Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 79


__ADS_3

Di Apartemen milik Azka.


Azka yang sudah turun ke lantai bawah menemui Amel dan memintanya untuk berbicara empat mata sedang Ayu menjaga anak-anak yang masih menonton TV. Azka menuntun Amel pergi ke ruang tamu.


"Apa ada masalah?"tanya Amel setelah duduk di sofa.


"Ya, masalah ini membuatku sedikit tak rela,"terang Azka serius.


"Emang, masalah apa?"tanya Amel ingin tahu.


"Kata Arya kita tidak boleh tinggal serumah dulu,"ungkap Azka dengan nada merendah.


"Malah bagus, dengan begitu aku bisa aman,"ucap Amel tidak menghiraukan ucapan Azka.


"Tapi, tidak itu baik untukku."


"Dasar! Ingat, kau sudah tak muda lagi. Ingat umur woii,"ucap Amel mengejek Azka.


"Ya ampun sayang ... apa kau tidak menggasihaniku?"tanya Azka, benar-benar sedih.


"Kalau tinggal serumah denganmu dapat merugikanku, kenapa aku harus menggasihanimu?"tanya Amel penuh penekanan.


Wajah Azka seketika di tekuk, bibirnya dimonyongkan ke depan. "Ya sudah, pergi aja sana!"ucapnya kemudian.


"Baiklah! Kapan?"tanya Amel acuh tak acuh.


"Ah, sayang ... kenapa kau tak peka sekali dengan perasaanku? Aku tidak berniat mengusirmu!"


Azka merasa semakin gemas dengan ucapan Amel. Sebenarnya Amel paham betul apa yang dirasakan oleh Azka namun dia sengaja mengucapkan kata-kata yang sukses membuat Azka tak dapat berkata-kata.


"Iya aku paham. Terus kapan kami menginap ke rumah milik pak Arya?"tanya Amel lagi.


"Kalau aku sih, maunya kau tetap di sini sampai kita menikah. Tapi, demi menaati peraturan di masyarakat jadi aku terpaksa membiarkanmu pergi. Kamu mau pergi kapan?"tanya Azka harap-harap cemas.


"Kalau bisa sekarang, ya sekarang saja." Mendengar perkaatan Amel membuat Azka seperti tersambar petir.


"Sekarang? Tidak tunggu seminggu atau dua minggu lagi?"tanya Azka menatap manik mata Amel.


"Sekarang saja."


'Bisa bahaya jika lama-lama di sini. Sudah pasti aku akan menjadi santapanmu.'


"Tapi .... Oke deh, kali ini aku menurutimu. Nanti di waktu kita fitting baju pengantin aku akan menjemputmu." Azka mengalah walau hatinya tak dapat menerima. Dia menghargai keputusan Amel.

__ADS_1


"Baiklah!" Amel tersenyum.


"Nih, sekalian aku beri hadiah."


Cup!


"Hanya pipi kanan doang nih? Nanti pipi kirinya cemburu loh, ayo cium pipi kiri lagi,"pinta Azka manja dengan ekspresi yang dibuat-buat.


Cup!


"Di sini juga mau!" Tunjuk Azka pada bibirnya.


"Kalau di situ ada baiknya ditunda dulu,"ucap Amel. Amel segera berdiri dan melangkah pergi.


"Jangan tinggalkan aku!" Azka berdiri dari duduknya dan mengejar Amel yang belum begitu jauh darinya.


"Aku akan memberi tahu Ayu untuk bersiap-siap. Agar sebentar kamu mengantar kami semua ke rumah milik pak Arya,"ucap Amel di tengah perjalanan.


"Tidak bisakah kau melihat kesedihan di wajah tampanku ini?"tanya Azka memelas.


Amel berbalik menatap wajah Azka. "Lihat saja sendiri, biasanya juga galak tuh."


"Sayang ... aku semakin gemas deh sama kamu,"ucap Azka. Amel melangkah dengan cepat meninggalkan Azka di sana.


Lalu Amel menghampiri Ayu dan anak-anaknya di ruang TV dan tidak menghiraukan Azka. Dia kemudian meminta Ayu untuk membantunya menidurkan anak-anak terlebih dahulu, lalu mereka akan membereskan barang-barang yang akan mereka bawah ke rumah Arya nanti.


Anak-anak sudah tertidur inilah kesempatan untuk berkemas. Azka hanya menonton mereka berkemas dan tidak ada niat untuk membantu. Rasanya tak rela jika dia harus berjauhan dengan Amel dan anak mereka.


Amel tak menghiraukan Azka yang sedang berdiri bak patung dalam ruangan. Tanpa bicara, tanpa bergerak, hanya matanya saja yang terus menatap Amel dengan intens. Amel merasa tidak terlalu nyaman di tatap seperti itu oleh Azka.


"Apa kau akan berdiri di sana? Tidak bisakah kau membantu kami walau sedikit?"tanya Amel. Pertanyaan Amel hanya dianggap angin lalu saja, bahkan Azka tidak menghiraukan pertanyaan Amel.


Setelah berkemas Ayu tetap berada di kamar menemani si para bocah kecil. Sedang Amel turun ke dapur untuk memasak agar anak-anak tidak lapar dalam perjalanan. Tentunya Azka juga mengikutinya, tatapannya juga masih tetap sama.


'Rasanya aku sedang mengurus lima bocah kecil saja,'batin Amel.


"Apa kau tidak capek terus menatapku seperti itu? Sini bantuin aku!"pinta Amel.


"Kalau aku juga harus turun tangan, kau harus memberiku hadiah ciuman yang lebih."


"Ada saja maunya. Kalau tidak mau membantu, sebaiknya kau pergi saja dari sini. Merusak pemandangan saja!"


'Dia marah padaku? Jadi gagal deh, aksi ngambekku ini,'batin Azka.

__ADS_1


"Iya deh, aku bantuin nih."


Azka berjalan dan berdiri ke samping Amel. Dia menggulung kedua lengan kameja sampai ke atas siku lalu memilih dan memilah apa yang mereka harus masak. Semua itu tidak lepas dari penglihatan Amel.


'Dia sangatlah menawan.'


"Aku tahu, wajahku ini sangatlah tampan. Dan kamu tidak akan rugi untuk mencium pipiku,"ucap Azka penuh percaya diri.


'Tuh 'kan jiwa narsisnya kambuh lagi,'batin Amel memutar bola matanya.


"Namun, sayangnya aku tidak tertarik untuk mencium wajahmu itu,"balas Amel.


"Kau menolakku!? Jika aku mengatakan itu pada wanita lain, bahkan nenek-nenek dan istri orang sekali pun tidak menolak untuk menciumku,"ucap Azka asal.


'Apaan sih! Kenapa harus menyebut wanita lain? Bikin kesal saja,'batin Amel dengan mimik wajah yang sudah tidak bersahabat.


"Oke, kalau begitu kau boleh menyuruh mereka melakukannya,"ucap Amel ketus.


'Kau yakin kalau kau tak akan cemburu?'batin Azka tersenyum senang.


"Baiklah kalau itu maumu,"ucap Azka sengaja menuruti Amel.


"Kau ... !"


Hufff ...


Amel membuang nafas kasar, dia yang sedang mencincang rempah-rempah semakin memotong rempah-rempah itu dengan cepat sehingga menimbulkan bunyi di atas papan kayu berukuran sedang itu.


"Sebaiknya pergi dari sini, sebelum semuanya terlambat,'ancam Amel penuh penekanan.


"Kau berani mengancamku?"tanya Azka.


"Mau pergi, tidak?" Amel mengayunkan pisau ke depan wajah Azka.


"Iya, aku pergi nih,"ucap Azka mengalah, tersenyum penuh penekanan.


Azka segera pergi dari hadapan Amel. Setelah tubuh Azka sudah tidak terlihat lagi Amel melanjutkan acara masaknya. Kali ini Azka benar-benar sukses membuatnya kesal dan cemburu. Entah mengapa dia begitu marah saat Azka mengucapkan tentang wanita lain di depannya walau dia tahu Azka hanya ingin membuatnya cemburu tetap saja dia begitu kesal pada Azka.


"Dia sendiri yang bilang kalau aku tak peka, nyatanya dia yang tak peka sama sekali dengan maksudku itu,"lirih Amel.


Dengan gesit Amel membuat hidangan sederhana untuk anak-anak tercintanya. Setelah semua masakannya beres barulah dia menyajikan di meja makan.


Kemudian berlalu ke kamar untuk memanggil anak-anaknya yang mungkin saja belum bangun tidur.

__ADS_1


Saat berpapasan dengan Azka, Amel sama sekali tidak menegurnya. Membuat Azka semakin gemas dengan tingkah Amel yang menurutnya sangat manis dan lucu.


Bersambung ❣


__ADS_2