Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 112


__ADS_3

Maaf ya baru update. jaringan di sini mati jadi nggak bisa up semalam. huhuhu aku juga sedih😢. Selamat Membaca❣


...****************...


Sejak awal, secara tak sadar botol air yang masih berada ditangannya, sudah Arya lempar ke sembarang arah.


Arya masih menikmati dan terus menikmati bibir mungil milik yang sedang disesapnya, sesekali ia melepas pagutan untuk mengambil nafas kembali lalu mengulangi ciuman itu lagi.


Arya menekan tengkuk wanita yang ada di depannya tuk memperdalam ciuman panas mereka, tangan Ayu tiba-tiba sudah melingkar indah di leher Arya. Keduanya serasa enggan melepas pagutannya, hingga membuat Ayu benar-benar sudah sulit untuk bernafas, mengikuti permainan Arya dalam rongga mulutnya.


Saat mereka melepas tautan itu, nafas keduanya tersegal-segal. Keduanya saling melempar pandang, wajah keduanya memerah pertanda bahwa keduanya sedang malu-malu kucing.


Arya kemudian mengusap bekas saliva pada bibir mungil milik Ayu, ia pun kembali mengecup kening Ayu pelan, lalu memeluk Ayu dalam dekapan hangatnya.


"Terima kasih, kau telah hadir dalam hidupku,"lirih Arya.


Ayu mengangkat kedua tangan melingkar ke tubuh kekar itu. Ketika mendengar detak jantung Arya yang berdegub sangat cepat membuat Ayu menyunggingkan senyumannya.


Nada detak jantung Arya mengelitik telinganya, rasa bahagianya kini telah menyelimuti separuh jiwa miliknya, Ayu tak pernah membayangkan bahwa Arya juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


'Tubuh Om sangat kekar, udah gitu aroma tubuhnya wangi. Rasanya aku ingin berlama-lama di dada bidang ini.'


"Aku juga berterima kasih, Om." ucap Ayu masih menikmati pelukan hangat itu.


'Oh iya, aku melupakan satu hal.'


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu Om," ucap Ayu.


"Apa itu?"tanya Arya penasaran.


"Eh itu ... apa Om sudah pernah melakukan ciuman seperti yang kita lakukan barusan?" tanya Ayu, ia masih merasa ada yang mengganjal dengan ciuman mereka barusan.


Arya melonggarkan pelukkan dan menatap wajah Ayu, tanpa melepas pelukan mereka.


"Apa kau akan cemburu, jika aku mengakuinya?" tanya Arya dengan tatapan menggodanya.


"Jadi, sudah pernah?" tanya Ayu serius, entah mengapa ia tidak suka dengan jawaban Arya.


"Jawab dulu pertanyaanku." Rasanya Arya ingin sekali tertawa melihat ekspresi wanita tomboy yang ada di depannya.


"Bukan cemburu, tapi akan kuberikan pukulan cinta pada Om. Hehe." Candaan Ayu mengandung Arti yang mengerikan, ia diam-diam kesal pada Arya.


'Kelihatan banget dia ingin menelanku hidup-hidup.'


Arya menggulum senyumannya. "Tidak pernah. Kau orang pertama yang merebut bibir ini," terang Arya enteng. Ia dapat melihat wajah Ayu yang tiba-tiba berubah dari yang tadi.


"Tapi kenapa aku merasa bahwa Om sudah lihai dalam melakukan ciuman barusan, ya?" Ayu masih mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


'Apa yang sedang ia fikirkan? Aku bahkan seperti seorang suami yang sedang kepergok selingkuh sama istrinya."


Selama pacaran dengan Aulia Arya tidak pernah melakukan kontak fisik terkecuali berpelukkan saja, jika dalam hal lainnya Arya benar-benar menghargai perempuan.


Pelajaran Etika yang ia dapatkan dari neneknya membuatnya tidak pernah melakukan hal yang sewenang-wenang terhadap wanita, semua demi nama baik keluarganya. Karena Arya tahu dia juga mempunyai seorang adik perempuan dan itu juga menjadi alasan terbesarnya untuk tetap menjaga wanita.

__ADS_1


Dia sering di ejek kaku oleh Aulia dan Aulia sering memancing dan bahkan memaksanya dalam melakukan hal-hal yang berbau negatif, namun Arya menolaknya dengan tegas.


Aulia sangat berbeda jauh dengan Ayu. Bagi Arya, Ayu adalah seorang wanita langkah yang pernah ia temui. Dandanan Ayu tidak begitu mencolok dan bahkan terkesan santai dan enak di pandang mata. Bahkan Arya tidak bisa menolak pesona yang terpancar dari wajah Ayu.


Rasa ingin memeluk dan mencium Ayu timbul begitu saja dalam benaknya tanpa Ayu harus melakukan pergerakan-pergerakan yang menggodanya.


Gadis tomboy yang ia temui secara tak sengaja itu membuat Arya yakin bahwa dia dan Ayu pasti sudah ditakdirkan oleh Tuhan.


"Hahahaha. Itu karena terlalu terbawa suasana, dan perlu kamu ketahui bahwa aku bisa dalam segala hal. Jadi kamu tidak rugi jika bersamaku,"ucap Arya, terpampan jelas bahwa ia sangat bahagia.


Kini Arya sudah dapat tertawa dan bercanda. Tatapan dingin dan datar di masa lalu sirna begitu saja.


'Aku benar-benar beruntung, kupikir aku sudah didahului oleh wanita rubah itu, tapi ternyata tidak. Setelah melihat tatapan Om barusan sudah tergambar jelas bahwa apa yang ia ucapkan itulah kebenarannya.'


"Senyumanmu manis, Om. Kuharap Om tetap mepertahankannya." Ayu tersenyum begitu manis dan itu tidak terlepas dari pandangan Arya.


Arya mengecup singkat pipi wanita tomboy itu. "Baiklah, akan aku usahakan," ucapnya. Ayu hanya mengangguk saja.


"Malam ini kau mau makan apa?" sambung Arya lagi, setelah pelukkan mereka dilepas.


"Om, yang masak?" tanya Ayu seakan tidak percaya.


"Ya. Karena hari ini adalah hari yang spesial dan sangat berharga buatku."


"Wah ... kata Sonya makanan yang di masak oleh Om sangatlah enak," ucap Ayu antusias. Ia tidak sabar mencicipi masakan Arya.


"Tidak terlalu juga. Masakanku juga sama dengan yang lain. Apa yang ingin kamu makan?" jelas Arya dan kembali bertanya.


"Terserah Om saja, aku menyukai semua makanan, asalkan tidak ada racun di dalam," terang Ayu bercanda, tidak lupa di sertai dengan senyumannya.


Ayu tergelak. "Masuk akal, Om," ucap Ayu setelah tawanya meredah.


"Ya udah sana mandi! Badanmu sejak tadi bau asam!"


"Bau asam? Hm, bau asam tapi Om cinta, kan?" tanya Ayu dengan nada bicara yang begitu menggoda.


'Dia bisa menggoda orang juga.'


"Ehem!" Arya berdehem, salah tingkah. "Maksudku sudah bau aroma lelaki lain," ucapnya mencari alasan.


"Lelaki lain?" Ayu tampak berfikir. "Bukankah, ada seorang lelaki jahat yang sudah mendapat keuntungar sangat besar, dari aroma lelaki lain itu?" Ayu menyindir Arya dan sekuat tenaga menahan tawanya saat melihat wajah Arya di tekuk.


"Sana-sana! Cepat pergi mandi!" Usir Arya.


"Cieee ... ada yang malu-malu kucing nih." Ledek Ayu.


"Udah sana! Atau jangan-jangan kamu mau melakukan ciuman itu sekali lagi?" tanya Arya dengan tatapan menggoda.


"Ampun Om, Ampun. Baiklah aku ke kamar dulu, ya? Ingat jangan merindu!" Membayangkannya saja membuat Ayu malu. Dia memilih menghindar demi keselamatan jantungnya.


"Awas kamu, ya!" Arya mengertak Ayu.


"Huwaa ... kaburrr!! Ada Om galak. Hahaha." Ayu berlari sambil tertawa.

__ADS_1


"Jangan lari-lari! Nanti kamu jatuh!" Teriak Arya, ketika Ayu sudah menjauhinya.


Arya mengelengkan kepalanya. "Bocah itu benar-benar ... ya sudahlah, mending aku mempersiapkan makan malam saja," ucap Arya.


Arya mempersiapkan bahan-bahan yang akan ia olah menjadi makanan istimewa pada malam ini. Sebelum memasak, Arya menghubunggi Azka dahulu. Ia merongoh saku celananya dan mengambil ponselnya di sana.


Azka dan Amel yang masih setia berada di ruang keluarga sedikit terkejut, dengan deringan ponsel milik Azka yang sedang berbunyi.


"Nah, orangnya umur panjang. Baru juga di omongin udah nelpon aja," ucap Azka. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.


"Cepat angkat!" titah Amel. Dengan anggukkan kecil Azka pun menerima panggilan masuk dari Arya.


"Halo, Ar! Ada apa?" tanya Azka.


"Kalian pulang jam berapa? Bukankah sesi pemotretan hanya beberapa jam saja, kenapa kalian begitu lama?" tanya Arya.


"Oh, mungkin kami pulangnya agak malam. Kamu jaga rumah baik-baik saja di situ," ucap Azka.


"Baiklah."


"Kamu tidak marah?" tanya Azka ingin tahu.


"Kenapa aku harus marah?" Bukan menjawab pertanyaan Azka, Arya malah balik bertanya.


"Oh, iya. Darren dan juga Sonya mungkin tidak pulang malam ini." Azka terus memprovokasi Arya, ia tahu pasti sudah terjadi sesuatu pada Arya.


"Baiklah, tidak apa-apa."


'Sudah kuduga, pasti telah terjadi sesuatu padanya. Tidak ada angin tidak ada hujan, Arya tampak berbeda dari biasanya.'


"Apa yang terjadi padamu? Kamu saat ini tampak aneh!"


"Aneh kenapa?" tanya Arya acuh tak acuh.


"Ya aneh!"


"Tidak apa-apa, Sonya sudah besar sudah bisa menjaga diri. Aku percaya pada Darren. Oke, kalau begitu aku tutup teleponnya dulu, ya! Bye!" Arya segera mengakhiri teleponnya.


"Hei! Tunggu du--"


Tut ... tut ...tut ...


Azka melihat layar ponselnya. "Sial! Dia berani juga."


"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Amel penasaran.


"Sudahlah, tidak usah memusingkannya."


"Oh, oke." Amel seketika diam saja walau hatinya bertanya-tanya.


Arya yang baru saja memutuskan sambungan teleponnya tersenyum sumrigah.


"Bagus deh, dengan begitu aku hanya cukup masak sedikit saja. Dan tentunya mereka juga tidak akan tahu tentang keadaanku sekarang," lirih Arya.

__ADS_1


Bersambung ❣


__ADS_2