
Raka segera menarik tangan Arya dan juga Ayu agar bisa terlepas dari wanita itu.
"Yo, Yah, Bu. Tita peldi dali tini, tatanah au aing. Atu dah dak abar nih. Benal tan Unga?"tanya Raka.
Raka sengaja memanggil Ayu dan Arya sebagai ibu dan juga ayahnya di depan Aulia.
"Ya Tak Laka, engen aing anget." Bunga juga kini ikut dalam bersandiwara.
"Kami pamit dulu, ya! Anak-anak sudah tak sabar untuk bermain. Semoga harimu menyenangkan!"ucap Ayu di sertai senyuman ramah.
Ayu bukan sengaja menghindar karena merasa tak nyaman sedari tadi. Apalagi saat Arya terus melibatkannya dalam sandiwara ini.
Aulia yang melihat itu semakin geram dengan tingkah Ayu yang dianggapnya hanya berpura-pura.
'Cih, dasar munafik! Bilang saja kalau kau sedang mengejekku,'batin Aulia.
"Ah, iya. Baiklah, sampai ketemu di lain waktu." Aulia mau tak mau menunjukkan senyum paksanya.
'Siapa juga yang ingin bertemu lagi denganmu. Aku berharap kira tak pernah bertemu lagi,'batin Arya.
Setelah pergi dari hadapan wanita itu, barulah Arya dan Ayu membuang nafas legah.
"Tante tu keyihaan ahat,'ucap Bunga.
"Tidak boleh bicara seperti itu, sayang!"
"Unga meihatnya Ante, Ante adi enyumna menyelamkan."
"Iya Tante tahu, tapi, bunga tidak boleh bicara seperti itu, ya!" Ayu mengelus pelan pipi anak itu.
"Iya Ante."
"Jadi tadi kamu sengaja, melakukan itu Raka?"tanya Arya tiba-tiba.
"Ya, Om,"jawab Raka singkat. Anak itu seperti orang dewasa saja. Berjalan pun harus menyilangkan tangan di dadanya.
"Bagus, kau memang pandai menilai situasi. Om bangga sama kamu,"ucap Arya memuji.
...****************...
Di gedung yang sama. Sonya dan Darren sedang memantau Bara dan Rasti yang sedang bermain di dalam area permainan. Sedangkan dia dan Sonya duduk di tempat orang dewasa. Tidak ada percakapan yang keluar dari bibir keduannya melainkan rasa canggung yang mendera.
'Bagaimana ini? Kok aku gerogi gini, ya? Perasaan dulu nggak begini kok,'batin Sonya meremas ujung baju yang ia kenakkan.
'Darren, ayo bicaralah mumpung sepi. Ya ampun lidahku keluh padahal kata-kataku sudah kususun rapi tempo hari. Ini udah saatnya masa kamu malah hilang akal,'batin Darren tak kalah gugup.
"Anya ..."
"Hm?"
"I--Itu, an--anu."
'Ayo Darren semangat! Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tapi ... tetap saja aku gugup, ini mah tak semudah bertempur di ruang operasi,'batin Darren menyemangati dirinya sendiri, namun dia juga menyadari keberaniannya sedikit menciut.
"Om! Ante! Ihat atu, ati andi olaa!!"teriak Rasti dari area pemandian bola di dalam.
Sonya dan Darren tersenyum dan sedikit melambaikan tangan pada Rasti.
"Anya."
"Ya, Kak."
__ADS_1
"Apa tanggapan kamu dengan pesan yang kakak berikan untukmu tempo hari?"
"Pesan yang mana, ya Kak?"
'Tuh kan dia lupa, apa jangan-jangan Anya tak suka lagi.'
"Yang itu ... hm, tentang ungkapan perasaan kakak padamu."
"Oh yang itu. Ingat, kok Kak."
'Sampai tidurku pun tak nyenyak gegara pesanmu padaku,'batin Sonya.
"Terus apa jawabanmu?"
"Ya, gimana ya ... itu sih tergantung Kakak."
Darren berusaha menahan rasa gugupnya, dia yang sedang menatap lurus ke depan langsung berdiri seketika, menghampiri Sonya yang duduk di sampingnya. Darren kemudia berlutut lalu mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.
"Maukah kau menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?"
Sonya tidak bisa berkata apa-apa, jantungnya serasa mau keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menatap lekat manik mata Darren yang sedang berlutut di depannya, tanpa ragu Sonya pun mengangguk tanda setuju.
Darren begitu senang melihat respon Sonya yang positif, dia lantas mensematkan cincin bernuasa berlian kecil pada tangan kiri Sonya.
"Cincin ini pemberian mommy setahun yang lalu, cincin milik keluarga secara turun temurun, rencana awal aku ingin menjadikanmu sebagai pacarku, namun sekarang aku berubah fikiran dan ingin memilikimu. Terima kasih kau telah menerima cintaku. Anya, I Love You."
Darren mencium punggung tangan Sonya. Sedang Sonya hanya tersenyum manis di perlakukan seperti itu, hatinya sudah bagaikan taman yang bunganya sedang mekar, bahagia itulah yang dirasakan Sonya saat ini.
Perbuatan Darren tak sengaja dilihat oleh Rasti. Rasti menjadi senang melihat tante yang dia sanyanggi memiliki pasangan seperti ayah dan ibunya.
"ieeeeeee!!!"teriak Rasti.
"Om Allen, omantis anget!!"sambungnya lagi.
Duduk meraka tidak seperti di awal, kini mereka duduk berhimpitan padahal kursi tempat itu lumayan panjang. Seakan ada maknet yang menarik tubuh keduanya agar menempel. Kini Darren tak sungkan lagi mengenggam tangan Sonya, wanita yang sudah merebut hatinya sejak lama.
...****************...
Amel dan Azka yang sudah selesai dengan urusan mereka di butik pun, pergi meninggalkan tempat itu menuju tempat selanjutnya.
Kali ini Azka akan membawa Amel ke tempat perhiasan mewah tuk membeli cincin pernikahan mereka. Seperti yang kita ketahui karena mereka tidak bertunangan dahulu, maka dari itu, sebelum pergi ke tokoh perhiasan, Azka membawa Amel ke Restoran khusus pasangan.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan Restoran, Amel tampak heran. Kenapa mobil Azka berhenti di depan Restoran dan nama Restorannya sangat mengelitik hati Amel.
Yah, Azka memberhentikan mobilnya di di depan Restoran yang bertuliskan 'Restoran Penuh Cinta' terus ada gambar seorang pria dan wanita yang sedang bermesraan, di awal dan akhir nama Restorannya.
"Kenapa kita mampir ke sini,"tanya Amel, pandangan matanya masih tertuju pada nama Restoran itu.
"Aku ingin pergi ke sini sejak lama, namun diriku tak ada teman wanita. Kalau aku membawa Arya ke sini, bisa-bisa para pengungjung berfikir macam-macam tentangku. Sekarang ada kamu di sisiku, jadi apa salahnya jika kita masuk ke dalam dan mencoba menu di sini seperti anak ABG,"terang Azka.
'Gimana ada wanita yang mau sama kamu, baru lihat wajah galakmu saja, keberanian mereka menciut. Haha,'batin Amel.
"Kamu yakin? Kamu tak malu?"tanya Amel. Dia tak tahu Restoran itu khusus untuk semua kalangan. Remaja, dewasa dan bahkan berusia lanjut.
"Ngapain harus malu, ini semua demi hubungan kita yang sudah tertunda cukup lama. Lagian aku mengatakan ABG bukan berarti khusus anak ABG saja, tapi untuk orang dewasa seperti kita juga di terima,"jelas Azka.
"Oh, Oke deh. Ayo!"ucap Amel tertarik.
Amel pun turun dari mobil tanpa menunggu Azka membuka pintu mobil untuknya. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam.
Baru juga masuk sudah di hampiri oleh seorang pelayan wanita, dengan sapaan yang ramah penyejuk hati.
__ADS_1
"Selamat datang di Restoran Penuh Cinta kami, Pak, Bu. Dilihat dari raut wajah kalian berdua, bahwa sebentar lagi hubungan kalian akan menuju kebahagiaan dalam waktu dekat." Seperti seorang peramal, pelayan itu mampu mengetarkan hati keduanya.
'Kok, pelayannya bisa tahu. Apa ekspresi wajah kami kelihatan banget, ya?'batin Amel.
'Ucapan pelayan ini sangat manis, semanis cintaku pada Amel. Biar tambah semangat aku akan membayar dua kali lipat untuk Restoran ini,"batin Azka.
"Restoran kami sedang membuat kue baru dan sedang dalam masa promosi, kue itu khusus sebagai menu penutup di sini. Kita juga akan mengambil sedikit video mengenai respon dari penggunjung, saya berharap Bapak sama Ibu dapat bekerja sama dengan tokoh kami. Mari Pak, Bu, ikut saya kesana sebentar!"pinta pelayan itu, bahkan senyumannya tak pernah pudar dari bibirnya.
Amel tersenyum pertanda setuju dengan pelayanan di Restoran tersebut, menurutnya pelayan itu sangat ramah dan tidak ada tatapan-tatapan penuh arti, sangat profesional.
Walau dihadapannya mungkin ia sudah kenal dengan Azka, namun responnya seperti melihat pengunjung biasa lainnya, dan Amel suka dengan cara kerjanya.
Demi menghargai pelayan yang menyapa mereka, Amel dan Azka menggikuti pelayan itu sampai ke meja segi empat, di sana sudah tersedia salah satu kue yang akan di promosikan.
Pelayan itu menghampiri temannya yang sudah berada di samping meja segi empat itu sejak tadi. Lalu membantu temannya menyiapkan kue itu untuk pelanggan mereka. Karena Restoran ini khusus pasangan dan tentunya dengan nama Restoran penuh cinta, maka mereka hanya menyiapkan sepotong kue berbentuk hati di satu piring saja agar bisa di cicipi bersama.
Selesai di siapkan barulah pelayan itu menyodorkan sepiring kue pada Azka. Azka menerimanya dengan sorot mata bahagia walau tak tampak senyum di bibirnya.
"Saya sengaja menyiapkan hanya sepotong kue berbentuk hati saja, agar kalian selalu sehati dan tak akan pernah berpaling ke lain hati,"ucap pelayan itu tersenyum.
Bagi pelayan yang bekerja di Restoran penuh cinta, melayani dengan sepenuh hati dan membuat kepuasan pelanggan hal itulah yang paling penting tuk dilakukan. Mereka bahagia jika pelanggannya juga bahagia. Oleh sebab itu mereka memberikan kata-kata manis agar pelanggannya senang.
"Silahkan cicipi kue ini bersama pasangan Anda, Pak. Dan berikan responnya pada kami. Kami menerima kritik dan juga sarannya,"ucap pelayan itu masih dengan senyum ramah. Tidak ada kilattan menggoda.
Azka dan Amel bersiap untuk mencicipi kue promosi itu, rekaman sudah berjalan sedetik yang lalu. Azka masih kaku untuk bersikap romantis di depan orang lain, namun bukan berarti dia tak bisa. Apapun akan dia lakukan demi cintanya pada Amel.
"Sayang, ayo coba cicipi kue ini!" Azka menyunggingkan senyum tipisnya, menatap Amel dalam.
"Ya,"jawab Amel singkat. Mendapat perlakukan manis dari Azka membuatnya sulit untuk berkata-kata. Tatapannya juga malu-malu dan itu sangat manis di pandang mata.
"Kamu yang ini, aku yang ini. Karena sepenggal hatiku ada di kamu begitu juga sepenggal hatimu ada padaku." Azka menunjuk kue hati yang sudah ia potong menjadi dua bagian.
"Ya." Amel benar-benar tak dapat berkata-kata.
Azka mengambil garpu kecil yang sudah di siapkan oleh pelayan, ditusuknya pada setengah kue lalu di sondorkan pada mulut Amel.
"Aaaa!"pinta Azka. Amel menerima suapan kue itu.
Nyam! Nyam! Nyam!
"Gimana sayang, apa enak?"tanya Azka.
Azka menatap Amel yang sedang menikmati kue itu.
"Wah ... kuenya sangat lembut dan juga enak. Rasa manisnya berpadu jadi satu dengan sedikit kepahitan yang sempurna. Ibarat hidup manusia, tidak ada manisnya saja, harus juga di sertai dengan pahitnya kehidupan, agar manusia tahu rasanya bersyukur. Coba kamu cicipi!"puji Amel. Amel tak berpura-pura, kue yang ia makan sangatlah enak di lidah.
"Benarkah? Suapin!"tanya Azka, ia masih sempat-sempatnya bersikap manja.
Tanpa banyak bicara Amel pun menyuapi Azka.
"Bagaimana? Enak, kan?"tanya Amel antusias.
"Benar sayang, kuenya enak. Rasa kuenya sama dengan perjalanan kisah cinta kita. Aku suka!"terang Azka.
Pelayan Restoran sangat puas dengan respon yang diberikan oleh Amel dan juga Azka. Baru kali ini mereka mendapatkan pengunjung yang tidak banyak basa-basi dan tentunya ekspresi yang diberikan oleh keduanya tidak dibuat-buat atau terkesan dipaksakan pokoknya sangat sempurna.
Video itu akan mereka jadikan iklan di Restoran mereka, agar bisa menarik banyak pengungjung lain.
Setelah berterima kasih pada Azka dan juga Amel. Pelayan yang menyapa mereka segera mengarahkan untuk duduk di tempat yang masih kosong.
Bersambung❣
__ADS_1
Aku kalau lagi mood ngetik perbab hampir 1200 lebih kata. tapi kalau nggak mood, ya ampunn 1000 lebih kata juga itu di paksakan. jadi maafkan saya dengan keterbatasan saya ini🤗.