Father Of My Children

Father Of My Children
FOMC 55


__ADS_3

Banyak-banyak kata maaf untuk kalian yang membaca novel author yang bertele-tele ini🙏. Walau bagaimana pun author tidak akan merubahnya karena kebanyakan flashback. karena itu sudah author susun sesuai apa yang author bisa/mampu🙏🙏. jika kalian keberatan tidak apa-apa kalau kalian tidak mau membaca lagi cerita author😢🙏. Maafkan author yang tidak bisa menuruti kemauan kalian. Dan terima kasih kepada kalian yang masih tetap terus mendukung author. Terima kasih banyak semua😍. Ayo kita lanjut! Happy reading All.


...................❤...................


Yuni terus mengikuti Arya, dia melihat Arya berbicara dengan salah satu Bapak yang ada di kompleks perumahan itu. Setelah berbicara Arya langsung bergegas pergi, Yuni terus mengikuti Arya sampai ke salah satu rumah sederhana.


"Apa kak Azka yang menyuruhnya ke sini? Dilihat dari semalam kak Azka melindungi Amel sudah jelas bahwa dia mengirim Asistennya. Apa dia sudah tahu kalau Amel mempunyai anak? Tapi, aku tidak pedulikan soal itu malah bagus juga dia mengetahui kebusukkan Amel, sebaiknya aku memantau keadaan dulu saja,"ucap Yuni.


Orang suruhan Yuni hanya tahu kalau Amel memiliki empat anak saja, informasi ini telah ia sampaikan pada Yuni, makanya Yuni tidak tahu jelas wajah dari anak-anak Amel.


Arya mengetuk pintu, tidak lama kemudian seseorang membuka pintu semua itu tidak terlepas dari penglihatan Yuni.


Bagaimana aku menculik anaknya? Asisten kak Azka ada di dalam dan siapa wanita tadi? Apa dia adik Amel? Tapi, mana mungkin. Amel tidak mempunyai adik terkecuali ... terkecuali wanita Tukang ojek yang biasa mengatarnya ke kampus dulu. batin Yuni.


Yuni mengingat masa lalu, sejak terjadi insiden 3 tahun di Hotel hubungan mereka merenggang. Yuni juga sering mengejek Amel di kampus, menghasut semua teman kelas ikut-ikuttan mengejek, menghina dan mencacimaki Amel, namun Amel tidak mempedulikan semua itu dan tetap memfokuskan diri pada kuliahnya, membuat Yuni sangat kesal dan membenci Amel.


Waktu itu Amel selalu diantar jemput oleh Tukang ojek wanita yang tidak lain adalah Ayu, semua Yuni ingat dalam ingatannya.


"Semakin mengingatnya, semakin kesal saja. Kenapa dia selalu mendapat kebahagiaan? Padahal aku sudah merebut pacarnya. Dan kini malah dia mendapat perhatian lebih bahkan sudah diumumkan oleh kak Azka. Huh, menyebalkan!"lirih Yuni.


Yuni terus memantau rumah sederhana milik Amel, beberapa menit telah berlalu membuatnya sedikit melemah ingin menyerah. Namun kebencian yang ditanamnya pada Amel membuat dia rela menunggu lebih lama lagi.


Sekali ini saja semogaTuhan berada dipihakku, batinnya.


Tiba-tiba mata Yuni menangkap sosok bocah kecil yang baru saja keluar dari rumah. Bocah kecil itu terlihat bahagia dengan bola yang ada di tangannya lalu kemudian menaruh bola itu di tanah dan menendangnya dengan kencang.


"Tuhan memang sedang berpihak padaku. Sebaiknya aku secepatnya ke sana sebelum mereka menyadari keberadaanku." Yuni kemudian menghampiri bocah kecil yang tidak lain adalah Bara.


"Hallo anak manis." Yuni menyapa Bara.


Bocah kecil itu tampak keheranan melihat keberadaan Yuni yang ada di depannya.


"Ante tiapa?"tanya Bara.


"Tente temannya mama Amel."


Anak ini pasti tidak tahu kalau aku sedang membohonginya.


"Oh, telus tetalang Mama di na?"


"Ayo ikut Tante. Nanti Tante anterin ke Mama."

__ADS_1


"Unggu yu. Bala ilang duyu ama ante Nya an ang ainna."


Keras kepala juga nih anak.


"Tidak usah. Tadi Mama bilang kamu harus pergi sendiri." Yuni tersenyum pada Bara.


"Hm. Aiklah Ante, Bala itut Ante." Bara percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu.


Bagus! Amel aku sudah menahan kelemahanmu. Kamu tidak bisa apa-apa sekarang.


Yuni menyerigai, dia pun mengendong Bara dan pergi dari sana. Di perjalanan Bara terus bertanya di mana mamanya berada. Yuni semakin kesal karena Bara terus saja menanyainya.


"Bisa diam nggak sih!?"bentak Yuni yang sedang menyetir mobilnya.


"Huhuhu. Bala engen etemu Mama,"ucap Bara.


Bara yang dibesarkan dengan kelembutan dan kasih sayang dibentak oleh orang yang tidak dikenalnya membuat dia menangis. Mendengar tangisan Bara, Yuni semakin kesal.


"Diam!"


"Huhuhu ... Ante ahat! Bala au Mama, Bala au Mama! Huhuhu,"teriak Bara sambil menangis.


Jika aku tidak membutuhkanmu sebagai ancaman, aku sudah membuangmu di sini.


Yuni sudah tidak tahan lagi mendengar tangisan Bara yang memekik telinganya. Dia segera melajukan mobilnya ke tempat yang Kirana perintahkan.


"Bala au Mama. Huhuhu, Bala au Mama!"


Sabar Yuni, sebentar lagi juga sampai.


Mobil Yuni memasuki area hutan Bambu. Ternyata di sana ada gudang kosong yang sudah usang termakan usia. Yuni memakirkan mobilnya di sana. Dia segera mengendong Bara yang terus meronta.


"Bala engen Mama, Bala engen Mama, Ante ahat! Epasin Bala! Huhuhu." Bara masih terus menangis hingga matanya menjadi sembab.


"Bisa diam, nggak sih?!"hardik Yuni membuat Bara tidak berhenti menangis dan terus meronta-ronta.


"Diam nggak, diam nggak? Mau Tante banting kamu ke tanah, hah?!"teriak Yuni mengancam Bara. Bara semakin takut dibuatnya.


Mama olong Bala, Bala tatut. Ante ni ahat. Bala anji dak nacal ladi. Bala atut tetali Mama. Tak Laka, olong Bala. Bala atut di tini. Batin Bara masih terus berlinang air mata.


Bajunya menjadi basah karena air mata yang sudah terhitung berapa kali keluar dari kelopak matanya. Bara sangat takut dengan dengan ancaman Yuni.

__ADS_1


Kirana yang sudah berada di sana segera menghampiri Yuni yang kewalahan mengendong Bara.


"Loe jangan terlalu kejam begitu! Sini berikan dia padaku! Loe segera telepon Amel, katakan padanya segera jauhi Azka. Jika tidak, jangan harap anak ini akan selamat."


"Baiklah!"


Bara sudah berpindah tangan ke Kirana. Kirana membawa Bara masuk ke dalam gudang dan ternyata di sana sudah ada beberapa pria berbadan kekar, yang pastinya mereka semua orang suruhan Kirana.


Tujuan Kirana hanya mengancam Amel saja. Tapi, jika Amel tetap nekad tidak melepaskan Azka maka anak ini yang akan menjadi korbannya.


Yuni sudah menyelesaikan tugas yang Kirana perintahkan. Dia mengancam Amel dengan mulutnya yang ditutupi kain, bahkan suaranya dibuat-buat menjadi serak. Bara sempat berteriak minta tolong, membuat Amel begitu frustasi.


"Aku sudah susah payah mengubah suaraku. Pasti Amel tidak menyadari suaraku yang tadi. Haha, Amel ada juga kamu semakin terpuruk kayak sekarang ini,"lirih Yuni tersenyum penuh kemenangan. Yuni tanpa menonaktifkan ponselnya langsung ke dalam gudang kosong menghampiri Kirana.


"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan, Kak?"tanya Yuni.


"Kita akan perlahan-lahan melihat reaksi Amel. Apa loe sudah melaksanakan semua yang gue suruh?"


"Tenang saja, aku sudah menyelesaikan semua sesuai perintah Kakak,"terang Yuni.


"Kamu sudah mengatakan jangan melaporkan penculikan ini pada polisi, kan?" Kirana juga khawatir kalau masalah ini sampai ke tangan polisi, posisinya sebagai model bisa dalam bahaya.


"Tidak Kak. Aku hanya mengancamnya saja, kalau dia tidak meninggalkan kak Azka maka anaknya akan tamat. Itu saja Kak."


Otak wanita ini sangatlah bodoh, bagaimana bisa dia tidak berfikiran semua itu. Kalau pun aku tidak mengatakannya harusnya dia sudah tahu. Benar-benar bodoh, tapi tidak apa dia masih berguna bagiku.


"Sekarang kita pergi dulu dari sini! Biarkan mereka yang menjaga anak cenggeng ini."


Yuni mengangguk, mereka perlahan-lahan berjalan keluar dari gudang. Bara masih terus menangis dan bahkan berteriak.


"Huhuhu, Ante danang tindaltan Bala di tini! Ante olong antal Bara te Mama. Bala tatut Ante!"


Teriakan Bara tidak digubris oleh Kirana dan juga Yuni, mereka hanya memperlihatkan senyum jahat saja.


Teriak sesukamu saja anak manis, sampai tengorokanmu putus pun, kami tetap tidak akan melepaskanmu, sampai tujuan kami tercapai. batin Yuni.


Sebelum keluar dari ruangan Kirana berbalik badan. "Kalian, jaga dia baik-baik di sini."


"Siap Bos!"


Kirana dan Yuni kembali ke rumah masing-masing. Mereka tampak senang sudah menahan kelemahan Amel. Amel pasti tidak menyangka kalau mereka yang menculik anaknya.

__ADS_1


Bersambung❣


__ADS_2