
Setelah selesai melepas rindu bersama anak-anak tercintanya, kini Azka beralih berbincang-bincang bersama kedua pria dewasa yang ada di dalam ruangan rumah sakit itu.
Mereka berbincang berbagai hal. Saling membahas hal-hal serius dan juga saling mengejek masalah percintaan mereka, hingga membuat mereka tak mampu menahan senyum dan tawa.
Sedangkan ketiga perempuan dewasa, sudah duduk di sofa besar dalam kamar VVIP itu, selain bermain bersama anak-anak, ketiganya juga sedang terlibat dalam percakapan berupa hal-hal serius bahkan hal-hal yang membuat ketiganya tertawa cekikikan.
Ketiga wanita itu tidak mau kalah dengan ketiga pria yang sering mencuri-curi pandang, dimana mereka berada.
Hampir 2 jam mereka habiskan untuk berbincang. Ayu segera menyudahi perbincangannya karena perutnya sudah mulai keroncongan, bahkan cacing-cacing di dalam perutnya sudah ikut mendemo, meminta keadilan untuk segera di isi.
"Kak, aku pamit beli makanan untuk semuanya dulu, ya!" pamit Ayu pada Amel yang sedang menatapnya.
"Aku temani ya Kak," ucap Sonya.
"Tidak usah. Kamu temani kak Amel saja di sini" Tolak Ayu cepat. "Tuh, lihat anak-anak butuh kamu juga," Tunjuk Ayu pada Bunga yang sedang menarik-narik tangan Sonya.
"Ya sudah deh. Sonya akan turuti apa kata calon Kakak Ipar, hehe." ucap Sonya dengan kekehan kecil. Sonya mengalah karena ucapan Ayu ada benarnya juga.
"Hahaha, ada-ada saja." Ayu tertawa kecil, merasa malu dengan ucapan Sonya barusan.
Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Arya yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit, samping Azka.
"Kak Azka, aku pamit keluar dulu, ya."
'Kok pamitnya pada Azka? Bukankah dia menuju ke arahku tadi?'
Arya menatap heran ke arah Ayu yang matanya tidak menatap dirinya sama sekali, bahkan mata Ayu tertuju pada Azka di sana.
"Eh, kenapa?" tanya Azka heran. Dia melirik Arya sekilas.
"Beli makanan, untuk sarapan," jelas Ayu sedikit canggung, berasa ada hawa panas yang sedang menjalari tubuhnya.
"Wah ... kebetulan sekali nih, dari kemarin aku sama sekali belum makan, perutku sudah mulai sakit." Keluh Azka, memperlihatkan reaksi sedihnya.
'Kenapa kau manja sekali pada kekasihku?'
__ADS_1
"Ya ampun ... nanti kak Amel dan anak-anak sedih. Oke deh, pokoknya kak Azka tenang saja, aku akan segera pergi membeli makanan dan secepatnya kembali lagi ke sini," ucap Ayu serius.
"Baiklah. Ar, tolong temani kekasihmu," titah Azka. Ia sudah tidak tahan melihat tatapan membunuh Arya padanya.
"Tanpa kau suruh aku ju--" Ucapan Arya terpotong.
"Tidak usah, Bee. Aku bisa pergi sendiri kok. Aku tidak akan lama, warungnya juga dekat dari rumah sakit. Jadi, tidak apa-apa, Okey?" sergah Ayu cepat. Ia sudah mengetahui bahwa Arya akan ikut bersamanya.
"Tapi, barang bawaan kamu 'kan banyak. Biar aku temani kamu kesana, ya." pinta Arya,
Waajah Arya dibuat sememelas mungkin, agar Ayu menyetujui kemauannya. Tapi sayang, Ayu tidak menghiraukan ucapan Arya dan segera menolak permintaannya.
"Tidak usah. Aku tidak apa-apa, Bee. Mending kamu temani kak Azka disini saja. Darren juga 'kan pasti masih ada banyak kerjaan, jadi sebaiknya Bee temani kak Azka, oke?"
Arya menghirup udara dan segera menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah," ucap Arya mengalah.
"Oke, aku pamit ya. Bye." Ayu segera mengakhiri pembicaraannya dengan berpamitan.
"Bye," ucap Azka dan Darren serempak sedang Arya hanya diam saja.
Sepanjang koridor Ayu melihat banyak perawat dan dokter sibuk mengurus ini dan itu.
Ayu juga melihat beberapa pasien yang di bawah lari ke ruangan yang ada di rumah sakit. Ayu juga melihat berbagai macam pasien dengan luka yang berbeda-beda.
Ayu merasa ngeri saat berpapasan dengan seorang perawat yang tengah mendorong brankar dengan pasien yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh kain putih, sudah dipastikan bahwa pasien itu akan segera di masukan ke dalam kamar jenazah.
'Kasihan ... pasti keluarganya sangat sedih melihat orang yang mereka cintai sudah terbujur kaku.'
Ayu seakan-akan juga ikut sedih, karena dirinya sudah pernah merasakan kesedihan yang amat dalam saat ditinggal mati oleh orang yang ia cintai.
Setiap kali melewati para perawat atau pun dokter yang sedang berjalan sendirian, dirinya hanya melempar senyum tipisnya pada mereka, hingga tak terasa dirinya sudah sampai di depan rumah sakit.
Ayu melihat ke atas, menatap langit yang biru, cuaca hari ini begitu cerah karena sang raja siang sedang memancarkan sinar alami miliknya.
Hujan semalam mampu membuat aroma tanah memasuki rongga hidung setiap insan yang menginjakkan kakinya di kota H.
__ADS_1
Angin sepoi-sepoi sedikit demi sedikit mengelitik kulit Ayu pelan. Yah, hari ini begitu terik walau semalam di landa oleh hujan yang begitu deras.
Ayu menutup matanya, ia menghirup udara dalam-dalam dan membuang nafasnya perlahan. "Pemandangan yang sangat menakjubkan," lirih Ayu pelan, ia membuka matanya lalu tersenyum menatap lurus ke depan.
Ayu melangkahkan kakinya ke depan terus berjalan menyusuri jalanan yang begitu padat akan kendaraan baik masuk maupun keluar dari rumah sakit, ia terus berjalan lurus melewati beberapa tokoh pakaian dan peralatan mandi, juga melewati beberapa tempat penjualan parcel dan buah-buahan namun itu bukan tempat tujuannya saat ini.
"Di area sini, tempat penjualan makanan di mana sih? Kenapa tidak tidak ada di dekat sini," lirih Ayu pelan, karena dirinya tidak melihat adanya warung makan di sana.
Ayu melihat seorang wanita seumurannya, ia segera bertanya pada wanita yang sedang memegang tas plastik putih di tangannya.
"Maaf Kak. Apa boleh saya bertanya sebentar?" tanya Ayu ramah, meminta izin untuk bertanya.
"Silahkan, Kak. Mau nanya apa?" Jawab wanita itu tak kalah ramah.
"Warung makan dekat rumah sakit ini, letaknya di mana, ya?" tanya Ayu.
"Oh ... warung makan," ucap wanita itu. Dirinya merubah posisi tubuhnya sedikit menyamping. "Kakak perlu terus berjalan lurus ke depan, lalu belok ke kiri, lalu Kakak bisa langsung masuk saja ke dalam gang yang ada di sana. Nah, setelah sampai di ujung gang, barulah Kakak menemukan warung makanan yang begitu banyak dilokasi itu," jelasnya menujukan arah pada Ayu, agar Ayu dapat mengerti.
"Baiklah, terima kasih, ya."
"Sama-sama, Kak. Oh iya, di gang itu jalannya lumayan panjang dan nampak sepi, Kak. Ada baiknya kalau Kakak memesan taxi online atau ojek online saja, agar dapat melewati jalan utama," ucap wanita itu memberi saran.
"Oh, di gang itu tempat khusus pejalan kaki yang akan mampir ke warung makan?" tanya Ayu.
"Iya, tapi sangat jarang orang lewat situ, Kak. Dengar-dengar sih, dulunya ada yang pernah di begal di gang itu. Jadi kalau Kakak takut, Kakak bisa naik kendaraan apa saja biar bisa ikut jalur lainnya."
"Tidak apa-apa. Aku ikut jalan itu saja," ucap Ayu tersenyum.
'Sekalian ingin membasmi para tikus yang sedang berada di sana.'
"Baiklah Kak. Oke, hati-hati."
"Oke. Terima kasih telah mengingatkan," ucap Ayu tulus.
"Sama-sama."
__ADS_1
Bersambung❣