Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 113


__ADS_3

Terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu❤. Khusus untuk menebus karena tidak UP kemarin. Aku tambahin 1 part lagi buat kalian. Semoga suka dan selamat membaca.😍


...****************...


Darren baru saja masuk ke dalam kawasan kampung di mana tempat tinggal nenek dari calon istrinya. Di lihatnya Sonya masih tertidur pulas di sampingnya, karena perjalanan panjang memakan waktu yang cukup lama agar sampai di desa itu.


Mereka berangkat dari pagi dan sore harinya baru tiba di sana, sudah beberapa kali mereka berhenti untuk makan dan beriatirahat tidak lupa mengisi bensin agar perjalanan mereka tidak ada kendala apapun.


Darren memelankan laju kendaraannya. "Bunda! Bunda! Bunda sayang! Bangun!" Ia berusaha membangunkan Sonya.


Terdengar lengguhan dari mulut Sonya di sertai dengan menguap khas orang baru bangun tidur. "Apa kita sudah sampai Kanda?" tanya Sonya mengucek matanya.


"Ya. Eh, maksud Kanda, itu ... kita baru saja sampai di kawasan desa. Kanda tidak tahu arah rumah nenek, Dinda." Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga tak tega membangunkan Sonya.


"Ya ampun. Maaffin Dinda, Dinda benar-benar lupa memberitahukan pada Kanda."


Sonya sudah memberitahu Darren tentang desa tempat neneknya tinggali namun ia lupa mengatakan arah rumah neneknya ketika sudah sampai di sana.


"Tidak apa-apa, yang ada Kanda yang harus meminta maaf padamu Dinda, karena Kanda telah membangunkan Dinda dari tidur nyenyak Dinda," terang Darren.


"Makasih atas perhatianmu, Kanda. Nah, sekarang, Kanda tinggal lurus aja, terus di depan ada perempatan, lalu Kanda belok kanan, dan rumah nenek adalah rumah terakhir dari situ," ucap Sonya menunjukkan arah rumah neneknya.


"Baiklah, apa di sana lingkungannya luas?" tanya Darren.


"Lumayan luas. Jadi tidak apa jika Kanda memakirkan mobilnya di sana, tapi maaf mungkin mobil Kanda akan lecet sedikit," jelas Sonya terkekeh. Ia sangat mengingat dengan jelas bahwa ketika hujan turun lingkungan rumah neneknya sedikit becek.


"Tidak apa-apa. Ini semua juga demi Dinda. Kanda sanggup, melakukan apapun asalkan Dinda jangan menyuruh Kanda meninggalkan Dinda. Hehe." Untuk yang kesekian kalinya Darren menggoda Sonya.


"Bisanya gombal mulu," ungkap Sonya. Bagaimana tidak, sepanjang jalan Darren terus menggodanya hingga ia tertidur dengan pulas.


"Beneran loh Dinda, Kanda tidak gombal kok," terang Darren dengan mimik wajah yang dibuat-buat.


"Ya sudah, fokus nyetirnya, di sini banyak anak-anak yang berlalu lalang," pinta Sonya menghindar dari godaan maut dari Darren.


"Siap Tuan Putri!"


Mobil Darren melewati persawahan yang cukup luas, mereka juga sedikit menikmati pemandangan indah di sore hari. Terlihat jelas mentari sudah condong ke arah Barat, pertanda senja mulai datang menghampiri, sungguh maha karya Tuhan yang sempurna.

__ADS_1


Anak-anak yang baru pulang dari sawah tertawa bahagia di kala sedang bercanda dengan orang tuanya, ada juga yang sedang menangis, karena di ganggu oleh saudaranya. Pemandangan itu tidak terlepas dari pandangan mata Sonya dan juga Darren, mereka berdua sengaja berhenti dan turun dari mobil menimati pemandangan desa itu.


"Apa di desa ini tempat Dinda di besarkan?" tanya Darren ketika matanya melihat ke depan ke arah matahari.


"Ya. Bisa dikatakan seperti itu," ucap Sonya. Dia juga menatap ke arah matahari yang perlahan-lahan tenggelam.


Pandangan Sonya menerawang jauh ke masa lalu. "Dulu Dinda dan kak Arya lahirnya di sini. Setelah itu ayah kami pindah ke kota, karena mendapat pekerjaan di sana, dan tentunya kita semua pindah ke kota juga, meninggalkan nenek sendiri di sini. Lalu ketika kecelakaan yang menimpah kedua orang tua kami, membuat kami dibiayai oleh paman Daniel. Ketika Dinda memasuki bangku SMA Dinda memilih sekolah di desa, untuk menemani nenek di sini. Lalu aku ke kota lagi, untuk menemani kakak di sana, semua itu atas peritah nenek padahal aku sudah menolaknya." Sonya menceritakan tentangnya pada Darren. Darren mendengarnya penuh pengkhayatan.


'Jika aku menjadi salah satu dari kalian, mungkin aku akan membeci orang yang membuat nyawa kedua orang tuaku melayang dan bahkan aku akan membalas dendam atas kematian mereka. Kamu begitu tegar Dinda, aku semakin ingin membuatmu hidup bahagia. Semoga nanti nenekmu merestui hubungan kita.'


Darren mengusap puncak kepala Sonya. "Pasti semua itu berat buat Dinda yang masih kecil waktu itu, dan untuk kecelakaan yang menimpah kedua orang tua Dinda, Kanda mewakili keluarga besar dari Mommy, meminta maaf padamu Dinda," ucap Darren tulus.


"Semua itu telah berlalu, Kanda. Aku, kak Arya bahkan nenek tidak pernah menyalahkan siapapun atas kecelakaan yang menimpah orang tua kami. Kami tahu semuanya sudah takdir dan kapan saja akan terjadi. Tapi, Dinda berharap dalang di balik insiden itu cepat ditemukan agar arwah ayah dan ibu, bisa beristirahat dengan tenang," ungkap Sonya penuh harap.


"Ya, Kanda juga berharap akan hal itu. Kanda janji padamu Dinda, Kanda akan membahagiakan Dinda hingga kita mempunyai anak dan menua bersama." Darren berusaha lebih mengguatkan Sonya.


Menengok ke arah Darren. "Terima kasih, Kanda. Dinda percaya!" Sonya tersenyum bahagia.


"Apa Kanda boleh peluk Dinda di sini? Lumayan suasananya sangat tepat, apalagi di temani oleh senja." Darren mengedipkan sebelah matanya.


"Kalau tidak ada orang, apa boleh?" tanya Darren dengan kedua alis yang naik turun.


"Tau ah, Kanda." Sonya sukses dibuat malu oleh Darren.


"Bercanda! Hahaha. Ayo kita pergi!" Darren mengakhiri pembicaraan mereka. Sonya hanya mengganguk saja.


Mereka kembali naik ke dalam mobil, Darren menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil itu ke arah rumah nenek. Tidak memakan waktu lama mobilnya sudah terparkir indah di depan halaman rumah sederhana milik sang nenek.


"Kenapa diam? Ayo turun!" pinta Sonya yang melihat Darren tidak kunjung turun dari mobil.


"Jantung Kanda berdetak sangat kencang Dinda," ungkap Darren.


"Tidak apa-apa, ayo turun!" pinta Sonya lembut.


"Iya. Dinda duluan saja, nanti Kanda nyusul." Darren menetralkan kegugupannya.


"Baiklah," ucap Sonya. Ia membuka pintu mobil dan turun dari sana.

__ADS_1


Walaupun Darren gugup tetap saja ia turun dari mobil, Sonya menatapnya dan ia hanya memberikan bahasa isyarat pada Sonya untuk berjalan duluan saja. Sonya menurutinya, dan Darren hanya mengekorinya dari belakang.


Tok! Tok! Tok!


"Iya, sebentar!" Teriak seseorang dari dalam, suara orang itu terdengar serak khas nenek-nenek.


Krieet!


Bunyi pintu di buka dari dalam, seorang nenek berambut pendek menyembulkan kepalanya dan melihat siapa yang datang ke rumahnya.


"Siapa?" tanya Nenek yang belum melihat Sonya dengan jelas.


"Nenek!" Teriak Sonya seperti biasa, saat berkunjung ke rumah neneknya.


"Sonya! Tumben cucu nenek datang kemari," tanya nenek. Ia heran dengan kedatangan cucu perempuannya yang terbilang cukup tiba-tiba.


"Kok tumben sih, Nek?" tanya Sonya mengerucutkan bibirnya.


"Di mana Arya? Apa dia tidak ikut ke sini?" tanya neneknya yang melihat Sonya hanya datang sendiri, bahkan mobil yang terparkir di depan rumahnya bukan mobil milik Arya.


"Eh. T--Tidak, Nek. Kak Arya tidak datang bareng Sonya. Hm, aku ingin memperkenalkan seseorang yang datang bersamaku hari ini, Nek." Sonya tertawa canggung.


"Siapa?" tanya nenek serius.


Sonya celinggak-celingguk melihat ke mana Darren berada, yang ia tahu Darren sudah mengikutinya dari belakang, namun kenapa sekarang Darren malah menghilang.


'Di mana keberadaan Kanda, sih. Kanda, Kanda, masa segitu aja takut.'


"Mana orangnya, Son?" tanya nenek penasaran. Bahkan juga ikut celinggak-celingguk.


"Aku juga lagi mencarinya, Nek." Mata Sonya berkeliling mencari keberadaan sang kekasih.


Setelah sudah melihat batang hidung Darren yang berada di bagian belakang mobil. Sonya pun memanggil Darren agar mendekat.


Dengan langkah kaki berat dan hati yang tidak karuan, membuat Darren tetap harus menghampiri Sonya dan neneknya yang masih setia berada di depan pintu.


Bersambung ❣

__ADS_1


__ADS_2