
Azka yang sudah siap dengan setelan jasnya sedang menunggu lokasi yang diberikan oleh Amel. Arya sudah ke perusahaan duluan, untuk melihat dan mengecek acara apakah sudah siap semua apa belum.
Setelah mendapat notif pesan dari Amel. Azka yang melihat pesan singkat dari Amel, bergegas pergi ke alamat yang diberikan oleh Amel. Amel sudah menunggu Azka di depan gang.
Beberapa menit yang lalu.
Notif pesan dari 'Bongkahan Es'.
[ Saya segera ke sana.]
"Dia sudah mengirim pesan balik,"ucap Amel.
"Ciee, pangerannya sudah nggak sabar menjemput tuan putrinya."
"Kakak titip anak-anak pada kalian berdua, ya?" pinta Amel tidak menghiraukan candaan Ayu.
"Iya Kak."
"Siap Kakak cantikku."
"Ayo-Ayo! Segera ke depan gang, agar bosnya tidak kesasar. Haha," ucap Ayu sambil tertawa.
"Kalian di sini saja. Nanti Kakak yang ke depan."
"Iya Kak. Takut ya, kami terpesona dengan pangeranmu itu?" Ayu memojokan Amel lagi.
"Apaan sih! Sebaiknya kamu segera mencari pacar. Jangan sampai jadi perawan tua. Haha." Amel membalas Ayu.
"Pacar? Tidak mau! Kalau sendiri bahagia kenapa harus berdua?" Ayu menjulurkan lidahnya keluar.
"Jadi, Kak Ayu tidak punya pacar?" tanya Sonya tiba-tiba.
"Jangan di tanya lagi Son. Dia ini udah dari dulu tidak ada satu pun pria yang dia sukai. Jomblo dari lahir," ungkap Amel penuh penekanan.
"Serius Kak?" tanya Sonya seakan tidak percaya.
"Serius. Mana mungkin kakak bohong. Kak Ayu ini sudah menemani Kakak dari Kakak masih mengandung anak-anak Kakak. Dia orang baik tapi sayang ...."
"Sayang kenapa, Kak?" Sonya menjadi penasaran.
"Sampai sekarang masih jomblo. Haha." Tawa Amel pecah juga. Diikuti oleh tawa Sonya.
"Haha."
"Ehem. Sudah puas mengejeknya?"
"Hahaha." Mereka pun tertawa bersamaan.
"Kak Ayu sama Abangku saja. Dia juga masih jomblo kok. Gara-gara patah hati dia tidak berani mencintai lagi," terang Sonya membicarakan tentang Arya.
__ADS_1
"Kamu ada-ada saja. Masih bocah juga mikir jadi mak comblang segala."
"Kakak tidak akan menyesal. Kakakku ganteng Kak. Tapi sayang wajahnya sedingin es."
"Kalau esnya dingin ya tinggal di panasin saja biar meleleh. Haha."
"Haha. Kakak lucu deh. Haha."
"Sudah-sudah. Kenapa Kak Amel masih di sini? Tidak takut apa, pangerannya nungguin."
"Keknya kamu sama abangnya Sonya jodoh deh. Adiknya juga sudah merestui, jadi tidak ada kendala apapun. Hihi."
"Apaan sih Kak. Pergi sana!"
"Hahaha. Tunggu sebentar! Kakak tidak boleh melewatkan ini."
"Iya-Iya aku sudah tahu, pasti mau memberikan kiss pada anak-anak. Sekalian juga ya sama bosnya. Haha."
"Dasar tak waras!"
"Haha." Mereka tertawa sedangkan Amel kesal dibuat-buat.
"Pa ang di tatatan leh Ante Yu, tu benal. Mama alus tium botna duja. Hihi," ucap Raka cekikikan.
"Kamu nih, masih kecil juga. Jangan bicara seperti itu sayang!" Amel mengelus puncak kepala Raka.
"Cie ... panggeran kecilnya sudah restuin. Ayo sikat Kak! Nanti menyesal loh Kak. Saingan Kakak 'kan banyak."
"Iya Kak."
"Iya. Hati-hati Kak! Jangan lupa cium sedikit!" Goda Ayu untuk yang kesekian kalinya.Amel yang sudah mengetahui maksud dari perkataan Ayu pun tidak meladeninya lagi.
Amel berjalan menuju depan gang untuk menunggu Azka. Ternyata Azka belum datang, setelah beberapa menit ke depan Azka pun sampai di depan gang sesuai alamat yang tertuju pada lokasi yang Amel berikan.
Azka memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil. Dia berjalan menghampiri Amel yang sudah cantik dengan gaun putihnya.
"Mari ikut saya!" Azka mengulurkan tangan kanannya ke Amel.
Kok dia jadi macco gini, ya? Bikin deg deg kan saja. Udah gitu penampilannya hari ini, eh apa dia ganti model rambut? Tampannya. Amel tertegun sejenak.
"Kenapa melamun? Ayo kita pergi!"
"I-Iya." Amel meraih tangan Azka, mereka bergandengan tangan sesaat, sampai di mobil Azka membuka pintu mobil untuk Amel dan mempersilahkan dia masuk ke dalam. Lalu Azka memutari mobil dan masuk ke dalam.
Duh, jadi kebayangkan dengan perkataan Ayu tadi. Duh jantungku berdetak tak menentu.
Sepanjang perjalanan Amel terus melirik Azka yang tidak banyak bicara seperti biasanya. Amel terkesima dengan penampilan Azka saat ini. Azka yang telah menyadari Amel saat ini sedang mencuri pandang dengannya langsung meraih tengkuk Amel dan menuntun melihat ke arahnya.
"Tatap saja sepuasnya. Pesona wajah saya ini, saya mengizinkanmu menatapnya secara gratis."
__ADS_1
"Apaan sih?!" Dengan malu dan wajah yang sudah bersemu merah, terpaksa membuat Amel mengalihkan pandangannya ke depan.
Azka tersenyum senang dapat mengoda Amel. Sebelumnya Azka sudah membuka situs web tentang bagaimana cara membuat seorang wanita tidak mengalihkan padangan matanya pada seorang pria.
Azka sengaja merubah model rambutnya mirip pemeran cowok di flim drama yang biasa Amel tonton. Di situs web itu tertulis si pria juga harus memperlakukan wanitanya dengan romantis, seperti menuntun wanitanya ke dalam mobil. Semua Azka pelajari di situs web, dan itu berhasil.
Kelinci kecilku, selalu saja imut. batin Azka, melirik Amel sekilas.
Sebelum menuntun Amel masuk ke dalam mobil, Azka sudah terpesona dengan kecantikan natural yang di miliki oleh Amel, tidak menor dan sangat menawan. Pipinya yang cubby menambah pesona kecantikannya, jika Azka lepas kendali maka sekarang pasti dia sudah mencium pipi itu saking gemasnya.
Azka berusaha menahan keinginannya, dia mau melihat reaksi Amel dengan penampilannya dan ternyata semua sesuai dengan dugaannya dan itu membuat dirinya senang.
Tidak sia-sia aku mencoba hal-hal itu. Ini juga saran dari Darren. Anak itu sekarang pasti sedang terpingkal-pingkal. batin Azka mengingat Darren.
...~Flasback On~...
Kemarin malam, Darren dan Arya berkumpul di Apartemen Azka. Mereka bertiga duduk di ruang tamu.
"Ngapain kamu suruh ngumpul di sini? Untung saja seseorang bersedia mengantikanku. Kalau tidak aku tidak ada waktu datang ke sini."
"Amel punya lelaki lain di sampingnya." Tanpa banyak basa-basi Azka langsung ke poin pentingnya.
"Hah?!" Darren dan Arya kaget dibuatnya.
"Kok, aku baru dengar, ya?" tanya Arya.
"Siang tadi, aku ingin mengajaknya makan di luar. Sesampainya di ruangannya kulihat dia lagi tidur bahkan komputernya tidak di matikan."
"Terus apa yang salah dengan itu?" tanya Darren.
"Dia mengigau nama seorang pria."
"What? Azka-Azka begitu saja kamu sudah kalah mental, Haha," ucap Darren seakan mengejek Azka.
"Sekali lagi kau tertawa. Akan kubuat kau memakan bubur setiap hari," Ancaman Azka membuat Darren berhenti tertawa.
"Serius amat sih! Terus apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Darren lagi.
"Nama lelaki itu adalah Raka."
"Raka? Nama yang tampan. Pasti kamu kalah nih sama dia." Darren memanas-manasi Azka.
"Kau sudah bosan hidup?"
"Haha. Terus apa kamu sudah tanya siapa Raka itu?"
"Katanya pria itu sangatlah mirip denganku. Saat aku menanyakan lebih tampan siapa. Amel malah menjawabnya sama-sama tampan. Aku langsung menuntutnya agar memilih salah satu di antara kami. Tapi dia malah marah padaku." Azka menjelaskan dengan serius.
"Haha. Azka, kamu beneran bikin ngakak. Kamu bahkan sampai memaksanya begitu, dasar tidak peka. Harusnya kamu itu tenang dan mencari tahu siapa pria itu."
__ADS_1
Bersambung❣