Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 61


__ADS_3

Darren dan Sonya berlalu begitu cepat meninggalkan Arya dan Ayu yang masih terpaku di tempat duduk.


Kenapa Sonya malah pergi. Ini pasti jebakan nih.


Segitunya dia ingin mendekatkanku dengan gadis gila ini.


Kalau canggung begini, mending aku cari angin di luar saja. Lagian kak Amel juga kan harus butuh waktu dengan keluarga kecilnya jadi aku tidak mau menganggu mereka dulu.


Ayu berdiri. "Gue ke luar dulu ya,Om." Ayu segera berjalan namun bajunya tersangkut di pegangang kursi hingga membuatnya tidak seimbang dan malah jatuh ke belakang.


"Aaaa!" Teriak Ayu refleks menutup matanya. Arya dengan sigap menangkan tubuh Ayu sehingga Ayu tidak terjatuh.


Kok tidak sakit, ya? Batin Ayu perlahan-lahan membuka mata.


Pandangan mata mereka bertemu.


Ternyata Es Batu juga sangatlah tampan.


"Kalan jalan itu hati-hati! Bahaya!"


"M--Maaf Om."


Arya segera membetulkan posisi mereka. "Tadi kamu mau ke mana?"


"Ke--keluar Om, cari angin."


Kok, aku malah gugup begini, sih?


"Ayo aku temani kamu!"


Kenapa aku bilang begitu ke gadis gila ini?


"Hah?"


"Tidak mau juga tidak apa."


"Eh. Oke. Ayo Om!"


Ayu mengekori Arya dari belakang, ada banyak pertanyaan yang Ayu ingin tanyakan kepada Arya, namun Ayu binggung jika dia bertanya apa Arya akan menjawabnya atau malah membuatnya kesal.


"Om kenal sama kak Azka?"tanya Ayu mencoba membuka pembicaraan.


"Ya. Dia Bosku dan juga temanku."


"Gue bahagia Om. Selama ini, kak Amel selalu menderita, gue bahagia banget ... pada akhirnya kak Amel akan bahagia." Ayu sampai terbawa suasana.


"Ya. Semua hanyalah masalah waktu saja. Umur kamu berapa?"


"21 tahun Om. Kalau Om?"


"Umur baru segitu, harusnya kamu berbicara sopan pada orang yang lebih tua."


"Ya, makanya itu Om. Gue panggil yang lebih tua dengan sebutan Om, yah kek Om gini. Hehe."


"Maksudku, bisa tidak kamu bicara pakai aku kamu, bukan loe gue."


"Nanti gue usahain Om. Umur Om berapa sih?"


"Segitu ingin tahunya, ya?"


"Kan tadi aku sudah beritahu umurku Om. Sekarang giliran Om-lah!"


"28,"jawab Arya singkat padat dan jelas.


"Ohhh!"


"Kenapa?"tanya Arya.


"Nggak. Masih mudah rupanya,"ucap Ayu dengan nada bercanda.

__ADS_1


"Ya. Jadi jangan panggil aku Om lagi,"pinta Arya.


"Ya, nggak bisa begitulah Om."


"Baiklah-baiklah terserah kamu saja." Pada akhirnya Arya mengalah.


Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri mereka. "Arya!"teriak wanita itu.


Arya dan Ayu menoleh pada wanita itu.


Siapa wanita ini? Cantik banget!


Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?


Arya dengan cuek tidak menghiraukan wanita yang sedang tersenyum padanya hingga membuat Ayu menyenggol pelan dirinya.


"Siapa perempuan yang bersamamu, Ar?"tanya wanita itu.


"Perkenalkan saya Ayu, Kak." Ayu mengulurkan tangannya.


"Dia istriku!"tegas Arya dan segera merangkul Ayu dalam pelukannya.


Apa yang terjadi pada Es Batu ini, sih? Kenapa dia membohongi perempuan ini dan memelukku di depannya. Aku tidak nyaman.


Ayu bergerak kesana-kemari membuat Arya semakin memeluknya dengan erat hingga orang yang berada di depannya panas dan naik pitam namun berusaha tetap sabar menahannya.


"Istrimu cantik, ya? Tatapan wanita itu tidak bersahabat namun dia masih tetap tenang.


"Iya. Selain cantik dia juga baik tidak seperti orang lain,"ucap Arya mengejek wanita itu.


"Kakak sedang apa ke sini?"tanya Ayu agar wanita itu tidak menghiraukan apa yang barusan Arya katakan.


"Oh, aku lagi pemeriksaan kesehatan. Kalau kalian?" Wanita itu tersenyum paksa pada Ayu.


"Oh, kami sedang--"


"Memeriksa kandungan, iya 'kan sayang!"sergah Arya cepat. Dia menatap manik mata Ayu dengan senyuman yang begitu manis membuat jantung Ayu berdegub kencang.


"Ah, begitu rupanya. Semoga langgeng, ya?" Dengan nada terpaksa perempuan itu mengucapkan kata yang benar-benar tidak ingin diucapkan olehnya.


"Itu pasti! Dan akan selamanya. Kamu ke sini sama siapa? Suami atau?" Arya masih tetap santai menghadapi wanita yang ada di depannya.


Selamanya apanya? Om benar-benar sudah gila! Aaarrgghhtt!


"Aku sendiri. Aku belum menikah Ar,"ucap wanita itu serius.


Aku tidak akan terjebak untuk yang kedua kalinya. Jangan berfikir kalau aku tidak bisa move-on darimu.


"Oh. Ya sudah kami pamit dulu,ya!"


"Baiklah."


Arya segera menarik tangan Ayu dan mengengamnya dengan erat, lalu berjalan meninggalkan mantan pacarnya. Wanita itu tampak kesal dengan perlakukan Arya pada dirinya.


"Kau tidak akan bisa membohongiku Ar. Aku sudah menyelidiki tentangmu, sampai sekarang kamu tidak pernah berhubungan lagi dengan perempuan lain. Dan semua sudah tergambar dengan jelas bahwa kamu tidak bisa move-on dariku,"lirih wanita itu menyeringai.


Arya membawa Ayu ke taman rumah sakit untuk memperjelas keadaan yang berusan terjadi agar tidak terjadi kesalapahaman.


"Maafkan aku atas perlakuanku yang tadi. Aku tidak bermaksud menyeretmu. Ada alasan pribadi hingga aku berbuat begitu, sekali lagi aku minta maaf."


"Tidak apa-apa, Om. Kalau boleh tahu dia siapanya, Om?"tanya Ayu penasaran.


"Mantan pacar,"jawab Arya singkat.


"Jadi, Om tidak bisa move on dari wanita itu? Haha, Om juga bisa bucin, ya? Pantesan aja nggak bisa Move on, orang mantan pacarnya secantik itu."


"Cantik luarnya."


"Maksud, Om?"

__ADS_1


"Anak kecil tidak boleh tahu."


"Huh! Om selalu saja membuatku kesal."


"Hahaha."


"Apa Om baru saja tertawa? Om juga bisa tertawa?" Ayu heran dengan perubahan ekspresi dari Arya.


"Diam!" Arya mengacak rambut Ayu.


"Hentikan Om! Nanti rambutku berantakan." Ayu kembali merapikan rambutnya.


"Iya-iya." Terjadi keheningan sesaat.


"Om. Maafkan aku ya, Om."


"Untuk apa?"tanya Arya heran.


"Waktu itu, memang aku sengaja menjahili Om,"jelas Ayu.


"Tidak apa-apa. Maafkan aku juga telah membuatmu kesal."


"Nggak apa-apa juga kok, Om."


"Kata Sonya, abangnya itu begitu tampan, dan ternyata beneran tampan, ya?"sambung Ayu lagi.


"Jadi, kamu sudah terpesona?"tanya Arya.


"Sedikit Om."


"Apa kamu orangnya seperti ini?"


"Seperti apa, Om?"


"Suka berterus terang?"


"Hehe. Nggak juga, Om."


"Sonya selalu menceritakan tentangmu kepadaku,"ungkap Arya.


"Dia juga begitu Om. Dia selalu menceritakan tentang Om padaku. Eh, iya Om. Apa Om benci sama mantan pacar Om itu?"


"Kenapa kamu ingin tahu?"


"Hanya penasaran saja Om."


"Yakin tidak ada yang lain?"tanya Arya, dia sengaja memojokan Ayu.


"Tuh 'kan hobinya Om ya gini, selalu membuat orang lain kesal,"ucap Ayu memoyongkan bibirnya.


"Haha. Aku sama sekali tidak membencinya,"terang Arya sambil tertawa.


"Nah, gitu dong Om. Terus-terus?" Secepat kilat raut wajah Ayu berubah antusias.


"Aku kecewa padanya."


"Karena dia mengkhianati, Om?"


"Pasti kamu tahu dari Sonya, kan?"


"Haha. Iya Om. Tapi, aku juga ingin dengar langsung dari Om."


"Ya, seperti yang kamu lihat. Dia memang bukan jodohku."


"Sabar Om sabar, suatu saat juga pasti ketemu. Haha."


"Kamu senang sekali mengejek orang, ya?"


"Haha. Nggak begitu jugalah Om-Om. Aku beneran loh Om, mendoakan Om untuk mendapatkan yang lebih baik."

__ADS_1


"Ah, dasar."


Bersambung❣


__ADS_2