Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 75


__ADS_3

🗣📣Sahur! sahur! sahur!


SEMOGA KALIAN TIDAK BOSAN, KARENA TERLALU BANYAK PERCAKAPAN dalam ceritaku! 😁


jika berkenang berikan Vote dan Sekuntum mawar untukku. Hihihi🙊😂.


Oke, lanjut😉


...................❤...................


Baru setengah hari tidak bertemu dengan Amel serasa sudah setahun lamanya. Azka yang sudah tiba di rumah langsung berhambur peluk pada Amel membuat Arya yang melihatnya merasa mual.


"Di mana adikmu, Nona?"tanya Arya.


"Maksud pak Arya adik yang mana? Ayu apa Sonya, nih?" Amel balik bertanya pada Arya. Amel bergerak kesana-kemari karena Azka belum juga melepaskan pelukannya.


"I--Itu, Sonya." Arya gugup, karena yang dia maksud itu Ayu bukan Sonya dia juga tidak nyaman melihat Azka yang kelewat bucin.


'Jawabanku seperti sedang di interogasi oleh polisi. Apa Amel curiga?'batin Arya was-was.


"Oh, Ayu sama Sonya lagi main bersama anak-anak." Amel sengaja menyebut nama Ayu karena sudah tahu maksud dari pertanyaan Arya.


'Tuh 'kan dia pasti mencurigaiku,'fikir Arya.


"M--Maaf Nona, saya tidak menanyakan tentang Ayu di sini." Arya berusaha untuk menyangkal.


'Masih berpura-pura?'batin Amel.


"Tapi tidak ada salahnya 'kan saya menyebut namanya? Lagian sekarang Ayu lagi bersama Sonya, jadi apa bedanya?"tanya Amel memojokan Arya.


"Ya. Tidak ada yang salah." Arya merasa sudah ketahuan mencuri sesuatu.


'Lalu Azka, apa-apaan sih? Apa dia sengaja bermesraan di depanku? Dia seperti lintah saja menempel pada kulit tidak mau dilepaskan,'batin Arya.


"Oh iya, Nona. Urusan mengasuh anak, sudah tidak berlaku lagi, kan? Jadi saya ingin membawa pulang Sonya." Arya berusaha menahan ketidaknyamanan melihat tingkah Azka.


"Kenapa terburu-buru?"tanya Amel.


"Karena saya tidak akan membiarkan Sonya melihat kalian bermesraan,"lirih Arya pelan.


"Maksud kamu?"tanya Amel yang kurang terlalu jelas mendengar omongan Arya.


"Bukan apa-apa, Nona." Arya mengelak.


"Baiklah. Coba kau temui Sonya dulu."


"Baik, Nona." Arya segera berlalu meninggalkan dua sejoli yang masih berpelukan.


"Dan kamu! Segera mandi sana! Badanmu bau keringat, tahu!"


"Masa?" Azka melepas pelukannya dan mencium badannya.


'Masih wangi, kok. Amel pasti sengaja agar aku melepas pelukanku padanya,'batin Azka menatapa Amel curiga.


"Masih wangi! Sini peluk lagi!"pinta Azka manja.


"Mandi dulu, sana! Kek, anak kecil saja,"umpat Amel.


"Aku harus menjagamu agar pria lain tidak berani menatapmu,"ucap Azka serius.


'Sudahku duga, pantes saja dia memelukku dengan erat,'batin Amel, mengeleng kepalanya pelan.


"Sama teman sendiri saja cemburu, ingat dia sudah terpikat oleh pesona adik tomboyku,"ucap Amel ketus.


"Iya-iya. Aku mandi, nih! Hmm, mandi bareng kamu, boleh?"tanya Azka tersenyum jahat.

__ADS_1


"Mau kupukul?"tegas Amel.


"Haha, becanda sayang! Kalau udah nikah boleh 'kan, kita ... mandi bareng?"tanya Azka tersenyum penuh arti.


"Tau ah, minggir!" Amel mendorong tubuh Azka dan berjalan meninggalkannya.


"Sayang ... jangan marah dong, iya deh iya aku mandi dulu, ya? Biar wangi, biar bisa peyuk kamu lagi." Azka semakin menjadi.


'Ya ampun Si Bongkahan Es ini, kenapa sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat, sih!'batin Amel tak percaya.


Di waktu yang bersamaan. Arya yang sudah berada di depan pintu kamar yang di tempati oleh Sonya dan Ayu segera mengetuk pintu.


Ayu dan Sonya yang mendengar suara ketukkan seketika terhenti sejenak dari tawa mereka. Ayu segera membuka pintu, Ayu fikir itu mungkin Amel yang mengetuk pintu di depan.


Cek-lek!


"Eh, Om! Ada apa?"tanya Ayu. Arya masih tertegun melihatnya.


'Apa benar hatiku sudah direbut oleh wanita ini?'batin Arya menatap Ayu.


'Kenapa dia melamun?'batin Ayu heran.


"Hei, Om! Hello!" Ayu melambai-lambaikan tangannya di depan Arya.


"Mungkin, iya,"lirih Arya.


"Iya kenapa, Om?"tanya Ayu.


"Ah, bukan apa-apa. Sonya ada di dalam?"tanya Arya dengan cepat.


"Iya, Om. Kami lagi main bersama anak-anak. Apa Om ada perlu sama Sonya?" Ayu balik bertanya.


"Ya."


"Baiklah!"


Kini gantian Ayu yang menemani anak-anak bermain sementara Sonya menemui Arya di luar.


'Kenapa Om memanggil Sonya, ya? Apa ada hal mendesak?'batin Ayu.


Di luar kamar.


Sonya menutup pintu lalu menghampiri Arya yang berdiri membelakanginya.


"Ada apa, Kak?"tanya Sonya menatap punggung kakaknya.


Arya berbalik badan. "Tugasmu 'kan sudah selesai, bagaimana kalau kita pulang dulu? Tidak baik juga kau berada di sini,"ucap Arya to the point.


"Tapi, 'kan. Di sini ramai, Kak. Aku suka! Nanti kalau aku pergi, lalu bagaimana dengan kak Ayu?"tanya Sonya mencari alasan. Dia sudah nyaman berada di dekat anak-anak Amel. Rasanya berat sekali jika dia meninggalkan mereka.


"Dia 'kan sudah besar, kenapa kau malah mengkhawatirkannya?"tanya Arya.


"Tapi, Kaakk!" Sonya merasa tak rela untuk pergi.


"Kamu tidak boleh membantah! Ini juga demi kebaikanmu!"


'Anak ini keras kepala sekali, apa dia tidak mengerti dengan keadaan sekarang. Nanti otak polosnya ini lama-lama bisa terpengaruh jika berada di dekat Azka dan Amel.'


"Ta-- Kak Amel!" Sonya ingin menolak ajakan kakaknya namun ucapannya teralihkan saat melihat Amel yang terburu-buru berjalan mendekati mereka.


"Kalian pasti sedang mengobrol masalah yang penting. Jadi, Kakak pamit ke dalam dulu, ya?"ucap Amel.


"Eh, iya Kak."


"Iya Nona."

__ADS_1


Amel buru-buru masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Ayu. Dia sedang melarikan diri dari Azka.


Beberapa detik kemudian. "Apa sudah selesai?"tanya Azka yang baru saja muncul.


"Belum. Dia masih tidak mau pulang,"ucap Arya.


"Sonya kamu sebaiknya ikut Kakakmu pulang dulu, ya? Urusan anak-anak, kamu tenang saja, biar kami saja yang mengurusnya." Azka berusaha membantu Arya membujuk Sonya. Azka tahu jika Sonya sangat tidak rela jika harus pergi secepat ini dari Apartemennya.


"Tapi, Kak. Aku masih mau berada di sini." Sonya sedikit memelas penuh harap bawah Azka akan mengizinkannya tinggal lebih lama lagi.


"Untuk sementara waktu kamu ikut Arya dulu. Kak Azka akan mengurus sesuatu yang penting. Kakak janji kamu dan Ayu akan bertemu lagi dalam waktu dekat dan bahkan kalian berdua bisa tidur bareng anak-anak. Oke?"ucap Azka penuh arti.


'Apa yang dia rencanakan? Tapi, apapun itu, bukan urusanku juga,'batin Arya yang sudah dapat menebak maksud tersirat dari perkataan Azka.


"Beneran, Kak?"tanya Sonya yang sudah mulai luluh, termakan ucapan Azka.


"Iya."


"Kalau kak Azka sudah berkata begitu. Baiklah, aku ikut Kak Arya pulang sekarang!"


"Nah, gitu kek dari tadi,"ucap Arya.


'Dari ucapan kak Azka, pasti dia sedang merencanakan sesuatu yang baik,'batin Sonya yakin.


"Eh, iya kalian lihat Amel?"tanya Azka.


"Oh, kak Amel masuk ke kamar ini, Kak." Sonya memberitahu Azka bahwa Amel berada di kamar yang dia dan Ayu tempati.


'Ternyata dia berusaha kabur dariku. Imutnya ...'


Azka pamit dan segera masuk ke kamarnya untuk mandi. Sementara Sonya kembali ke kamar menemui Amel dan Ayu, dia ingin berpamitan. Sedang Arya turun ke lantai bawah menunggu Sonya di ruang tamu.


Di dalam kamar.


"Kamu mau pulang?"tanya Ayu, nada bicaranya merendah.


"Kak Ayu, tahu dari mana?"tanya Sonya.


"Barusan kak Amel memberitahuku,"ungkap Ayu.


"Iya, Kak,"ucap Sonya sendu.


Ayu langsung memeluk Sonya. "Kak Ayu pasti akan sangat merindukanmu!"


Tersenyum, membalas pelukkan. "Aku juga, Kak,"ujar Sonya.


"Maka dari itu, kau cepat jadian sama kakaknya lalu menikah. Agar kalian bisa tinggal bareng." Amel memberi saran.


"Kak Amel apaan sih, lagi sedih juga malah becanda,"ucap Ayu.


"Kak Amel tenang saja. Serahkan semua pada Sonya!" Tentu saja Sonya tidak akan diam saja. Apapun yang dia inginkan harus bisa tercapai.


"Eh, tapi kalian tidak makan dulu?"tanya Amel.


"Tidak Kak. Kak Arya ingin secepatnya pulang. Hmm, rasanya tak tega meninggalkan bocah-bocah itu." Manik mata Sonya menatap keempat bocah yang sedang bermain bersama.


"Kalau gitu, kau pamitlah pada mereka."


"Iya, Kak. Ini juga mau pamit."


Dengan berat hati Sonya menghampiri para malaikat kecil, dia memberanikan diri untuk berpamitan, namun Rasti, Bunga dan Bara tidak mau jika tantenya itu pulang ke rumahnya. Sedangkan Raka hanya santai saja padahal dalam hatinya juga tidak mau jika Sonya pulang.


Amel dan Ayu ikut membujuk mereka bertiga barulah mereka melepaskan Sonya. Hampir saja Sonya menangis, dia juga sebenarnya tidak mau berpisah. Namun apalah dayanya dia hanya bisa menerima, ini juga demi kebaikan bersama.


Bersambung❣

__ADS_1


__ADS_2