Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 118


__ADS_3

Ketika Azka pergi, Arya secepatnya mengirim pesan singkat pada Ayu. Ia merongoh benda pipih miliknya dari saku celana, lalu menghidupkan benda itu dan membuka Applikasi hijau berbentuk pesan di ponselnya.


[ Apa kau tidak mau melihatku saat pergi dari sini? ] send to Ayu.


Sedang di kamar Ayu berjalan mondar-mandir memikirkan kecerobohannya di dapur. Pipinya kini masih bersemu merah, apalagi saat ia dan Arya terciduk di dapur dan lebih parahnya lagi Azka yang melihat mereka.


"Bisa-bisanya kami kepergok oleh kak Azka. Ya ampun!" lirihnya menggeleng kepala.


"Nanti kak Azka berfikir aku cewek yang gimana lagi. Duh, bagaimana, ya?" Ayu masih berbicara pada dirinya sendiri.


Ting!


"Siapa yang mengirim pesan di saat seperti ini?" ucapnya.


Ayu segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Setelah melihat layar ponselnya ia pun berfikir sejenak.


"Bagaimana ini?" tanya Ayu pelan saat melihat pesan dari Arya untuknya.


[ Tidak usah khawatir, Azka sedang berada di kamar Amel. ]


Pesan dari Arya seakan tahu bahwa Ayu sedang kebingunggan atas permintaannya.


[ Kalau kau malu, kamu bisa bersembunyi dari Azka. ]


Ayu melihat dua pesan beruntun dari sang kekasih.


"Heh! Om ada-ada saja. Hm, jika difikirkan, kenapa aku harus malu. Lagian Om 'kan sudah jadi pacar resmiku. Apalagi saat mengingat kejadian di balkon tempo hari, jadi tidak apa-apalah jika aku keluar melihatnya pergi tuk pulang ke Apartemen," lirih Ayu pelan.


"Ya masuk akal. Pokoknya aku tidak perlu malu lagi. Toh bukankah kami juga sudah dewasa. Ya, ya. Harus berani," ucapnya lagi.


Dengan penuh keyakinan Ayu pun membalas pesan dari Arya.


[ Baiklah, Om. ] Pesan singkatnya berhasil terkirim pada Arya, belum sampai beberapa detik tanda centang dua berwarna abu-abu pun berubah berwarna centang biru.


Saat melihat pesan dari sang kekasih, raut kekesalan pada wajah Arya sirna begitu saja.


"Setidaknya ia masih mau menemaniku sampai di depan pintu," lirihnyanya pelan, senyum indah terlukis dari kedua sudut bibirnya.


Azka dan Amel yang sudah selesai merapikan selimut dan menaruh guling di sisi ranjang tempat tidur para buah hati kecil mereka pun segera berjalan menjauhi anak-anak menuju pintu kamar. Mereka ingin keluar menemui Arya yang masih menunggu di ruang tamu sendirian. Namun belum sempat kaki mereka sampai ke ruang tamu, keduanya bertemu dengan Ayu yang juga sedang menuju ke arah yang sama.


"Ayu! Mau kemana?" tanya Amel, matanya menatap Ayu.


"Mau ke depan, Kak. Hehe." ucap Ayu terkekeh pelan.


"Anterin Arya juga?" tanya Amel memastikan dan hanya asal menebak.


"Ya, begitulah kira-kira, Kak." jawab Ayu tersenyum.


"Baguslah, setidaknya aku tidak sendiri. Ayo kita ke sana bareng!" Amel senang jika Ayu juga ikut keluar juga setidaknya ia tidak sendiri dan tentunya Arya juga tidak akan menjadi obat nyamuk nanti.


Sekilas menatap Azka yang hanya diam saja sejak melihat Ayu. "Eh, i--iya, Kak." Ayu menjadi canggung.


"Kamu jalan duluan saja," pinta Amel.


"Oke, Kak."


Kaki Ayu memasuki ruang tamu, namun kedua orang yang berada di belakangnya masih beberapa langkah lagi baru kelihatan di sana. Arya melihat kedatangan Ayu yang berjalan sendiri itu pun memanggilnya agar mendekat ke arahnya.


Ayu berdiri dari duduknya. "Ayo cepat kemari! Jangan sampai Azka tahu kamu ada di si ...."


Ucapan Arya terhenti seketika saat melihat seorang pria dan wanita yang berada juga di belakang Ayu.


"Ni!" lirih Arya pelan. Sorot matanya meredup.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu akan menyembunyikan dia dariku? Sayangnya aku sudah tahu tuh!" ungkap Azka masa bodoh. Ayu hanya tersenyum canggung ke arah di mana Arya berada sedang Amel hanya terkekeh geli dengan tingkah kedua pria dewasa itu.


"Dasar penganggu!" lirih Arya pelan, namun masih bisa di dengar oleh ketiga orang itu.


"Kamu fikir diganggu itu enak. Tidak enak kali. Benar 'kan sayang?" tanya Azka manja.


Azka merapatkan tubuhnya pada Amel lalu memeluk Amel dari samping, kepalanya di sandarkan ke pundak Amel, ia berusaha menunjukkan kemesraannya pada Arya. Amel hanya tersenyum kecil saja mendengar pertanyaan Azka barusan, Amel tahu Azka hanya memprovokasi Arya saja.


'Kedua orang dewasa ini. Ada-ada saja, dingin-dingin tapi hangat.'


"Om, apa aku harus mendekat ke arahmu juga?" tanya Ayu polos. Arya melototkan matanya ke arah wanita yang ia cintai itu.


Azka kaget. "Om? Hahahaha." Ia pun tergelak mendengar nama panggilan Ayu masih tetap sama seperti biasanya.


'Tertawa aja terus sampai gigimu jatuh. Huh! Bikin kesal saja.'


Azka menetralkan tawanya. "Ada apa dengan kalian? Udah pacaran tapi nama panggilan sayang saja tidak ada. Ish ish ish tidak romantis sama sekali. Benar' kan sayang?" tanya Azka pada Amel.


"K--Kami ada kok. I--iya 'kan?"


"Iya apa, Om?" Ayu tidak peka sama sekali.


Tawa Azka pecah begitu saja. " Aduh, kalian ini. Hahaha. Sebaiknya kalian segera mencari nama panggilan sayang yang cocok, agar tidak ditertawakan olehku lagi," ucapnya setelah tawanya meredah.


"Sudahlah, berhentilah menggoda mereka!" timpal Amel melerai ucapan Azka yang akan dia lontarkan lagi nanti.


"Iya betul apa yang dikatakan oleh Amel. Kami juga 'kan baru saja menjalin hubungan jadi harus dimaklumi."


"Baiklah-baiklah. Aku hanya takut kau akan kalah sama adikmu, Sonya."


"Kamu tidak perlu khawatir tentang aku. Secepatnya kami berdua akan menemukan nama yang cocok, untuk nama panggilan sayang kami," ketus Arya.


"Oke, aku menanti kabar baik darimu," ucap Azka tersenyum.


'Dasar tukang pamer kemesraan!'


Arya kesal saat melihat tingkah Azka, sedang Ayu hanya senyum-senyum sendiri.


'Kak Azka sangat menyanyangi kak Amel. Terima kasih Tuhan, atas nikmat yang telah engkau berikan kepada kami.'


Ayu tetap berfikiran positif, ia tidak tahu bahwa Azka sengaja memprovokasi Arya agar Arya lebih berani.


"Sebaiknya kita keluar sekarang!" ucap Amel tersenyum canggung. Dirinya malu diperlakukan seperti itu oleh Azka apalagi dilihat oleh kedua orang dewasa itu.


"Oke sayang," ucap Azka antusias.


'Aku mau lihat sampai mana jiwa harimaumu akan bersembunyi.'


Azka dan Amel berjalan mendahului pasangan yang belum lama jadian, mereka bergandengan tangan menuju pintu. Arya yang melihat itu pun tidak mau kalah, ia meraih tangan Ayu dan segera mengengamnya dengan erat, sedang Ayu hanya menatap heran ke arah Arya.


'Kau kira hanya kamu saja yang bisa? Aku juga bisa.'


"Om, kenapa kita juga sama?" Bisik Ayu di samping telinga Arya.


"Kamu diam saja. Dan tetap ikuti langkah kakiku." Arya membimbing Ayu untuk berjalan perlahan mengikuti Azka dan Amel dari belakang.


"Kenapa Om? OM takut aku kabur? Tidak akan Om."


"Diam! Atau aku cium kau di depan mereka." Ancam Arya.


"Om!"


"Makanya diam."

__ADS_1


"Iya-iya. Aku diam nih. Galak amat."


Kini mereka sudah berada di parkiran mobil. Sebelum memasuki mobilnya, Azka berulah lagi, ia sengaja lagi bersikap manja pada Amel.


"Sayang! Apa kamu tidak kangen padaku, jika aku sudah pergi?" tanya Azka.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Amel.


"Minta cium!" pinta Azka manja.


"D--Di sini?"


"Emang kenapa? Apa tidak boleh?"


"Ya, gimana ya? Di sini 'kan ada Arya sama Ayu juga. Tidak enaklah sama mereka."


"Tidak apa-apa sayang. Kalau mereka mau, mereka juga bisa kok melakukan hal yang sama seperti kita."


"Tapi?"


"Tidak ada tapi-tapian. Sini cium!"


Amel menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah," ucapnya. Amel mengecup singkat pipi Azka.


"Kok di situ sih! Harusnya tu ..." Azka segera mengecup bibir Amel dengan cepat, Azka sengaja mencium Amel selama beberapa menit. Hingga membuat Arya menjadi panas tak terkendali.


Azka melepas tautan bibir mereka. " Di sini," sambungnya lagi. Azka menghapus jejak salivanya yang masih tertinggal di bibir Amel.


Ayu yang melihat pemandangan itu pun mengingat ciuman panas antara Azka dan Amel waktu di balkon tempo hari, dan itu sukses membuatnya malu sendiri. Bahkan sekarang dia masih tertegun di tempatnya. Arya yang sudah bersabar saat diremehkan oleh Azka, sejak tadi pun semakin menjadi.


'Kau fikir, hanya kamu saja yang bisa, Az? Kamu salah besar, aku juga bisa melakukan itu di depan matamu.'


Arya menarik wajah Ayu yang masih tertegun, ia menatap manik mata Ayu yang teduh itu, perlahan mendekatkan wajahnya pada Ayu, lalu secepat kilat menempelkan bibirnya pada bibir Ayu, takut jika kali ini gagal lagi.


Kini benda kenyal itu sudah saling menyentuh sempurna. Ayu melototkan matanya karena kaget. Arya dengan gesit mencicipi bibir Ayu tanpa terlewat sedikit pun, ia memperdalam ciumannya dan sesekali melu*** bibir munggil milik Ayu.


Ayu memenjamkan matanya, menikmati permainan Arya pada rongga mulutnya, ia sampai hilang akal dan tak menyadari, bahwa sejak tadi kelakuan mereka sudah dilihat oleh Azka dan Amel sedang tersenyum, saat melihat keduanya sedang bermesraan.


'Akhirnya jiwa harimaumu bangkit juga, Ar.'


"Pasti ini rencana kamu, kan?" bisik Amel di dekat telinga Azka.


"Iya dong sayang!" Azka kembali berbisik.


Beberapa menit telah berlalu tapi tautan itu belum juga dilepas.


"Ekhem! Dunia ini bukan hanya milik kalian berdua saja."


Seketika tautan keduanya dilepas juga. Keduanya tampak malu, pipi keduanya bersemu merah.


"A-Aku pamit ke dalam dulu." Tanpa mendengar jawaban dari ketiganya, Ayu segera berlalu dan masuk ke dalam rumah.


'Dia tidak jadi melihatku pergi? Tapi, tak apa! Ciuman barusan, lumayan juga.'


Arya tentu saja sangat senang, dia juga dapat membuktikan pada Azka bahwa dia juga bisa menunjukkan kemesraannya di depan Azka. Arya memegang bibirnya yang masih basah lalu tersenyum cerah.


"Ayo kita pergi! Jangan melamun di situ!" Ajak Azka.


"Iya."


"Sayang kamu kembali dan temani anak-anak. Jangan lupa istirahatlah yang cukup, ya!" titah Azka tersenyum.


"Oke. Kalian berdua hati-hati di jalan!" Azka dan Arya hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2