Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 147


__ADS_3

Aulia segera mengeluarkan benda pipi miliknya dari dalam tas mewahnya. Kemudian mengetik sesuatu di sana.


[ Bersiaplah untuk menyerang. ] Pesan yang Aulia kirimkan telah berhasil di baca oleh si penerima pesan.


[ Kami semua sudah siap Bos. ] Balas orang suruhan Aulia.


[ Baiklah. Silahkan lanjutkan rencana berikutnya. Ingat, targetnya harus wanita sialan itu. ] Balas Aulia.


[ Baik Bos. ]


Aulia tersenyum mengerikan, dirinya secepatnya memanggil ayahnya keluar dari tempat resepsi. Keduanya tidak keluar melalui pintu depan melainkan melalui pintu belakang.


Ayah Aulia juga tidak menaruh curiga pada putri semata wayangnya itu, pasalnya Aulia memasang wajah manja lalu merenggek untuk segera pulang karena sudah merasa lelah. Padahal, semua itu hanya akal-akalannya saja.


Baru saja Darren melanjutkan ke acara selanjutnya. Tapi tiba-tiba suara langkah kaki dari di luar sangat terdengar jelas. Kemudian tidak begitu lama pintu depan aula di tendang kuat dari arah depan, hingga pintu itu terpental mengenai dinding. Para tamu undangan terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


Kedua orang yang sebelumnya berada dibalik pintu guna menjaga pintu, tak tahu entah kemana. Keamanan di sana benar-benar tidak ketat sehingga para preman lebih leluasa masuk ke dalam ruangan besar itu.


Sekitar sepuluh orang pria berbadan kekar memasuki aula, banyak tamu yang histeris ketakutan, music juga telah berhenti dimainkan.


Azka, Arya dan Darren, saling melempar pandang. Rupanya mereka juga sudah tahu masalah ini akan segera terjadi. Sedang Laksmi merasa heran dengan situasi yang sedang terjadi.


'Siapa orang-orang ini?'


Laksmi bertanya-tanya dalam hati, pasalnya dirinya belum menginstruksikan para orang-orang suruhannya, tuk memasuki ruang resepsi itu.


Mendengar kegaduhan serta teriakan histeris dari para tamu undangan. Salah satu preman mengeluarkan pistol dari saku celananya, ia menengadakan pistol ke atas dan segera menembak.


"Diam!!!" hardiknya. Seketika para tamu undangan hanya bisa terdiam dan juga menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Siapa wanita yang bernama Ayu?!" tanya preman itu lagi.


Orang-orang yang ada di sana saling melempar pandang satu sama lain.


'Ayu?'


Deg!


Jantung Arya tiba-tiba berdetak ketika preman itu menyebut nama kekasihnya, dan bukan menyebut nama Azka atau Amel.


'Kenapa preman itu menanyakan nama My Honey? Sebenarnya apa tujuan mereka? Apa mungkin mereka bukan orang-orangnya tante Laksmi?'


Para tamu undangan menjadi resah, ada beberapa wanita yang ada di sana mempunyai nama yang sama seperti Ayu. Ayu sempat mendengar seorang gadis muda menangis karena namanya juga adalah Ayu.


"Aku!!!" teriak Ayu. Ia juga mengangkat tangan ke atas agar preman itu dapat melihat keberadaannya. Ayu tidak mau mengambil terlalu banyak resiko dan melukai orang lain yang tidak bersalah.


'Aku yakin, mereka orang-orang suruhan dari orang yang ingin mencelakaiku tempo hari. Kau terlalu memandang rendah diriku.'


Arya dan yang lainnya menatapnya tak percaya. Bahkan tidak ada raut ketakutan dari wajah Ayu. Amel dan Sonya bahkan tercenggang melihat ekspresi wajah Ayu yang tampak meremehkan. Namun berbeda dengan Bayu, dia terlihat santai saat melihat Ayu begitu.

__ADS_1


"Aku berani menjamin 100% bahwa Ayu bisa mengalahkan semua preman itu, bahkan dengan tangan kosong sekalipun," bisik Bayu pada Naura.


"Benarkah? Pantas saja dulu kamu begitu menyukainya padanya," ucap Naura mengingat cerita Bayu.


"Ya, selain hebat dia juga wanita yang baik. Tapi, kamu tenang saja, aku juga menyukaimu sebab kamu adalah wanita yang tidak mudah menyerah," ucap Bayu.


"Tentunya, tidak mudah menyerah mendapatkan hatiku. Hihihi," sambung Bayu lagi.


Buk!


Naura menepuk punggung Bayu pelan, karena Bayu berhasil membuatnya malu.


"Kenapa kau malah memukulku? Itu 'kan kenyataan." Bayu masih membela diri.


"Sebaiknya kita diam, dan tetap fokus pada apa yang akan dilakukan oleh Super Heromu terhadap orang-orang besar itu," ucap Naura mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah," ucap Bayu mengalah, ia juga sempat terkikik pelan.


Para tamu undangan membuka jalan untuk Ayu. Ayu bahkan menatap ke arah preman-preman itu. Para preman malah tertawa terbahak-bahak ketika melihat wanita bertubuh kurus yang bisa di bilang begitu lemah telah mengaku.


"Hahahahahaha." Tawa mereka terdengar mengerikan di telinga para tamu undangan. Baik tamu pria maupun wanita. Benar-benar tidak bisa diharapkan.


"Cih ... ternyata hanya wanita kurus saja." Ejek salah satu preman itu.


Baru selangkah Ayu maju ke depan, tangannya sudah dicekal oleh Arya. Ayu menoleh pada Arya dan memberi isyarat bahwa dia akan baik-baik saja. Entah mengapa Arya begitu percaya pada Ayu, hingga dia tak berani lagi menahan Ayu.


"Apa kalian semua lihat itu? Mereka baru saja melakukan adegan romantis di depan umum," ucap salah satu preman.


"Sungguh sepasang kekasih yang saling mencintai, namun sayang itu tidak akan lama lagi," ucapnya kembali.


"Hahahaha."


Bahkan tawa menjengkelkan mereka dapat memanas-manasi Ayu. Ayu benar-benar kesal pada preman-preman itu.


"Hei kalian!!! Jangan banyak bacot!!! Kenapa kalian mencariku???" tanya Ayu.


Ayu berjalan perlahan mendekati preman-preman itu. Dia lantas mengambil salah satu kursi dan meletakannya di depan para preman, lalu dia duduk di kursi dengan santai sambil memangku kakinya di sana.


Sonya perlahan-lahan berjalan mendekati Amel. "Kak, ada apa dengan kak Ayu? Kenapa dia malah tidak takut?" bisik Sonya.


"Kakak juga tidak tahu apa yang akan Ayu lakukan di sana. Kita tunggu dan lihat saja dulu," ungkap Amel. Amel juga binggung mengapa Ayu jadi seberani itu.


"Tapi, aku takut kak Ayu kenapa-napa, Kak."


"Tidak apa-apa. Kita harus percaya pada Ayu," ucap Amel. Nyatanya dirinya juga sangat mengkhawatirkan keselamatan Ayu.


Tangan Ayu memberi isyarat pada tamu lain agar sedikit mundur ke belakang. Mereka semua menuruti permintaan Ayu.


Salah satu preman mendekati Ayu, sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya terjulur ke depan guna memegang pundak Ayu. Namun belum sempat tangan preman itu mendarat di sana. Ayu telah menangkap tangan preman itu dan sekuat tenaga mematahkan jari-jari tangannya.

__ADS_1


Kreak!!!


"Arrrgghhhhtt!!!"


"Jangan berani menyentuhku!!!" hardik Ayu melototkan matanya menatap preman itu.


"Dasar wanita jalangg!!!" teriak preman yang jari tangannya sudah patah. Dia ingin meninju Ayu dengan kepalan tangan besarnya, tetapi Ayu dapat menangkis serangan itu dan juga memberikan pukulan dasyatnya pada si preman, hingga membuat si preman menahan sakit yang tiada tara pada perutnya.


Gaun miliknya membuat dirinya kesulitan bergerak. Ayu segera merobek bagian bawah gaun selutut miliknya, hingga batas pusat. Pria-pria yang ada di sana sontak menutup mata. Namun bukan seperti apa yang mereka fikirkan. Di balik gaun yang ia sobek terdapat celana legging hitam panjang yang sengaja di gulungnya hingga menjadi pendek. Dan inilah waktunya merapikan celana itu menjadi panjang kembali.


Semua perbuatannya tidak terlepas dari pandangan para tamu undangan wanita juga dari orang-orang terdekatnya. Beberapa dari mereka tercenggang melihat aksi wanita muda itu. Para tamu pria yang sempat menutup mata kini telah membukanya kembali.


"Kenapa kalian diam saja? Ayo serang dia!!!" teriak salah satu preman.


"Cih ... ayo!!!" Ayu segera mengambil kuda-kuda untuk menyerang.


Mereka maju satu persatu ke arahnya, Ayu bahkan sangat menikmati aksi baku hantamnya.


Saat salah satu preman ingin meninjunya, ia segera menangkis serangan preman itu dan segera memberi tendangan pada titik lemah yang berada di kaki si preman. Sehingga preman itu jatuh tersungkur ke lantai.


Ayu juga sedikit memberi hadiah berupa pukulan bertubi-tubi pada wajah si preman, hingga membuat preman itu pingsan dengan wajah yang sudah bak adonan kue. Ya sudah pasti penyok dan tidak rata lagi.


Ayu lantas menyuruh yang lain maju menghadapinya. Tanpa aba-aba salah satu dari mereka melayangkan tendangan ke arahnya, dengan gesit Ayu juga ikut melayangkan tendangannya guna melumpuhkan kekuatan dari tendangan lawan.


Preman itu tampak menahan sakit, Ayu tak tinggal diam dan langsung menyerang kembali dengan pukulan yang ia layangkan ke perut si preman. Dia bahkan melakukan aksinya secara berulang-ulang hingga membuat preman itu kewalahan dan tubang begitu saja di lantai.


Para tamu yang sempat histeris tadi, tercenggang melihat seorang wanita yang sedikit kurus begitu berani melawan beberapa preman berbadan kekar.


Sonya bahkan memuji-muji Ayu yang begitu hebat mirip salah satu pahlawan wanita di flim action yang pernah tontonnya.


Amel tak pernah membayangkan bahwa Ayu mempunyai keahlian bela diri. Dia merasa belum terlalu mengenal Ayu lebih dekat. Amel sudah sempat curiga pada Ayu, karena selama Ayu tinggal serumah dengannya rumah mereka tetap aman-aman saja, bahkan tidak ada orang jahat yang pernah masuk ke rumah mereka.


Arya masih sibuk menonton pertunjukkan yang sangat langkah itu. Dia sempat berfikir tentang kejadian di dalam gang beberapa hari yang lalu.


'Pantas saja waktu itu dia tersenyum ke arah para perampok yang telah berhasil tertangkap. Ternyata My Honey sangat luar biasa. Kucing imut yang kujinakkan, kini sudah berubah menjadi macan yang siap menerkam siapa saja dengan taringnya.'


Darren menatap ke arah Arya dan juga Sonya secara bergantian. Dia bahkan tak tahu harus berbicara apa lagi tentang Ayu. Dia yang awalnya mengira bahwa Ayu perempuan lemah malah bangga, setidaknya Ayu dan Arya memiliki bakat yang sama.


Mata Azka menangkap wajah Laksmi yang sempat kebinggungan, Daniel juga melihat ke arah yang sama, ia juga menatap wajah istri keduanya itu. Mata Azka dan Daniel tidak sengaja bertemu, keduanya pun saling membuang muka agar tidak ketahuan.


'Kenapa Ayah memerhatikan wajah wanita ular itu?'


'Apa yang sedang Azka fikirkan tentang situasi ini? Apakah dia mengetahui sesuatu?'


Jika kalian bertanya Kirana dan Riski ada di mana, maka kalian harus tahu mereka sudah pergi diam-diam sedari tadi, karena mendapat pesan dari Laksmi.


Laksmi juga ingin segera mengirim pesan pada orang-orangnya namun rencananya kacau akibat kedatangan para preman yang tidak jelas asal-usulnya itu.


'Untung saja aku telah menyuruh kedua anak itu pergi dari sini. Ya, malah bagus, selepas ini barulah aku meluncurkan rencanaku.'

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2