Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 124


__ADS_3

Mobil Arya kini sudah terparkir indah di tempat yang telah tersedia di sana. Sebelum Arya turun dari mobilnya, ia menyuruh Ayu agar tetap berada di dalam.


Setelah Arya turun, ia memutari mobilnya dan membuka pintu untuk Ayu.


Turun dari mobil. "Aku bisa keluar sendiri, Om." ucap Ayu.


"Kan biar terlihat romantis," terang Arya tersenyum.


"Hehehe, yaudah makasih ya, Om." Ayu terkekeh melihat tingkah manis Arya.


"Sama-sama," ucap Arya.


"Ayo!" sambungnya lagi. Arya mengulurkan tangannya meminta Ayu untuk meraihnya. Dengan senang hati Ayu pun meraih dan mengenggam erat tangan pria yang ia cintai.


Mereka berdua tidak menyadari bahwa sejak tadi sudah ada yang mengintai keberadaan mereka.


Udara masih tetap sejuk walau sang raja siang telah memancarkan sinar indah yang begitu terik, hingga membuat air laut berkilauan begitu cantik di sana.


Sepanjang jalan bibir pantai terdapat gerombolan orang-orang yang sedang menikmati pemandangan pantai di sana. Ada juga yang sedang duduk di di tempat duduk yang telah di siapkan. Sepasang muda-mudi sedang berfoto, tertawa bercanda ria.


Arya dan Ayu menyusuri sepanjang bibir pantai sambil bergandengan tangan menikmati angin yang bertiup mengelitik kulit keduanya.


"Pantai di sini sangat cantik, Om," ucap Ayu sedikit mengeraskan suaranya.


Menatap wanita tomboy di sisi kanannya. "Ya, sangat cantik," ungkap Arya menyunggingkan sedikit senyumannya.


Ayu juga menatap ke arah pria yang berada di sisinya. "Aku bilang pantainya. Kenapa Om malah menatapku seperti itu?" tanya Ayu. Ia merapikan rambutnya sebahunya yang tertiup oleh angin.


"Ya iya, pantainya sangat cantik tapi, yang lebih cantiknya lagi, adalah orang yang sedang berada di sampingku," terang Arya tersenyum cerah.


"Ternyata Om bisa gombal juga," ucap Ayu terkekeh pelan. Kalau boleh jujur, melihat Arya yang sekarang membuat jantung Ayu berdetak tidak karuan. Arya yang di kenalnya dingin, kini telah menghangat dan bahkan dapat menghangatkan hatinya yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun.


"Terserah kamu mau menganggapnya sebagai gombalan atau apa. Yang jelas di mataku, kamu sangatlah cantik."


"Om, aduh aku malu tahu." Ayu melepas gengaman tangannya dan menggunakan kedua tangannya tuk menutupi wajahnya yang sudah bersemu merah.


Arya hanya tersenyum, Ayu pun melepaskan tangannya dan langsung mencubit kulit perut Arya dengan sekuat tenaga.


"Aauuu! Sakit!" ringis Arya. Ayu malah tertawa dan berlari menjauhi Arya.


"Bleee." Ayu menjulurkan lidahnya keluar, mengejek Arya yang sedang memegang area bekas cubitan Ayu.


"Awas kamu, ya!" ancam Arya. Ia pun juga berlari mengejar Ayu.


"Ayo Om tangkap aku. Hahaha." Ayu lari sambil tertawa.


"Jika kamu tertangkap olehku jangan harap aku akan melepaskanmu!" ancam Arya. Arya merasa gemas dengan tingkah wanita tomboy yang sedang berlari menjauhinya.


"Ayo, siapa takut!" tantang Ayu. Ia pun berlari sekuat tenaga agar Arya tidak dapat mengejarnya.

__ADS_1


"Oke. Aku terima tantanganmu!" teriak Arya.


Arya mempercepat gerakan kakinya untuk mengejar Ayu. Namun Ayu tidak kalah gesit dengan Arya, dia hampir saja di tangkap namun dia berhasil meloloskan diri, hingga membuat Arya sedikit kewalahan. Tiba-tiba terlintas ide dalam benaknya.


Arya tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke pasir. "Auu! Aarrggt ... sakit! Sakit!" Arya merintih, meringis kesakitan. Arya sedikit mengangkat kaki sebelah kananya dan melihat kakinya seolah-olah ia telah menginjak sesuatu yang tajam.


Ayu yang asik tertawa tiba-tiba tawanya tertahan dikala mendengar Arya meringis di belakangnya. Ayu pun berbalik dan melihat apa yang telah terjadi. Arya masih berpura-pura menahan sakit, Ayu berlari bergegas menghampiri Arya dengan mimik wajah yang terlihat panik.


"Kaki Om kenapa? Hah? Di mana yang sakit?" tanya Ayu khawatir. Ia pun berlutut dan ingin melihat lebih jelas apa yang telah terjadi pada kaki Arya.


"Auu! Jangan di pegang!" Arya masih berpura-pura kesakitan. Padahal tidak ada luka pada kakinya.


"Apa Om keseleo?" tanya Ayu panik.


"Tidak tahu. Tiba-tiba aku terjatuh karena kakiku sakit."


"Ya ampun Om. Terus bagaimana dong? Ini pasti gara-gara Om ngejar aku, ya?"


"Hm ... tidak juga. Intinya ... intinya adalah ... kenah kamu!" Arya refleks memegang pergelangan tangan Ayu.


"Apa Om membohongiku?"


"Ya. Selamat Anda kenah prank!" jelas Arya dengan tawa menjengkelkan.


"Om ...!" pekik Ayu tak terima dirinya dibohongi.


"Hahaha, maaf. Siapa suruh kamu larinya cepat sekali," terang Arya. Mengerucutkan bibirnya.


"Walaupun saat ini wajahmu jutek. Tapi, tetap saja kamu selalu terlihat cantik di mataku."


"Ah, gombal."


"Hahaha. Udah ya lari-larinya," pinta Arya.


"Iya. Soalnya Om curang."


"Itu bukan tentang kecurangan tapi memang karena aku begitu cerdas," ucap Arya bangga.


"Iya deh, iya." Ayu memilih mengalah saja.


"Kita duduk di sana, yuk!" ajak Arya.


"Yuk."


Mereka berdua bangkit dan berjalan ke arah pohon kelapa yang ada di area bibir pantai. Kemudian Arya duduk di bawah pohon itu untuk berteduh. Arya menyelonjorkan kakinya ke depan.


Arya juga meminta Ayu agar menemaninya duduk bersamanya di atas pasir putih itu. Ayu pun langsung duduk di samping Arya, tangan Arya merangkul tubuh Ayu agar bersandar pada dada bidang miliknya. Ayu tentu saja tidak menolak, malah ia sangat senang mendapat perlakukan seperti itu dari Arya.


Mata mereka terus menatap ke depan, menikmati pemandangan laut yang terbentang luas.

__ADS_1


"Om." Ayu membuka pembicaraan.


Arya memenjamkan matanya. "Hm?" singkat Arya, dengan deheman kecil.


"Apa Om bahagia?" tanya Ayu.


"Ya. Kenapa?" Arya membuka mata perlahan, lalu melirik Ayu sekilas.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja." Ayu memeluk Arya dan mengeratkan pelukannya.


"Apa kamu juga bahagia?" Kini Arya balik bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Iya Om. Aku sangat-sangat bahagia." ungkap Ayu antusias bahkan terlihat jelas binar kejujuran di matanya.


"Baguslah." Arya merasa legah, karena mendapatkan pasangan yang juga mencintainya.


"Hm, terus bagaimana dengan nama panggilan sayang kita Om? Apa Om sudah memikirkannya?" tanya Ayu. Ia mendongak menatap Arya.


"Ya. Apa kamu akan setuju?" tanya Arya tanpa melihat ke bawah.


"Tentu saja, Om." Ayu tersenyum, tangannya terangkat, mengelus wajah mulus Arya.


"Baiklah. Ini panggilan sayang yang akan aku rekomendasikan padamu. Aku akan memanggilmu dengan sebutan Honey sedang kamu bisa memanggilku dengan sebutan Bee. Bagaimana?" tanya Arya meminta jawaban pasti dari Ayu.


"Apapun itu, aku tetap suka. Aku setuju O ... Bee." Ayu masih belum terbiasa memanggil Arya dengan panggilan baru untuk mereka.


Arya menatap ke bawah. "Hahaha. Lebih di perbiasakan lagi Honey." Lalu sedikit menoel hidung mancung milik Ayu.


"Iya Bee." Ayu tersenyum lembut menatap manik mata pria yang juga sedang menatapnya.


"Apa aku boleh menciummu di sini, Honey?" tanya Arya serius.


"Hah? T--tapi, di sini 'kan banyak orang."


"Aku hanya bertanya padamu, apa boleh?"


"Au ah."


Ayu segera melepaskan pelukkannya, ia hendak berdiri, namun tanganya di cekal dan di tarik oleh Arya hingga Ayu terjatuh ke dalam pelukkannya. Arya tidak melewatkan kesempatan itu, dan langsung menyambar bibir munggil Ayu dengan rakus.


Deru nafas disertai angin laut menambah keromantisan dua sejoli yang sedang memadu kasih asmara. Tanpa menghiraukan pengungjung lain yang sedang menatap ke arah mereka dengan malu-malu.


Untuk yang kesekian kalinya bibir keduanya menyatu dan menyatu. Mereka tengah menikmati sensasi dari pertukaran zat pekat dari mulut antar keduanya.


Arya terus melancarkan aksi lidahnya yang masih menari-nari dalam rongga mulut milik Ayu. Arya menyapu bersih gigi rapi itu, mencicipi dan menelusuri mencari kenikmatan dari penyatuan benda kenyal itu.


Setelah puas barulah Arya melepas pagutannya. Serta mengusap bibir Ayu yang masih ada bekas saliva miliknya. Keduanya saling pandang dan tersenyum, sedetik kemudian keduanya tenggelam dalam pelukkan hangat.


Dari kejahuan orang suruhan Aulia sudah melihat semuanya bahkan mereka juga sudah memotret dan sedikit merekam apa yang mereka lihat. Mereka pun segera mengirim foto dan video itu pada Aulia.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2