah." Ayu menggeser tombol hijau, lalu membesarkan volume suara pada ponselnya, agar Sonya juga bisa mendengar suara Darren nantinya.


"Halo, ada apa Dar--" Ucapan Ayu terpotong.


"Halo, Honey. Ini aku." sergah Arya cepat.


"Bee! Ada apa?" tanya Ayu pada orang dibalik telepon yang sudah sangat ia kenali suaranya.


"Uhuk ... sebaiknya kakak bicara pada kak Arya di luar saja. Siapa tahu ada masalah pribadi yang akan kak Arya katakan padamu. Biar aku yang menjaga anak-anak kecil ini," bisik Sonya dengan tatapan menggoda. Ayu hanya mengangguk saja.


"Tunggu sebentar Bee. Aku keluar kamar dulu. Takut menganggu anak-anak," ucap Ayu.


"Baik Honey."


Ayu pamit keluar menggunakan bahasa isyarat pada Sonya. Sesampainya di luar kamar.


"Bee! Bicaralah!" pinta Ayu.


"Besok bersiaplah lebih awal, aku akan menjemput kalian nanti," terang Arya.


"Baiklah. Apa hanya itu saja yang ingin kau katakan padaku, Bee?" tanya Ayu.


"Ah ...."


"Oh iya Bee. Bagaimana kondisi kak Azka sekarang?" tanya Ayu yang tiba-tiba teringat pada Azka.


"Udah mendingan."


"Baguslah. Bee belum tidur?" tanya Ayu yang sudah menguap beberapa kali.


"Belum. Bee kangen padamu Honey," ungkap Arya manja

__ADS_1


Darren yang melihat tingkah Arya seperti itu hanya cengar-cengir sendiri.


'Hahaha. Dia lebih bucin dari Azka.'


"Aku juga kangen padamu, Bee."


"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Honey." Arya merasa ia harus terbuka pada Ayu sekarang. Dia tahu bahwa Ayu sedang mencurigainya.


'Mungkinkah Bee tahu kalau aku ingin menanyakan sesuatu padanya?'


"Apa Bee?" tanya Ayu.


"Maafkan aku. Aku tahu, kamu pasti mengira bahwa diriku sedang menyembunyikan sesuatu darimu, kan?" tanya Arya.


"Sejujurnya, iya Bee."


"Maafkan aku Honey. Masalah ini bukan menyangkut tentang diriku. Tapi, menyangkut Azka, Honey. Oleh karena itu, aku tidak bisa memberitahukan masalah Azka padamu." Jujur Arya.


"Iya tidak apa-apa, Bee." Ayu juga dapat mengerti dan juga dapat memahami.


"Dan inilah saatnya aku akan memberitahumu segalanya. Jadi, Azka bla ... bla ... bla ...." Arya menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikit pun.


"Ya ampun, jadi waktu itu Bee yang mengemudi mobil karena takut kalau terjadi apa-apa pada kak Azka?" tanya Ayu mengingat kenangan di malam itu.


"Ya, Honey. Maaf karena tidak memberitahumu lebih awal," ungkap Arya.


"Tidak apa-apa, Bee. Malahan aku berterima kasih padamu, Bee. Karena kamu mau meluangkan waktumu tuk berterus terang padaku." Ayu merasa legah setidaknya Arya telah terbuka padanya.


"Oh iya Bee. Aku hanya tidak menyangka kak Azka mengalami kejadian seperti itu. Semoga kak Azka bisa cepat siuman," ucap Ayu penuh harap.


"Ya, Honey. Aku juga berharap seperti itu."


"Baiklah Bee. Aku tutup teleponnya dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan sampai kamu bertemu lagi dengan wanita rubah itu," ucap Ayu.


"Maksud kamu?" tanya Arya heran dan tak mengerti.


"Ya, wanita yang kita temui tempo hari di rumah sakit itu loh, Bee" jawab Ayu.


"Maksud kamu, Aulia?" tanya Arya tak peka.


"Aduh Bee. Kenapa harus sebut namanya, sih?" sungut Ayu.


"Hahaha, jadi gadis tomboyku ini sedang cemburu?" tanya Arya senang.


"Tidak juga," sangkal Ayu.


"Udah jangan bohong. Ayo cium My Bee-mu ini dari jauh!" pinta Arya manja. Darren yang melihat tingkah Arya seperti itu malah geleng-geleng kepala.


'Ada saatnya kau menjadi lebay juga, Ar. Jika Azka melihatmu seperti ini, sudah pasti dia akan mengejekmu.'


"Apaan sih Bee." Ayu malu, wajahnya sudah bersemu merah bak kepiting rebus.


"Ayo, cium aku dari jauh, Honey. Biar kamu tidak cemburu lagi," pinta Arya manja.

__ADS_1


"Hentikan Bee!" Ayu merasa geli dengan ucapan Arya barusan.


"Apa aku yang harus memberi contoh duluan? Agar kamu bisa meniruku, hm?" tanya Arya dengan nada bicara begitu menggoda.


"Bee!"


"Hahaha, rasanya aku ingin segera pulang dan memelukmu erat-erat," ungkap Arya merasa gemas, tidak tahan lagi.


"Aku juga, Bee."


"Mulai berani?"


"Kamu kira hanya kamu saja Bee? Aku juga tahu," sungut Ayu.


"Iii gemes deh." Nada bicara Arya beda dengan biasanya.


"Bee ...."


"Ayo cium!" pinta Arya menuntut.


"Aku malu Bee. Kamu duluan saja," jawab Ayu asal.


"Baiklah." Arya mengambil posisi, bibirnya ia dekatkan ke bagian speaker telepon. "Ummmmaaaaaccccttttt." Dan ciuman panjangnya itu pun berhasil ia layangkan ke Ayu, melalui panggilan telepon yang masih terhubung.


Darren yang sedang duduk di kursi kebesarannya melihat jelas adegan Arya barusan. "Awas saja! Ponselku bau air liurmu!" sungut Darren menatap Arya yang duduk di sofa.


Arya tidak menghiraukan ucapan Darren, ia malah cengar-cengir sendiri. Ia tak habis fikir pesona Ayu bisa membuatnya kelepek-kelepek seperti sekarang. Arya juga tidak ambil pusing, jika Darren bahkan Azka sekalipun ingin mengatakan apa tentangnya, yang penting dirinya senang.


Ayu yang berada di seberang telepon senyam-senyum sendiri. Bisa-bisanya pacarnya itu beneran melakukan ciuman jarak jauh melalu telepon, dan itu pun membuat hatinya berdebar seakan ciuman Arya barusan sampai ke wajahnya.


'Duh, makin deg-deg, kan.'


"Ayo Honey. Sekarang giliranmu," pinta Arya.


"Tapi Bee," ucap Ayu.


"Tidak ada kata 'Tapi' dalam kamusku, sayang. Ayo cepat! Aku tunggu nih." Arya sedikit memaksa Ayu.


"I--Iya Bee. Aku cium, nih." gugup Ayu. Ia juga mengarahkan bibirnya pada speaker ponsel miliknya. "Uuummahh, udah Bee."


"Kok, ciumannya terkesan di paksakan, ya? Apa segitunya kamu tidak mau menciumku? Padahalkan, kita sudah beberapa kali melakukannya? Itu pun secara nyata," protes Arya.


"Ya ampun Bee. Iya deh iya. Uuummmmmmmaaacccctt, ummmacct, ummmacct." Ayu memberikan tiga kali ciuman sekaligus.


"Terima kasih Honey. Ciumanmu terasa banget sampai ke bibirku," ucap Arya, dengan nada bicara yang begitu menggoda.


"Bee!!! Oke, aku tutup, ya. Bye!"


"Hahaha. Sekali lagi terima kasih atas ciumannya, Honey. Iya, selamat beristirahat dan semoga mimpiin aku dalam tidurmu. Bye juga Honey, love you."


"Love you too, Bee." Dan itulah akhir pembicaraan keduanya melalui telepon.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2