Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 58


__ADS_3

Ayu yang keluar karena haus, tidak sengaja melihat Arya yang berjalan terburu-buru.


"Hei, Om! Mau kemana?"teriak Ayu.


Arya menoleh. "Bukan urusanmu!"


"Ketus amat! Mau ke mana sih?"tanya Ayu lagi.


"Kamu tidak perlu tahu." Arya kembali berjalan dengan cepat meninggalkan Ayu yang masih terpaku.


"Cih, ternyata memang benar dia tidak cocok dengan diriku,"lirih Ayu.


Dia berjalan menuju kulkas dan mengambil air mineral di sana. Ayu meneguk air itu dengan sekali tegukkan, dia kesal dengan ucapan Arya barusan.


"Jika dipikirkan dia sangatlah menyebalkan, kau tahu, kau bagaikan es batu yang dibekukan di tempat ini,"ucap Ayu memukul-mukul kulkas.


"Kak Ayu! Apa yang sedang kakak lakukan pada kulkasnya? Apa Kulkasnya tidak berfungsi?"


Berbalik secepat kilat. "Eh, hehe. K--Kamu kenapa ke sini, Son? Bikin kaget saja. Haha." Ayu tersenyum canggung pada Sonya yang baru saja tiba di dapur.


Sonya tidak dengar apa yang aku ucapkan tadi, kan? Semoga saja dia tidak mendengarnya.


"Aku nungguin kakak. Habisnya ke dapur lama banget."


"Haha. Iya maaf lama, tadi Kakak tidak sengaja bertemu dengan seekor nyamuk. Haha, iya nyamuk."


"Nyamuk? Benar juga Kak, di dalam kamar nyamuknya ada banyak. Kayaknya aku harus ke sana menyemprotkan anti nyamuk deh!"


Yang aku maksud bukan nyamuk yang itu tapi Kakakmu. Haha, pengen ketawa tapi takut dosa. Nih, anak benar-benar polos. Malah dia menatapku serius lagi.


"Haha, iya-iya. Kakak mau lanjut minum dulu."


"Oke kak. Tapi, benar kulkasnya tidak apa-apa?"


"Kulkasnya baik-baik saja. Haha."


"Oke Kak aku ke kamar dulu, ya!"


"Iya."


Setelah Sonya berlalu dari pandangan matanya, Ayu segera membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral lagi. Dia sampai tidak menyadari bahwa dia sudah menghabiskan dua botol air sekaligus.


Di tempat lain, Arya sedang menuju hutan bambu di bagian selatan. Orang suruhannya telah memberi kabar bahwa mereka semua sudah berkumpul di sekitar gudang tua yang ada di sana. Dengan kelihaian dalam menyetir Arya tidak terjebak dalam kemacetan yang padat. Bahkan tidak memakan waktu lama dia tiba di sana dan berkumpul bersama yang lainnya.


"Apa semua sudah siap?"tanya Arya.


"Sudah Pak!"


"Bagus! Kalian semua kepung tempat itu, biar saya yang masuk ke dalam. Saya akan memberi kalian isyarat barulah kalian masuk ke dalam,"perintah Arya.


"Baik Pak,"ucap mereka serempak.

__ADS_1


Sesuai perintah Arya, mereka semua mengepung gedung tua itu, sementara Arya mengetuk pintu dengan keras. Orang-orang yang berada di dalam sangat kaget dengan ketukkan yang bunyinya memekik telinga mereka.


"Siapa itu? Coba kamu buka pintu dan lihat siapa yang datang ke sini!" Bos dari komplotan orang berbadan kekar memerintah salah satu anak buahnya membuka pintu.


"Baik Bos!" Salah satu anak buahnya segera pergi untuk melihat siapa yang datang ke tempat mereka.


"Apa anak itu baik-baik saja? Bos besar berpesan bahwa kita harus menjaganya dengan baik."


"Maaf Bos, anak itu tidak mau makan dan terus saja menangis, dia tampak lesuh dan tidak sehat. Apa yang harus kita lakukan pada anak itu Bos?"


"Paksa dia agar dia mau makan! Dan ingat satu hal jika kita tertangkap oleh polisi atau siapa pun, jangan pernah memberitahukan bahwa Bos kita adalah wanita itu! Kita hanya perlu mengatakan teman Bos saja yang menyuruh kita." Bos dari kumpulan orang berbadan kekar itu mengingat apa yang Kirana sampaikan padanya.


"Baiklah Bos. Kami akan mengingatnya."


"Bagus!"


Orang yang membuka pintu langsung di tendang oleh Arya dan terjadilah keributan di luar.


"Apa yang terjadi? Kenapa di luar ribut sekali! Ayo kita periksa! Kamu jaga anak itu biar kami yang melihat siapa yang berani masuk ke kandang harimau." Bos komplotan itu menyerigai.


"Ayo, kalian ikut aku!"tegasnya kembali.


Setelah sampai ke depan mereka melihat seorang pria sedang memukul orangnya.


"Hei, siapa kamu?" tanya Bos dari komplotan mereka.


Seketika perkelahian terhenti. "Kau tidak perlu tahu siapa saya!" ketus Arya dingin.


"Cih, hanya sekumpulan kutu busuk saja, 5 menit sudah bisa membereskan kalian semua!"ucap Arya meremehkan mereka. membuat semuanya naik pitam.


"Jangan banyak bacot! Serang dia!"


Akhirnya terjadilah baku hantam antara Arya dan beberapa pria berbadan kekar, pria-pria itu menyerbuh Arya namun bukan Arya namanya jika tidak bisa menghindari dari serangan demi serangan mereka. Dengan gesit Arya memukul dan meninju mereka di tempat yang menjadi kelemahan para orang berbadan kekar itu, sehingga membuat semuanya tubang menahan sakit di tubuhnya.


Kenapa aku harus membuang-buang tenaga begini? Namun tidak masalah, sudah lama juga aku tidak berolahraga seperti ini. Kalian tidak akan menang melawan pesilat nomor dua di kota ini.


"Jadi segini saja kemampuan yang kalian miliki?"tanya Arya meremehkan.


"Hais ... jangan banyak gaya kamu!"teriak Bos dari komplotan itu.


Dia berlari menghampiri Arya. " Hiiyaaat!"


Dia langsung menyerang Arya dengan tendangan mautnya, Arya dengan gesit menangkap kaki orang itu, memutar dan mematahkannya.


Krieek!


"Aaaaa!!!"


"B--Bos!"


"Di mana kau sembunyikan anak kecil itu?"tanya Arya dengan tatapan yang menusuk sampai ke ubun-ubun.

__ADS_1


"D--Di dalam ruangan belakang." Nyali Bos menciut sehingga terpaksa memberitahu tempat Bara di sekap.


Arya memberi isyarat pada orang-orangnya. seketika itu mereka sudah menyebu masuk ke dalam gudang melalui pintu depan dan belakang.


"Tangkap mereka semua dan masukkan ke dalam ruangan rahasia! Jangan biarkan satu pun dari mereka bisa lolos!"perintah Arya dengan lantang.


Pak Arya memang pantas menjadi Asisten dari pak Azka, kami malah tidak melakukan apa-apa di sini.


"Baik Pak!"


"Kamu ikut aku ke ruang belakang!"


Setelah sampai ke ruang belakang Arya melihat ada seseorang berbadan kekar di sana yang sedang menjaga pintu.


"Menyerah saja! Bosmu sudah aku lumpuhkan!"


Arya langsung masuk ke dalam ruangan, dia melihat anak kecil terbaring lemah dengan mata yang bengkak seperti bola.


"Hei, bangun!" Arya menepuk pelan pipi tembem bocah kecil yang sedang terbaring lemah itu.


Bara mengerjap terlihat seorang pria tampan yang dia kenali. "Om, ampan!"ucapnya.


"Ayo, kita pergi dari sini! Maaf Om terlambat mencarimu!" Arya segera mengendong Bara dalam pelukannya.


"Atu au Mama Om,"ucap Bara.


"Iya, Om datang untuk membawamu ke Mama." Arya menenangkan Bara.


Untung saja aku cepat ke sini, kalau tidak bisa gawat, mana badannya panas lagi. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit.


"Maasih Om." Setelah mengucapkan kata itu, Bara pun pingsan di gendongan Arya.


Arya membaringkan Bara di jok belakang mobil dan segera melarikan Bara ke rumah sakit di tempat Darren bekerja.


Sesampainya ia di rumah sakit dia mengendong Bara dan berlari menyusuri koridor rumah sakit, dia kemudian berteriak sekuat tenaga.


"Dokter! Cepat siapkan tempat khusus buat anak kecil!!"teriak Arya dengan lantang.


Dokter yang ada di sana berbondong-bondong menghampiri Arya. Tanpa banyak bertanya mereka langsung membawa Bara ke ruangan terbaik yang ada di rumah sakit.


Banyak perawat yang bertanya-tanya, siapa anak itu? Apa dia anak dari pak Arya? Membuat isu mulai beredar dan terdengar oleh Darren yang baru saja keluar dari ruang operasi pasien. Darren yang mendengar para perawat menceritakan Arya yang membawa anak kecil pun bertanya pada mereka.


"Hei, apa yang kalian katakan?"tanya Darren.


"D--Dokter, itu pak Arya membawa seorang anak kecil dan sekarang sedang berada di ruangan VVIP nomor 106."


"Oke, kalian sudah boleh pergi, tapi ingat jangan terlalu banyak bergosip nanti cepat mati!" Darren tersenyum pada mereka membuat keduanya bergidik ngeri.


"B-Baik Dok!"


Selesai menakuti dua perawat itu, Darren langsung bergegas ke ruangan yang perawat itu katakan.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2