
Di tempat lain khususnya di rumah milik Arya. Azka yang sudah memikirkan akan menghabiskan waktunya bersama Amel malah di ganggu oleh putra dan putri mereka.
Anak-anak tak mau tidur siang sama sekali, dan mereka membuat Azka kelelahan dengan tingkah mereka. Keempat bocah kecil itu ada saja maunya. Mereka menyuruh ayahnya untuk bermain kuda-kudaan, mau tidak mau tentu saja Azka harus mau.
Azka sudah kewalahan bermain bersama putra dan putri kecilnya, bukan sejam dua jam mereka bermain kuda-kudaan. Ini sudah hampir tengah hari tapi mereka juga tak mau berhenti, mereka sukses membuat Azka frustasi pasalnya ia sudah senang kalau keempat orang dewasa tidak ada di rumah dan tidak akan menganggunya bersama Amel ketika sedang bermesraan. Namun naas fikirannya buyar di kala anak-anaknya meminta untuk bermain.
Amel hanya terkikik geli di tempat, dia tahu apa yang Azka fikirkan saat ini. Apalagi saat Azka menatapnya untuk meminta bantuan, tetap saja Amel tak terlalu peduli Amel bahkan menguatkan Azka.
"Semangat!"ucap Amel pelan dan tentunya sambil terkikik. Melihat Amel, tatapan Azka pun menjadi lesuh.
'Sebentar lagi mereka pulang dan aku masih belum melakukan apapun bersama Amel di sini,'batin Azka khawatir.
Awalnya ia senang bermain bersama anak-anaknya bahkan sambil tertawa bersama. Saking asyik main bersama sang ayah, anak-anak itu pun meminta lagi, lagi, dan lagi hingga membuat ayah mereka kapok menjadi kuda.
'Lain kali aku akan menyuruh dua tiga orang untuk mengantikanku di sini,'batin Azka lagi.
Kini permainan mereka sudah berlangsung selama beberapa menit.
"Papa, dah. Atu idak au aing agi."
Rasti yang sudah capek segera menghentikan ayahnya yang kini mau berjalan bak kuda lagi.
"Atu uga." Timpal Bunga.
"Baiklah papa turunin, ya!"
Perkataan dari anak-anak itulah yang Azka sudah tunggu-tunggu sedari tadi.
'Yes, akhirnya selesai juga'batin Azka senang.
Anak-anak turun dari punggung sang ayah dan berlari menghampiri Amel di sofa.
"Mama!"teriak mereka serempak. Mereka sangat senang mendapat perlakukan khusus dari Azka.
"Apa kalian senang?"tanya Amel setelah selesai mencium putra dan putrinya.
"Enang!" Teriak mereka hampir bersamaan.
Azka juga menghampiri Amel di sofa lalu duduk di samping Amel.
"Papa, sok-sok aing agi, ya." Bara benar-benar sangat senang. Bermain bersama sang ayah, membuatnya lupa dengan makanan.
"Iya,"ucap Azka tersenyum. Dia sudah mempersiapkan diri untuk selalu tersenyum demi sang calon istri dan juga anak-anaknya.
"Holeee!!" Mereka semua tampak senang.
Raka juga sama, dia sangat senang dengan sang ayah yang sudah meluangkan waktunya untuk bermain bersama. Dia dapat melihat sang ayah juga ingin memiliki waktu bersama ibu tercintanya. Namun Raka berusaha menahan Azka dengan bermain kuda-kudaan, bukan tak suka hanya saja ia ingin melihat perjuangan sang ayah pada ibunya. Dan ternyata, sesuai dugaannya, Ayah mereka memang sosok seorang pria yang hebat.
__ADS_1
"Matatih Papa,"ucap para malaikat kecil hampir bersamaan.
"Iya sama-sama sayang." Azka tersenyum cerah.
'Sudah cukup aku mencoba papa. Memang pantas menjadi papaku,'batin Raka bangga.
"Mama, ami apek cetali,"ucap Raka memelas.
"Atu uga apek cetali,"sahut Bunga.
"Ama atu uga,"timpal Rasti.
"Talau ditu, yo tita tidul ulu,"ucap Raka. Ia ingin memberikan waktu kepada kedua orang tuanya.
"Kalian mau bobo?"tanya Amel yang tak peka dengan maksud Raka. Anak-anaknya hanya mengangguk saja.
"Baiklah, Ayo kita ke kamar!" Amel pun berdiri dari tempat duduknya. Azka yang tadinya merasa senang malah was-was sekarang.
Raka segera menarik tangan Amel. "Idak utah Mama. Tetalang Ami dah betal, adi tami au tidul tendili." Raka benar-benar tahu dengan apa yang Azka fikirkan.
'Bagus sayang, biarkan papa dan mamamu punya waktu berdua,'batin Azka senang.
"Wah ... anak Mama pintar sekali. Tapi, beneran nih tidak mau Mama temenin lagi? Baca donggeng lagi?"tanya Amel lagi meminta kepastian.
"Idak Mama. Mama emani Papa ja di tini."
"Benar apa yang di katakan anak-anak. Sebaiknya mereka tidur sendiri saja, biar kamu sama aku di sini,"ucap Azka.
'Kamu tentu saja yang paling senang di sini. Semua itu tak terlepas dari pandanganku,'batin Amel.
"Baiklah!"
Pada akhirnya Amel mengalah dan kembali merebahkan bokongnya ke sofa. Anak-anak pamit dan berlalu ke kamar tamu tempat biasa mereka tidur.
Sesampainya di kamar.
"Tak Laka, tenapa idak au membialkan Mama meneani tita di tini?"tanya Rasti penasaran. Pasalnya dia dan adik-adiknya hanya diam saja tadi saat berada di depa ayah dan ibu mereka.
"Tatak inin Mama ama Papa uga unya aktu beltama. Butanta adi tita dah aing ama? Tetalang bialtan Papa am Mama beldua ulu aja."
"Enal uga. Tatian Papa dah emani tita aing ama." Rasti pun membenarkan apa yang Raka ucapkan.
"Agusla alau tau engerti. Yo, tita idul iang ulu, biar Mama tenang,"ucap Raka.
"Aik."
Semuanya mengambil posisi dan berbaring di kasur. Sedang kedua orang dewasa yang ada di luar terdiam sejenak.
__ADS_1
Huff ... Azka membuang nafas.
"Legah!" Ucapnya.
Azka mengambil posisi dan membaringkan kepalanya ke pangkuan Amel. Amel kaget namun tak dapat menolaknya. Dia juga senang Azka berbaring ke pangkuannya. Amel bahkan mengelus puncak kepala Azka lalu turun ke wajahnya di elusnya kumis tipis Azka.
Mata elang itu terus menatap Amel dalam, lalu sesekali memenjamkannya. Azka sangat bahagia, walau waktunya sedikit terkuras tapi tak apa, perlakuan Amel saat ini saja sudah membuatnya bahagia. Belaian tangan Amel membuatnya terbang melayang entah kemana.
'Aku tak pernah membayangkan bahwa aku akan jatuh cinta pada laki-laki datar ini.'
Amel yang sedang melamun refleks mengusap bibir Azka dengan lembut. Membuat Azka sedikit terusik dan membuka matanya menatap Amel.
'Bibir ini ....' Batin Amel.
Amel mengingat kembali kenangannya bersama Azka saat mereka berdua melakukan ciuman, entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Azka masih terus menatap Amel yang sedang melamun itu.
Azka benar-benar sudah tak tahan lagi, tangannya kini menahan tangan Amel yang sedang menyentuh bibirnya. Mata Amel teralihkan menatap manik mata Azka. Mereka saling menatap dalam, tangan Azka terangkat dan menekan tengkuk Amel untuk melakukan aksinya.
Deru nafas keduanya saling menyapu wajah masing-masing. Hanya beberapa centi saja bibir keduanya bertemu. Azka tidak akan melewatkan kesempatannya kali ini. Dengan penuh perasaan Azka akan mendaratkan bibirnya ke bibir Amel bahkan dia sudah memejamkan matanya.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"tanya seseorang.
Pertanyaan itu membuat Azka kaget dan refleks mengangkat kepalanya ke atas hingga kepalanya membentur wajah Amel.
Bugh!
"Auuu!" Ringis Amel kesakitan, dia bahkan mengusap wajahnya berkali-kali.
Azka segera bangkit dari tidurnya. "M--Maaf sayang. Aku tidak sengaja."
Azka masih belum melihat ke arah orang yang sudah menganggu mereka, dia masih sibuk mengkhawatirkan Amel. Dia takut terjadi sesuatu pada Amel karenanya.
"Mana yang sakit sayang?" Tanya Azka lembut lalu memeriksa setiap inci wajah Amel.
"Di sini?"tanya Azka lagi. Amel hanya mengangguk saja. Lalu Azka menghapus jejak kesakitan itu dengan kecupan singkat.
"Dah .. pasti sembuh,"ucap Azka setelah melakukan kecupan.
Amel merasa terpesona melihat perlakuan manis Azka padanya. Dia sampai tak menghiraukan orang yang menganggu mereka.
"Mesra-mesraanya sudah apa belum?"
Bersambung❣
Wow siapa yang mengganggun mereka, ya?😅😂.
Biar author tambah semangat nulisnya berikan sesuatu gitu yang ikhlas agar author juga senang nerimanya. hihihi😁 penuh harap loh ini😅
__ADS_1