
Kembali ke saat ini. Arya duduk dengan nyaman di samping Darren yang sedang menatap lurus ke depan. Sedang kedua perempuan di belakang hanya duduk manis dan tentunya hanya diam saja.
'Mumpung kak Arya juga ikut, sebaiknya aku memancingnya, ah,'batin Sonya.
"Oh iya Kak Ayu. Kapan Kakak narik ojek lagi? Pasti pria itu sedang mencari-cari Kakak sekarang."
Sonya sengaja membesarkan volume suaranya agar Arya juga mendengar apa yang dia ucapkan.
'Pria? Pria yang mana? Selama ini aku tak pernah mendengar dan bahkan melihat seorang pria dekat sama dia. Benar juga, aku 'kan tidak terlalu akrab dengannya bagaimana aku tahu dia sedang dekat dengan siapa,' batin Arya mencuri dengar.
Arya semakin menajamkan pendengarannya bersiap mendengar apa yang akan Ayu ucapkan nanti.
"Ya ampun Sonya, mana mungkin dia mencari Kakak. Kakak 'kan sudah bilang padamu, kalau kami sering bertukar kabar. Semalam aja dia mengirim pesan pada Kakak dan kami chattingan hingga larut malam,"terang Ayu.
"Oh gitu ya kak. Pantes aja semalam kakak ketawa-ketiwi di kamar sendiri. Kukira ada apa, eh ternyata lagi chattan sama pria ramah itu ya!"
"Iya Son. Biasa ... dia lagi nyuruh Kakak cariin cewek untuknya, mau diajak serius katanya,"jelas Ayu.
'Apa? Masa dia tidak tahu pria itu sedang menargetkan siapa. Gayanya aja tomboy tapi kenapa tidak bisa menilai perkataan yang sudah basi seperti itu,'batin Arya kesal.
Darren melirik Arya di sampingnya, dia melihat Arya sedang menahan kesal di sana, entah apa yang Arya fikirkan saat ini.
'Kenapa dia kesal? Apa dia termakan dengan ucapan Ayu di belakang?'batin Darren menebak.
"Wahhh sayang banget, ya Kak. Kalau aku belum ada yang memiliki, aku juga pasti mau kok, sama pria ramah seperti teman Kakak itu. Siapa juga yang bakal menolak kalau cowoknya suka tersenyum, baik dan ramah kepada semua orang dan salah satunya seperti kak Darren."
Sonya tidak mau melukai Darren dengan perkataannya makanya di akhir kalimat dia juga ikut memuji Darren calon suaminya, agar Darren merasa senang dan bahagia.
Sebenarnya ketika Sonya memuji pria lain, Darren ingin sekali membantah Sonya namun tidak jadi karena Sonya juga memujinya dan itu membuat bunga yang ada di dalam hatinya kembali bermekaran.
Senyum mengembang terlukis indah di bibir Darren, apalagi dia tahu Sonya juga sengaja menyinggung Arya yang datar bak batu yang tak punya ekspresi.
"Apa yang kamu katakan benar Son. Siapa juga yang akan menolak pria baik seperti dia. Tapi, dia 'kan tidak suka sama Kakak, jadi untuk apa Kakak harus menjalin hubungan sebelah pihak bersamanya, yang ada Kakak juga yang bakal kenah imbasnya."
Ayu tahu maksud dari perkataan Sonya. Dia tahu jika Sonya ingin melihatnya bersama dengan pria yang baik. Ayu juga tahu Sonya sengaja menyinggung Arya yang tiap hari memperlihatkan tatapan dingin dan datar saja.
'Apa dia bodoh atau gimana, sih? Pria itu jelas-jelas menyukainya, tapi kenapa dia tidak sadar. Apa dia sengaja atau memang benar kalau dia gadis yang bodoh?'batin Arya makin kesal, bahkan tangannya sudah terkepal.
Arya tak habis fikir dengan jalan fikiran Ayu, selain memikirkan itu Arya tak memikirkan arti dari perkataan Sonya yang tengah menyindirnya.
'Sudah cukup segitu saja dulu,'batin Sonya tersenyum.
__ADS_1
"Terus sekarang bagaimana, Kak? Apa kakak masih chattan sama dia?"tanya Sonya lagi mulutnya tidak bisa ia kontrol.
'Kok aku malah keterusan, ya? Maafkan aku kakak, aku hanya ingin melihat reaksimu pada kak Ayu saja. Aku juga pengen tahu apa di dalam hatimu ada sedikit rasa suka pada kak Ayu atau tidak,'batin Sonya.
"Biasanya jam segini dia lagi narik ojek. Jadi, dia tak ada waktu untuk bertukar pesan dengan Kakak,"terang Ayu.
"Kakak belum jawab pertanyaanku, loh."
"Tentang narik ojek?"tanya Ayu mengingat kembali pertanyaan Sonya yang ia lewatkan. Sonya hanya mengangguk saja.
"Kakak suka banget narik ojek, tapi kalau sekarang mana mungkin bisa narik lagi. Masih sibuk juga, mungkin narik ojeknya kakak pending dulu, tak tahu sampai kapan. Tapi, jika ada waktu ya, kakak narik lagi."
"Oh gitu."
"Iya. Kapan-kapan mau nggak Kakak ajak jalan-jalan naik ojek?"tanya Ayu antusias.
"Mau mau mau! Pasti seru,"ucap Sonya girang.
"Pokoknya seru banget. Kamu dapat menikmati pemandangan indah. Nanti Kakak tunjukkan padamu tempat yang pernah Kakak kunjunggi, ya?"
Ayu tidak sabar ingin menunjukkan tempat-tempat indah yang pernah ia singgahi pada Sonya. Rasanya kebahagiaannya juga harus di bagi bersama Sonya.
"Sebaiknya kau berdiam diri di rumah saja. Dia masih belum terlalu mahir menyetir kendaraan beroda dua."
Arya menyuruh Sonya untuk tidak mengikuti Ayu, dia bahkan secara terang-terangan menyindir Ayu.
"Oh iya. Di luar pemandangannya memang sangatlah indah tapi banyak polusinya, jadi sama saja masih baik naik mobil saja,"pungkas Arya.
'Ada apa dengannya? Kenapa dia sensi amat sama Ayu? Aku jadi curiga!' Batin Darren yang masih memusatkan tatapannya ke depan namun telinganya tentu saja menangkap apa yang Arya ucapkan barusan.
"Enak saja. Waktu itu karena aku kesal padamu, Om. Makanya aku sengaja ngebut-ngebut tak jelas. Apa Om tidak penggap duduk di dalam mobil terus?"
Ayu tak terima dibilang belum mahir menyetir kendaraan roda dua, ia merasa harga dirinya sedang dicabik-cabik oleh Arya. Dia yang sudah bertahun-tahun mengendarai kendaraan beroda dua, bahkan sudah di katakan sebagai master tentu tak terima begitu saja jika dirinya di remehkan oleh orang lain.
"Tetap saja kau belum mahir." Arya hanya merespon sedikit ucapan Ayu padanya.
"Apa Om mau mencobanya sekali lagi?"tanya Ayu serius.
"Tidak! Bisa-bisa kali ini kau ingin mencelakaiku. Dan membuatku terkapar tak berdaya,"ucap Arya datar.
'Kenapa dia jadi lebay gitu, ya? Terkapar tak berdaya? Sejak kapan dia belajar kata-kata begituan,'batin Darren tak percaya.
__ADS_1
"Terserah Om saja deh. Lain kali aku tak akan membantu loh Om."
'Bantu apaan? Kau malah menyusahkanku waktu itu. Apa itu yang kau katakan membantuku?'batin Arya mengingat kembali kenangan buruk bersama Ayu dan motor butut milik Ayu.
"Emang siapa yang meminta bantuan padamu?"tanya Arya acuh tak acuh.
"Hehe, aku yang nawarin sih, Om." Ayu terkekeh mengingat kalau dia juga menikmati perbuatannya itu.
"Baguslah kalau kau sadar diri,"tegas Arya.
"Tapi 'kan aku sudah minta maaf, Om."
"Iya bawel,"ucap Arya singkat.
'Om, bikin gemas aja,'batin Ayu.
Darren terus mengendarai mobilnya membela jalan perkotaan. Mereka semua menjadi diam hingga sampai ke tempat tujuan yang mereka tuju.
Setelah mobil Darren di parkir.
"Kita sudah sampai, ayo turun!"pinta Darren.
"Akhirnya sampai juga,"ucap Sonya legah.
"Ayo, Kak kita turun!"sambungnya lagi.
"Hmm." Ayu hanya berdehem kecil.
Mereka semua kemudian turun dari mobil. Padangan mata semuanya tertuju pada salah satu butik mewah di kota H.
"Nah, inilah butik langganan ibuku. Kata beliau pakaian yang ada di sini semuanya bagus, pelayanannya juga memuaskan."
"Wah ... tempatnya memang sangatlah mewah." Puji Sonya.
'Seumur hidup, baru kali ini aku menginjakkan kaki ke tempat semewah ini,'batin Ayu menatap takjub bangunan megah itu.
Seseorang dari seberang jalan sudah memantau pergerakan mereka, matanya tertuju pada seorang wanita yang ia kenal, dia hanya memastikan apa penglihatannya benar atau salah. Ketika semuanya sudah jelas, dia pun segera berjalan menghampiri wanita itu dan teman-temannya. Setelah dekat di tempat parkir.
"Super hero!"
Bersambung❣
__ADS_1