
Azka dan Amel berjalan sambil bergandengan tangan menghampiri anak-anak mereka. Azka tertawa melihat tingkah bocah-bocah kecil itu yang tidurnya berantakan, salah satu kaki anaknya mengenai wajah saudaranya sendiri dan yang lainnya hanya bisa menikmati tidurnya dengan nyenyak.
"Apa setiap malam, tidur mereka seperti itu?"tanya Azka.
"Iya. Kadang-kadang juga sampai jatuh ke lantai. Jadi aku sengaja tidak membeli ranjang dan hanya memakai kasur saja di rumahku." Amel tersenyum.
"Kamu memang ibu yang baik. Aku tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku. Aku janji setelah masalah Bara kelar akan kuperkenalkan kamu pada ayah dan juga ibuku. Aku ingin segera meminangmu agar kelak jika aku ingin melahapmu, tidak akan tertunda lagi seperti yang tadi."
Amel refleks memukul dada bidang milik Azka dengan sekuat tenaga.
Bugh!
"Auu! Sakit sayang!" Azka meringis manja.
"Anak kita sudah empat, loh!"ucap Amel penuh penekanan.
"Memangnya apa salahnya? Bukankah banyak anak itu lebih baik,"terang Azka.
"Aku bukan barang penghasil anak untukmu."
"Sayang ... aku tidak menggangapmu seperti itu. Lagian yang aku mau juga harus meminta persetujuan darimu. Aku tidak akan memaksamu, kok."
"Aku baru sadar ternyata kamu sangat posesif dan manja,"ungkap Amel.
"Ini semua karena kamu. Aku posesif dan manja juga untukmu, bukan untuk orang lain, kan?" Azka mengedipkan sebelah matanya.
"Intinya kalau sudah menikah nanti, kita jangan membuat anak lagi. Titik!"
"Mana bisa begitu sayang. Lelaki normal tidak akan sanggup menahannya apalagi bersama dengan orang yang ia cintai."
'Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu padaku? Apa dia tidak sadar kalau aku sangat malu.'batin Amel.
"Berapa umurmu sekarang?"tanya Amel.
"Lah, kok malah bahas umur?"
'Apa hubungan perkataanku dengan umurku?'batin Azka binggung sendiri.
"Berapa?"tanya Amel lagi.
"30-an ke atas. Emang kenapa?"tanya Azka.
"Tuh, 'kan. Kamu sudah terlalu tua untuk membuat anak lagi. Empat anak saja cukup. Oke?"
'Enak saja, jangan meremehkan kemampuanku dalam hal itu!'batin Azka.
"Jadi kamu ragu dengan kemampuan dan kebugaranku? Bagaimana kalau kita coba sekarang? Di kamar lain tentunya!" Azka semakin gencar menggoda Amel.
__ADS_1
Amel bergidik ngeri. "Ternyata selain posesif dan manja, kamu juga orangnya mesumm,"ucap Amel menyilangkan tangan di dada.
"Semua itu kulakukan hanya untuk dirimu seorang sayang ..."
'Lihatlah wajahmu itu sudah bagaikan kepiting rebus saja. Kelinci kecilku selalu saja lucu dan mengemaskan.'batin Azka.
Ia sangat senang menggoda Amel dan sangat-sangat menikmati respon balik dari Amel.
"Baiklah, ayo kita tidur sekarang!"pinta Amel.
'Aku goda ia sekali lagi, ah. Lumayan menonton gratis mimik wajahnya yang sudah bersemu merah.'
"Maksud kamu tidur sambil mandi penuh keringat?"tanya Azka serius. Dalam hatinya ingin tertawa.
'Apa dia sudah gila? Padahal aku menghentikannya karena ada anak-anak di sini dan tentunya kita belum menikah juga. Aku tidak mau melakukan lagi seperti yang dulu tanpa adanya ikatan.'batin Amel.
Menatap tajam ke arah Azka. "Mau kupukul lagi?"tanya Amel kemudian.
'Kelinci kecilku marah namun tidak dapat menutupi pipi tembemnya yang sudah bersemu merah. Hari ini cukup sampai di sini saja, waktu kami masih panjang untuk ke depannya. Amel, aku tidak akan menyentuhmu jika kamu tidak menginginkannya dan jika kamu yang memintaku untuk itu, maka aku tidak akan mengampunimu walau kau meminta ampun padaku,'batin Azka penuh tekad.
Tertawa kecil. "Maaf sayang. Ayo kita tidur!"
"Hmmm." Amel hanya berdehem kecil saja.
Sebelum mereka tidur, Amel di bantu oleh Azka untuk membetulkan posisi tidur anak mereka, setelah itu barulah Amel dan Azka berbaring di kedua sisi ranjang agar anak-anak tidak jatuh ke bawah, yang lumayan tinggi dari kasur.
Azka ingin menutup mata tapi tidak bisa, dia bergerak kesana-kemari untuk mencari posisi yang baik agar bisa terlelap.
"Maaf."
'Apa dia susah tidur, ya?'batin Amel.
"Siniin tanganmu!"titah Amel.
Mengertkan alis. "Untuk apa?"tanya Azka heran.
"Cepatlah!."
Azka yang posisi berbaring terlentang merubah posisinya menghadap anak-anak yang berada di tengah antara dia dan Amel.
Azka mengulurkan sebelah tangannya pada Amel yang berada di sisi ranjang. Amel pun juga melakukan hal yang sama. Posisi keduanya seperti memeluk para malaikat kecil mereka.
Amel memegang tangan Azka dengan lembut. "Tidurlah! Tenangkan fikiran dan hatimu! Bayangkan hal-hal yang membuatmu bahagia,"lirih Amel mengelus pelan punggung tangan Azka, mencoba untuk menguatkannya.
Azka hanya mengangguk saja, dia kemudian memusatkan fikirannya pada masa depannya bersama Amel dan para buah hati kecil mereka. Perlahan-lahan, untuk sementara waktu ingatan tentang masa lalunya dilupakan begitu saja.
Azka mulai mengantuk, dia merasa aman dan nyaman sekarang. Hanya dengan hitungan detik saja Azka sudah tertidur pulas. Dengkuran halusnya terdengar indah di indera pendengaran Amel.
__ADS_1
'Syukurlah, jika ia sudah tertidur. Kuharap malam ini tidurmu nyenyak,'batin Amel. Amel menutup matanya dan kemudian ikut terlelap.
Keesokan harinya.
Amel terbangun pukul dini hari, mengambil ponsel dan melihat pukul berapa sekarang.
"Sudah pukul 05:00,"lirih Amel pelan. Dilihatnya Azka dan juga anak-anaknya masih terlelap.
Dia segera bangkit dan berlalu ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menggosok gigi. Karena di sini bukan rumahnya ia terpaksa memakai sikat gigi milik Azka. Setelah itu barulah Amel menghampiri mereka di tempat tidur.
Amel menciumi putra dan putrinya secara bergantian lalu meletakkan guling di sisi ranjang yang ia tempati semalam, kemudian berjalan memutari ranjang menghampiri Azka yang masih menutup mata.
'Dia masih sama seperti tiga tahun lalu, tampan dingin namun masih tetap berwibawa. Tidak! Kesanku sekarang padanya sudah berubah, dia adalah pria yang hangat, namun ada sesuatu hal yang membuatnya menjadi seperti sekarang,"batin Amel.
Amel mendekatkan wajahnya ke wajah Azka dan mengecup lembut kening Azka. Azka melenguh pelan, ia sedikit membuka mata, belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
'Apa dia bangun?'batin Amel menahan nafas.
Amel was-was sedikit takut jika Azka mengetahui apa yang baru saja ia lakukan. Azka tidak jadi bangun dan malah terlelap kembali.
Membuang nafas. ''Hampir saja,''lirih Amel pelan merasa legah.
Amel kemudian melangkah keluar kamar. Dia turun ke lantai bawah, ia celingak-celinguk dan ternyata belum ada orang yang terbangun di jam itu.
"Mungkin mereka semua lelah,"lirih Amel.
Amel berjalan ke arah dapur membuatkan sarapan pagi untuk semuanya.
Dia menggunakan nasi sisa semalam tuk membuatkan nasi goreng dan telur mata sapi. Setelah nasi dan telurnya matang barulah ia mengupas timun sebagai pelengkap dari nasi goreng dan telur mata sapinya.
Amel menyajikan sarapan buatannya di atas meja, tidak lupa membuatkan susu untuk semuanya. Setelah semuanya beres barulah ia naik ke lantai atas.
Amel membangunkan Ayu dan Sonya yang berada di ruangan sebelah kiri dari ruangan Azka.
"Eh, kak Amel. Semalam kakak pasti tidur tak nyenyak, kan?"tanya Ayu ambigu. Amel terpaku sesaat di depan pintu.
'Apa yang terjadi padanya? Pertanyaannya sangat aneh hari ini,'batin Amel heran.
"Kak Ayu, jangan bilang begitu!" Sonya segera membungkam mulut Ayu dengan tangannya. "Hehe. Kak Amel ada keperluan apa kemari?"tanya Sonya lagi.
"Kalian bersiaplah. Kita sarapan bersama."
"Baiklah Kak. Kami bersiap dulu, ya!"
BAM! Suara pintu kamar di tutup dengan kasar.
'Aneh ada apa dengan mereka berdua? Tidak biasanya mereka seperti itu,'batin Amel.
__ADS_1
Amel tidak terlalu memusingkannya dan kembali ke kamar untuk membangunkan anak dan juga ayah dari anak-anaknya.
Bersambung❣