
Azka dan anak-anak duduk di sofa sementara Amel duduk di kursi samping ranjang. Amel menggengam tangan Bara dengan erat,menciumnya dan tidak henti-hentinya berdoa agar Bara cepat siuman.
Darren menemani Sonya sampai ke Restoran dekat rumah sakit, rencananya Sonya ingin membeli air minum saja, namun Darren memberi saran agar beli juga makanan untuk Bara dan yang lainnya. Nanti semua makanan yang di pesan oleh Sonya, Darren yang akan membayarnya. Itu salah satu alasan agar dia lebih banyak waktu dan lebih dekat dengan Sonya.
Tidak lupa Sonya mengirimi pesan singkat pada Amel agar Amel tidak khawatir jika Amel tidak melihatnya di depan ruangan.
Ponsel milik Amel berbunyi pertanda ada pesan masuk dari seseorang. Amel segera membuka pesan yang ada pada ponselnya, pesan singkat itu dari Sonya.
[ Kak, aku di Restoran dekat rumah sakit bersama Kak Darren. Kami mau beli makanan dan juga minuman. Kakak mau pesan apa?]
Oh, ternyata Sonya pergi ke Restoran bersama Darren. Lalu, Ayu sama pak Arya kemana? Tidak mungkin 'kan mereka juga pergi bersama. Batin Amel.
Beberapa menit yang lalu Amel keluar menghampiri mereka di depan pintu ruangan, namun mereka semua tidak terlihat di sana.
[Makanan seperti biasa dan juga minumnya air mineral saja.] Balasan pesan dari Amel untuk Sonya.
[Oke, Kak. Selamat menunggu😁] Balas Sonya.
"Ada-ada saja,"lirih Amel tersenyum membaca pesan Sonya.
"Pesan dari siapa?" Azka yang sudah memperhatikan Amel sedari tadi langsung bertanya.
"Oh, ini pesan dari Sonya. Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Dasar posesif! Amel tertawa dalam hati.
Tidak lama kemudian tangan Bara bergerak, matanya yang berat dibukanya pelan-pelan hingga Bara dapat melihat wajah Amel dengan jelas di depannya.
"Mama!"lirih Bara pelan tapi Amel dapat mendengarnya.
"B--Bara! Di mana yang sakit?"tanya Amel.
"Idak da Mama. Bala atut tetali, telnata Om ampan idak ohong. Bala tenang bita liat Mama agi,"ucap Bara tersenyum manis ke arah ibunya.
"Jangan banyak bicara dulu, sayang! Lihatlah kakak dan adikmu juga ada di sini."
"Raka! Rasti! Bunga! Sini Nak, Bara sudah sadar!"
"Holee, Tak Bala tuda adar! Unga enang tetali,"ucap Bunga senang.
Amel mengendong mereka untuk naik ke ranjang besar rumah sakit, dia dibantu oleh Azka, kini mereka semua telah berkumpul. Bara tampak binggung kenapa ada orang dewasa yang mirip sekali dengan kakaknya.
"Wadah Om milip Tak Laka,"ucap Bara.
"Tu Papa tita, Tak Bala,"ungkap Rasti.
__ADS_1
"Papa?"tanya Bara heran.
"Iya sayang, dia Papa kamu." Amel ikut menimpali.
"Alah Mama. Tu Papa tami temua." Raka tidak terima kalau Amel mengatakan bahwa Azka hanya ayahnya Bara.
"Maksud Mama juga begitu sayang." Amel tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala Raka.
"Benelan, Ma?"tanya Bara tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Iya."
"Bala bita tium Papa?"tanya Bara pada Azka.
"Bisa, ayo sini Papa cium!"ucap Azka. Azka mendekatkan dirinya pada Bara, Bara langsung mencium pipi ayahnya, setelah itu barulah dia memeluknya.
"Papa ampan tetali. Bala tenang Papa da di tini. Papa danang tindaltan tami agi, ya?"pinta Bara setelah melepas pelukannya.
"Papa tidak akan meninggalkan kalian semua lagi." Azka mengusap pipi tembem Bara dengan lembut.
"Hole! Bala enang tetali."
"Coba cerita sama Papa dan Mama. Apa yang terjadi sama Bara? Kenapa sampai Bara bisa diculik?"tanya Azka, semua mata tertuju pada Bara. Mereka juga ingin mendengar penjelasan Bara.
"Api Mama tama Papa alus anji, dak leh malain Bala,"ucap Bara sedikit takut karena dia sudah membuat kesalahan lagi.
"Dadi bedini, Bala botan aing di lumah telus. Dadi Bala liat intu tebuta, Bala mbil bola an aing di uar lumah, telus da Ante ahat atang, tata Ante au bawa Bala te Mama. Dadi Bala itut Ante tu,api telnata Ante tu ohongin Bala,"jelas Bara.
"Apa Tante itu menyakiti Bara?"tanya Amel.
"Ante tu mala Bala alena Bala nanis telus. Tiapa ulu Ante tu ohong!"terang Bala kesal.
"Jadi, Tante itu tidak mencubit dan memukul Bara?"tanya Amel, Amel takut jika mereka melakukan sesuatu pada putranya.
"Idak Mama. Ante tu mala Bala an antam Bala aja. Bala atut an tematin menanis. Telus ada Ante ain agi,"ungkap Bara mengingat kembali kejadian di hutan bambu.
"Tante lain? Jadi ada dua Tante?"tanya Amel membuat Bara mengangguk.
Untung saja mereka tidak menyakitinya jika tidak apa yang harus aku lakukan. Tapi, siapa wanita lain yang dimaksud oleh Bara?
"Kalian tenang saja. Semua masalah ini serahkan saja pada Papa, ya? Sekarang Bara isrirahat dulu."
Dari penjelasan Bara, tidak mungkin Yuni melakukan itu sendiri. Pasti ini menyangkut dengan campur tangan dari Kirana. Awas saja jika kau benar-benar terbukti ada kaitan dengan penculikan putraku. Hidupmu tidak akan aman! Azka menyeringai.
"Idak au Papa. Bala lapal, Bala engen matan loti an etlim ang anyak,"ucap Bara. Bara membayangkan saat ini dia memakan roti dan es krim, hingga air liurnya pun ingin meleleh.
"Rotinya nanti Mama pesan pada tante Sonya ya, sayang? Kalau es krimnya nanti saja,"ucap Amel.
__ADS_1
"Idak au Mama. Bala engen etlim tetalang."
"Kondisi Bara sekarang tidak sehat. Nanti kalau Bara sudah sembuh, Papa akan belikan es krim yang banyak untuk Bara. Sekalian kalau Bara mau Papa akan belikan juga dengan tokonya. Biar Bara puas makan es krimnya." Azka mencoba membujuk Bara. Ucapannya itu mendapat cubitan keras dari Amel.
"Auu! Kenapa?" Azka sedikit meringis.
"Jangan terlalu memanjakan anak-anak!"bisik Amel.
"Anak-anakku berhak dimanjakan olehku." Azka balik berbisik.
"Huh. Orang kaya mah bebas,"lirih Amel pelan. Azka hanya tersenyum melihat ekspesi wajah Amel yang nampak sedikit kesal.
"Anya tak Bala ja ang i beikan etlim?"tanya Rasti.
"Tentunya dengan kalian juga, Papa akan belikan kalian semua es krim yang banyak. Tapi, tunggu Bara sembuh dulu. Mengerti?"
"Ngelti Papa."
"Mama pesan roti dulu sama Tante, ya?"
"Iya, Mama."
Sonya yang masih berada di Restoran mendapat pesan dari Amel. Amel memintanya untuk dibelikan roti.
"Untung saja kita masih di sini,"ucap Sonya. Mereka masih di area parkiran.
"Emang kenapa, Anya?"tanya Darren.
"Ini, kakak kirim pesan. Katanya, belikan roti juga,"terang Sonya.
"Baiklah. Kamu masukan semua makanan ke bagasi, biar Kak Darren yang masuk kembali membeli roti."
"Oke. Sini bawaannya,Kak,"ucap Sonya.
Darren menyodorkan kresek berisi makanan dan minuman pada Sonya. Sonya mengambilnya lalu segera memasukkan ke dalam bagasi, sedang Darren pergi membeli roti. Setelah semuanya beres barulahu mereka berdua kembali ke rumah sakit.
Di depan ruangan VVIP. No.106.
"Eh, Kak Ayu sama Kak Arya mana?" Sonya celingak-celinguk mencari keberadaan kakaknya.
"Entahlah. Ayo masuk dulu! berat nih."ucap Darren kewalahan. Darren membawa semua makanan dan tidak membiarkan Sonya untuk membawanya.
Salah sendiri, dibantuin malah nggak mau.
"Iya, Kak. Sabar!"
Sonya mengetuk pintu, setelah mendengar seruan dari dalam barulah mereka masuk ke dalam ruangan tempat Bara di rawat.
__ADS_1
Bersambung❣