
Bayu pun perlahan-lahan berlalu pergi ke seberang jalan menghampiri motornya yang ia parkir di sana. Kemudian menaikinya dan berlalu pergi ke alamat penumpang yang sedang menunggu kedatangannya.
"Motornya sudah tidak kelihatan. Terus kenapa kalian masih ada di sini? Apa kalian tidak mau masuk membeli pakaian?"tanya Arya.
Arya sengaja mengucapkan kata-kata itu karena pandangan matanya tertuju pada Ayu yang masih menatap jalanan.
"Kakak kenapa sih? Sedari tadi tingkah kakak aneh deh. Kalau Kakak tidak ingin membeli baju, sebaiknya Kakak pulang saja sana!"ucap Sonya ketus.
"Ayo masuk!"
Arya tidak menghiraukan perkataan Sonya. Dia pun berlalu dan masuk ke dalam butik seorang diri, sedang ketiganya masih terpaku di tempat.
"Omnya kenapa?"tanya Ayu heran dengan tingkah Arya yang terbilang jarang ia lihat.
"Tidak tahu, Kak. Aneh!" Sonya pura-pura tak tahu.
"Mungkin cemburu!" Timpal Darren.
"Cemburu? Cemburu kenapa?"tanya Ayu binggung.
'Apa dia benar-benar tidak peka?'batin Darren.
"Sebaiknya kita masuk dulu, jangan sampai seekor beruang di dalam mengamuk karena lama menunggu!"
Darren segera melerai pembicaraan mereka. Darren takut kalau ia menjelaskannya kepada Ayu, bukan selesai malah makin panjang ceritanya.
"Oh oke, ayo kita masuk!"
Mereka bertiga pun masuk ke dalam butik menyusul Arya. Arya yang tengah duduk di kursi yang ada di dalam pun sontak berdiri di kala tiga orang yang ia tunggu masuk juga.
"Kenapa kalian lama sekali, sih? kalian bertiga bukan siput, kan?"tanya Arya dengan mimik wajah yang masih kesal.
Sejak duduk pelayan sudah ingin menemuinya namun mereka tak berani mendekati Arya, wajah Arya saat itu terlihat sangat tidak bersahabat. Arya sedang memikirkan dirinya, ia juga binggung kenapa dia bersikap aneh akhir-akhir ini. Dirinya yang datar seketika menjadi sensitif apalagi menyangkut soal Ayu.
"Yaelah Ar, biasa juga kale, sensi amat sama kita,"ucap Darren menatap Arya.
"Ya sudah, kalian cepet cari pakaian yang kalian inginkan!"
__ADS_1
"Emang kamu mau bayar?"tanya Darren.
"Tidak."
"Terus?"
Ayu tidak mau berlama-lama di sana dia juga tak terlalu menghiraukan Arya. Ayu kemudian menepuk pundak Sonya pelan.
"Son, kita beli gaun yang cukup sederhana namun terkesan elegan, ya." Ayu tersenyum, matanya sudah tertuju pada gaun yang ia lihat sedari tadi.
"Iya, Kak. Yang penting gaun kita sama,Kak."
Sonya tampak senang, baru kali ini ia berbelanja dengan seorang Kakak perempuan. Bahkan sampai berencana memakai baju yang sama, itu di luar dari apa yang Sonya fikirkan. Andai saja keinginannya terwujud, andai saja Ayu dan Arya bersatu, sudah pasti orang yang pertama kali bahagia adalah Sonya.
'Ternyata inilah rasanya berbelanja dengan seorang kakak perempuan, seru rasanya. Aku juga tak menyangka kami akan memakai baju yang sama,'batin Sonya tersenyum.
"Jangan melamun! Ayo kita ke sana dulu, Son." Tunjuk Ayu pada arah gaun-gaun yang sudah tertata rapi.
"Lalu, bagaimana den--"
"Sudahlah, tidak usah pedulikan mereka, biarkan saja mereka begitu, ntar juga mereka bakalan pergi ke tempat pakaian yang mereka perlukan. Jika tidak, biarkan saja mereka bertengkar kek emak-emak,"ucap Ayu yang sudah tahu maksud dari perkataan Sonya.
Pembicaraan Darren dan Arya yang tadinya pendek malah semakin panjang bahkan kepergian Ayu dan Sonya tak di sadari oleh mereka.
Sesampainya di tempat gaun, mereka memilih dan memilah gaun-gaun yang ada di sana, harganya lumayan mahal, namun tabungan milik Ayu masih cukup untuk membeli salah satu gaun itu.
Ayu baru pertama kali membeli gaun dan juga membelinya di Toko mahal seperti ini, biasanya juga, dia dan Amel kalau ingin membeli baju ya tentunya pergi ke pasar, di sana juga bajunya bagus-bagus. Mata Ayu tak henti-hentinya melihat ke arah gaun yang sudah ia lihat sedari tadi.
"Aku binggung, Kak. Semua gaunnya bagus-bagus dan sangat cantik di pandang mata." Sonya benar-benar sulit memilih.
"Bagaimana kalau, yang itu?" Tunjuk Ayu pada gaun yang sudah membuat ia jatuh hati.
Ayu sudah menentukan gaun apa yang akan mereka kenakkan ke acara nikahan Amel nanti. Ayu menjatuhkan pilihan gaun berwarna abu-abu yang terbilang cukup sederhana yang sudah ia lirik.
Sonya juga setuju dengan baju pilihan Ayu itu. Setelah meminta pelayan memberikan baju yang sama dengan ukuran yang berbeda, mereka berdua pun pergi ke kasir untuk membayar gaunnya. Pesanan keduanya sedang di bungkus oleh pelayan, tiba-tiba Arya dan Darren datang entah dari mana.
"Kalian dari mana saja?"tanya Sonya ketika melihat kakaknya dan juga kekasihnya datang.
__ADS_1
"Kami juga beli pakaian dan sekarang kami sedang menunggu baju kami di bungkus. Oh, iya, nanti baju kalian biar aku yang bayar saja,''ucap Darren tersenyum.
"Pak Dokter tidak perlu repot-repot. Anda bayar punya Sonya saja, biar saya yang membayar punya saya sendiri." Tolak Ayu halus. Ayu benar-benar ingin membeli gaun itu dengan hasil keringatnya sendiri.
"Tidak apa-apa, biar saya saja. Ini juga bentuk terima kasih saya pada Anda." Darren tetap ngotot memaksa Ayu.
"Tidak perlu Pak, biar saya saja yang membayarnya sendiri." Ayu tetap saja menolak.
"Saya saja, ya." Darren juga tidak mau kalah, dia bermaksud mengucapkan terima kasih pada Ayu, karena berkat Ayu, dia dan Sonya sudah bersatu. Darren mengetahuinya dari Sonya, kekasih hatinya itu sudah menceritakan semuanya padanya.
'Sok jadi pahlawan,'batin Arya jenggah.
Indera pendengarannya sudah panas sedari tadi. Dia merasa muak dengan sifat Darren yang terkesan memaksa.
"Tidak usah, saya juga tidak ingin merepotkan Pak Dokter." Masih tetap sama, Ayu masih saja menolak bantuan Darren.
"Tidak merepotkan sama se--" ucapan Darren terpotong.
"Biar aku saja yang membayar punya dia. Aku takut kalian mengatakan bahwa aku orang yang pelit." Arya segera melerai pembicaraan antara Ayu dan Darren. Seketika semuanya melihat ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian!" Bentak Arya dingin.
Pelayan telah selesai membungkus pesanan mereka, kemudian Arya mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikan pada pelayan penjaga kasir yang ada di situ.
"Sekalian bayar dengan punya dia! Dan biarkan yang satunya lagi di bayar oleh lelaki itu."
"Baik Pak."
Setelah melakukan tugasnya sebagai seorang kasir, dia pun mengembalikan kartu kredit milik Arya. Kemudian melayani Darren. Darren dan Sonya masih bertanya-tanya dalam hati, atas perubahan sikap pada diri Arya. Biasanya Arya tidak terlalu mempedulikan siapa pun, lantas kenapa sekarang malah berbeda. Arya yag mereka lihat hari ini bagaikan orang lain.
Sesudah menyelesaikan pembayaran, mereka semua pun kembali ke tempat parkir. setelah semua sudah masuk ke dalam mobil, barulah Darren melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan.
"Apa yang terjadi?"tanya Arya. Darren pun perlahan-lahan sedikit melajukan mobilnya.
Keheningan kini menyelimuti semuanya, mereka tenggelam dalam fikiran mereka masing-masing. Arya benar-benar binggung dengan dirinya sendiri. Ayu memikirkan bahwa dia akan menganti uang Arya, sedangkan Sonya dan Darren selalu sehati, mereka berdua memikirkan tentang sikap Arya pada Ayu dan mereka sangat senang akan hal itu.
__ADS_1
Bersambung❣