
Keesokan harinya.
Hari ini Azka ingin memperkenalkan Amel pada ayahnya. Mereka sudah membahas masalah ini semalam. Kini mereka tengah bersiap-siap untuk pergi ke kediaman Abraham. Anak-anak dititipkan pada Ayu di Apartemen sedang Arya seperti biasa menghandle pekerjaan di kantor.
Azka sengaja tidak membawa keempat anaknya. Dia takut masalah baru terjadi lagi, demi menghindari sesuatu yang buruk terjadi akhirnya dia putuskan untuk meninggalkan anak-anaknya di Apartemennya.
Daniel sudah bersiap-siap, Azka sudah menghubunginya lewat telepon semalam bahwa dia akan datang berkunjung hari ini bersama calon istrinya.
Azka dan Amel kini sudah berada di kediaman Abraham. Mereka baru saja keluar dari mobil. Setelah turun barulah perlahan-lahan Azka menuntun Amel masuk ke dalam. Amel dengan langkah kaki yang berat mau tak mau harus tetap berjalan.
Kedatangan mereka sudah di sambut hangat oleh Daniel, namun beda dengan Laksmi wajahnya di tekuk, ketika Amel melihatnya barulah dia pura-pura tersenyum.
"Selamat siang! Om, Tante"sapa Amel pada kedua orang yang duduk di sofa.
Azka langsung duduk tanpa memberi salam, Amel pun memberi isyarat padanya bahwa yang dia lakukan itu tidak sopan pada orang tua.
Amel kemudian menyalami Daniel, Daniel menerimanya dan tersenyum lembut. Selanjutnya menyalami tangan Laksmi, tapi laksmi memberi tatapan jijik. Ketika Amel melihatnya, dia secepat kilat merubah ekspresi wajahnya, semua itu tak luput dari pandangan mata Azka.
'Rubah tua ini masih berpura-pura lugu. Cukup ayahku saja yang kau bodohi.'batin Azka tak suka.
"Silahkan duduk, Nak!"ucap Daniel.
"Terima kasih, Om."
'Aura wanita ini sangat baik, mirip sekali dengan almarhum istriku. Orangnya pasti berjiwa lembut dan penuh kasih sayang. Azka tidak salah dalam memilih pasangan. Dengan begini aku bisa tenang, jika sesuatu yang buruk menimpahku nanti,'batin Daniel.
"Jadi ini wanita pilihanmu?"tanya Daniel serius.
"Ya. Dia wanita pilihan saya waktu itu." Azka mencoba mengingatkan Daniel pada acara ulang tahun.
"Hallo Om, perkenalkan nama saya Amel,"ucap Amel tersenyum ramah.
"Jangan panggil Om! Panggil Ayah saja,"pinta Daniel.
"I--Iya, A--Ayah!"gugup Amel.
"Kapan kalian akan menikah?"tanya Daniel.
"Secepatnya itu lebih baik,"sahut Azka.
"Bagaimana kalau dalam waktu sebulan?"ucap Daniel memberi saran.
__ADS_1
"Baiklah. Saya harap, Anda dapat menepati janji Anda."
"Kamu tenang saja, ayah pasti akan mempersiapkan semuanya. Kamu dan juga Amel hanya perlu hadir saja di sana sebagai mempelai." Daniel tersenyum menatap keduanya bergantian. Sedang Laksmi yang mendengar itu hatinya hancur berkeping-keping.
'Aku masih punya rencana cadangan. Jangan salahkan aku Mas, jika rencanaku kali ini dapat merenggut nyawa,'batin Laksmi. Rencananya sudah gagal berkali-kali dan kali ini dia ingin melakukan cara yang kejam.
"Ya. Untuk cincin dan pakaian pengantinnya, Anda tidak perlu mempersiapkannya. Aku yang akan menggurus semua itu nanti,"ucap Azka.
"Baik, terserah kamu saja. Yang penting acaranya berjalan dengan lancar."
"Jika semua sudah beres, maka saya dan juga Amel, akan segera pamit. Ada hal yang harus urus."
Azka berdiri dari duduk, menggulurkan tangan pada Amel. "Ayo!"pinta Azka.
"M--Maaf Om, Tante. Kami pamit dulu, ya?"pamit Amel tidak menghiraukan uluran tangan Azka. Amel tidak enak hati atas perlakuan Azka pada orang tuanya.
"Iya Nak. Hati-hati di jalan!" Daniel hanya tersenyum, baginya perlakuan Azka sudah biasa ia dapatkan.
Di depan pekarangan rumah.
"Kenapa kamu begitu tidak sopan pada mereka?"tanya Daniel.
"Walau bagaimana pun kau tidak boleh bersikap seperti itu pada ayah dan juga ibumu,"ucap Amel dengan satu tarikan nafas.
"Dia bukan ibuku!"tegas Azka lantang.
"Ibuku sudah meninggal,"ucapnya lagi dengan nada suara yang merendah.
"Maaf." Hanya kata maaf yang dapat dia ucapkan. Amel tidak bermaksud mengorek luka lama Azka. Azka tidak menjawab dan masuk ke dalam mobil.
'Apa dia marah? Aku juga yang sudah keterlaluan,'batin Amel. Amel kemudian menyusul Azka masuk ke dalam.
Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Amel tersadar dari lamunannya, dia melihat Azka menyetir ke arah berlawanan bukan arah pulang ke Apartemen.
"Kita mau kemana?"tanya Amel.
"Nanti kau akan tahu,"ucap Azka singkat. Amel hanya diam saja.
Setelah memakan waktu 25 menit, Azka memberhentikan mobilnya di sisi jalan. Tanah yang luas terbentang indah di depan. Mereka turun dari mobil, Azka menuntun Amel menuju tempat penjualan bunga.
Selesai membeli bunga barulah Azka dan Amel berjalan menelusuri tanah luas di depan. Tanah yang mereka pijak saat ini terdapat gundukan-gundukan tanah yang tertata dengan rapi nan indah, serta ada pula gundukan yang sudah diberi keramik agar nampak cantik dan megah.
__ADS_1
Walaupun terbilang indah dan cantik bahkan megah sekali pun, namun tempat inilah berupa tempat peristirahatan terakhir orang-orang tercinta yang sudah meninggalkan kenangan pada orang yang ada di dekat mereka. Tempat yang mengandung kesedihan, tempat perpisahan yang paling nyata. Inilah tempat yang menjadi saksi orang tersayang pergi takan kembali lagi, yakni pemakaman.
Yah, Azka membawa Amel ke pemakaman umum di kota H. Dia ingin memperkenalkan Amel pada ibunya yang telah pergi.
Amel juga dapat mengerti bahkan setelah turun dari mobil tadi, Amel tak banyak bicara hanya mengikuti jejak langkah kaki Azka saja.
Setelah sampai ke sebuah makam yang agak begitu tua, tapi tetap bersih karena sering di rawat, disitulah Azka bersimpuh menatap nama yang tertera jelas di depannya. Amel juga langsung mengikuti Azka, bersimpuh menatap makam itu. Kemudian Azka menaburkan bunga pada makam ibunya.
"Ibu ... hari ini Azka datang lagi menemui ibu. Namun, kali ini suasananya sangat berbeda dari biasanya, Bu. Hari ini Azka membawa calon menantu ibu kemari. Ibu pasti senang 'kan sekarang. Calon menantu ibu sangatlah baik, dia juga wanita yang lemah lembut sama seperti ibu. Walau, kadang dia sangat kejam padaku, tapi dia sangat penyanyang kok. Intinya Bu, Azka bahagia ... banget bertemu dengannya. Dia pasti bidadari yang ibu kirimkan untuk Azka. Terima kasih, Bu. Azka sangat mencintainya dan juga mencintaimu Bu. Kapan-kapan Azka janji akan membawa cucu-cucu ibu datang ke sini juga, agar ibu dapat melihat mereka."
Amel yang mendengar penuturan Azka hanya diam saja tidak berani membuka suara untuk membantah perkataan Azka yang mengatakan bahwa dia orang yang kejam.
"Ayo perkenalkan dirimu pada ibuku!"pinta Azka.
'Dia tak marah padaku itu sudah cukup membuatku legah.'
"Hallo, Bu. Tidak apa 'kan kalau Amel sekarang memanggil ibu dengan sebutan ibu? Semoga ibu dapat merestui hubunganku dengan anakmu yang datar dan dingin ini. Dia sangat kejam sampai tidak ada orang yang mau mendekatinya, namun dibalik sifatnya yang kejam itu ternyata dia adalah sesosok orang yang baik. Hatinya sangat hangat untukku dan juga anak-anak kami. Semoga ibu bisa tenang jika melihatnya bahagia. Tolong restui kami, Bu. Dan terima kasih telah melahirkan anakmu ini. Anakmu adalah anugerah yang tuhan berikan untukku, mewarnai hidupku yang penuh dengan warna hitam putih,"ucap Amel tulus. Azka tidak dapat berkutik, sejujurnya dia ingin membantah, namun dia sadar bahwa Amel sangat menyanyanginya.
Selepas berpamitan pada pusara ibunya, Azka mengandeng tangan Amel lalu berjalan melangkah meninggalkan makam itu.
Azka sudah menempati janjinya untuk mempertemukan Amel pada ayah dan juga ibunya. Terlukis jelas pada wajahnya bahwa dia sangatlah bahagia. Mereka bergandengan tangan sampai ke mobil. Azka mengendai mobilnya dengan lihai.
Masih di perjalanan.
"Aku masih penasaran,"ucap Amel.
"Tentang apa?"tanya Azka.
"Tentang ayahmu. Kenapa dia tidak menayaiku tentang anak? Apa dia tidak tahu kalau aku memiliki anak denganmu?"tanya Amel, dia ingin bertanya pada Azka tentang ini sebelum datang ke pemakaman, namun dia mengurungkan niatnya karena berfikir Azka marah padanya.
"Kurasa dia tidak tahu. Yang diketahui olehnya pasti hanya kamu memiliki anak saja. Dia tidak tahu kalau itu anakku juga,"jelas Azka.
'Karena sudah pasti rubah betina itu yang memberitahukan tentangmu padanya. Tapi, baguslah dia tidak mengetahui bahwa anak itu adalah anakku.'
"Sudahlah, kamu jangan memikirkan soal itu."
"Iya. Aku tidak akan memikirkannya,"ucap Amel.
"Itu baru benar."
Bersambung❣
__ADS_1