
Di dalam mobil yang di kemudikan oleh Arya terjadi keheningan panjang di sepanjang jalan yang menyelimuti keduanya.
"Om!"panggil Ayu membuka percakapan.
"Hmm?"tanya Arya dengan deheman yang singkat.
"Om, beneran bisa masak?" Ayu mengingat apa yang dikatakan Sonya sehingga menanyakan langsung pada orang-nya.
"Ya."
Apaan tu, jawabnya singkat doang. Aku harus membahas soal apa, ya? Agar percakapan ini menjadi panjang dan kita tidak merasa canggung lagi. Batin Ayu.
"Apa Om tidak bisa lihat tadi, kalau pak Dokter itu menyukai Sonya."
Ayu tidak tahu harus membahas apa jadi dia memutuskan untuk membahas tentang Sonya dan Darren, siapa tahu bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan Sonya nanti, jika dia terus-terusan mengodanya.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas, namun Sonya masih terlalu dini untuk pacaran apalagi menikah,"terang Arya serius.
"Usia bukanlah alasan untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius, Om. Kalau mereka saling mencintai, Om juga tidak boleh terlalu menekan Sonya dong, biar bagaimana pun juga dia sudah dewasa,"jelas Ayu.
"Aku tidak menekannya,"ungkap Arya.
"Apa Om takut Sonya disakiti oleh orang yang dia percaya seperti Om di masa lalu?"tanya Ayu ingin mendengar jelas penjelasan Arya.
"Bisa dikatakan seperti itu." Jawaban Arya yang singkat membuat Ayu tidak merasa puas.
"Om-om, takdir hidup seseorang itu berbeda. Mungkin di masa lalu Om yang mengalami sakit hati, namun belum tentu Sonya juga akan merasakan hal yang sama, kan? Aku rasa pak Dokter itu orangnya tulus kok,"jelas Ayu.
"Dia memang tulus, namun bagaimana dengan para wanita yang ada disekitarnya?"tanya Arya khawatir.
"Ya ampun Om ... apa yang harus dikhawatirkan? Aku mungkin belum perpengalaman dalam hal mencintai mau pun di cintai ya, Om. Tapi, aku tahu betul laki-laki mana yang baik untuk di miliki."
"Aku, Azka dan Darren sudah sahabatan sejak lama dan kami sudah bagaikan saudara kandung,"ungkap Arya.
"Nah, pasti Om sudah tahu betul dengan sifat keduanya, kan?"tanya Ayu.
"Ya."
"Terus menurut Om, pak Dokter itu orangnya bagaimana?"
"Anaknya baik dan ceria, itu yang membuat wanita selalu nyaman bersama dia. Aku sebagai Kakak cukup takut jika Darren tergoda dengan wanita-wanita itu dan Sonya yang menjadi imbasnya,"jelas Arya.
"Halah, Om terlalu berfikiran sempit, sih! Om harus ambil contoh dari kak Azka. Apa pernah kak Azka mencari wanita lain setelah memiliki kak Amel seutuhnya? Tidak, kan?" Ayu mencoba untuk menyakinkan Arya. Sedang Arya hanya diam saja.
"Maka dari itu Om, tolong percayalah pada pak Dokter. Berilah dia lowongan untuk mengejar Sonya. Aku yakin Sonya bisa bahagia bersama pak Dokter kok," Ayu menyakinkan Arya lagi.
Anak kecil ini kenapa dia menceramahiku? Batin Arya.
__ADS_1
"Lupakanlah! Kamu belum berpengalaman tapi bicaramu itu seperti seseorang yang sudah ahli saja."
"Hahaha, ini mah kebanyakan nonton sinetron, Om."
"Dasar." Arya mengacak-acak rambut sebahu milik Ayu.
"Om, senang sekali mengacak-acak rambutku, ya?"tanya Ayu kesal dan segera menepis tangan Arya dari kepala-nya.
Arya melukiskan sedikit senyum di bibirnya. "Rambutmu halus dan lembut ...." Ucapan Arya terhenti.
Aku suka. Arya melanjutkan ucapannya di dalam hati.
"Huh, tapi tetap saja Om membuat rambutku berantakan." Ayu segera merapikan kembali rambutnya.
"Jangan terlalu mengomel!"
"Siapa suruh, Om selalu membuatku kesal,"ucap Ayu mengerucutkan bibirnya.
"Haha, lucu." Arya sedikit tertawa melihat tingkah Ayu.
"Huh."
Mobil Arya berhenti di sebuah supermarket besar di kota H. Mereka berdua masuk dan mencari kebutuhan yang diperlukan untuk memasak. Ayu kesal karena Arya menyuruhnya mengambil bahan-bahan dapur hingga mendorong troli sendirian sedang Arya hanya menunjuk dan berpangku tangan tidak melakukan apa pun.
"Om, setidaknya bantuin aku kek,"pinta Ayu kesal.
"Jadi hanya segitu saja kemampuanmu? Bukankah aku sudah bilang kalau mau ikut ke sini itu harus berguna?"tanya Arya santai.
"Di lihat dari postur tubuhmu ini, tidak mirip dengan seorang wanita. Sudahlah, jangan cenggeng dan ikuti saja perintahku! Keperluan kita masih banyak. Ayo, masih banyak bahan yang harus di masukan ke dalam troli!" Arya perlahan-lahan berjalan ke depan dan melihat-lihat.
"Iya-iya. Mana lagi yang harus di ambil?"tanya Ayu. Ayu terpaksa mendorong troli dan mengekori Arya dari belakang.
"Yang itu sama yang itu." Tunjuk Arya pada sayur-sayuran.
"Di sebelah sana juga,"ucapnya kemudian.
"Yang ini?"tanya Ayu.
"Iya. Terus yang di sebelahnya lagi,"perintah Arya.
"Nah, sekarang di sini." Arya menujuk tomat yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Itu 'kan dekat dengan Om, jadi Om saja yang ambil, ya?"pinta Ayu sedikit memelas.
"Harus kamu, tidak boleh manja."
"Baiklah." Ayu mengalah saja karena banyak CCTV di supermarket yang sedang memantau pergerakan mereka, bisa bahaya kalau Ayu meledak.
__ADS_1
Seru juga, ngerjain ni bocah. Batin Arya tersenyum tipis.
Setelah semuanya telah terkumpul barulah Arya membayar semuanya di kasir.
Huff ... Ayu membuang nafasnya dengan kasar.
Lumayan capek. Hm, Es Batu ini pasti sedang mengerjaiku, kalau begitu, lari keluar ah biar dia tahu rasa. Batin Ayu.
Ayu sengaja meninggalkan Arya sendiri di dalam, karena dia ingin membalas perbuatan Arya padanya dan kini giliran Arya yang menenteng semua tas belanjaan. Ayu sudah kabur ke mobil duluan dan sedang menyenderkan tubuhnya di depan mobil sambil berpangku kaki, mirip bos-bos besar.
"Haha, emang enak ditinggalin,"gumam Ayu pelan. Ayu memerhatikan seorang pria yang baru saja keluar dari supermarket menenteng banyak tas di pergelangan tangannya.
Syukurin emang enak. Haha. Batin Ayu senang, melihat Arya kewalahan membawa tas belanjaan.
Wajah Arya kesal menatap Ayu yang sedari tadi mengulum senyum di bibirnya.
Dia pasti senang menertawakanku. Batin Arya memerhatikan Ayu.
"Ayo, bantuin!"ucap Arya kemudian.
"Nggak mau. Urus saja sendiri Om,"ucap Ayu masa bodoh, melipat tangan di dadanya.
Bocah ini tidak pernah mau mengalah. Batin Arya.
Dengan terpaksa walau pun sulit sekali pun Arya segera memasukan barang bawaannya ke dalam bagasi mobil. Sedang Ayu cekikikan melihat Arya menderita.
Mereka secepatnya meninggalkan supermarket dan pulang ke Apartemen, nanti sampai di sana barulah Ayu membantu Arya membawa barang belanjaan ke dalam serta memasukan dan menyusun dengan rapi bahan makanan ke dalam kulkas.
Setelah semuanya beres barulah mereka ke kamar yang di tempati oleh Azka.
Tok! Tok! Tok!
Amel yang berada di dalam ruangan segera membuka pintu, ketika mereka masuk ke kamar ternyata Azka belum sadar juga dari pingsannya. Sedang anak-anak sudah tertidur pulas, hanya Amel saja yang masih terjaga.
"Di mana Sonya dan pak Dokter, Kak?"tanya Ayu.
"Sonya di kamar tamu. Kalau pak Dokter udah pulang barusan, katanya mau mandi dulu baru ke sini lagi, untuk makan malam bersama."
"Modus."
"Om, itu malah bagus. Rupanya dokter itu tekadnya sangat kuat untuk meluluhkan hati sang pujaan,"ucap Ayu bangga.
"Kalian sudah membeli semua bahan-bahan untuk masak?"tanya Amel.
"Tenang saja, Kak. Yang memerintahku itu sangatlah ahli dalam memilih segala hal,"ucap Ayu menyindir Arya.
"Iya benar Nona, dan ada seorang gadis yang suka melihat penderitaan orang lain lagi." Arya juga ikut menyindir Ayu.
__ADS_1
Amel tidak mengerti apa yang mereka katakan, namun Amel dapat memahami sedikit bahwa mungkin telah terjadi sesuatu antara keduanya.
Bersambung❣