Father Of My Children

Father Of My Children
131. Rumah Sakit.


__ADS_3

Arya melajukan kendaraannya dengan tergesa-gesa, walau Darren sudah memperingatinya untuk berhati-hati, namun dirinya tak menghiraukan ucapan Darren dan semakin melajukan kecepatan mobilnya.


Arya benar-benar mengkhawatirkan Azka yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Bagaimana dia tak khawatir, kalau dia sendiri yang paling banyak tahu tentang kondisi Azka.


'Kuharap kau baik-baik saja, Az.'


Di lokasi kejadian, beberapa kendaraan yang sedang berlalu lalang, ada yang berhenti untuk melihat kecelakaan, ada juga yang sama sekali tidak peduli dengan kejadian itu.


Di tengah-tengah hujan yang begitu deras, para pengendara kendaraan beroda dua atau beroda empat yang turun menggunakan payung hanya melihat dan tidak ada keinginan untuk membantu, hingga membuat salah satu pengendara motor yang kebetulan lewat segera berhenti dan segera menghampiri mobil Azka.


"Halo, apa kau mendengar saya? " ucap pengendara ojek itu, mencoba melihat Azka di balik kaca jendela mobil yang begitu gelap, namun Azka tidak menyahutinya dari dalam mobil.


Mobil yang dikendarai oleh Arya sudah sampai di lokasi kejadian, ia memakirkan mobilnya ke sembarang tempat lalu segera turun menghampiri kerumunan orang yang sedang mengerumuni jalanan tempat kejadian.


"Minggir!" ucap Arya. Ucapannya memang terkesan kasar bagi yang mendengarnya namun dia tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya sedang mengkhawatirkan seeorang saja.


"Permisi!" ucap Darren.


Mereka berdua berhasil menerobos kerumunan itu. Lalu menghampiri mobil Azka yang masih berada di sana. Terlihat ada seorang lelaki parubaya memakai jas hujan sedang berdiri di sana.


"Permisi Pak. Biar kami saja," pinta Darren.


Arya meminjam helm pada pengendara motor itu, dan segera memecahkan kaca jendela mobil Azka. Setelah itu barulah ia membuka pintu mobil dari dalam.


"Azka!" teriak Arya panik. "Ayo bantu aku Darren," titah Arya.


"Baik."


Keduanya berhasil mengeluarkan Azka dari mobilnya. Kemudian mereka membopongnya dan membawanya ke mobil mereka.


Banyak orang disitu yang melihat kecelakaan tunggal itu, sebagian dari mereka mengenali Azka namun sebagiannya lagi sama sekali tidak mengenalinya.


Untung saja Arya dan Darren cepat ke sana. Jika tidak, sudah pasti media akan meliput kejadian itu, apalagi Azka seorang pria yang paling berpengaruh di kota H.


Kini Darren yang mengambil posisi kemudi. Sedang Arya segera menghubunggi orang-orang kepercayaan mereka, untuk segera mengurus kejadian naas itu. Dari menutup mulut orang-orang serta mengurus sisa-sisa kerusakan lainnya.


Tidak memakan waktu lama mereka telah sampai di Rumah Sakit terbesar milik keluarga Abraham tempat Darren bekerja.

__ADS_1


"Dokter!! Siapkan brankar!! Cepat!!!" teriak Arya lantang.


Dokter yang mendengar itu pun, tergopoh-gopoh menyuruh suster agar segera menyiapkan brankar dan membawanya ke arah Arya dan Darren yang sudah membopong tubuh lemah Azka.


Setelah brankarnya datang, barulah mereka ikut membantu membaringkan Azka ke brankar itu. Azka di bawah ke ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD).


Darren segera ke ruangannya untuk memgambil segala peralatan medis yang diperlukan. Lalu kemudian segera menemui Azka di salah satu ruangan VVIP yang ada di rumah sakit besar tersebut.


Di dalam ruangan sudah ada Arya dan seorang suster di sana. Darren menyuruh Arya keluar sebentar supaya ia bisa lebih leluasa memeriksa kondisi Azka.


"Kamu keluar dulu sebentar!" pinta Darren.


"Oke." Tanpa banyak berdebat Arya segera beranjak dan keluar dari ruangan itu.


Darren selaku dokter pribadi Azka, menatap sendu ke arah lelaki yang sedang terbaring lemah di depannya.


'Apa yang sebenarnya terjadi, Az. Kenapa kamu sampai ceroboh seperti ini.'


Darren merasa iba pada Azka, ia tidak mau Azka terus-terusan mengalami keadaan buruk lagi. Itu mengingatkan Darren pada Azka waktu masih kecil. Bahkan dirinya juga merasakan sakit sama seperti apa yang dirasakan oleh Azka. Sejak saat itu dirinya bertekad untuk menjadi dokter hebat yang bisa diandalkan oleh Azka.


Darren segera memakai stetoskop untuk memeriksa irama denyut jantung Azka. Kemudian melihat mata Azka menggunakan senter medis miliknya.


Darren memanggil Arya ke ruangannya agar dia lebih bebas memberitahu Arya tentang kondisi Azka saat ini.


"Bagaimana, Dar?" tanya Arya harap-harap cemas.


"Ikut aku ke ruanganku," pinta Darren serius.


Tanpa menjawab lagi, Arya mengekori Darren dari belakang. Mereka berjalan dan masuk ke dalam ruangan Darren.


Darren duduk di kursi kebangaannya. Sedang Arya duduk di kursi yang ada di depan Darren.


"Bagaimana kondisi Azka sekarang, Dar?" tanya Arya. Nada cemas terdengar jelas oleh indera pendengaran Darren.


"Tidak terjadi sesuatu yang serius pada kondisi fisiknya. Luka pada pelipisnya tidak mengganggu penglihatan bahkan denyut jantungnya juga normal. Tapi, ...."


"Tapi kenapa? Jangan membuatku tambah khawatir, Dar."

__ADS_1


"Kondisi mentalnya tidak stabil Ar. Bahkan sekarang lebih parah. Kamu sudah tentu tahu dengan trauma masa kecilnya, kan? Apalagi kecelakaannya terjadi pada saat hujan," ungkap Darren.


"Ya. Aku tahu jelas tentang semua itu. Lalu kemungkinan serius yang di alaminya pasca kecelakaan ini, bagaimana?" tanya Arya.


"Trauma psikologisnya membuat dirinya sulit mengendalikan diri saat berkendara. Hingga membuat dirinya mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan," jelas Darren.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Dar?" tanya Arya.


Darren menghirup nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.


"Mungkin untuk saat ini dia belum bisa bangun, Ar. Entah kapan baru dirinya bisa sadar. Jika ia mampu melewati kenangan buruknya di masa lalu maka dirinya akan segera sadar. Dan jika dalam tiga hari ke depan dia belum siuman juga, maka dia akan mengalami koma panjang. Semua serahkan pada Tuhan, dan usaha dari Azka sendiri saja," terang Darren panjang lebar.


"Jika dia sadar apa masih bisa mencari cara agar dirinya bisa sembuh?" tanya Arya.


Walau dirinya tahu Azka mengalami trauma masa kecil, tapi sejauh ini, dirinya baru melihat penyakit Azka separah sekarang. Makanya di saat hujan, dirinya selalu menyetir untuk Azka untuk berjaga-jaga dari kemungkinan besar yang akan terjadi.


"Bisa. Tapi, kamu juga tahu betapa keras kepalanya Azka. Dia pasti tidak mau berobat. Baginya berobat hanya membuang-buang waktunya. saja," terang Darren, yang sudah tahu jelas dengan sifat Azka.


"Lalu bagaimana agar kita bisa membujuknya?" tanya Arya binggung. Fikirannya buntuh.


"Aku ada ide. Namun aku yakin kau pasti tidak menyetujuinya," ungkap Darren setelah beberapa menit berfikir.


"Apapun itu. Akan aku lakukan demi kesembuhan Azka, Dar."


"Bagaimana kalau kita memberitahukan kondisi Azka pada Kakak Ipar? Sekalian kita meminta bantuannya agar membujuk Azka pergi berobat," ucap Darren memberi saran.


"Cukup sulit. Tapi, aku akan mencobanya," ucap Arya yakin.


'Ini demi kesembuhanmu Az. Aku akan menceritakan semuanya pada Amel. Maafkan aku jika aku melanggar janjiku padamu.'


"Ya. Mungkin itu jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan," ucap Darren.


"Baiklah. Aku mengerti."


"Oh iya. Jangan lupa kau kabari Kakak Ipar dan yang lainnya dulu, agar mereka tidak cemas. Nih, gunakan ponselku," ucap Darren. Ia menyodorkan ponselnya pada Arya.


Arya mengambil ponsel itu. "Hm," jawab Arya dengan deheman singkat.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2