
Mendapat perlakuan itu Amel tidak juga tampak senang, malahan wajahnya masih jutek. Sepulang dari Butik, saat masih di perjalanan Amel tersenyum menyerigai bertanya pada Azka dengan sedikit bercanda.
"Iya. Saya sudah tahu, yang lainnya boleh di jual ulang, kan?" tanya Amel asal.
"Terserah, itu sudah jadi milik kamu sekarang."
"Baiklah dengan senang hati. Tapi, Bapak tidak ada maksud lain, kan?" Tanya Amel, Azka menatapnya heran.
"Seperti maksud jahat gitu," sambung Amel lagi.
"Tidak. Tapi, kalau kamu yang menginginkannya, saya tidak dapat menolaknya." Mendengar ucapan Azka, Amel bergidik ngeri.
"Mana mungkin."
"Sudahlah. Jangan berfikir sembarangan! Rumah kamu di mana? Biar saya antar kamu pulang."
Azka menawarkan tumpangan pada Amel, namun Amel malah menolaknya dan bahkan ingin memesan ojek online. Sehingga membuat Azka cemburu dan melarangnya dengan sedikit memaksa.
Dengan hati yang sudah kembali kesal, Amel terpaksa mengikuti kemauan Azka untuk naik taksi online. Azka semakin heran dengan tingkah Amel. Harusnya wanita itu senang kalau sudah berbelanja nyatanya Amel sama sekali tidak senang.
Kenapa dia malah tambah kesal? Ini semua karena Darren. batin Azka.
Azka yang melihat Amel sudah naik ke dalam taksi, bergegas memasuki perusahaan untuk memakirkan mobilnya di parkiran.
Azka buru-buru naik ke lantai atas menuju ruangannya. Sesudah duduk di sofa dia kemudian menelepon Darren. Darren yang berada di kantin rumah sakit pun terpaksa harus menerima telepon dari sepupunya itu.
"Hallo. Ada apa, Az?"
"Rencana kamu tidak ada yang benar. Bukan malah senang dia malah makin tambah kesal padaku." Azka melontarkan kesalahan pada Darren.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Darren. Azka pun menceritakan semuanya pada Darren.
"Astaga. Pantas saja dia kesal. Itu karena kamu, bukan karena saranku yang salah." Darren bersuara keras membuat penggunjung kantin rumah sakit menoleh padanya. Dia hanya tersenyum canggung menanggapi tatapan para pengunjung kantin.
"Terus langkah selanjutnya apa?" tanya Azka.
"Begini, apa Amel punya hobi yang disukainya?"
"Hmm. Apa nonton flim termasuk hobi?"
"Bisa saja. Emang flim apa?"
"Flim drama bergengre romance."
__ADS_1
"Wah, bisa jadi. Biasanya wanita sukanya yang macho-macho gitu. Coba kamu sedikit ubah gara rambut kamu seperti di flim drama itu. Terus kamu buka saja situs web yang merilis tentang 'seorang wanita tidak mengalihkan pandangan matanya pada seorang pria'. Di jamin pasti berhasil." Darren memberi sedikit saran pada Azka.
"Kira-kira berapa persen dapat berhasil?"
"100%. Semua tergantung pada caramu memperlakukannya."
"Baiklah."
"Oke. Aku lanjut makan dulu." Azka langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Dia mulai membuka situs web sesuai apa yang disarankan oleh Darren. Dia kemudian membaca berita yang ada di ponselnya. bersikap lembut terhadap wanita, jangan memaksa apa yang tidak disukai oleh si wanita, lakukanlah gerakan-gerakan romantis agar terlihat cool, jangan kaku dan tetap rileks. Itu yang saat ini sedang dilakukan oleh Azka.
...~Flasback Off~...
Azka senyam-senyum sendiri memperhatikan Amel yang sedang malu-malu padanya. Bahkan pipi Amel yang chubby sedari tadi masih bersemu merah. Hingga mobilnya memasuki area perusahaan. Mobil Azka berhenti tepat di depan perusahaan yang sudah ada karpet merah mengarah ke pintu masuk perusahaan.
Amel tidak menduga bahwa acara yang di maksudkan oleh Azka sangatlah mewah. Bahkan, media pun sudah banyak yang berjejer di pembatas jalan antara karpet merah. Amel merasa minder, dengan tampilan dirinya.
Azka berusaha menyakinkan Amel, Azka turun dan memutari mobilnya, membuka pintu untuk Amel dan mengulurkan tangannya menuntun Amel turun dari mobil. Semua media tertuju pada mereka.
Selepas turun dari mobil, Azka memberi isyarat pada Amel agar Amel mengandeng tangannya. Amel pun hanya menuruti, dengan hati yang berdebar-debar, Amel ingin melihat ke bawah. Membuat Azka berbisik padanya.
"Jangan takut! Ada aku di sini." Dengan berani Amel melihat ke arah depan bahkan melihat ke arah media sambil tersenyum. Tidak sedikit media yang memuji kecantikan Amel. Bahkan acaranya di putar secara live.
Perusahaan Abraham Group Angecy yang mencangkup semua agen, membuat berbagai perusahaan kecil berbondong-bondong ingin mengikat kerja sama dengan mereka.
Bahkan di hari ulang tahun perusahaan, mereka mengundang sebagian besar perusahaan di kota H. Dari luar negeri juga di undang tapi hanya sebagian saja. Semua itu sesuai dengan acara tahun lalu, bedanya acara kali ini ikut di meriahkan oleh para artis dan model terkenal.
Siapa yang tidak mau datang? Menghadiri acara ini juga dapat mendapatkan keutungan besar, jadi tidak ada satu pun yang menolak untuk datang ke acara ulang tahun Abraham Group Agency.
Amel dan Azka berjalan mengikuti panjang karpet merah sampai ke pintu perusahaan. Mereka menuju aula perusahaan tempat acara dilangsungkan. Di sana sudah banyak tamu yang datang, bahkan para artis dan model juga sudah banyak yang datang.
"Kamu tunggu di sini saja, ya? Aku ke sana dulu." Pamit Azka.
"Mau ke mana, pak?" tanya Amel.
"Kamu lihat orang-orang yang ada di sana itu?" Azka melirik beberapa orang lelaki paru baya yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
Amel mengikuti arah pandangan Azka. "Lihat," ucap Amel.
"Itu teman-temannya Ayahku. Aku ke sana untuk menemani mereka dulu," jelas Azka.
"Oh. Baiklah kalau begitu, Pak."
__ADS_1
"Makan saja sesukamu. Ada kue dan makanan di sana."
"Oke," ujar Amel. Azka berlalu pergi menghampiri teman-teman ayahnya. Amel bergegas ke meja yang sudah tertata berbagai macam kue di sana.
"Wah, semuanya terlihat lezat!" ucap Amel. Amel mulai mengambil salah satu kue dan mencicipinya.
"Enak. Hmm enak-enak." Amel tampak senang memakan kue itu. Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing di indera pendengaran Amel.
"Sudah lama tidak bertemu. Kamu masih saja terlihat kampungan." Seseorang menyindir Amel dari belakang.
"Siapa sih! Ganggu orang saja!" Amel segera menghadap suara yang berada di belakangnya.
"Lama tidak bertemu, ya? Apa kabar?" tanya orang itu.
"Maaf kita tidak begitu dekat. Jadi, jangan sok-sok'an menanyakan kabar tentangku!" ucap Amel acuh tak acuh.
"Jangan begitu dong, Mel. Walau bagaimana pun kita itu sahabat."
"Sahabat? Jangan tidak tahu malu deh kamu. Sahabatku sudah mati sejak 3 tahun lalu. Dan maaf kamu siapa, ya?" ungkap Amel pura-pura lupa.
"Tampaknya kamu begitu sombong sekarang. Sudah berhasil mengoda Om-Om tua, kan? Oh iya, mana anak harammu itu?" tanya orang itu mencemooh Amel.
"Bahkan Om-Om tuaku lebih tampan dari seekor anj*ng yang pernah kau tiduri," ucap Amel penuh penekanan.
"Cih. Amel, Amel. Kamu sudah mulai berani sekarang, ya? Kamu ke sini karena sedang mencari pria kaya, kan? Dasar bermuka tebal!"
"Haha. Harusnya kamu berkaca, yang bermuka tebal itu kamu sendiri. Suka sekali ya memungut sampah orang lain. Dan apa kamu bilang, aku mencari pria kaya? Heh, sudah kukatakan padamu, Om-Om tuaku lebih tampan dari seekor anj*ng yang kau pelihara."
"Ckck. Aku dengan dirimu masih mending aku. Aku jelas tidur dengan pacarku sendiri. Sedangkan kamu, tidurnya dengan orang lain dan bahkan hamil anaknya. Dasar perempuan tak tahu malu!"
"Haha. Yang tidak tahu malu di sini itu kamu Yuni. Bisanya merebut pacar sahabatnya sendiri dan bahkan dengan tidak tahu malunya mengaku pacaran dengannya. Dasar PHO!"
*PHO (Perusak Hubungan Orang).
"Haha. Salah sendiri kenapa kamu terlahir dari keluarga miskin dan pas-pasan. Membuat orang yang kamu cintai berpaling dari kamu."
"Yaelah, itu 'kan masa lalu sayang. Lagian nih yah, Omku lebih tajir dari anj*ngmu itu. Lihat nih baju yang kupakai dibeli oleh dia. Barang branded pula." Amel terpaksa menyombongkan dirinya.
Tau ah, sedikit menyombongkan diri tidak apa-apa 'kan? Kalau Azka mendengar pembicaraan kami. Pasti dia marah, karena aku menggunakan namanya untuk membohongi Yuni. batin Amel.
"Cih, barang palsu saja bangga. Dasar penggoda!"
Bersambung❣
__ADS_1