
Arya terus memperhatikan mereka dengan ekor matanya, Arya jengkel di buat penasaran dengan apa yang akan Ayu ucapkan selanjutnya.
"Kenapa harus binggung? Ayo cepatlah katakan!" tanya Ayu mendesak.
"Begini, sebenarnya nggak ada alasan gue ngajak loe ke sini,"ungkap Bayu tersenyum manis.
"Lalu?"tanya Ayu heran.
"Gue hanya ingin melihat wajah loe saja,"ungkap Bayu terkekeh.
"Hah?" Ayu terperangah mendengar alasan Bayu yang di anggapnya tak masuk akal.
Ayu tahu bahwa Bayu memiliki perasaan padanya, namun tak mungkin baginya untuk menerima orang lain selain orang yang saat ini berada di dalam hatinya.
"Ya, gue ingin melihat wajah loe, my super hero."
'Basi!'
Arya terus mendengar apa yang Bayu ucapkan, mendengarnya saja membuat dirinya mual-mual. Arya lebih memasang pendengarannya dengan tajam.
"Jangan bercanda! Ayo kita temui ibumu,"ucap Ayu, ia berdiri dan ingin menghindar dari Bayu.
Bayu meraih tangan Ayu. "Gue mohon sama loe, tunggu dulu sebentar!" Bayu memohon dan itu membuat Arya semakin kesal padanya.
'Hei, kondisikan tanganmu itu. Dan kau, kenapa kau tidak menepis tangannya? Apa kau juga menyukainya?'batin Arya.
'Sebaiknya aku dengar saja apa yang akan Bayu ucapkan padaku,'batin Ayu.
"Baiklah." Ayu mengalah dan duduk kembali ke tempat semula, matanya kini menatap ke depan memandangi danau.
Bayu senang setidaknya Ayu mau mendengarkannya, namun apa yang akan ia ucapkan pada Ayu nanti? Bayu pun menjadi binggung sendiri, padahal ia sudah mempersiapkan dirinya dari jauh-jauh hari tuk mengungkapkan rasa yang ia pendam pada Ayu.
"Katakanlah apa yang ingin kau katakan,"pinta Ayu menghadap Bayu dan menatapnya.
"Sebenarnya ... sebenarnya ... " Ingin sekali Bayu mengungkapkan isi hatinya, namun pandangan matanya menangkap sosok pria yang melihatnya dengan sorot mata penuh ketidaksukaan.
"Siapa pria di sana? Kenapa dia menatapku seperti itu?" lirih Bayu. Sontak membuat Ayu melihat ke arah pandang mata Bayu.
Arya memang sedari tadi menatap Bayu, ingin rasanya ia menghampiri lelaki itu dan meninju wajahnya. Arya benar-benar di bakar api cemburu, namun dia sendiri pun tak berdaya. Sorot matanya dilihat oleh Bayu tapi Arya tetap tidak merubah arah pandangnya bahkan sekarang dia menatap Bayu dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
'Apa, hah? Kau kira aku takut menatap matamu?'
Ayu menatap lekat lelaki yang memakai kacamata dengan masker dan rambut acak-acakkan itu, sosok lelaki itu membuatnya teringat pada satu nama, Arya.
'Eh, apa pria itu adalah Om, ya? Pakaiannya persis seperti Om pakai tadi pagi. Tapi, penampilannya berbeda? Hm, mungkin dia bukan Om. Dan mana mungkin Om bisa berada di tempat ini.'
Ayu membuang fikirannya jauh-jauh dan kembali melihat ke arah Bayu. "Apa kau mengenalinya?"tanya Ayu memelankan volume suaranya.
"Gue nggak kenal sama orang itu. Tampaknya dia bukan orang kompleks sini. Dan tatapan orang itu sedikit familiar. Rasanya gue pernah lihat, deh. Tapi, di mana ya?" Bayu sedikit berbisik.
Bayu mengingat-ingat kembali siapa pemilik tatapan itu, tapi walaupun ia berfikir sangat keras, tetap saja Bayu tak dapat mengingatnya namun dia yakin kalau dia sudah pernah melihat tatapan yang sama persis.
Kini Ayu juga heran pada pria yang memakai masker itu, mereka tidak mengenalinya lalu kenapa tatapan tak sukanya itu ditujukan pada Bayu saja? Ayu kembali menatap pria memakai masker itu.
Arya mengalihkan pandangan matanya, menatap Ayu lekat. Saat tatapan mata keduanya bertemu, seketika Arya buru-buru menatap lurus ke depan memandangi danau.
'Apa dia mengenaliku? Arya kenapa kau ceroboh sekali. Aku harus mencari cara agar mereka tidak melihat ke arah sini lagi, sebelum penyamaranku terungkap.'
Arya kemudian mengambil posisi untuk segera melancarkan aksinya.
Hatchuu!
'Oh, rupanya orang itu sedang flu, pantes aja ia memakai masker. Mungkin aku salah mengenali orang,'batin Bayu.
'Tuh 'kan dia bukan Om. Mana mungkin Om sakit flu, orang tadi dia sehat-sehat saja kok,"batin Ayu. Kini semua kecurigaannya menghilang.
Melihat pria yang memakai masker itu bersin-bersin, membuat pandangan kedua orang yang menatapnya, berpaling dan kembali ke situasi semula.
'Aman!'
"Jadi apa yang ingin kau katakan tadi?"tanya Ayu.
'Gara-gara pria bermasker itu ungkapan cinta gue jadi tertunda. Sekarang bagaimana caranya agar gue bisa menyatakan cinta ke Super Hero, ya?'
"Ah, ini ... jadi ..."
Hatchuu! Hatchuu! Hatchuu!
'Kok gue merasa orang bermasker itu ingin mengagalkan ucapan gue, ya. Apa hanya perasaan gue saja? Mana gue sudah gugup sejak tadi lagi.'
__ADS_1
Arya sengaja bersin, sejujurnya ia belum siap mendengar pernyataan cinta dari lelaki itu pada wanita yang ia cintai.
"Hei, hello! Apa kau baik-baik saja?" Ayu melambaikan tangannya di depan wajah Bayu.
Bayu pun tersadar dari lamunannya. "Ya, gue baik-baik saja kok."
"Oke, kalau gitu lanjutkan ucapanmu tadi."
"Apa loe siap mendengarnya?"tanya Bayu.
"Siap."
Bayu pun mengambil posisi berdiri di depan Ayu. Dengan keberanian penuh Bayu meraih kedua tangan Ayu dan mengengamnya dengan kedua tangannya. Matanya menatap lekat bola mata yang sedang menatapnya tanpa berkedip itu.
Ayu yang merasa tak sopan pun berdiri juga dari duduknya, kini mereka berdua saling hadap-hadapan, membuat pria yang memakai masker melototkan matanya. Cemburu? Tentu saja, ia ingin sekali menarik Ayu dan mengatakan bahwa ia mencintai Ayu namun dia juga sadar diri, rasa penasarannya pun semakin membuncah, Arya hanya dapat bersabar walau hatinya bagai di cabik-cabik benda tajam.
Arya tahu betul lelaki yang mengengam tangan Ayu itu ingin mengungkapkan cintanya pada Ayu, namun dia juga harus dapat menahannya, karena ingin mendengar jawaban Ayu pada pria itu. Jika Ayu mencintai pria itu, ia akan merelakan Ayu dan melepasnya demi kebahagiaan Ayu dan tidak akan memaksa Ayu tuk menerima cintanya.
'Sabar Arya, ini belum saatnya.'
"Ayu! Saat itu loe di mataku bagaikan Super Hero, Loe berhasil menarik hati gue. Dan pada saat itu juga, gue sudah jatuh cinta pada loe, gue harap loe bisa nerima cinta tulus gue yang gue berikan ke loe. Apalagi ibu gue juga menyukai loe." Akhirnya Bayu berhasil menggungkapkan isi hatinya pada wanita yang menolongnya tempo hari.
Bayu masih menatap lekat manik mata wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu, hanya untuk meminta jawaban yang ia harapkan.
Arya yang melihat pemandangan itu pun menjadi tidak karuan, debaran jantungnya kini berdetak sangatlah kencang, ia juga penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Ayu nanti.
Ayu masih belum melepaskan genggaman tangan Bayu pada tangannya, ia sudah tahu akhirnya akan seperti ini dan dia tidak akan menghindar lagi.
Ayu tersenyum. "Aku juga menyukaimu dan bahkan sangat -sangat menyukaimu,"ucap Ayu singkat.
Bayu tersenyum senang menatap Ayu yang ada di depannya, sedang Arya kecewa mendengar jawaban Ayu barusan, dunianya seakan runtuh, hatinya patah seperti kerupuk yang sedang di remuk hingga hancur berkeping-keping.
'Kini ucapan Azka terbukti, aku sudah benar-benar kehilangannya. Dan kenapa rasa sakitnya dua kali lipat lebih besar dari pengkhianatan yang Aulia lakukan padaku dulu.'
Arya meremas dadanya yang sesak, dia tak sanggup lagi berada di tempat itu. Dia sudah cukup mendengar jawaban Ayu, dan itu sudah cukup membuktikan bahwa Ayu tidak memiliki rasa apapun padanya. Padahal Arya berharap Ayu menolak pria itu, tapi nyatanya malah sebaliknya.
Arya beranjak pergi dari tempat itu jelas terlihat bahwa dirinya sedang patah hati. Dia berjalan gontai meninggalkan kedua orang yang masih berhadap-hadapan. Bayu sempat melihatnya pergi namun tak terlalu memusingkan kepergian Arya barusan.
Bersambung❣
__ADS_1